I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Air Dan Minyak



-Pagi hari, hari rabu.


Pagi ini terasa berbeda, rasanya sangat menyegarkan dibanding hari-hari sebelumnya. Pusing dan sakit kepala yang diderita oleh Rooney akhirnya hilang setelah hampir seminggu dia menderita.


Tentu ini bukan tanpa alasan.


"Halo Rooney, sepertinya kamu sudah baikan sekarang. Wajahnya tampak lebih baik dari sebelumnya." Aji menyapa Rooney ketika mereka bertemu di gerbang sekolah.


"Haha, tentu saja, rasanya beban pikiranku sudah lepas semua."


"Baguslah, untuk berikutnya, berhati-hatilah dalam memilih teman."


"Iya, iya, kau seperti ibuku saja sekarang."


"Tolong berhenti melakukan sarkas seperti itu terus."


Bisa dibilang, semua masalah selesai berkat Aji. Kalau saja Aji tidak memberitahu Rooney tentang teman-temannya yang toxic itu. Mungkin saat ini Rooney masih menderita menjadi kacung mereka.


Selain itu, ada kabar bahagia lainnya saat mereka berdua masuk kelas.


"Yooo!!!! Gimana kabar kalian semua? Kangen kan sama gua!?"


"Ahahaha... Apaan sih lu Ron, baru saja keluar rumah sakit sudah bertingkah gila aja."


"Hidup itu harus positif bro! Kalau lu habis sakit jangan dibikin lemas terus, harus semangat biar gak sakit lagi."


Roy sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit setelah hampir 2 minggu. Awalnya Rooney berpikir jika Roy akan datang dengan penampilan seperti pesakitan dan lemas.


Namun kekhawatirannya ternyata sia-sia, ketika datang, Roy langsung menyapa semuanya dengan heboh dan bersemangat. Dia tidak tampak seperti orang yang baru saja terkena penyakit. Justru dia terlihat seperti orang yang baru saja pulang dari liburan.


"Owh~ Rooney! Apa kabar!" Roy langsung menyapa Rooney ketika melihatnya.


Rooney cukup senang melihat Roy kembali sehat dan bersemangat seperti biasanya, "Ya, bagaimana keadaanmu? Kudengar kau sakit parah?"


Mendengar pertanyaan Rooney, Roy menaruh tangannya di dahinya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah baru terkena tragedi yang mengerikan.


"Owh~ itu pengalaman yang sangat menyakitkan jika diingat kembali, aku harus diinfus selama dirawat, setiap pagi selalu ada suster yang datang untuk mengambil sampel darah untuk diperiksa, orang yang dirawat di sebelahku juga sangat berisik ketika tidur. Dan yang paling buruk adalah, makanan dirumah sakit itu, sangat tidak enak!" Roy menunjukkan ekspresi ketakutan di bagian terakhir seolah itu adalah hal yang sangat mengerikan.


Rooney tidak yakin jika makanan rumah sakit adalah bagian yang terburuk, karena dia belum pernah dirawat di rumah sakit selama ini.


"Oh iya, omong-omong dia siapa? Kenapa lu dateng bareng sama dia?" Roy menunjuk Aji.


"Eeehhhhh....? Masa kau tidak tahu? Dia kan ketua kelas kita, dan lagi kau kan lihat aku berpasangan dengan dia saat pelajaran olah raga."


"Begitu yah? Yah~ Aku bukan orang yang pandai dalam mengingat wajah orang lain sih."


Ya ampun, apa benar dia ranking 2?


Merasa dirinya terus diabaikan, Aji pun masuk ke percakapan, dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan memperkenalkan dirinya, "Salam kenal, aku Sukmiaji, aku teman Rooney."


"pffft!" Roy malah tertawa mendengar perkenalan Aji yang terkesan sangat formal, "Ahahahaha.. Hei! Lu sedang ngelamar kerja? Formal amat, lagian yang terakhir gak terlalu penting kali, emangnya lu pacarnya apa? Sampai ngenalin hubungan lu sama Rooney."


"Tentu saja penting, jika berdasarkan pertanyaanmu di awal, kamu penasaran kenapa aku datang bersama Rooney kan? Karena itu aku memperkenalkan diri agar kamu bisa mengetahui alasannya."


"Buset dah ini anak, kaku banget kayak kanebo kering. Gua cuman bercanda buset."


"Begitu kah? Saya sendiri tidak begitu suka bercanda, apalagi bercanda dengan orang yang sering masuk BK seperti anda."


"Wah apa-apaan nih? Kok bawa-bawa masuk BK sih? Mentang-mentang ketua kelas dan murid teladan, lu jadi sombong yah?"


"Maaf sekali, tapi aku tidak berniat untuk menyombongkan dua poin yang kamu sebutkan. Jika kamu merasa tersinggung, berarti sifatmu memang buruk hingga bisa tersinggung hanya karena hal sepele seperti itu."


"Wah! Ngajak ribut yah ini anak!" Roy mulai kesal, dia menarik kerah baju Aji kedekatnya.


"Tolong jangan membuat keributan, apalagi di dalam kelas seperti ini, karena ini tempat untuk belajar, bukan untuk ribut karena masalah sepele"


"Wah! Beneran ngajak ribut anak ini."


Roy menggoyang-goyangkan kerah Aji karena semakin kesal, tapi Aji dengan wajah datar hanya diam saja sementara kerahnya ditark-tarik.


Mereka menjadi akrab dengan waktu singkat, atau mungkin tidak? Tapi yang jelas mereka bisa mengobrol tanpa rasa canggung dengan lancar. Apakah bisa dikatakan akrab jika sudah seperti ini?


Rooney mulai bingung, mereka di awal tampak tidak mengenal satu sama lain, tapi mereka bisa akrab sampai seperti ini.


Kenapa mereka langsung ribut saat pertama bertemu begini? Apa karena sifat mereka yang memang saling berlawanan yah?


Entahlah apa alasannya, tapi Rooney merasa mereka perlu segera dipisahkan.


"Tolong hentikan kalian berdua!" Rooney segera masuk diantara mereka berdua dan mendorong mereka menjauh.


"Ei Ron! Sudah tenang saja, gua gak bakalan ngapa-ngapain kok."


"Iya, tenang saja Rooney, mungkin aku hanya akan memukulnya sedikit saja."


"Buset dah! Justru itu yang tidak boleh kau lakukan!"


Mereka berdua terlihat akan berkelahi jika tidak segera dihentikan, beruntung bel masuk membuat mereka berdua berhenti.


Aji yang merupakan siswa teladan dan sangat disiplin, tentu langsung duduk di kursinya tanpa meneruskan perdebatan mereka.


"Sudah masuk, cepat duduk."


"Ahahaha! Takut yah!? Make bel masuk buat alasan, bilang saja lu takut!"


"Tidak, kalau mau nanti kita lanjutkan saat istirahat."


"Yaudah ayo sekarang disini saja!"


"Oi! Jangan berkelahi!"


Atau mungkin tidak?


...****************...


-Pelajaran pertama.


Guru datang disaat yang tepat, saat Aji dan Roy terlihat tidak bisa dihentikan, guru matematika yang terkenal galak, datang dan langsung menghentikan mereka berdua.


"Woi Roy! Kamu bikin ulah lagi yah!?"


"Lah? Tidak pak! Si Aji yang mulai."


"Tidak usah bohong kamu! Malah nyalahin temenĀ  sendiri lagi, lagian Aji mah anak baik-baik, tidak seperti anak nakal kayak kamu!"


"Lah!? Itu diskriminasi pak."


Akhirnya mereka berdua berhenti setelah Roy dimarahi oleh Aji.


Walau tampaknya hubungan mereka berdua masih panas, Roy masih tidak berhenti menatap Aji dengan tatapan kesal, matanya seperti akan mengeluarkan laser jika dia tidak berhenti menatap Aji.


Mereka seperti anak-anak. Omong-omong, apa yang terjadi dengan Farizi dan yang lain yah? Tumben sekali mereka tidak masuk.


Ya, tadi ketika guru mengabsen, Farizi, Anwar, Fadhil dan Alen tidak masuk. Tidak ada keterangan tentang mereka, tidak ada surat sakit atau pun izin yang diberikan, sehingga guru menganggap mereka alpa, masuk tanpa keterangan.


Apa mungkin karena kejadian kemarin? Tidak, tidak, memangnya apa yang kulakukan? Rasanya Aji hanya mengancam mereka saja, tidak mungkin mereka sampai tidak mau masuk sekolah hanya karena diancam seperti itu.


Rooney mencoba mengalihkan pikirannya pada buku yang ada di hadapannya, dia meyakinkan dirinya bahwa dia tidak memiliki keterlibatan pada hilangnya mereka ber-empat.


-Jam istirahat.


Rooney membereskan buku-bukunya sebelum pergi ke kantin, ketika dia hendak beranjak dari kursinya. 2 sosok datang menghampiri Rooney.


"Ron, ke kantin yok!"


"Ayo ke kantin Rooney."


Aji dan Roy, mereka berdua datang bersamaan dan mengajak Rooney untuk pergi ke kantin bersama.


Mereka yang saling berhadapan lagi, langsung berdebat seketika.


"Ngapain lu ngajak Ron?"


"Harusnya aku yang bertanya, lagipula aku temannya, hal yang wajar jika aku mengajaknya makan siang bersama."


"Apaan sih? Omongan lu bikin geli tahu gak?"


"Tidak, menurutku omonganku ini normal saja, lagipula buat apa kamu mengajak Rooney? Di belakangmu ada banyak yang mau mengajakmu makan siang, tidak perlu dengan Rooney kan?"


"Oi Roy! Mau ikut kagak?" Beberapa anak mengajak Roy pergi.


Tapi Roy langsung menolaknya, "Kagak! Gua ada urusan."


"Halah Sok sibuk, yaudah kami duluan yah."


Aji langsung mengomentari sikap Roy yang menolak ajakan teman-temannya, "Kasar sekali, langsung menolak seperti itu."


"Diam lu! Gua sudah biasa ngomong kayak gitu. Jangan ngalihin pembicaraan. Lagian lu sejak kapan akrab sama si Ron."


"Kami akrab saat kamu terbaring di rumah sakit."


"Lah...? Woi Ron! Kok lu bisa akrab sama dia pas gua lagi sakit sih?"


"Jangan menunjuk-nunjuk orang lain..."


Pembahasan mereka semakin ngaco dan kemana-mana, Rooney bahkan mulai tidak paham kenapa mereka meributkan suatu hal yang tidak penting seperti itu.


Jika dibiarkan, Rooney akan mengakhiri waktu istirahatnya dengan perut kosong. Karena itulah Rooney merangkul keduanya, dan...


"Ayo pergi bersama saja."


"Hah?"


"Hmm?"


Rooney merangkul mereka berdua dan mendorong keduanya untuk pergi ke kantin bersama.


Hal yang aneh, baru kali ini Rooney yang memimpin dan berinisiatif mengajak orang lain. Apalagi, orang yang dia ajak bukanlah orang biasa.


Yang satu, anak laki-laki paling populer seangkatan, berwajah tampan, gaul dan ramah sehingga memiliki teman yang banyak.


Dan yang satunya adalah siswa teladan yang dikenal baik oleh guru-guru sebagai ketua kelas yang kompeten dan seorang peraih peringkat 1 seangkatan.


Sementara Rooney hanyalah seorang siswa biasa dengan statistik rata-rata yang dalam drama atau film hanyalah figuran yang akan memuji karakter utama ketika lewat.


Terasa tidak nyata, namun inilah kenyataannya.


Mereka ber-tiga sampai di kantin sekolah.


Roy langsung memilih makanan yang dia mau ketika sampai, "Sip, aku mau soto betawi."


Entah apa yang membuatnya heran, namun Aji malah bertanya kepada Roy, "Soto betawi? Jadi kamu suka soto betawi?"


Entah apa yang salah, tapi Roy malah merasa tersinggung dengan pertanyaan Aji, "Haaahhhh...? Emang kenapa? Gak suka lu?"


"Kenapa kamu marah? Aku hanya bertanya pertanyaan biasa, bukan pertanyaan provokatif yang bisa membuat orang marah. Atau mungkin kamu memang orang berotak dangkal yang akan marah hanya karena ucapan seperti itu?"


"Nih anak emang mau nyari ribut yah!? Sini lu!"


Mereka malah kembali bertengkar, untuk sesaat Rooney merasa menyesal membawa mereka bersama kesini.


Harusnya aku makan sendiri saja yah.


Beruntung, salah satu ibu kantin memarahi mereka yang terus berdebat tanpa henti, "Hoi!"


Brak


Ibu itu menggebrak meja dagangannya hingga membuat orang di sekitarnya terkejut.


"Ribut mulu kalian berdua, kantin itu tempatnya makan, bukan buat adu mulut. Kalau tidak mau beli makanan, mending kalian berdua pergi aja acara debat, biar puas kalian berdebatnya."


Glup


Setelah dimarahi, Aji dan Roy pun berhenti berdebat dan meminta maaf.


"Ekhem.... Maaf bu, saya sepertinya sudah keterlaluan."


"Aduh... Sorry yah bu, gara-gara saya, jadi bikin suasana gak enak."


Mereka terlihat sudah tenang, ibu kantin itu ternyata sangat efektif untuk membuat mereka berdua diam.


"Yaudah, jangan ribut lagi, sana beli makan saja."


"Baik bu, sekali lagi saya minta maaf, karena anak ini, membuat ibu menjadi risih."


"Lah kok gua? Kan elu yang mulai."


"Maaf sekali, tapi aku tidak merasa membuat kesalahan, ini semua bermula dari kamu yang tidak bisa mengontrol emosi dengan baik, dan malah bertingkah seperti anak usia 9 tahun."


"Lu cowok atau cewek sih!? Cerewet banget mulutnya!"


Sepertinya hanya bertahan sebentar saja.


...****************...


Akhirnya mereka duduk dan makan bersama, tentu saja setelah dimarahi lagi oleh ibu kantin yang sudah sangat geram dengan Aji dan Roy yang terus berdebat tanpa henti.


Mereka memilih menu yang saling berbeda satu sama lain.


Rooney membeli nasi uduk karena dia sudah bosan makan roti dan susu, sementara Roy membeli soto betawi seperti niat awalnya, dan Aji membeli siomay.


Sepintas tidak ada yang aneh pada menu mereka, namun, jika dilihat, makanan yang dibeli Aji membuat orang lain akan mendecakkan lidahnya.


Bukan karena makanannya aneh, tapi karena cara Aji memakannya, bukannya mencampur bumbu kacangnya, bumbunya justru dipisah di mangkok kecil, dan dia memakan siomaynya dengan cara mencocolnya ke dalam bumbu kacang, bukannya langsung dicampur dengan siomaynya.


Kenapa... Tidak dicampur saja? Sepertinya kalau dicocol seperti itu justru merepotkan. Pikir Rooney keheranan.


Yang paling risih melihatnya adalah Roy. Dia tidak berhenti menatap ke arah siomay Aji dengan tatapan kesal dan risih.


"Ahhhhh...!!!! Apa-apaan sih cara makanmu itu!?"


Aji berhenti makan dan bertanya dengan heran apa yang salah darinya, "Kenapa? Aku tidak merasa ada yang aneh."


"Apanya yang tidak!? Lihat cara makan lu itu! Orang macam mana yang makan siomay dicocol!? Dimana-mana siomay dan bumbunya itu harus dicampur jadi satu!"


"Apa memang ada peraturan pasti? Tidak ada kan? Lagipula ini menyangkut selera pribadi masing-masing tidap individu. Tidak ada aturan mutlak aku harus mengikuti apa yang kamu katakan."


"Arrrghhh... Kenapa lu ngomongnya selalu dibikin rumit sih? Lu suka banget yah bikin ribet diri sendiri!?"


"Tidak juga, lagipula mungkin hanya kamu saja yang merasa ini aneh. Iya kan Rooney?"


Sejujurnya, Rooney juga merasa aneh. Dia tidak pernah melihat orang yang mencocol siomay dengan bumbu kacangnya. Bahkan sebenarnya, Rooney juga merasa risih ketika melihatnya. Selama ini dia hanya menahan dirinya saja karena takut menyinggung Aji.


Rooney mengalihkan pandangannya, dan berpura-pura biasa saja, "Yah... Menurutku itu bukan sesuatu yang perlu didebatkan sih."


"Lihat, Rooney saja tidak masalah tuh."


"Arghhh...! Ron! Jangan bohong hey, gua tahu lu bohong kan."


"Tidak kok." Ucap Rooney dengan menghadap ke sebelahnya.


"Jangan bohong! Kalau gak bohong, jangan liat ke arah lain."


"Sudahlah Roy, jangan mendebatkan hal yang tidak penting seperti itu." Ucap Aji yang kemudian melanjutkan makannya.


Tapi Roy tidak bisa tidak mempedulikannya, dia masih merasa risih dan kesal setiap melihat Aji mencocol bumbu kacangnya.


"Arrrghhh... Ini tidak bisa dibiarkan!"


Urat kesabaran Roy sudah putus, dia segera merebut bumbu kacang Aji dan langsung menuangkannya ke atas siomaynya.


"Hei! Kamu membuatnya menjadi berantakan."


"Memang begitulah cara makannya dasar gila!"


Aji tampak kesal, wajah datarnya terasa seperti menahan amarah, "Begitukah? Jadi kamu memaksaku untuk mengikuti standar makanmu kan? Kalau begitu, sini!"


Aji tiba-tiba merebut sendok Roy yang sedang dipakai untuk makan soto betawinya.


"Hei! Apa maksud lu ngerebut sendok gua?"


"Sama seperti yang kamu lakukan, aku mau kamu mengikuti standarku. Menurutku, makan soto itu harus dengan sumpit." Aji menyodorkan satu pasang sumpit kepada Roy.


Roy menatap sumpit yang diberikan kepadanya dengan tatapan bingung dan kesal, "Orang gila! Orang mana yang makan soto pakai sumpit."


"Kenapa tidak? Menurutku itu hal yang normal."


"Normal darimana!? Sini kemarikan! Aku mau makan!"


"Tidak boleh! Kamu harus makan memakai sumpit!"


Mereka berdua kembali bertengkar, keduanya saling mengacak-acak makanan satu sama lain hingga membuat tampilannya menjadi berantakan.


Beberapa orang yang duduk di samping mereka mulai merasa terganggu, beberapa bergosip, bahkan ada yang pergi karena merasa tidak tahan.


Tap Tap Tap


Seseorang datang dari belakang, hawa horror dibawa orang itu yang otomatis menghentikan pertengkaran keduanya.


Mereka melihat kebelakangnya, si ibu kantin yang sebelumnya sudah menegur mereka, datang dengan tatapan marah dan berang.


Adegan selanjutnya, sudah bisa dibayangkan.


...****************...


-Pulang sekolah.


Rooney sedang berjalan menuju gerbang sekolah, dia tidak sendirian, ada Aji dan Roy dengan kondisi kusut setelah kena marah.


Keduanya tampak cemberut dan kesal setelah dimarahi berkali-kali.


Rooney merasa ingin segera pulang karena tidak kuat berada di tengah mereka yang terus bertengkar.


Tapi di satu sisi, Rooney merasa jika membiarkannya saja, mereka akan terus bertengkar.


Mungkin... Aku harus berbuat sesuatu agar mereka tidak bertengkar terus.


"Roy, Aji, kita pergi main dulu yuk sebelum pulang."


Keduanya sontak menjawab, "Kenapa harus sama dia!?"


Keduanya tampak tidak suka dengan ide Rooney.


"Kenapa harus ngajak dia? Mending ajak yang lain aja kek Ron."


"Itu harusnya perkataanku, orang tidak tahu aturan sepertimu lebih baik tidak ikut."


"Halah! Sok taat lu."


Mereka kembali bertengkar lagi, keadaan akan semakin buruk jika seperti ini.


Rooney pun langsung buru-buru menengahi mereka dan mengajak keduanya segera pergi.


"Sudahlah, jangan bertengkar terus. Ayo pergi saja."


Rooney membawa keduanya pergi ke taman kota seperti kemarin.


"Kenapa harus kesini Ron? Kemarin kan sudah kesini."


"Lah? Lu berdua kesini? Berduaan doang? Geli buset. Lu berdua pacaran? Atau jangan-jangan lu h**o?"


Aji tampak kesal mendengar tuduhan Roy, "Jangan sembarangan berbicara! Apalagi memakai jokes kotor dan hina seperti itu."


"Yaelah, kaku amat. Gua ama temen-temen gua aja biasa ngejekin yang lain seperti itu."


"Diam kamu! Jangan memaksaku menerima jokes hina seperti itu."


Lagi-lagi keduanya mulai bertengkar saat baru sampai. Rooney segera mengintervensi dan mengajak mereka untuk membeli minuman.


"Sudah sudah, jangan bertengkar terus. Kalian bisa mengganggu yang lain. Lebih baik kita beli minuman saja. Aji, bagaimana jika kubelikan teh lemon seperti kemarin."


Aji langsung tergiur mendengar penawaran Rooney dan langsung menerimanya tanpa berpikir.


"Boleh saja, aku tidak menolak."


"Nah, kalau begitu ayo langsung beli saja."


Ketiganya pergi ke kedai yang kemarin.


"Roy, kau mau teh apa?"


"Dibeliin juga nih?"


"Iya."


"Yaudah boleh deh. Gua teh susu yah."


"Ok."


Rooney segera membuat pesanan, dan tidak lama kemudian pesanan mereka datang.


Mereka bertiga kemudian mencari bangku di taman untuk duduk sambil minum.


Kebetulan, ada kursi panjang dengan meja di taman yang sedang kosong, mereka berdua pun langsung menempatinya sebelum ada yang mengambil.


Ketiganya langsung meminum minuman masing-masing, Aji tampak menikmatinya, sementara Roy terlihat biasa saja.


Melihat situasi sudah tenang, Rooney mencoba bertanya pada keduanya tentang hal yang membuat mereka berdua terus bertengkar.


"Ok, karena keadaan sudah tenang. Aku ingin bertanya pada kalian berdua, kenapa kalian terus bertengkar?"


Keduanya awalnya diam dan mengalihkan pandangan, tapi kemudian Roy angkat bicara duluan.


"Haaaahhh... Simpel saja sih Ron, sebenernya, gua dah kenal sama nih anak sejak lama. Dia itu anaknya cepu, suka ngadu ke guru dan sok taat peraturan, bikinn ribet orang jadinya."


"Bukannya sok taat, tapi memang sudah peraturannya seperti itu. Lagipula jika tidak ingin dilaporkan ke guru, jangan melanggar aturan sekolah."


"Nah yang kayak gini nih bikin kesel, jangan sok suci gitu lah."


"Kamu harus sadar diri, kamu lah yang membuat orang lain kesal dengan tidak menaati peraturan. Suka bolos, mengganggu saat pelajaran, hingga membuat keributan di sekolah, apa menurutmu itu tidak mengganggu?"


"Siapa yang terganggu? Teman-teman gua saja senang kok. Lu aja yang terlalu kaku."


"Tidak juga, aku jarang melapor anak-anak yang bermain ketika jam kosong, karena aku menganggap itu tidak melanggar peraturan. Sampai disitu aku masih bisa memberi toleransi."


"Halah..."


Sampai disini Rooney paham, dia tidak bisa membuat mereka akur mau bagaimana pun. Keduanya punya sifat yang saling bertolak belakang. Sehingga mau bagaimana pun, keduanya akan terus bentrok karena sifat mereka masing-masing. Seperti Air dan Minyak yang tidak bisa menyatu mau bagaimana pun


Harusnya tadi aku pulang saja.


Bukannya berhasil mendamaikan mereka, justru mereka berdua malah semakin bertengkar hebat. Keduanya saling meneriaki satu sama lain hingga mengganggu pengunjung lain.


Seorang petugas keamanan tampak memperhatikan mereka dengan tatapan sinis.


Dan ketika keduanya makin menjadi-jadi, petugas itu mendekat dan menceramahi mereka lagi.


Rooney menangis dalam hati karena mereka berdua.


Haaaahhhh... Aku ingin pulang.