
-Pagi hari, hari selasa.
Rooney merenung di kelasnya sendirian, mengacuhkan semua keributan yang ada di kelas. Dia memikirkan tentang hal yang terjadi kemarin.
Apa mereka memang berbohong tidak punya uang? Atau hanya sekedar salah paham?
Rooney yakin sekali jika dia melihat mereka membeli sepatu mahal padahal mereka mengaku tidak punya uang untuk membayar hutangnya. Tapi, pada pagi ini ketika Rooney melihat mereka, tidak ada satu pun yang memakai sepatu baru, mereka masih memakai sepatu yang sama dengan kemarin.
Rasanya menyebalkan bagi Rooney, dia selalu merasa sakit jika sendirian tanpa teman, tapi ketika dia memiliki teman, justru temannya malah menjadi sumber masalah yang membuatnya sakit kepala.
Rooney ingin bertanya tentang pendapat seseorang, rasanya dia akan meledak jika terus menyimpan masalah ini sendirian.
Namun, sudah tidak ada orang yang bisa dia tanya di sekolah. Roy masih terbaring sakit di rumah sakit, sementara hubungannyan dengan Aji sedang memburuk.
Rooney masih punya empat orang teman, atau begitulah yang dia anggap.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Rooney pun memutuskan untuk mengubur masalahnya sendiri untuk sementara waktu. Dia memutuskan bahwa dia tidak melihat apa pun pada kemarin.
...****************...
-Jam istirahat.
Rooney merasa kesepian jika dia makan sendirian, jadi dia memutuskan untuk mengajak Farizi dan yang lain untuk makan bersama.
Setelah mengumpulkan keberanian, Rooney pun beranjak dari bangkunya dan menghampiri Farizi dan yang lain. Mereka seperti biasa makan di belakang kelas dengan membawa bekal makan sendiri.
Dengan sedikit ragu-ragu, Rooney bertanya kepada Farizi yang sedang asyik mengobrol, "Eummm... A-Anu, Fa-Farizi... A-Aku boleh makan bersama kalian tidak?"
Mereka mengacuhkan Rooney, menganggapnya seperti angin lewat dan tetap asyik mengobrol.
Rooney mencoba sekali lagi, "A-Anu..."
Farizi kemudian baru menyadari keberadaan Rooney setelah Rooney bertanya untuk kedua kalinya.
Tanpa berbalik melihat Rooney, Farizi mengiyakan permintaan Rooney, "Ah, iya iya, silahkan saja."
Rooney merasa senang diterima, tapi juga kecewa karena mereka tampak cuek dengannya. Padahal baru kemarin mereka merangkulnya dengan hangat dan berkata bahwa Rooney adalah teman terbaik.
Walau pada akhirnya, Rooney duduk di sebelah Farizi.
Rooney membuka rotinya dan memakannya, dia hanya diam dan mendengarkan obrolan teman-temannya itu, bukannya dia tidak mau ikut, tapi obrolan mereka tampak tidak memiliki ruang untuk dia masuki.
Hingga kemudian, topik obrolan mereka mulai berubah menjadi membahas tentang film. Secara kebetulan, film yang mereka bahas itu diketahui oleh Rooney.
Sontak Rooney pun menyahut, "Iya, plot twist film itu bagus banget."
Seketika semua terdiam, tidak ada yang menanggapi omongan Rooney, mereka hanya melirik Rooney sebentar dan lanjut mengobrol.
Rooney merasa bingung, dia tidak tahu apa yang salah dari perkataannya itu. Rooney pun hanya bisa melanjutkan makannya.
Setelahnya, Rooney sama sekali tidak berani untuk menyahut lagi, dia takut akan terkena perlakuan yang sama.
Bukan ini yang kuharapkan, padahal aku makan bersama mereka, tapi entah kenapa rasanya aku makan sendirian.
Makan siang itu berakhir dengan Rooney yang makan bersama dengan mereka, namun diperlakukan seperti dirinya tidak ada disana.
Setelah selesai, bel berdentang mengakhiri waktu istirahat dan dilanjutkan dengan pelajaran yang membuat jenuh dan mengantuk. Dan berlanjut seterusnya hingga jam pelajaran terakhir.
-Jam pelajaran terakhir.
Guru mata pelajaran terakhir secara kebetulan tidak masuk dikarenakan adanya urusan keluarga. Guru piket sempat masuk ke kelas, namun beliau hanya memberikan tugas merangkum bab kesekian dan diminta untuk dikumpulkan saat pulang nanti.
Sebagian besar murid tentunya tidak mengerjakan karena biasanya tugas seperti ini tidak akan ditagih. Kebanyakan malah bermain dengan teman sebangku, tidur, atau berbuat hal-hal random di kelas, kelakuan mereka menyebalkan bagi sebagian orang, namun itulah yang membuat kelas terasa hidup. Karena itulah, Aji sebagai ketua kelas tidak berniat menghentikan mereka yang berbuat ribut.
Rooney memandangi teman sekelasnya yang bermain sepak bola memakai kertas buku yang diremas-remas menjadi bulat.
Kelakuan teman sekelasnya membuat sebagian anak perempuan di kelas merasa terganggu, tapi anak laki-laki lain menyoraki mereka agar lebih bersemangat.
Dengan bermodalkan kertas buku tulis yang dikumpulkan dan diremas hingga bulat, dan kursi yang dijadikan tiang gawang di belakang kelas, permainan sudah bisa berjalan.
Dengan melepas sepatu dan hanya memakai kaus kaki, mereka memperebutkan bola kertas dengan semangat dengan tujuan untuk memasukkan bola ke dalam gawang yang ditandai dengan bangku.
"Ayo Dani! Rebut itu! Mantap!"
"Shoot! Langsung Shoot! Ah elah, malah gagal lu Ton."
"Tackle aja!"
Anak laki-laki saling menyoraki teman mereka yang bermain sepak bola dengan semangat.
Mereka saling berebut bola, menembak bola ke gawang, men-tackle lawan hingga jatuh, hingga beradu badan dengan keras disertai dengan tawa.
Beberapa kali ada yang menabrak anak lain yang sedang duduk di kursi, terkadang bola terlempar ke tempat anak yang sedang tidur. Anak perempuan beberapa kali memprotes, tapi dibalas oleh anak laki-laki.
"Diam dong, jangan ribut mulu, kasihan yang mau tidur." Teriak anak-anak perempuan agar anak laki-laki segera berhenti.
"Alah... Nggak asik lu! Lagi seru nih." Balas anak laki-laki.
"Ihhhh... Ketua kelas, tolong dong suruh mereka diam."
Aji berada di posisi netral, walau sebenarnya dia sendiri senang dengan suasana kelas yang ceria seperti ini, "Aku tidak mau ikut campur."
"Yahahaha... Rasain tuh kalian."
Perdebatan terus terjadi, tapi permainan tidak terlihat akan berakhir hanya karena ketidaksukaan anak-anak perempuan.
Rooney merasa sedikit iri dengan pemandangan ini, dia sudah dari lama mendambakan momen dimana dia ikut dalam kelakuan konyol teman sekelasnya.
Kalau saja... Aku punya sedikit keberanian, mungkin aku bisa masuk ke dalam ini.
Lalu kemudian, disaat Rooney sedang merenung, seseorang datang kepadanya dan langsung merangkul Rooney sembarangan.
"Oi Ron! Kebetulan nih, lu lagi senggang kan?"
Itu adalah Anwar, dia tiba-tiba mendatangi Rooney dan bersikap akrab padahal dia mengacuhkan Rooney saat jam istirahat.
"Eh? Anwar? I-Iya... Aku sedang senggang, a-ada apa?"
"Hehe... Sebenarnya gua kurang enak sih buat ngomongnya."
"Eummm... Memangnya apa?" Rooney bertanya meski sebenarnya dia sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Anwar.
"Jadi gini, gua boleh minjem uang dulu nggak? Ada keperluan darurat nih."
Tepat seperti yang Rooney pikirkan, dia tidak lagi terkejut jika mereka ingin meminjam uang, Rooney lebih terkejut karena mereka tidak tahu malu masih mau meminjam uang pada Rooney walau tahu jika mereka sudah berhutang banyak padanya.
Kalau biasanya, Rooney akan meminjamkan uang dengan ringan tanpa peduli nominalnya, tapi karena hal yang dia lihat kemarin, membuatnya menjadi kurang percaya untuk meminjamkan mereka uang lagi.
"Ma-Maaf... Tapi aku tidak bisa lagi meminjamkan uang pada kalian semua."
Anwar cemberut mendengarnya, "Dih, kok gitu sih? Biasanya lu mau saja minjemin."
"Ma-Maaf... Tapi kan... Kalian... Masih punya banyak utang, kepadaku."
"Ya elah... Masih saja diungkit terus, sama teman kok perhitungan banget, uang kecil ini, jangan pelit-pelit lah sama teman sendiri."
Eh? Uang kecil? Bagaimana dia bisa bilang seperti itu? Apa dia lupa dengan uang yang dia pinjam untuk membeli sepatu?
Rooney sungguh terkejut mendengar ucapan Anwar, dia terkesan meremehkan Rooney ditambah memberikan ancaman memakai kata "Teman"
Tapi, Rooney sudah tidak bisa lagi meminjamkan uang pada mereka, uang yang mereka pinjam semakin banyak tiap harinya, uang mingguannya tidak akan cukup untuk menutupi itu. Jika Rooney memutuskan untuk memakai uang tabungannya, ibunya akan curiga jika melihat dia mengeluarkan uang dalam jumlah banyak dari tabungannya.
Anwar cemberut mendengarnya, dia melepas rangkulannya pada Rooney dan beranjak pergi, "Dih, yasudahlah, memang nggak setia kawan lu."
Rooney merasa tidak enak mendengar ucapan terakhir Anwar, ketimbang nada kecewa, ucapan Anwar itu terdengar seperti ancaman.
...****************...
-Keesokan harinya, hari rabu.
Rooney sampai di gerbang sekolah, disana, Rooney bertemu dengan Farizi dan yang lain, yang juga baru datang dan baru mau masuk ke kelas.
Rooney pun berpikiran untuk menyapa mereka, dia sudah lupa dengan kejadian kemarin, "Fa-rizi, Anwar, Fadhil, Alen, a-apa kabar."
Namun balasan yang didapat oleh Rooney tidak sesuai dengan yang dia perkirakan. Tidak ada balasan hangat, ramah atau pun bersahabat dari mereka, hanya sedikit lirikan ke belakang tanpa mengucapkan apa pun dan kembali berjalan seakan mereka hanya melihat sebuah kerikil di jalan.
Eh? Kenapa?
Rooney masih belum paham saat itu, dia masih terus mencoba menyapa mereka. Saat pelajaran pertama yang kosong, Rooney menghampiri mereka, tapi mereka bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Saat istirahat makan siang, Rooney mencoba mengajak mereka untuk makan bersama, tapi mereka hanya diam dan melanjutkan makan tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Berkali-kali diabaikan, membuat Rooney merasa ketakutan, dia takut akan dibuang oleh teman-temannya.
Ba-Bagaimana ini!? Ja-Jangan-jangan mereka tidak mau berteman denganku lagi? Apa karena kejadian kemarin?
Rooney mulai kehilangan akalnya, dia duduk sendirian di toilet dengan gemetaran sambil menggigiti jarinya.
Setelah merasakan bagaimana rasanya pertemanan, Rooney sudah tidak bisa hidup tanpa teman lagi. "Teman" telah menjadi bagian hidupnya yang tidak boleh hilang
Karena itu, walau diperlakukan buruk oleh mereka, walau sebenarnya dia tidak salah, walau sebenarnya teman-temannya itulah yang salah, hal yang Rooney lakukan adalah langsung menghampiri Anwar untuk meminta maaf saat jam pulang sekolah. Ketika yang lain sudah keluar kelas, Anwar masih membereskan barangnya, sementara yang lain menunggu diluar.
Rooney segera menghampiri Anwar yang sedang membereskan tasnya, "A-Anwar... A-Ada yang mau kubicarakan." Farizi tentu tidak menanggapi, dia tetap lanjut membereskan tasnya dan mengabaikan eksistensi Rooney sepenuhnya.
Glup
Rooney menelan air liurnya dan melanjutkannya, "Te-Tentang kejadian kemarin... A-Aku... Minta maaf..."
Anwar masih tetap diam, bahkan dia sudah selesai membereskan tasnya dan beranjak bangun darin kursinya.
Rooney mulai berkeringat, dia takut jika Anwar sangat marah dan tidak mau lagi berteman dengannya.
"Ma-Maaf... A-Aku... Sungguh-sungguh minta maaf... To-Tolong jangan... Tinggalkan aku..."
Tep Tep Tep
Anwar menghampiri pintu keluar kelas dan membukanya, dia benar-benar mengabaikan Rooney seutuhnya.
Rooney semakin ketakutan, dia hampir menangis karena panik, "A-Aku...! Akan melakukan apa pun! Se-Selain uang! A-Aku akan berikan apa pun selain uang! Ah, euuu... Ti-Tidak! Akan kuberikan uang juga! Mu-Mungkin tidak bisa sekarang, ta-tapi... Minggu depan! Akan kupinjamkan uangku minggu depan!" Rooney dengan frustasi mencoba meminta maaf kepada Anwar hingga menjanjikan banyak hal.
Anwar langsung berhenti mendengar perkataan Rooney, dia terdiam sebentar seperti memikirkan satu hal. Kemudian Anwar melirik balik Rooney dan bertanya, "Apa pun?"
Anwar tampaknya tertarik mendengar Rooney yang menjanjikan banyak hal padanya, Rooney pun yakin ini kesempatannya untuk memperbaiki hubungannya dengan teman-temannya lagi.
"I-Iya... Se-Selama aku mampu pasti kuberikan."
Anwar tersenyum mendengarnya, dia kemudian tampak memikirkan sesuatu dengan wajah santai.
"Hmmm... Kalau begitu begini saja, kebetulan hari ini gua dan yang lain piket pulang hari ini, tadinya kami mau bolos karena ada keperluan. Jadi... Bagaimana kalau lu gantiin kami buat piket. Gimana? Mau nggak?"
"Eh... Sendirian?"
"Iya, nggak mau? Yaudah."
"A-Aku mau kok! Tentu saja akan kukerjakan sekarang juga."
Senyum Anwar bertambah lebar, dia kemudian membuka pintu dan beranjak keluar kelas sambil melambaikan tangan pada Rooney, "Sip, makasih yah Ron, semangat piketnya."
"I-Iya..." Jawab Rooney dengan pelan.
Rooney melihat ke sekelilingnya, kondisi kelas terlihat sangat berantakan, sampah makanan berserakan, meja dan kursi yang tidak pada tempatnya, serta debu dimana-mana.
Rooney awalnya sudah mau pulang setelah ini, tapi dia sudah terlanjur berjanji dan tidak mau mengingkarinya.
"Haaahhhhhh... Terpaksa deh, semoga ibu tidak khawatir karena aku pulang sedikit telat."
Rooney pun mulai dari merapihkan kursi dan meja yang berantakan, dia menyusun kembali kursi serta meja dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelahnya dia mengangkat semua kursi ke atas meja
Kemudian Rooney melanjutkan menyapu lantai untuk membersihkan debu dan sampah yang berserakan. Namun, ada sedikit masalah, ketika Rooney mau memasukkan sampah ke tempat sampah, tempat sampahnya sudah penuh.
Rooney akhirnya terpaksa harus membuang sampah yang ada ke belakang sekolah, tempat dikumpulkannya sampah yang akan diangkut ke TPA.
Berjalan melewati berbagai kelas dan tempat di sekolah, Rooney menangkap banyak pemandangan, dia melihat anak-anak ekskul padus yang sedang berlatih di ruang kelas 10, melihat ada beberapa anak yang masih tinggal di kelas untuk memanfaatkan wifi sekolah, di ruang guru masih ada beberapa anak yang sedang diceramahi, hingga melihat anak-anak OSIS yang sedang mengadakan rapat di ruang kelas 12.
Irinya... Pikir Rooney.
Rooney selalu mendambakan kehidupan sekolah seperti mereka, bermain bersama dengan teman seumuran, dihukum bersama karena kelakuan konyol, hingga melakukan hal-hal random yang tidak terlalu penting.
Rooney pikir dengan mendapatkan banyak teman, dia akan mendapatkan kehidupan normal yang dia inginkan.
Namun yang dia dapatkan setelah berusaha mempertahankan teman-teman yang dia dapatkan hanyalah seperti ini. Ditinggal sendirian di kelas untuk mengerjakan piket kelas yang seharusnya bukan tugasnya.
Apa yang kulakukan sudah benar?
Rooney terus bertanya-tanya, apa setelah dia mengorbankan banyak hal dia sudah bahagia. Dia rela memberikan apa pun agar mereka mau tetap berteman dengannya, tapi yang dia dapat saat ini hanyalah membuang sampah ke belakang sekolah.
Sruk
Rooney melempar kantung sampah yang sudah dia ikat ke tumpukan sampah yang ada di belakang sekolah.
Setelahnya Rooney kembali ke kelas dan menyapu sisa kotoran yang ada.
Selesai menyapu, Rooney mengambil ember untuk diisi air karena dia mau mulai mengepel lantai, tapi kemudian Rooney baru sadar jika dia harus turun ke bawah untuk mengambil air karena kelasnya berada di lantai 2.
Hahhh.... Semoga tidak keburu gelap.
Rooney harus bersusah payah setelah mengambil air, dia harus berjuang membawa seember air ke lantai atas, setiap kali ember bergoyang, air di dalamnya memercik keluar.
Sesampainya di kelas, Rooney baru sadar jika pel yang akan di pakai masih kotor dan harus dicuci, itu artinya dia harus turun lagi untuk mencucinya.
Hahhhh... Ini semakin melelahkan.
Rooney mengambil pel dan hendak turun lagi, namun sebelum keluar dari kelas, Rooney malah terpeleset air yang terpercik keluar dari ember ketika dia bawa masuk tadi.
Gubrak
Rooney jatuh ke belakang, entah keberuntungan atau tidak, punggungnya mendarat lebih dulu sehingga kepalanya tidak mendarat ke lantai duluan. Walau begitu, tetap saja punggungnya terasa sangat sakit.
"Eukhhhh...."
Rooney mencoba berdiri dengan sedikit meringis, saat bangun, kepalanya berputar-putar karena pusing hingga dia duduk kembali.
Di tengah kelas sendirian seperti ini, membuat Rooney merasa sedikit menyesal. Dia telah membuang Aji demi mereka, tapi yang mereka berikan justru perlakuan yang dingin.
Mereka datang hanya ketika mereka perlu Rooney, tapi ketika mereka merasa Rooney tidak lagi berguna, mereka akan membuangnya dengan mudah.
Barulah sekarang Rooney menyadari betapa bodohnya keputusannya.
"Bodohnya aku..."