
-Hari sabtu
Hari ini adalah pagi yang cerah, biasanya pada hari seperti ini, Rooney akan tidur hingga lumayan siang. Tapi hari ini dia tidak bisa seperti itu.
Rooney harus bangun pagi dan segera mandi, karena hari ini dia bersama dengan Aji dan Roy akan pergi mencari Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil yang sedang menghilang.
Kemarin ditunda karena sudah sore, dan hari ini akan dilanjutkan kembali. Tapi mereka tidak akan mencari ke semua tempat persembunyian yang pernah dibuat Roy. Kemarin Roy sudah menjelaskan jika kebanyakan tempat persembunyian rahasia mereka sudah tidak bisa digunakan atau hancur karena lokasinya yang tidak strategis.
Karena itu Roy bilang akan memperkecil kemungkinan tempat beradanya mereka agar menghemat waktu.
Dan hari ini mereka akan melanjutkan pencarian. Roy bilang nanti dia akan menjemput Rooney dengan membawa kendaraan pribadi agar menghemat waktu, karena jika memakai taksi online akan terlalu lama.
Apa yang mau dibawa oleh Roy yah? Mungkin motor.
Sembari menunggu Roy datang, Rooney sedang memakan sarapannya. Hingga suara klakson mobil mengganggu.
Tinn... Tinnn....
"Apa-apaan sih mobil itu? Kenapa malah membuat keributan di depan rumah orang lain?"
Kesal karena sarapannya diganggu, Rooney segera beranjak keluar untuk melihat mobil apa yang mengganggunya.
Di depan rumahnya, terdapat mobil sedan berwarna hitam yang parkir sembarangan dan tanpa henti membunyikan klakson.
Rooney berpikir untuk menegur supir mobil itu, tapi ketika dia keluar rumah, jendela mobil itu terbuka, dan muncul orang yang dia kenal.
"Oi Ron! Akhirnya keluar juga elu." Roy menyapa Rooney dengan santai dari dalam mobil.
Rooney hanya melongo seperti orang bodoh melihatnya, dia tidak percaya temannya akan membawa mobil seperti ini.
"Tu-Tunggu! Kau membawa mobil?"
"Iya, omong-omong si Aji juga sudah masuk nih." Roy mundur sedikit dari jendela, dan memperlihatkan Aji yang duduk di sampingnya.
Rooney terperanjat melihat ini semua, mulai dari Roy yang membawa mobil sendiri, hingga Aji yang terlihat santai ketika seorang anak dibawah umur seperti Roy mengendarai mobil.
"Apa? Tu-Tunggu, ini kau benar-benar membawa mobil sendiri? Dan Aji tidak protes?" Rooney melempar pertanyaan.
Tapi saat ini Roy tidak mau ditanya dulu, dia segera mendesak Rooney untuk naik ke mobil dulu, "Sudahlah, nanti saja gua ceratainnya, naik dulu saja."
Glup
Rooney masih merasa ragu, tapi dia mencoba untuk percaya pada mereka, "Baiklah, aku ambil dompet dulu."
"Sip, jangan lama-lama."
Rooney segera mengambil dompetnya di dalam, lalu dia izin kepada ibunya dulu untuk pergi bersama teman-temannya. Ibunya dengan senang mengizinkan Rooney.
Akhirnya anakku punya banyak teman.
Setelah itu baru Rooney naik ke dalam mobil, di dalamnya juga cukup membuatnya terkejut, ada banyak snack dan minuman di dalamnya, ada yang ditaruh di sebuah keranjang dan di letakkan di tengah kursi penumpang, ada pula yang di letakkan di pintu.
"Sudah siap kan? Jangan lupa pakai sabuk pengaman dulu baru kita berangkat."
"Ah iya." Rooney menarik sabuk pengaman, namun belum sempat dia memakainya.
"Sip! Lets go!" Roy langsung tancap gas sebelum Rooney selesai, membuat Rooney sedikit terhentak karenanya.
Duk
"Aduh!"
-Dalam perjalanan.
Roy mulai menjelaskan tempat-tempat yang sudah dia tandai sebagai tempat 'Yang paling mungkin didatangi oleh Farizi dan yang lain.'
Ada 3 tempat yang paling mungkin mereka datangi, yang pertama ada di padang rumput, disana rumputnya tumbuh lebat setinggi anak-anak SMP, disana Roy membangun tenda kecil bersama mereka, sangat mungkin mereka disana karena tempatnya sulit dilihat oleh orang lain, tapi mudah dijangkau jika sudah tahu.
Yang kedua, ada di lapangan yang lumayan jauh dari sini, menurut Roy, dulu mereka pernah membangun pondok kecil disana.
Yang ketiga sekaligus yang terakhir, ada di gedung tua yang berada di tengah kota, gedung itu kabarnya adalah gedung tua yang pembangunannya terhenti di tengah jalan dan tidak terpakai lagi. Oleh Roy, Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil, dipakai sebagai tempat nongkrong mereka saat masih kecil.
"Tapi bagaimana jika gedung itu ternyata sudah lanjut dibangun?"
"Tenang saja, kemarin gua dah nanya ke orang tua gua, gedung itu masih belum dilanjutin lagi pembangunannya. Kabarnya sih pemilik lamanya tukang korupsi."
"Owhh...."
Akhirnya mereka menuju tempat pertama, butuh waktu lumayan lama untuk kesana, karena jalurnya yang sulit dilewati mobil.
30 menit dibutuhkan untuk sampai.
Sesampainya disana, mereka mendapat pemandangan padang rumput tinggi yang terbentang luas.
"Ok, sekarang dimana tempatnya. Aku tidak bisa melihat apa pun selain rumput disini."
"Sebentar, gua ingat-ingat dulu." Roy berpikir sambil berkeliling, mencoba mengingat-ingat masa lalunya.
Dia menyibak rerumputan, melihat ke tanah dan lain-lain demi menemukan petunjuk untuk sampai ke tempat persembunyiannya dahulu.
Kemudian Roy menemukan sesuatu yang berguna, dia menemukan sebuah papan kecil berbentuk tanda panah yang mengarah pada satu arah.
"Nah! Disini nih, gua dulu ingat, dulu biar kami gak lupa, kami bikin tanda panah ini buat inget dimana arahnya."
"Kamu membuat penunjuk arah ke tempat persembunyianmu sendiri? Apa itu bisa dikatakan tempat persembunyian jika ada penunjuk arahnya?"
"Bawel! Sudah ikuti saja."
Rooney dan Aji terpaksa mengikuti Roy dengan patuh, sejujurnya masih ada keraguan tentang Roy karena dia sering bercanda.
Tapi kali ini dia benar, tidak perlu waktu lama, mereka menemukan sebuah tenda kecil yang dibangun tersembunyi dalam rerumputan.
Tanah di bawah tenda itu terlihat lebih rendah dari tanah sekitarnya. Sepertinya mereka menggali tanahnya dulu agar tendanya bisa dibangun lebih rendah dari rerumputan di sekitarnya, kemudian dilapisi terpal agar tidak kotor.
Di dalam tenda itu, terdapat barang-barang yang tampak familiar bagi Rooney dan Aji. Ya, itu adalah mainan-mainan masa kecil mereka.
"Ini... Ini kan mainan tentara yang dulu pernah populer."
"Aku ingat ini, ini yoyo dari serial tv yang sempat terkenal dulu. Aku sering melihatnya dimainkan oleh anak-anak tetangga."
"Kamu juga suka main yoyo ini Rooney?"
"Tidak juga, aku hanya melihatnya saja, karena dulu aku tidak punya teman."
"Owhhh.... Ini sangat nolstagia, gua ingat banget sering main gangsing ini dulu. Masih ada arenanya lagi."
Mereka bertiga malah tenggelam dalam nolstagia masa kanak-kanak, lupa dengan tujuan utama mereka kesini.
Beruntung Aji langsung tersadar, "Oh tidak! Kita kesini bukan untuk nolstagia."
"Oh iya! Aku terbawa tanpa sadar."
"Haduh.... Fokus fokus! Jangan kebawa terus woi!'
Mereka akhirnya tersadar setelah sempat terbawa kenangan indah masa kecil mereka. Dan kembali fokus pada tujuan pertama mereka.
"Yah... Mereka tidak ada disini."
"Tunggu, ada sesuatu yang aneh disini." Aji mengambil sesuatu, itu adalah bungkus mie instan yang tampak masih baru.
"Oh iya juga, gua baru sadar kalau bungkusnya masih baru. Bumbu di dalamnya juga masih kecium."
"Tunggu, ini dimakan mentah-mentah yah?"
"Kayaknya iya Ron, kayaknya ini bekas Alen, dari dulu dia memang suka nyemil mie mentah kayak gini. Katanya lebih enak gitu."
"Menjijikkan. Aku tidak tahu kenapa selera temanmu itu sangat aneh Roy. Tapi kita jadi tahu bahwa mereka habis dari sini. Perkiraanmu tepat sekali." Aji memuji Roy yang membuat perkiraan dengan tepat.
Roy tampak senang dengan pujian itu, "Oh iya dong! Gua mah jarang salah kalau urusan nebak kayak begini."
"Kalau begitu bagaimana habis ini Aji? Apakah kita tunggu mereka kesini lagi atau mencari ke tempat lain?"
Aji berpikir sebentar sebelum membuat keputusan, "Kita pergi saja, kita cari ke tempat lain. Dari bungkusnya, menurutku ini sudah dimakan sejak kemarin, seharusnya mereka sudah pergi dari sini sejak beberapa hari lalu. Mungkin karena beberapa hari lalu hujan, jadi mereka memutuskan pindah karena tempat ini kurang memadai."
"Hmm... Kalau karena hujan, pondok kayu yang dulu pernah gua bangun dan gedung yang gua pake nongkrong harusnya mereka pake kalau begitu."
"Iya, kemungkinan paling besar mereka kesana. Kita mulai dari pondok kayu yang kamu sebutkan itu."
"Sip, ayo semuanya naik ke mobil."
Mereka kembali ke mobil, dan segera menuju tempat selanjutnya.
Tempat berikutnya yang mereka tuju sangat jauh dari tempat pertama, ditambah dengan jalanan yang rusak, membuat kecepatan mereka menurun drastis.
Dalam perjalanan yang terasa lama dan membosankan ini, Rooney mencoba membuka percakapan.
"Aji, aku dari tadi penasaran, kenapa kau tidak masalah dengan Roy yang membawa mobil? Biasanya kau akan mengomel karena melanggar peraturan."
"Hmm... Yah sebenarnya aku mau protes sih awalnya, tapi-"
"Ahahaha...! Ada alasannya Ron!" Roy memotong ucapan Aji, "Soalnya gua dah punya kartu sim Ron! Makanya anak ini gak protes lagi?"
"Apa!?"
Rooney terkejut mendengarnya, sementara Aji mengalihkan pandangannya dengan sedikit cemberut.
"Iya! Gua sudah punya sim, jadi secara teknis, ini gak melanggar peraturan karena gua punya sertifikat resmi."
"Sebentar, ini aneh, kau kan baru kelas 1 SMA, bagaimana bisa kau punya sim?"
"Aaahhh... Itu sih... Panjang ceritanya."
"Kenapa!? Tolong ceritakan apa alasannya."
"Yahhh... Jadi sih, gua sebenarnya sudah 17 tahun Ron."
"Sebentar, jangan-jangan... Kau tidak naik kelas?"
"Bukan woi!"
"Lalu apa?"
"Jadi gini, gua dulu itu tinggal di luar negeri sama orang tua gua, disitu gua sudah mau kelas 3. Tapi orang tua gua mendadak balik lagi ke indonesia, dia indonesia gua malah harus balik lagi ke kelas 1. Jadinya gini deh."
"Begitu yah... Wow... Tidak kusangka ternyata aku berteman dengan orang kaya sepertimu. Memangnya dulu kau tinggal dimana Roy?"
"Inggris! Gua pindah ke inggris pas kelas 3 SD, terus balik lagi ke sini pas sudah akhir kelas 2 SMA. Makanya gua fasih bahasa inggris. Oh iya, secara kebetulan juga, gua ketemu lagi sama Farizi dan yang lain, padahal sudah kepisah dari kelas 3 SD. Lucu juga kebetulannya kan?"
"Pantas saja nilai bahasa inggrismu yang paling bagus seangkatan. Enak juga yah jadinya."
"Biasa saja tuh..."
Akhirnya setelah perjalanan lama, mereka sampai di tempat tujuan. Mengobrol cukup efektif untuk membuat waktu tidak terasa lama.
Tapi ketika mereka sampai, justru mereka malah menjadi bingung.
"Eummm... Roy, ini benar disini?"
"Kamu yakin tidak salah? Jangan-jangan kamu sudah lupa?"
"Ti-Tidak kok, gua yakin memang disini, gak mungkin gua salah."
Apa yang mereka lihat bukan lapangan seperti yang diceritakan oleh Roy. Yang ada hanyalah kompleks perumahan padat.
Roy sebagai yang bertugas membawa mereka juga ikut bingung dengan situasi ini. Apa mungkin dia lupa, atau malah dia terkena mandela effect?
"Se-Sebentar, gua cari tahu dulu sebentar yah. Gua yakin bener kok disini." Roy membuka hpnya, dia membuka internet dan memastikan lokasinya lewat internet sekaligus menelpon beberapa kenalannya.
Kebetulan ada seorang ibu-ibu yang sedang lewat disana, Aji langsung menghampiri ibu itu dan bertanya, "Permisi bu, saya mau bertanya, komplek ini dulunya lapangan bukan?"
Ibu-ibu itu sedikit bingung awalnya, tapi dia tetap menjawabnya dengan ramah, "Ah iya, benar dek. Dulunya komplek ini tuh lapangan, kurang lebih 4 tahunan lalu lah."
"Ohhh... Begitu, baik bu terimakasih yah bu, maaf sudah bertanya tiba-tiba seperti ini."
"Oh iya, tidak apa-apa dek, sama-sama."
Selesai bertanya, ibu itu akhirnya pergi. Dan dengan wajah kesal, Aji kembali.
"Haaahhh... Roy, kamu bilang kamu pindah ke inggris sejak kelas 3 SD kan?"
"Ahahaha.... Iya...."
"Lalu, tempat persembunyianmu itu kamu bikin sejak kelas berapa?"
"Sejak masih taman kanak-kanak sih."
"Lalu, kamu terakhir kesini kapan?"
"Yah... Sejak kelas 1 SD sih."
Puk
Aji menepuk pundaknya dengan frustasi, dia tampak sudah akan menyerah dengan Roy.
"Kamu terakhir kesini kelas 1 SD, kenapa kamu tidak periksa dulu, ah tidak, ini salahku yang tidak bertanya dahulu. Sudahlah."
Aji sepertinya akan mengomel, tapi dia tampak sudah lelah untuk mengomel lagi sehingga menyalahkan dirinya saja agar masalah tidak menjadi panjang.
"Yasudahlah, mending kita ke tempat selanjutnya saja. Tenang, seperti yang gua sudah bilang sebelumnya, gedungnya masih ada dan belum dijadiin apa-apa kok."
"Kamu yakin?" Aji bertanya ulang dengan mengangkat sebelah alisnya seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi seorang penjahat.
"Bener kok, asli! Gua udah nanya ke orang tua gua, pasti bener kok."
"Yasudah kalau kamu yakin, ayo Ron!"
"Ya! Ayo kita berangkat."
Mereka kembali ke mobil dan segera berangkat ke gedung yang dimaksud.
Menurut perkataan Roy, gedung itu ada di tengah kota, seharusnya jalan disana tidak akan buruk seperti jalan sebelumnya.
Harusnya tidak akan lama kan? Iya kan?
Namun...
Perkiraan Rooney, salah!
Jangankan lebih cepat, perjalanan mereka semua malah terasa jauh lebih lama dibanding sebelumnya. Jawabannya itu karena kemacetan.
Ya! Kemacetan adalah sebuah hal lumrah dan biasa terjadi di kota-kota yang padat. Berhubung kota tempat Rooney cukup padat, karena itu kemacetan yang terjadi, sangat parah.
Tin! Tin! Tin! Brrrmmm....! Brrrmmm...! Tootttt!
"Ayo jalan cepet!"
"Woi! Sabar lah!"
"Mamahhh...! Aku lapar."
"Woi pak! Jangan diam terus! Cepat jalan!"
"Buta lu! Lihat noh lampu merah!"
Suara kendaraan, klakson hingga teriakan dan umpatan marah para pengendara yang memenuhi kemacetan saling beradu.
Sangat menyiksa. Itulah yang mereka bertiga rasakan saat ini. Walau pintu mobil tertutup rapat, suara-suara bising tetap bisa masuk dan membuat telinga sakit.
"Akhhhhh!!!! Orang-orang gila ini bikin gua gila!"
"Ukhhh... Telingaku sakit."
"Eukhhhh... Kenapa banyak sekali yang melakukan pelanggaran disini? Apa mereka tidak takut jika terjadi kecelakaan?"
Perjalanan kali ini lebih menyiksa dari sebelumnya, Rooney belum pernah pergi hingga ke pusat kota. Bioskop yang dia datangi sebelumnya berada di pinggiran sehingga kemacetan relatif rendah, sementara Aji adalah orang yang tidak begitu suka bepergian jauh. Hanya Roy yang sudah berpengalaman dengan hal seperti ini, tapi dia tetap kesal karena teriakan dan suara bising klakson.
"Roy! Masih berapa jauh lagi tempatnya?"
"Dari maps sih cuman 5 kilometer lagi, tapi estimasinya sampai 40 menitan karena macet parah sampai disana. Nih lihat."
Dari peta internet yang ditunjukkan oleh Roy, terlihat jalur merah yang mereka harus lalui. Tanda merah itu berarti terjadi kemacetan parah sepanjang jalan tersebut.
Akhhhh... Seberapa lama lagi kami sampai!? Hanya bisa diam di dalam mobil, membuat Rooney hanya bisa menjerit dalam hati.
1 Jam Kemudian.
Duk Duk Duk Duk
Sebuah suara seperti palu yang sedang memukul kayu terdengar dari dalam mobil. Tapi itu bukan palu, tapi itu adalah kepala Roy yang memukul setir mobil.
Estimasi tiba mereka bertambah lama setelah ada kabar kecelakaan yang membuat jalanan semakin macet.
Selama 1 jam mereka baru bergerak 3 kilometer dari posisi awal, yang membuat Roy merasa semakin frustasi.
"Arrrgggghhh... Kayak siput semua ini jadinya! Kapan sampai kalah begini woi!"
"Sabarlah Roy, jangan berteriak dalam mobil." Aji menenangkan Roy, walau dia sendiri tidak tampak baik.
"Jangan nasehatin gua, muka lu sendiri udah kayak orang mau ngamuk."
"Tiii....dak! Kok!"
Ucapan Aji tidak sesuai dengan realita, nyatanya wajahnya memang seperti orang yang mau marah. Bahkan ucapannya terdengar bergetar karena menahan amarah.
"Nggak usah bohong. Oh iya, Rooney kok nggak ada suaranya?"
Ketika mereka menengok kebelakang, ada Rooney yang ketiduran dengan kepala menyender ke belakang dan air liur yang mengalir dari mulutnya.
"Enak banget dia tidur, serasa jadi bos kayaknya."
"Sudah biarin saja, dia sepertinya lelah."
30 menit kemudian.
"Euhhh...? Dimana ini?"
Rooney akhirnya bangun setelah beberapa saat. Ketika bangun, dia lupa berada dimana sehingga perlu waktu untuk memprosesnya.
"Sudah bangun lu Ron? Nyenyak yah tidurnya? Enak banget kayaknya lu tidur di belakang sendirian."
"Jangan didengarkan Rooney, jika kamu lelah tidur saja."
Keduanya menyapa Rooney yang baru bangun dengan berbeda. Rooney langsung sadar ada dimana dirinya dan langsung mengelap air liur di sekitar mulutnya.
"Ah, ma-maaf. Aku mengantuk sekali, habis ini aku tidak akan tidur lagi kok. Oh iya, masih belum sampai juga yah?"
"Sudah mau nyampai kok Ron, tuh sudah kelihatan gedungnya di depan."
Rooney melihat keluar melalui kaca mobil. Dia melihat gedung tua yang belum rampung. Belum ada jendela yang dipasang, dindingnya juga belum dicat atau dihias sehingga masih terlihat sebagai dinding semen yang terlihat suram.
Sudah berapa tahun gedung itu berdiri?
Tidak lama kemudian, mobil berbelok, masuk ke area gedung tua itu yang dikelilingi pagar yang dibuat seadanya. Tak ada palang yang menghalangi pintu masuk, sehingga Roy bisa masuk dengan mudah.
Mereka turun setelah mobil diparkir sembarangan.
Pasir semen menutupi jalan, membuat area di sekitar gedung terasa tandus dan kering. Beberapa alat berat terlihat di sekitar, sepertinya itu adalah alat-alat yang ditinggalkan disini setelah proyeknya terhentikan karena korupsi dana yang diceritakan oleh Roy.
"Ayo masuk!" Roy segera mengajak masuk ke dalam.
Segera mereka bertiga masuk kedalam gedung tua itu.
"Tempat nongkrong kalian pastinya di atas kan?" Aji bertanya pada Roy.
"Tepat sekali! Kok tahu?"
"Hanya menduga-duga saja."
"Yaudah ayo naik, peringatan saja. Naiknya lumayan jauh loh."
Roy mengajak mereka menaiki anak tangga yang berada di pojok gedung, tangga itu terbuat dari semen tanpa ada pegangan. Rooney berpikir jika ini sedikit berbahaya.
"Eummm... Roy, bukannya bahaya yah kalo naik tanpa ada pegangannya seperti ini?"
"Tenang saja Ron, tangganya cukup lebar kok. Rada licin sih karena banyak pasir, jadi hati-hati yah."
"Bukannya itu bahaya banget!?" Rooney menyerukan protesnya, tapi Roy sudah lebih dulu naik tanpa menggubris protes Rooney.
Puk
Aji memegang pundak Rooney dan menggelengkan kepalanya, "Sudahlah Rooney, dia tidak mau dengar. Sepertinya dia sudah tenggelam lagi dalam nolstagianya itu. Merapat saja ke dinding dan jalan pelan-pelan agar tidak jatuh."
Rooney hanya bisa menurut dan naik ke atas dengan pelan-pelan dan sedikit takut. Berbeda dengan Roy yang naik dengan cepat tanpa rasa takut.
"Woi Ron! Aji! Cepetan naiknya, lama banget kalian." Roy berteriak dari lantai 4, sementara Aji dan Rooney masih di lantai 2. Karena mulai di lantai 2, tangganya tidak menyatu dengan tembok, membuat mereka berdua harus lebih hati-hati untuk berjalan.
Roy sepertinya sudah lupa kita mau melakukan apa, bagaimana dia bisa berteriak seperti itu? Jika Farizi dan yang lain sungguh ada disini, mereka bisa saja kabur karena mengira kami debt collector.
Dengan susah payah, akhirnya Aji dan Rooney sampai di lantai 4, disana sudah ada Roy yang menunggu.
"Kalian lama banget."
"Kamu yang terlalu cepat. Omong-omong berapa lantai lagi untuk sampai di lantai paling atas?"
"6 lantai lagi, tempat nongkrong gua ada di lantai 10."
"Apa? Kenapa kalian memilih tempat yang sulit dijangkau seperti itu?"
"Disana pemandangannya bagus, dan ada sofa juga, jangan tanya kenapa bisa ada sofa. Itu sudah ada dari awal, gua juga nggak tahu kenapa bisa ada disana."
Mereka lanjut naik, kali ini Roy bersedia menunggu mereka bahkan meminjamkan pundaknya sebagai pegangan kepada Aji dan Rooney.
Perlu waktu lama untuk mereka akhirnya sampai di lantai teratas.
7 menit kemudian.
Mereka hanya tinggal sedikit lagi untuk sampai di lantai teratas, Aji memperingatkan Roy untuk tidak berisik karena bisa saja membuat Farizi dan yang lain ketakutan.
Dengan langkah pelan, mereka menaiki anak tangga satu persatu.
Tep... Tep... Tep...
Waktu terasa sangat lambat ketika tujuan terakhir hampir tercapai, firasat mereka masing-masing berkata bahwa Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil memang bersembunyi disini.
Tap
Mereka sampai di lantai 10, pemandangan yang pertama mereka lihat adalah sebuah sofa tua dengan per sudah keluar yang terletak tidak jauh dari mereka.
Dan didekat sofa, ada Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil yang sedang memakan mie instan tanpa dimasak dengan penampilan berantakan seperti gelandangan.
"Kalian... Jadi gelandangan?" Itu adalah ucapan pertama yang diucapkan oleh Roy ketika melihat mereka.