
-Hari Minggu.
Hari libur yang sangat menyenangkan bagi banyak orang, termasuk Rooney. Biasanya pada hari minggu, Rooney hanya akan diam di kamarnya sambil membaca novel.
Tapi hari ini berbeda, bukannya berada di kamar, Rooney justru berada di lapangan, berlatih bulu tangkis bersama Aji dengan tubuh berkeringat dan napas yang tersengal.
"Hhahhh... Hhahhh... I-Istirahat dulu dong... Hhahhhh... Hhhahhhh... A-Aku... S-Sudah... T-Tidak kuat... Hhahhhh... Hhahhh..." Ucap Rooney dengan napas tersengal.
Aji terlihat sama lelahnya, tapi dia tidak terlihat mau istirahat, malahan dia tampak tidak menyukai ide untuk istirahat karena merasa masih kuat untuk lanjut.
Tapi melihat keadaan Rooney yang sudah sangat buruk, Aji pun memutuskan untuk istirahat, "Baiklah, kita istirahat dulu 10 menitan."
"Akh-Akhirnya..." Rooney menyambut waktu istirahat dengan penuh suka cita.
Mereka berdua pun pergi ke sisi lapangan, Rooney langsung menjatuhkan dirinya ke tanah setelah kakinya tidak kuat lagi untuk menopang dirinya.
Rooney tiduran tengkurap di tanah yang keras dan kotor, tapi rasa lelahnya membuat dia mengabaikan fakta tersebut. Baginya saat ini, tanah yang keras dan kotor adalah kasur paling nyaman di dunia.
Lalu Aji menyodorkan sesuatu pada Rooney, itu adalah sebuah Sports Drink dingin yang biasa diminum oleh Aji.
"Minumlah, dan jangan tiduran di tanah, itu kotor." Ucap Aji.
Rooney menurut tanpa mengeluh, dia bangun dan membersihkan baju depannya yang kotor dan mengambil Sports Drink yang disodorkan padanya.
Cssssshhh...
Terdengar letupan ketika Rooney membuka tutup botol Sports Drink itu, segera Rooney meminumnya untuk menghilangkan dahaga.
Rasanya sangat menyegarkan ketika sesuatu yang dingin masuk ke tenggorokan ketika selesai berolahraga.
"Ahhhhhhh... Enak sekali." Ucap Rooney dengan puas.
Melihat Rooney yang mulai membaik, Aji pun langsung mengajak berlatih lagi, "Ayo setelah ini langsung mulai lagi."
"Euuuu... Tidakkah kita istirahat lebih lama lagi saja? Kudengar tidak baik berolahraga berlebihan."
"Kita baru berlatih 30 menit loh. Itu tidak lama."
"Eummm... Bagaimana dengan 5 menit istirahat tambahan? I-Itu bukan waktu yang lama kan?" Rooney mulai memohon pada Aji.
Semenjak Rooney mau berlatih, Aji selalu mengajaknya berlatih tanpa kenal waktu, dimulai dari hari kamis hingga sekarang hari minggu, Aji selalu mengajak Rooney.
Awalnya Rooney tidak keberatan karena dia sendiri sudah menetapkan pilihannya, tapi semakin dia berlatih bersama dengan Aji, semakin dia sadar seberapa brutalnya Aji.
Entah saat istirahat, waktu pulang, hingga waktu libur sekali pun, Aji masih tetap mengajak Rooney latihan. Sama seperti hari ini, secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan, Aji datang ke rumah Rooney dan mengajaknya berlatih bulu tangkis lagi.
Rooney sebenarnya mulai muak, dia sempat meminta bantuan ibunya dengan meminta agar ibunya melarang Rooney untuk pergi keluar. Tapi ibunya malah senang melihat ada seorang teman yang mengajak Rooney pergi keluar, bukannya melarang, ibunya justru dengan senang memberi izin bahkan membebaskannya dari tugas rumahnya.
Entah kenapa aku merasa sedikit menyesal karena ini, ternyata jika dirasakan langsung, rasanya tidak main-main. Keluh Rooney dalam hatinya.
Rasanya Rooney ingin kabur, tapi rasanya dia akan merasa bersalah jika kabur sekarang.
Beruntung, Aji masih bisa dibujuk untuk memberi waktu istirahat tambahan, seperti kali ini.
"Yasudah, toh kemampuan fisik setiap orang memang berbeda. Jadi kita akan istirahat 10 menit lebih lama kali ini."
"Ok, makasih..." Rooney merasa lega dan menjatuhkan dirinya ke belakang.
10 menit yang terasa sangat singkat pun berlalu, dan berlanjut dengan latihan yang sangat menyakitkan hingga malam.
...****************...
"Uuughhhh... Badanku sakit semua."
Ran mengeluh ketika tiba di rumahnya, seharian latihan bulu tangkis bersama dengan Aji sangat melelahkan.
"Owh, kamu sudah pulang. Ayo langsung mandi, kamu mau banget Ron." Ibunya langsung menyambut ketika Rooney pulang, dan langsung menyuruhnya mandi.
Rooney memang ingin mandi, tapi dia merasa terlalu lelah sehingga menundanya.
"Nanti saja bu, aku capek."
"Dih, sudah bau banget loh kamu. Cepet mandi!"
"Eurrghhh..." Rooney mengerang kesal karena dipaksa.
Tak bisa menolak perintah ibunya lagi, akhirnya Rooney mandi secepat mungkin untuk tidur.
Selesai mandi, Rooney langsung tiduran di sofa ruang tengah dengan badan dan rambut yang masih belum selesai dikeringkan.
Melihat anaknya itu malah malas-malasan lagi, ibu Rooney menggeram dan memarahinya.
"Heummm... Rooney! Kamu ini yah, habis mandi bukannya keringin badan malah tiduran lagi. Tuh lihat! Baju kamu sampe basah, sofa juga ikutan basah, mau masuk angin kamu!? Sana pake keringin badan dulu!"
"Iya nanti..."
"Roooooneeeeyyyy!!!!"
Malam itu, kediaman Rooney dipenuhi oleh teriakan marah ibunya dan berakhir dengan jeweran di kuping yang membuat telinga Rooney menjadi panjang.
...****************...
-Hari senin, jam istirahat makan siang.
Rooney seperti biasa hanya memakan roti dan sekotak susu, yang berbeda hanyalah dia tidak tidur setelah makan, melainkan berlatih bulu tangkis lagi di halaman belakang sekolah.
"Hosh... Hosh... Hosh... Be-Berhenti dulu dong." Rooney sudah ngos-ngosan walau baru sebentar saja.
Merasa baru latihan sebentar, Aji menolak, "Tidak boleh, lagian tanggung jika istirahat dulu, sekarang kan kita cuman latihan sebentar. Terlalu buang-buang waktu jika istirahat dulu. Lagipula kita baru latihan sebentar loh, masa kamu sudah lelah?"
"Bu-Bukannya begitu."
Rooney memegangi perut dan dadanya, masalah utamanya bukan karena lelah, tapi karena sakit perut akibat beraktivitas berat tepat setelah makan.
Makanan di lambungnya yang masih belum tercerna sempurna, seperti berbenturan dengan dinding lambung dan membuat sakit perut Rooney.
Ukh... Rasanya mau muntah.
Rooney sudah diambang batas, sebelumnya dia tidak makan karena masih merasa kenyang setelah sarapan, tapi hari ini berbeda. Dia tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan dan merasa ingin makan siang karena lapar.
Akibatnya, saat ini perutnya terasa seperti mau pecah, makanan yang dia telan terasa naik ke tenggorokan dan akan keluar.
Tapi Aji memaksa, "Ayolah, kemarin kita kebanyakan istirahat, pokoknya hari ini harus bisa lebih lama dari hari sebelumnya."
Ughhh... Sudahlah. Rooney pun menyerah untuk membujuk Aji.
Glek
Rooney menelan makanan yang hampir keluar, kembali ke lambungnya, dan meyakinkan dirinya untuk bertahan sampai akhir.
"Ba-Baik, a-aku siap." Rooney memberi sinyal kepada Aji untuk segera mulai.
"Ok, mulai dari aku lagi yah."
Aji memberikan servis yang tinggi, Rooney kesulitan untuk melihat arah jatuhnya karena matahari yang bersinar terik membuatnya sulit mendongak ke atas.
Namun, dengan sedikit usaha, Rooney berhasil memukul balik.
Aji senang melihat Rooney yang mau berusaha lebih keras. Dia pun berpikir untuk lebih serius, Baiklah, dia mau untuk serius, kalau begitu aku juga harus lebih serius lagi.
Setelah berpikir seperti itu, Aji terus melakukan pukulan keras yang membuat Rooney kesulitan untuk memukul balik.
Belum lagi, pukulan Aji membuat Shuttlecock terlempar jauh hingga terpaksa membuat Rooney berlari kesana kemari untuk mengejar Shuttlecock.
Berlarian kesana kemari, membuat perut Rooney berguncang hebat. Makanan didalamnya terguncang dan menabrak dinding lambung.
Uakhhh... Pe-Perutkuuu...
Tidak kuat menahannya lagi, Rooney pun memuntahkan semua makan siangnya dengan bentuk yang menjijikkan.
"Ho-Hooeeeekkkkk..."
"Woy! Kamu kenapa!?"
...****************...
Hari-hari yang sangat melelahkan terlewati, tidak terhitung berapa kali Rooney muntah dan jatuh hanya untuk satu hari. Dan hari yang sudah ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini adalah hari pembuktian atas usaha yang sudah dilakukan Rooney.
Undian akan dilakukan lagi untuk menentukan lawan tanding, ini adalah kesempatan terakhir Rooney dan Aji untuk lepas dari hukuman.
Rooney pun mengajukan diri untuk mengambil kertas undian, "Biar aku saja yang ambil."
Aji mengangguk setuju.
Rooney maju menuju guru olahraga yang menyodorkan kertas berisi angka random.
Rooney tidak memiliki trik khusus atau rencana apa pun untuk memilih undian, karena pada dasarnya itu memang murni keberuntungan. Satu-satunya harapan Rooney hanyalah tidak mendapat Anis dan Thomas sebagai lawan.
Kami sudah melawan mereka 2 kali, seharusnya tidak ada yang ke-3 kalinya, iya kan?
Dengan memaksa dirinya untuk yakin dan tidak takut, Rooney mengambil sobekan kertas dan melihat angkanya.
Itulah angka yang tertulis di kertas tersebut, dan hasilnya... Lawan Rooney dan Aji adalah...
"Huwaaaaaaa...!!!!! Kenapa mereka lagi!?"
Rooney berteriak frustasi sambil bersimpuh di tanah dengan menyedihkan.
Seburuk apa keberuntunganku? Bagaimana bisa aku mendapat mereka sebagai lawan 3 kali berturut-turut? Ini curang!
Anis dan Thomas yang melihat Rooney yang bersimpuh dengan menyedihkan tertawa kecil. Rooney tidak bisa marah meski tahu dirinya ditertawakan, karena tahu jika dirinya memang pantas untuk ditertawakan oleh mereka, bahkan dia sendiri ingin menertawakan nasibnya yang begitu buruk.
Aji pun menenangkan Rooney yang hampir menangis, dia menepuk pundak Rooney dan memberi kata-kata penyemangat, "Sudah, sudah. Mau bagaimana lagi kan? Jangan sedih lagi, yang perlu kita lakukan hanya berusaha dengan bersungguh-sungguh, menang atau kalah itu hal biasa."
Kata-kata Aji terkesan hangat, tapi bagi seseorang yang seakan ditertawakan oleh takdir itu sendiri, rasanya kata-kata tadi hanya dipenuhi oleh omong kosong.
Kata-katamu memang keren Aji, tapi ini kan bukan komik remaja, tidak ada plot twist yang akan terjadi tahu!
Rooney hanya bisa mengeluh sampai puas dan akhirnya terpaksa bangun menghadapi takdir.
Pertandingan pun dimulai.
Anis dan Thomas terlihat tenang, hal itu sudah pasti karena mereka melawan pasangan yang mereka kalahkan 2 kali secara telak. Tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa takut.
Servis dimulai dari Anis, dengan pukulan kuat, Anis melakukan servis. Shuttlecock melambung tinggi ke belakang.
Matahari yang bersinar terik membuat mata sakit melihat Shuttlecock yang akan jatuh. Biasanya pasti Rooney akan melewatkan ini dan menyerah, tapi kali ini berbeda.
Pak
Rooney berhasil memukul balik ke area Anis dan Thomas, walau hanya berhasil memukul sekali, Rooney sudah merasa senang.
Pertandingan terus berlanjut dengan tenang, Anis dan Thomas tampak tidak serius menanggapi Rooney dan Aji, sepertinya mereka merasa akan tetap menang meski tidak serius sekali pun. Menyakitkan, tapi tidak sepenuhnya salah.
Poin demi poin diambil oleh Anis dan Thomas, tapi Rooney dan Aji berhasil mengejar dengan ketat.
Skor sekarang adalah 9-7 dengan waktu pertandingan berjalan 2 menit, keunggulan bagi Anis dan Aji. Hanya ada waktu 5 menit bagi Rooney dan Aji untuk mengejar ketertinggalan.
Rooney bermain semakin baik, dia menjadi ngotot untuk mengejar Shuttlecock yang akan jatuh dan bahkan beberapa kali mencetak poin. Rooney merasa bangga dengan kemajuannya, walau dia tetap berusaha untuk tidak memperlihatkannya dengan jelas.
Aji pun sering memberikan apresiasi kepada Rooney dengan bentuk memberikan jempol atau tos.
Namun, situasi belum terlalu bagus bagi Rooney dan Aji. Aji yang merasa situasi tidak bagus, merasa yakin harus makin bermain serius untuk bisa menang.
Pertandingan yang awalnya berjalan dengan monoton, mulai diwarnai oleh tensi tegang yang diciptakan Aji.
Setiap mendapat kesempatan untuk melakukan Smash, Aji mengambilnya dan memberikan pukulan kuat yang tidak sulit ditangkis oleh Anis dan Thomas.
Anis dan Thomas yang awalnya bermain dengan santai, mulai serius karena Aji. Mereka berulang kali harus bersusah payah untuk mengejar Shuttlecock yang terpukul kuat hingga meluncur seperti roket ke tanah.
Skor mulai berubah, 11-12. Keunggulan berubah ke arah Rooney dan Aji.
Rooney terlihat semakin bersemangat setelah mencetak poin berkali-kali. Namun sebaliknya, Rooney justru merasa cemas karena merasa ada yang tidak beres.
Anis adalah anak dengan harga diri tinggi, terutama jika menyangkut bidang keahliannya.
Melihat lawan berhasil unggul satu poin, dia merasa kesal dan berbisik kepada Thomas.
Hei, kita harus mulai serius, jangan sampai karena kebanyakan bercanda, kita jadi kalah.
Thomas mengangguk paham.
Firasat Rooney pun terbukti, tepat setelah mereka berdua unggul satu poin, Anis dan Thomas mulai serius.
Setelah mereka serius, Rooney dan Aji, tidak mendapat poin satu pun.
Skor sementara, 19-12.
Anis dan Thomas langsung mendapat poin dan menghempaskan Rooney dan Aji. Ketika mereka berdua sudah serius, Aji sama sekali tidak bisa memasukkan Shuttlecock di daerah mereka lagi.
Smash keras Aji sama sekali tidak berfungsi jika mereka sudah serius, keadaan justru berbalik, Rooney sekarang semakin kesulitan untuk memukul balik Smash mereka, hanya lelah yang didapat oleh Rooney dan Aji.
"Hosh... Hosh... Hosh... Mereka terlalu hebat, rasanya seperti anak kecil melawan atlet profesional." Rooney mulai mengeluh.
Situasi mulai memburuk, mereka hanya perlu 2 poin lagi untuk menang, walau pun Rooney dan Aji bisa menahan mereka. Waktu yang tersisa sudah tidak cukup lagi.
Waktu mulai memasuki menit 6, mustahil untuk memasukkan 8 poin hanya dalam 1 menut bagi Rooney dan Aji.
"Jangan menyerah... Hosh... Hosh... Waktu masih tersisa, kita masih bisa menang." Aji mulai memberi semangat pada Rooney.
Sejujurnya Rooney ingin menyerah saja, dia tidak bisa melihat kesempatan menang pada situasi ini.
Kita pasti kalah, sudah mustahil untuk menang dengan kondisi ini.
Anis dan Thomas pun sudah yakin mereka akan menang, terlihat dari permainan mereka yang mulai kembali santai.
Tapi, melihat sorot mata Aji yang masih semangat, membuat Rooney mengurungkan niatnya untuk menyerah.
Rooney kembali fokus, kali ini Aji memukul balik, Shuttlecock terpukul ringan ke arah Anis.
Merasa sudah akan menang, Anis mulai mengendorkan fokusnya, Toh, kami sudah pasti akan menang, tidak perlu serius lagi.
Akibatnya, ketika Anis akan memukul balik, kakinya malah tergelincir dengan sendirinya, "Aduh!"
Hilang keseimbangan ketika memukul balik, berakhir dengan Shuttlecock yang terlempar lemah.
Sekarang adalah kesempatan bagus untuk melakukan Smash dan mendapatkan poin di saat Anis terjatuh.
Umumnya, harusnya Aji yang melakukan Smash, tapi Aji yang terlalu lelah, memberikan kesempatan ini pada Rooney. Dengan memberi sinyal berupa anggukan, Rooney langsung mengerti dan berlari maju untuk melakukan Smash.
Pakkk!
Shuttlecock terpukul kencang dan jatuh tanpa bisa dipukul balik.
Rooney dan Aji mendapat poin.
Bagi Rooney, ini terasa sangat menyenangkan dan memuaskan. Mencetak poin setelah berlari sekuat tenaga seperti tadi, terasa sangat memuaskan baginya.
Aji mengajak tos dan Rooney menanggapi.
Plak!
Dengan satu poin tambahan, Rooney pun merasa akan ada harapan.
Atau begitulah dia kira
...****************...
"Ughhh... Kenapa banyak sekali yang harus ditulis..."
"Sabarlah, yang penting kita harus serius, jangan menulis dengan asal-asalan."
Di perpustakaan sekolah yang sepi, Rooney bersama dengan Aji menulis makalah tentang bulu tangkis dengan tulis tangan sebagai hukuman karena kalah di 3 kali pertandingan.
Poin terakhir yang didapat oleh Rooney adalah poin terakhir yang mereka dapatkan, setelahnya, pertandingan berakhir dan mereka kalah dengan jarak poin yang cukup besar.
Bodohnya aku, hanya dapat 1 poin tambahan malah kegirangan sendiri, sampai lupa sisa waktu sisa 1 menit.
Pada akhirnya Rooney dan Aji kalah meski sudah latihan keras selama 2 minggu terakhir. Firasat Rooney mengenai kekalahan mereka terbukti benar.
Penyesalan tentu saja ada, siapa yang tidak menyesal setelah memaksakan diri untuk latihan keras selama 2 minggu namun tidak ada hasil yang didapat.
Malahan, mereka berdua malah harus kerja keras lagi untuk menyelesaikan makalah 40 halaman.
Lalu, disaat Rooney sedang serius mengerjakan makalahnya, tiba-tiba Aji bertanya, "Oh iya Rooney, aku ingin bertanya."
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Apa kamu menyesal? Kalau aku sendiri sebenarnya tidak, dari dulu aku memang terbiasa kalah setelah berusaha keras sehingga ini bukan hal baru bagiku. Tapi kamu? Mau bagaimana pun, akulah yang memaksamu, apa kamu menyesal dan membenciku?"
Itu adalah pertanyaan yang sulit, Rooney pun terdiam mendengarnya. Namun, itu bukan pertanyaan yang mustahil untuk dijawab.
"Menyesal sih pasti ada, munafik namanya jika aku tidak menyesal dan, eummm.. Aku juga... Sedikit kesal karena kamu yang memaksaku."
Seolah sudah menduganya, Aji pun menghembuskan napas lega, "Begitu yah, sudah kuduga sih."
"Ta-Tapi..."
Rooney masih belum selesai menjawabnya.
"...Bu-Bukan berarti aku membencimu sih, hanya... sedikit kesal saja. La-Lagipula, berusaha keras sekali-kali itu, tidak buruk juga."
Jawaban yang cukup mengejutkan, itu tidak diduga oleh Aji, tapi itu sangat melegakan.
"Begitu ternyata... Baguslah jika kamu merasa seperti itu."
"Oh iya! Be-Berarti... Kita telah menjadi teman kan?" Rooney balik bertanya.
Pertanyaan yang sangat mengejutkan, bahkan AjiĀ tidak menduganya.
Dengan ekspresi kebingungan, Aji menjawab, "Loh? Tentu saja kita teman."
"Begitukah!? Be-Berarti kita sudah menjadi teman yah?"
Rooney pun bersorak dalam hati, saat ini, tujuannya untuk mendapat teman yang banyak, mulai berjalan maju.
Hari ini, walau sebenarnya sudah dari lama, Rooney mendapatkan 1 teman baru.