
Roy dan Rooney segera bergegas ke kelas untuk mengambil tas mereka.
Beruntung Rooney sudah membereskan buku-bukunya sebelum pergi tadi, Roy juga baru masuk kelas setelah dipanggil pelatih basket. Yang jadi masalah hanya tas Aji yang barang-barangnya belum dimasukkan.
Terpaksa, Roy dan Rooney harus membereskan barang-barang Aji. Beberapa anak kelas mengomentari tindakan mereka yang aneh.
"Woi Roy, lu mau kemana buset? Bawa tas kayak gitu mau kemana? Mau bolos mah jangan tas buset, nanti ketahuan."
"Jangan dicolong barang orang hey, gua tahu lu dendam sama si Aji, tapi jangan dicolong juga barang-barangnya."
Roy langsung balas meneriaki mereka tanpa berhenti membereskan barang Aji, "Berisik lu semua, gua kagak mau bolos hey, gua ada urusan. Lagian gua kagak mau nyolong barang orang, dia sendiri yang minta diberesin barangnya."
Bukannya berhenti, teman-temannya justru semakin mengejeknya, "Aaahhhh... Boong nih, Roy nyopet! Roy nyopet! Roy nyopet!"
"Dibilangin kagak buset lu pada kagak mau percaya."
Duh... Kami terlalu mencolok, rasanya jadi tidak nyaman.
Entah bagaimana, akhirnya mereka berdua selesai membereskan barang-barang Aji dan segera keluar kelas untuk pergi ke ruang guru.
Sebelum mereka pergi, Roy tidak lupa mengejek teman-temannya dulu, "Dadah~ Gua balik duluan, belajar yang rajin sana."
"Bolos saja bangga lu Roy."
"Yahhhh~ Iri yah~"
Tidak mau berlama-lama, Rooney segera menarik Roy untuk segera pergi.
Mereka pun segera menuju ruang guru, kebetulan Aji baru selesai mengurus surat izin bagi mereka.
"Kebetulan sekali, nih suratnya, nanti sebelum keluar tunjukin ke satpam dulu biar dibolehin keluar."
"Sip, nih tas lu."
Mereka sudah siap, namun sebelum pergi keluar, Rooney baru mengingat sesuatu.
"Tunggu, kita kesana mau naik apa?" Rooney baru menyadari tentang masalah transportasi, dia baru ingat meski tempat itu dekat, tanpa kendaraan tentu tetap memakan waktu lama.
Dengan wajah datar, Aji menjawab, "Tentu saja jalan kaki, kesana dekat kok."
Roy dan Rooney sontak terkejut, "Apa? Jalan kaki? Jika jalan kaki perlu 45 menit atau lebih Aji."
"Dasar lu ini, gua kira lu udah nyiapin transportasi."
Aji malah balas bertanya dengan wajah yang seolah menunjukkan dia tidak mengatakan hal yang salah, "Kenapa tidak? Aku biasa kemana-mana jalan kaki, lagipula aku tidak pernah bawa kendaraan."
"Lah? Lu gak pernah bawa motor gitu?"
"Tidak, lagipula anak dibawah umur dilarang untuk membawa kendaraan sendiri."
"Ah elah, kaku amat. Sudahlah, biar gua saja yang urus transportasi, gua pesenin taksi online dari sekarang."
Aji dan Rooney terkejut mendengarnya, sebagai anak sekolah biasa, biaya taksi online itu sangat mengerikan.
Rooney pun bertanya dengan khawatir, dia takut biayanya mahal, "Eeeeummmm... Apa tidak masalah memakai taksi online? Uang mingguanku sudah habis."
"Aku tidak punya uang untuk membayar taksi online."
Keduanya sangat khawatir dengan biaya yang pastinya tidak sedikit, tapi Roy dengan santai menenangkan mereka.
"Santai saja, gua yang bayar, gua kaya kok."
Entah kenapa dia terdengar seperti menyombongkan dirinya sendiri.
Akhirnya masalah transportasi sudah selesai, taksi mereka akan datang sebentar lagi.
Tak mau membuang waktu, mereka bertiga langsung menuju ke gerbang sekolah.
Satpam yang melihat mereka awalnya heran m melihat ada tiga orang murid yang membawa tas ke gerbang sekolah padahal masih jauh dari jam pulang, bahkan satpam itu awalnya meneriaki mereka dengan galak karena mengira mereka mau bolos.
Tapi setelah mereka menunjukkan surat izin mereka, satpam pun mengizinkan mereka keluar. Tidak lama kemudian, taksi yang dipesan Roy pun datang dan mereka segera berangkat ke tempat peminjaman uang ilegal yang menjadi lokasi pertama mereka untuk mencari anak-anak yang hilang itu.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempa tujuan.
Tempat peminjaman uang ilegal itu persis seperti namanya, terletak di sebuah gang kecil dengan penerangan remang-remang yang seolah memberitahu bahwa itu adalah tempat terlarang yang tidak sebaiknya dimasuki oleh anak-anak sma biasa.
"Apa rencana lu?" Roy bertanya pada Aji.
"Entahlah, aku hanya berniat untuk melihat-lihat sebentar, untuk mengecek mereka ada disini atau tidak." Aji memberikan jawaban yang tidak memuaskan.
"Lah? Terus ini mau gimana? Lu ngajakin kesini duluan tapi gak tahu gimana cara lihatnya? Atau lu mau bilang buat ketuk pintunya langsung terus bertanya, 'Permisi pak, saya ingin masuk boleh? Saya mau mencari teman saya dulu pak, katanya dia diculik disini.' Begitu hah!?"
"Yah... Maaf, aku juga buat bingung, aku hanya berpikir untuk lihat-lihat saja dulu."
"Ya ampun! Bisa-bisanya lu kepikiran hal naif kayak itu. Lu pikir ini taman bermain apa? Yang bisa tinggal liat-liat doang!? Ini markas gangster woi!"
"Tolong pelankan suaramu, aku tahu aku salah, tapi tolong jangan berteriak karena bisa membuat kita ketahuan."
Bukannya memikirkan solusi, mereka berdua malah saling menyalahkan. Meninggalkan Rooney yang memantau sendirian.
Rooney melihat pintu tempat peminjaman itu terlihat terdorong ke depan, dari situ Rooney tahu jika ada yang keluar. Sontak dia pun langsung menarik Aji dan Roy ke belakang tembok agar tidak ketahuan.
"Sstt! Ada yang keluar, jangan berisik."
Roy dan Aji langsung menghentikan perdebatan dan langsung bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari tempat peminjaman uang itu sambil mengintip.
Dari dalam tempat peminjaman uang itu, keluar dua orang berbadan besar dengan memakai jas. Tanpa perlu diberi tahu, mereka semua bisa menebak bahwa orang-orang itu adalah gangster hanya dari melihat luka-luka di wajah mereka yang terlihat mengerikan.
"Untuk sekarang, kita akan menguping ucapan mereka dulu, mungkin saja akan ada petunjuk tentang keberadaan Farizi dan yang lain." Aji memberikan instruksi kepada kedua temannya itu. Dan tanpa protes diterima oleh keduanya.
Kedua gangster itu mengeluarkan rokok dan korek, sepertinya mereka keluar hanya untuk merokok saja.
Sambil merokok mereka mengobrol santai seperti orang biasa, yang tidak biasa hanyalah pembahasan mereka. Terdengar umpatan kasar kepada orang lain dalam obrolan mereka, terdengar juga perbuatan mengerikan seperti membunuh, menggorok leher, memotong telinga dan memukuli orang-orang yang tidak mau membayar hutangnya.
Mengerikan... Pikir Rooney mendengar percakapan mereka yang dipenuhi tindakan yang tidak manusiawi.
5 menit berlalu, rasanya tidak ada informasi yang berguna dari obrolan keduanya. Mereka hanya membahas hal-hal mengerikan yang tidak ada hubungannya dengan Farizi atau yang lain.
Aji sempat berpikir untuk pergi karena merasa akan membuang-buang waktu jika lebih lama disini. Aji berpikir untuk menyusup langsung ke dalam untuk memastikan apakah Farizi dan yang lain benar-benar diculik mereka. Karena bisa saja ini bukan tempat peminjaman uang yang dituju oleh Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil.
2 menit kembali berlalu, rasanya kaki mereka mulai keram dan pegal, tidak ada hasil apa pun dari obrolan mereka. Bukannya mendapat info yang berguna, tiga orang ini malah mendapat info cara membunuh dan menculik orang lain.
Entah sudah berapa buah batang rokok yang dibakar dan dihisap oleh dua orang gangster itu hanya untuk menemani mereka mengobrol tentang hal-hal yang mengerikan.
"Hei... Sepertinya kita tidak akan mendapat info apa pun, lebih baik mencoba mencari cara untuk masuk ke dalam atau pergi sekalian daripada hanya diam disini saja." Roy mencoba memberikan saran dengan berbisik.
Aji membalas dengan ikut berbisik, "Kau benar, diam disini saja tidak menghasilkan apa pun selain keram otot. Lebih baik kita mencari cara lain untuk mendapat info ketimbang mendengar obrolan dua orang ini." Aji setuju dengan pendapat Roy.
Tapi Rooney berbeda, entah kenapa dia punya firasat bahwa akan ada hal penting yang akan muncul jika dia bersabar sebentar lagi.
Rooney memfokuskan semuanya pada kedua orang gangster tersebut, membuat sekelilingnya hening sehingga hanya terdengar omongan kedua gangster tersebut.
Dari hasil kesabaran tersebut, Rooney mendengar, "Oh iya, bagaimana kabar anak-anak SMA itu?"
Itu dia! Rooney mendengar suatu hal yang kemungkinan bisa menjadi petunjuk.
Rooney segera menghentikan Aji dan Roy yang hendak pergi, "Tunggu! Dengarkan ini, sepertinya ini akan berguna."
Aji dan Roy langsung kembali ke posisi menguping, dan mereka mendengar...
"Oh iya, benar benar, ada anak SMA yang kabur tanpa membayar hutangnya."
"Kudengar sudah ada yang kerumahnya, mereka sudah tidak ada dan orang tuanya tidak mau membayar."
"Hehe... Keterlaluan sekali yah bocah-bocah itu, sudah meminjam tapi malah kabur tanpa membayar hutangnya."
"Kudengar mereka kabur setelah sempat ditagih karena sudah jatuh tempo, kalau sekarang, bagaimana kabar tentang mereka?"
"Entahlah, kudengar mereka tidak diketahui, katanya sih bos tidak begitu peduli dengan mereka karena hutang mereka masih sedikit. Bos lebih suka menunggu hingga hutang mereka semakin banyak dulu."
"Hmmmpph... Bocah-bocah malang yang bodoh, mereka malah kabur setelah ditakut-takuti dikit."
"Ahahahaha.... Justru bocah-bocah bodoh seperti itulah yang membuat kita semakin kaya, mereka berpikir dengan kabur mereka akan bebas, padahal bunga hutang mereka akan semakin membesar hingga tak terbayangkan."
Pasti itu mereka.
Roy, Rooney, dan Aji langsung memikirkan hal yang sama. Mereka berempat tidak diculik, mereka pasti ada di tempat lain entah dimana, kemungkinan besar ada di tempat yang persembunyian yang disebutkan oleh Roy.
Setelah mendapatkan apa yang mereka perlukan, mereka langsung keluar dari tempat itu secepatnya.
Setelah berlari cukup jauh dari tempat peminjaman uang ilegal itu, mereka akhirnya berhenti dan menarik napas.
"Haahhh... Sekarang kita tahu jika mereka tidak diculik, pastinya mereka masih aman, setidaknya untuk sekarang sih. Entah ini berita baik atau berita buruk."
"Benar, kita seharusnya masih punya waktu karena gangster itu tidak berniat mencari mereka dengan serius. Tapi... Hanya masalah waktu sampai mereka nanti ditemukan."
"Benar, kalau begitu sekarang kita mencoba mencari ke tempat persembunyian yang disebutkan olehmu Roy. Mungkin saja mereka ada disana."
Rooney dan Aji langsung menatap ke arah Roy, menunggu informasi darinya.
Tapi Roy justru mengalihkan pandangannya dengan takut.
Perasaan Rooney menjadi tidak enak, "Eummm... Ada apa Roy? Apa ada hal yang mengganggumu?"
Glup
Perasaan Aji dan Rooney menjadi tidak enak, mereka tahu pasti apa pun yang disampaikan oleh Roy adalah hal yang tidak baik atau mungkin akan menjadi merepotkan.
"Eummm... Jadi begini... Gua lupa nyebutin kalau tempat persembunyian yang gua sama mereka bikin itu ada lumayan banyak."
"Owhhh... Memangnya ada berapa banyak?" Rooney bertanya dengan nada tenang, walau sebenarnya dia menyembunyikan rasa gelisahnya.
"Eummm... Kurang lebih ada 8 tempat."
"Apa...? 8? Tidak berjauhan kan?"
"Maaf, tapi semuanya saling berjauhan."
"Apaaa...? Kenapa tidak memberitahu dari tadi? Bagaimana kita bisa mencari mereka di 8 tempat yang berbeda dalam sehari?"
"Yah tidak bisa, lagipula sudah jam segini juga, paling hanya 2-3 tempat saja yang bisa kita cek."
"Kalau begitu... Jangan-jangan?"
"Yap, besok kita akan berkeliling lagi buat mencari mereka."
Tidaaaakkkk!!! Waktu liburku.
Rooney lemas mendengarnya, dia terpaksa harus mengorbankan waktu liburnya pada akhir pekan untuk melakukan hal yang merepotkan lagi seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah berjanji akan membantu mencari mereka berempat. Dia hanya bisa menahannya, meski badannya lemas membayangkan seberapa lelah nantinya.
...****************...
Mereka bertiga sedang menuju ke tempat persembunyian Roy yang pertama, mereka memilih tempat yang paling dekat dulu.
Tempat persembunyian yang pertama terletak di sebuah hutan kecil, sebuah hutan tua yang sudah jarang dijamah lagi dan sudah dibiarkan bertahun-tahun, akibat dibiarkan, saat ini tanaman dan pohon-pohon didalamnya bertumbuh lebat dengan sendirinya.
"Jadi, bagaimana tempat persembunyianmu itu?"
Rooney bertanya kepada Roy yang duduk di sebelahnya di dalam mobil yang sedang berjalan, sementara Aji duduk di samping supir.
"Ohoho... Gua senang lu nanya, gak niat sombong, tapi ini adalah tempat persembunyian gua yang paling keren. Gua bikin tempat ini bareng mereka dengan susah payah."
"Memang kalian membuat tempat apa?"
"Rumah pohon! Gua sama mereka bikin rumah pohon di pohon paling tinggi di hutan. Susah sih buatnya, gua sempet jatuh pas bikinnya, dan kaki gua jadi patah sampe gak bisa berdiri selama seminggu hahahaha... Lucu sih kalau gua ingat-ingat."
Rooney tidak tahu apa yang lucu dari hal itu. Dia berpikir jika kenangan akan luka bukan hal yang bisa ditertawakan seperti itu, Rooney sendiri trauma dengan luka yang dia alami sewaktu kecil, dan menjadi trauma baginya sejak lama.
Mobil akhirnya berhenti setelah 10 menit berjalan, mereka sudah sampai di tempat pertama.
Ketika mereka turun, sebuah hutan rimbun terlihat jelas, kelihatannya hutan itu dulunya memang kawasan milik seseorang karena dipagari oleh kawat besi, tapi tampak jelas juga sudah lama tidak dikunjungi, terlihat dari karat yang ada pada pagar kawatnya.
"Ayo masuk!" Roy dengan ringan mengajak Aji dan Rooney untuk segera masuk.
Glup
Rooney menelan ludahnya, dia sedikit takut untuk masuk ke wilayah seperti ini. Tapi dia memaksakan dirinya sendiri dan masuk mengikuti Roy.
Suasana berubah seketika mereka masuk, terasa lebih sejuk dan gelap dibanding di luar. Sejujurnya ini cukup nyaman seandainya mereka tidak sedang mencari-cari anak-anak yang menjadi incaran debt collector
Rooney hanya mengikuti Roy dengan diam tanpa berkomentar apa pun, Aji melakukan hal yang sama. Hanya Roy yang terlihat senang, entah apa dia lupa bahwa mereka sedang melakukan hal yang serius atau dia hanya sedang terbawa suasana nolstagia masa lalu.
"Nah! Kita sampai, itu dia! Masih cantik seperti dulu." Roy menunjuk sebuah pohon tinggi.
Rooney melihat pohon itu yang menjulang sangat tinggi, tidak jauh di atas mereka, sebuah rumah pohon di bangun dengan menjadikan pohon itu sebagai pondasinya.
Terlihat menakjubkan, tapi ada satu pertanyaan, "Bagaimana cara kita naik kesana?"
Pohon itu menjulang tinggi tanpa ada tangga atau bagian lainnya yang bisa dijadikan alat untuk dijadikan pijakan untuk kesana.
Roy membuat senyum yang aneh mendengar pertanyaan itu, "Hmm... Bagaimana yah... Jadi begini..."
Ah gawat... Perasaanku tidak enak.
"Tadi kan sudah kuceritakan kalau gua jatuh sampai kaki patah pas lagi ngebangunnya, karena gua gak bisa ngapa-ngapain, jadinya yang lain juga malas ngelanjutinnya. Jadinya nih proyek mandek tanpa sempat dibikin tangga buat naiknya, dan kami malah bikin tempat baru pas gua sudah sembuh."
"Haaaahhhhh.....? Terus kenapa kau mengajak kami kesini?"
Aji tampak kecewa, dia sampai menepuk dahinya karena tidak punya ide untuk mengatasi Roy.
"Dari semua tempat, ini adalah tempat yang paling tidak mungkin mereka datangi kan? Kenapa kamu menuntun kami kesini?"
Roy malah tersenyum, dia terlihat sudah punya solusi, atau mungkin sebenarnya tidak?
"Tenang saja, dulu kami sudah bikin tali buat naik ke atasnya."
Roy menarik sebuah tali tambang yang tampak sudah tua dan tidak layak dipakai.
Rooney dan Aji melongo melihatnya, "Haaah? Kau serius mau memakai itu?"
"Tentu saja serius, dulu kami memakai ini dan cuman kecelakaan sekali saja."
"Ok, lalu... Siapa yang mau naik?"
Roy lagi-lagi mengalihkan pandangannya dari pertanyaan Aji.
Anak ini... Dia bukannya mau menyuruh aku atau Aji untuk naik kan?
"Eummm... Bagaimana jika-"
"Kamu!" Aji memotong ucapan Roy.
"Tolong dengarkan aku dulu dong."
"Naik!"
Roy mulai berkeringat.
"Eummm... Bagaimana jika kita berteriak saja memanggil mereka dari sini. Tidak perlu sampai naik."
"Tidak! Bisa saja mereka pura-pura tidak mendengar, tidur, atau sedang tidak ada, atau malah mereka sekedar mampir dan meninggalkan jejak disini. Jadi... Naik!"
"..." Roy tidak bisa membalas, untuk pertama kalinya dia tidak bisa mendebat Aji lagi. Roy pun melirik Rooney untuk meminta bantuan.
Tapi Rooney dengan tegas berkata, "Kau!"
"Duh."
Akhirnya Roy pun naik menggunakan seutas tali tambang yang tampak rapuh dan akan putus.
Sejujurnya mereka tidak perlu memastikan apa pun lagi, baik Rooney dan Aji yakin jika Farizi atau pun yang lain tidak akan ada disini. Diantara semua tempat, tempat persembunyian ini adalah yang paling dekat dengan tempat peminjaman uang ilegal itu, tidak mungkin mereka akan menuju ke tempat terdekat, ini bagaikan menghindari tetangga menyebalkan dengan cara pindah ke rumah yang hanya lebih jauh 2 rumah dari rumah tetangga mereka itu.
Terlalu banyak resiko di tempat ini, selain resiko ditemukan oleh para Debt Collector, akses untuk naik pun terlalu sulit dan berbahaya. Orang normal pasti akan mencoret tempat ini paling pertama ketika sedang melihat list.
Tapi mereka tetap memaksa Roy untuk naik karena merasa sebal dengan sikap Roy yang malah fokus dengan nolstagianya, alih-alih fokus mencari temannya itu. Entah karena tahu bahwa temannya belum tertangkap, atau mungkin karena sikapnya yang terlalu santai itu.
"Hei kalian! Gua turun aja yah? Dari sini kelihatannya mereka tidak ada." Ucapan Roy terdengar ketakutan, dia pasti takut dengan ketinggiannya saat ini. Atau mungkin traumanya itu masih membekas padanya meski dia sudah bisa menertawakan kecelakaannya itu.
Tapi Aji tidak berniat memberi belas kasihan pada Roy yang, "Tidak boleh, bisa saja ada catatan yang mereka tinggalkan."
"Ayolah... Sepertinya mereka tidak ada disini. Ini cuma membuang waktu."
"Sudah tahu seperti itu kenapa kamu mengajak kami kesini?"
"Haisss... Maaf lah, gua cuman penasaran aja gimana keadaan nih rumah pohon, makanya gua sekalian kesini saja. Tapi ternyata ngeri juga kalau naik pake tali begini doang."
"Nah, bener kan. Kamu malah fokus bernolstagia."
"Iya iya, maaf, gua boleh turun gak nih?"
"Iya, turun saja, lagian mereka tidak mungkin ada disini. Kalau mereka ada disini pasti mereka sudah turun ketika mendengar suaramu."
"Okelah, yaudah gua turun nih."
Roy akhirnya berhenti naik dan hendak turun kembali, tapi tangannya malah terpeleset ketika sedang turun.
"Eh, eh, eeeehhhh.... Aaaaahhhhh!!!!"
Roy dengan panik berteriak ketika tangannya terpeleset, Rooney dan Aji ikut panik melihatnya. Mereka berdua langsung berkumpul di dekat tali dan bersiap untuk menahan Roy yang akan jatuh.
Tapi beruntungnya...
Srrrrrtttt....
Roy berhasil meraih talinya sebelum jatuh di detik-detik terakhir.
Wajah Roy langsung berubah syok, napasnya menjadi tidak beraturan akibat kejadian tadi, "Hah... Hah... Haah..."
"Jadi bagaimana?" Tanya Aji.
"Ngilu dikit."
Akhirnya mereka pun kembali pulang saja karena hari sudah semakin sore, sekarang sudah hampir jam pulang sekolah, karena itu mereka juga harus segera pulang sebelum orang tua mereka khawatir dan menanyakan kemana mereka pergi kepada pihak sekolah. Dan ditambah dengan keadaan Roy yang syok setelah hampir mengulang kecelakaan yang pernah dia alami saat kecil.