I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Pertemanan Yang Ganjil



"Ahhh... Akhirnya selesai."


Bruk


Di kamarnya, Rooney baru saja merebahkan badan ke atas kasur setelah menyelesaikan makalah 40 halaman yang harus ditulis tangan sebagai hukuman setelah tidak bisa menang satu kali pun saat praktek bulu tangkis.


Butuh 2 minggu Rooney menyelesaikannya karena ada tugas lain yang harus dia selesaikan, terpaksa makalahnya harus dicicil sedikit demi sedikit. Dan baru malam ini, malam sebelum tenggat waktu pengumpulan makalah, Rooney berhasil menyelesaikannya.


"Tinggal dikumpulin besok, sekarang tidur dulu, hoammm..."


Rooney pun tertidur nyenyak setelah kelelahan.


...****************...


-Pagi harinya.


Rooney berhasil berangkat sedikit lebih pagi dari biasanya, karena perintah gurunya adalah harus mengumpulkan sebelum pelajaran pertama. Rooney pun akhirnya terpaksa berangkat lebih pagi.


"Hoammm... Ngantuk banget." Rooney menguap sepanjang perjalanan ke sekolah.


Saat sampai di sekolah, gerbang masih sepi, belum banyak yang sampai sepagi ini. Hanya ada beberapa anak yang terpaksa berangkat pagi karena rumahnya jauh, atau anak OSIS yang harus berangkat pagi karena ada kegiatan.


Rooney langsung menuju ruang guru untuk mengumpulkan tugasnya.


Di ruang guru, masih sepi, baru ada beberapa guru yang datang, termasuk guru olahraga.


"Ini pak makalah saya." Rooney menyerahkan makalahnya.


"Mepet banget yah kamu, tapi gak papalah, karena bapak baik, bapak terima. Yaudah, terimakasih."


"Baik pak, terimakasih juga."


Rooney selesai mengumpulkan, merasa tidak ada kegiatan lain, dia pun langsung menuju ke kelasnya.


Pasti kelas masih sepi, kayaknya enak buat tidur dulu.


Saat masuk ke dalam kelas, dugaan Rooney benar. Kelasnya masih sepi, tapi siapa yang ada di kelasnya adalah orang yang dikenal akrab olehnya.


"Loh, tumben sekali kamu datang sepagi ini."


"Aji? Kenapa kamu bersihin kelas? Rasanya hari ini bukan jadwal piketmu."


Di dalam kelas sudah ada Aji yang sedang membersihkan kelas, dia menyapu dan merapihkan bangku serta meja yang berantakan.


"Hanya ingin saja, lagipula yang piket sering terlambat sehingga kelas sering tidak dibersihkan saat pagi, makanya kita sering kena marah oleh guru yang mengajar. Jadi aku biasanya datang pagi untuk sekalian membersihkan kelas."


Bukan hal yang aneh jika itu diucapkan oleh Aji, tapi tetap mengejutkan melihat ada orang yang mau dengan sukarela melaksanakan tanggung jawab orang lain tanpa diminta.


Melihat Aji yang membersihkan kelas, Rooney mengurungkan niat awalnya untuk tidur. Dia menaruh tasnya dan kemudian mengambil sapu yang tersisa dan ikut menyapu bagian yang kotor.


"Loh? Kenapa kamu ikutan nyapu?" Aji terkejut dengan tindakan Rooney yang tiba-tiba.


Rooney membalas dengan canggung, "Ha-Hanya ingin saja, la-lagipula, teman itu saling membantu kan?"


Aji tersenyum mendengarnya, dia pun dengan senang hati menerim bantuan Rooney, "Yah, itu benar. Kalau begitu tolong sapu sisanya yah, aku mau mengambil air untuk mengepel."


"Ok."


...****************...


-Pelajaran pertama.


Hari ini adalah pelajaran sejarah, pelajaran yang bagi Rooney membosankan karena gurunya hanya akan menceritakan sejarah masa lalu yang panjang.


Ditambah, hari ini Roy tidak masuk. Dari keterangan surat izinnya, Roy tidak masuk karena terkena penyakit tipes dan harus dirawat di rumah sakit.


Rooney awalnya ingin mengunjunginya, tapi guru sudah memberi peringatan tentang larangan menjenguk Roy. Kabarnya, hanya keluarga saja yang boleh menjenguk Roy, sehingga guru tidak berencana membuat kunjungan untuk menjenguk Roy.


Hufffttt... Sayang sekali, padahal aku ingin menjenguk Roy. Aku penasaran dengan keadaannya.


Tidak ada Roy, tidak ada yang bercanda dengan Rooney. Aji adalah anak teladan yang tidak pernah bercanda saat jam pelajaran, sehingga rasanya menjadi membosankan.


Rooney hanya bisa menelan kebosanan seperti hari-harinya sebelum bertemu Roy hingga waktu istirahat.


-Jam istirahat


Bel istirahat makan siang berkumandang kencang, membuat kegiatan mengajar berhenti sementara.


Rooney membereskan bukunya dan beranjak dari tempat duduknya, dia berniat untuk mengajak Aji makan siang bersama. Namun...


"Ah maaf, aku mau ke ruang guru dulu, aku biasanya memang makan siang di akhir waktu. Kamu duluan saja, tidak usah menungguku."


"Oh, begitu."


Rooney hanya bisa menelan kekecewaan karena Aji yang menolak ajakannya.


Rooney akhirnya pergi ke kantin sendirian, membeli satu roti dan susu, kemudian memakannya di pojok kantin sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang di kantin.


Ini hal biasa yang kulakukan sebelum berteman dengan Aji dan Roy, harusnya aku sudah terbiasa dengan ini. Tapi entah kenapa, aku malah merasa tidak terbiasa.


-Pulang sekolah


Teng Teng Teng


Bel pulang berdentang, mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Siswa-siswi menyambutnya dengan penuh sukacita, ada yang langsung pulang, namun ada juga yang masih di sekolah karena kegiatan ekskul atau organisasi.


Tidak ada kegiatan ekskul mau pun organisasi yang dijalani oleh Rooney, sehingga tidak ada pilihan lain yang dimilikinya, hanya ada opsi pulang yang tersedia untuknya.


Namun, ketika Rooney sedang membereskan buku-bukunya, ada seseorang yang menepuk pundak Rooney.


Rooney menengok ke belakang, dan melihat ada teman-teman Roy di belakangnya. Farizi, Fadhil, Anwar, dan Alen. Mereka ber-empat kompak berada di belakang Rooney.


Terkejut dengan kehadiran mereka yang muncul bagaikan hantu, Rooney bertanya dengan terbata-bata, "A-A-Ada Apha?"


Hanya pertanyaan singkat yang dilontarkan oleh Rooney, tapi dia masih tidak bisa bertanya dengan benar, malahan dia terdengar seperti orang yang sedang berkumur.


Hancur sudah... Kenapa disaat seperti ini sih?


Beruntung mereka masih bisa memahami pertanyaan singkat Rooney, walau mereka tetap tertawa karena cara bicara Rooney terkesan lucu.


"Hehehehe... Jadi gini Ron, bentar lagi kan sudah akhir pekan, lu mau gak ikut kita-kita main?"


"Iya benar, rencananya sih mau nonton ke bioskop, kebetulan ada film baru yang seru, lu mau ikut kagak?"


Rasanya seperti sambaran listrik, sangat cepat dan membuat siapa pun terkejut. Begitulah bagaimana perasaan Rooney ketika mendapat ajakan main untuk pertama kalinya.


"No-Nonton?" Rooney bertanya ulang.


"Iya, kita mau nonton di bioskop mall, dekat kok, paling hanya 10 menitan kalau pakai motor."


"Beneran?" Rooney masih bertanya ulang.


"Beneran elah, yah... Kalau lu tidak mau sih..."


Mendengar nada kecewa dari Anwar, Rooney langsung mengiyakan dengan cepat, "Mau kok! Aku mau! A-Aku bakal datang lebih cepat! I-Ibuku juga pasti mengizinkan! A-Aku bisa datang sendiri, jadi kalian tidak perlu jemput. Ya-Ya, po-pokoknya aku ikut!" Rooney menjawab dengan sangat bersemangat.


Mendengar jawaban Rooney, mereka ber-empat langsung tersenyum senang dan puas.


"Sip! Kalau begitu jangan lupa, hari sabtu jam 10 yah, filmnya bakal mulai jam 11, jangan sampai telat."


"I-Iya, aku tidak akan telat."


Mereka ber-4 kemudian pergi pulang sambil melambaikan tangan. Rooney membalas dengan pelan karena masih merasa tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.


"Aku diajak main?" Tanya Rooney kepada dirinya sendiri.


"Aku beneran diajak main?" Tanya Rooney kepada dirinya sekali lagi.


Hal ini sulit dipercaya, selama 15 tahun hidupnya, belum pernah sekali pun Rooney diajak main keluar oleh teman seumuran.


Rasanya sulit dipercaya, namun ini nyata. Perasaan gembira meledak seperti mendapat hadiah ulang tahun lebih awal.


"Yay!!! Akhirnya setelah sekian lama! Aku melangkah ke jalan anak-anak gaul! Hore!!!" Rooney melonjak senang dan meloncat-loncat sendirian di dalam kelas. Beruntung semuanya selain Rooney sudah pulang, sehingga tidak ada siapa pun yang melihat kekonyolan Rooney.


...****************...


-Hari Sabtu.


Pukul 9 pagi, Rooney yang biasa mengurung diri di kamar saat akhir pekan, saat ini justru sedang ada di depan bioskop yang terletak di mall kotanya.


Merasa terlalu senang karena mendapat ajakan main pertamanya, Rooney datang 1 jam lebih awal dari waktu janjian, tentu saja belum ada yang datang, bahkan mall pun masih sepi, belum banyak toko yang beroperasi saat jam segini.


"Bodohnya aku, bioskopnya saja belum buka, tapi aku malah datang jam segini."


Rooney merenungi kebodohannya yang datang sepagi ini tanpa memikirkan waktu. Rooney pun menunggu mereka datang di depan bioskop sambil duduk, sesekali dia berkeliling melihat toko yang mulai buka satu persatu.


1 Jam kemudian.


Mall mulai ramai dikunjungi, bioskop yang semula sepi pun mulai ramai didatangi oleh berbagai orang, ada satu keluarga yang datang bersama, pasangan kasmaran yang membuat muak, hingga anak sejenis Rooney yang datang dengan hoodie hitam sendirian sambil menebarkan aura kesendirian


Eukh... Menakutkan.


"Oi Ron, sudah nunggu lama lu?"


"Cepet banget datangnya, gua kira bakal telat lu."


"Ahaha... Ti-Tidak kok, a-aku juga baru datang." Rooney menjawab dengan berbohong, dia berpikir akan memalukan jika mereka tahu dia datang 1 jam lebih awal sebelum bioskop buka.


Mereka pun langsung mengajak Rooney untuk masuk ke bioskop. Film yang mereka ingin tonton, adalah sebuah film horror yang sudah tertunda 2 tahun karena kabarnya rumah produksinya mengalami krisis finansial sehingga tertunda lebih dari 2 tahun. Mereka semua tertarik karena kabarnya trailernya sangat bagus, dan sutradaranya memberikan gambaran yang mewah mengenai ceritanya.


Sejujurnya Rooney merasa ragu mendengarnya, dia sendiri sering termakan janji palsu dari seorang penulis yang menjanjikan sekuel yang memuaskan, namun nyatanya yang dia dapat hanyalah sekuel buruk yang menghancurkan cerita yang sudah dibangun.


Aku sedikit ragu, tapi mereka sudah mengajakku, tidak mungkin kutolak.


Mereka menuju loket tiket untuk membeli tiket menonton film horror berjudul A Death Man Come Back yang terdengar meragukan itu.


Namun saat di loket tiket...


"Aduh Ron, maaf nih. Duit gua sama Alen kurang, boleh tolong tambahin setengahnya dulu tidak? Nanti gua ganti."


Fadhil dan Alen kekurangan uang dan meminta agar ditalangin dulu oleh Rooney. Hal ini sangat ganjil, tidak mungkin ada orang yang mengajak main ke bioskop namun tidak membawa orang yang cukup.


Mereka ber-empat sebenarnya tidak cukup akrab dengan Rooney hingga bisa dipanggil teman, hanya Roy yang memang akrab dengan Rooney, sementara mereka hanya ikut-ikutan saja. Karena itulah, Rooney harusnya merasa ganjil dan tidak mau jika uangnya dipinjam seperti ini.


Namun...


"Ah tentu saja, kebetulan aku membawa uang lebih."


Rooney adalah orang yang tidak memiliki pengalaman bersosialisasi yang cukup. Dia tidak memiliki pengalaman pada hal seperti ini sehingga tidak merasakan hal yang aneh, bahkan Rooney berpikir jika ini adalah hal yang wajar dan tidak mencurigakan sama sekali. Rooney pun dengan ringan memberikan uang yang cukup banyak pada Fadhil dan Alen.


"Sip, mantep. Nanti di sekolah gua gantiin."


"Ah iya, santai saja. Tidak usah terburu-buru."


Mereka ber-empat lalu membeli tiket nonton, setelah memilih tempat duduk, petugas bioskop yang melayani mereka menawarkan popcorn atau minuman, serta paket hemat untuk 5 orang.


Rooney tidak begitu tertarik karena dia tidak suka popcorn atau minuman bersoda yang ditawarkan oleh bioskop, tapi lain halnya dengan yang lain, mereka tampak tergiur dengan tawaran paket hemat.


"Eh, beli aja yuk, kalo dihitung-hitung, kita hemat banyak."


"Ayok lah, gua mau."


Mereka ber-4 memutuskan untuk membeli paket hemat yang ditawarkan, sementara Rooney menolaknya. Namun...


"Eh, uang kita kurang nih."


Uang sisa mereka dari membeli tiket nonton masih tidak cukup untuk membeli paket makanan yang mereka mau.


Mereka lalu menatap Rooney, tidak keluar sepatah kata pun dari mereka, tapi entah kenapa Rooney merasa harus menawarkan diri.


"Biar kutambahin saja sisanya." Rooney menawarkan untuk ikut patungan karena uang mereka kurang.


Mereka ber-4 tersenyum senang mendengar penawaran Rooney, namun mereka malah mencoba menolaknya.


"Ah enggak usah."


"Kan elu gak mau, tidak enak kalau lu ikutan patungan."


"Iya, kan katanya elu kagak suka popcorn atau soda."


Mereka menolak tawaran Rooney dengan sopan, tapi entah kenapa justru Rooney merasa harus makin bersikeras untuk ikut membayar.


"Tidak apa-apa, sebenarnya aku penasaran dengan rada popcorn karena belum pernah beli."


Melihat Rooney yang masih bersikeras untuk ikut membayar, akhirnya mereka menerimanya. Rooney pun membuka dompetnya lagi dan mengambil uang yang dibutuhkan untuk membayar sisanya, namun... Dia terkejut dengan nominalnya.


Apa? Kenapa aku membayar setengahnya? Fadhil dan Alen memang sudah kehabisan uang, tapi harusnya tidak sebesar ini nominalnya.


Walau terkejut, Rooney berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya dan tetap berekspresi biasa sambil menyerahkan uangnya.


Setelah selesai, mereka pun masuk ke studio 3 tempat film horror itu akan diputar.


Rooney cukup terkejut ketika masuk, suasana studio yang sangat dingin membuatnya merasa merinding ketika masuk. Dia juga terperangah ketika melihat layar putih lebar tempat film akan ditayangkan.


Ini pengalaman pertamaku, ternyata bioskop itu sangat menakjubkan.


Mereka lalu duduk di kursi mereka dan menunggu filmnya diputar. Tidak lama kemudian layar lebar di hadapan mereka menayangkan sebuah adegan.


Tapi adegan yang muncul membuat Rooney heran karena hanya ada potongan trailer film komedi.


Bukannya kita mau nonton film horror? Kenapa malah ditayangkan film komedi? Apa jangan- jangan kami salah masuk!?


Bingung dengan film yang diputar di hadapannya, Rooney bertanya pada Farizi yang ada di sebelahnya.


Dengan berbisik, Rooney bertanya, "Eummm... Farizi... Bukannya kita mau menonton film horror? Kenapa malah film komedi yang diputar?"


Farizi tertawa kecil mendengar pertanyaan Rooney, "Hihihi... Lu baru pertama ke bioskop yah Ron? Ini tuh cuma iklan film lain, biasanya emang seperti ini, bioskop nayangin trailer film lain biar penonton tertarik buat nonton ke bioskop lain. Jangan heran, nanti juga ada iklan layanan masyarakat dan panduan nonton. Memang rada lama, sekitar yah... 10 menitan bisa lah."


"Ooohhhh... Aku memang baru pertama kesini sih, kukira akan langsung ditayangkan."


"Nah! Pengalaman pertama buat elu nih."


Setelahnya, iklan layanan masyarakat tentang rating usia yang tepat untuk menonton sebuah film muncul, dan disusul dengan panduan keselamatan bagi penonton bioskop. Persis seperti yang dibilang Farizi, iklan yang muncul cukup lama hingga film ditayangkan.


Setelah berbagai iklan muncul, akhirnya film horror yang tunggu muncul, secara bersamaan, lampu studio dimatikan.


Adegan langsung diawali dengan scene di kuburan yang terasa mencekam, didukung oleh hawa dingin dan suara bioskop yang menggelegar, berhasil membuat Rooney merasa merinding.


Adegan demi adegan berjalan dengan sangat baik, Rooney tidak henti-hentinya dibuat merinding oleh film ini hingga lupa bahwa dia harus mengeluarkan banyak uang demi menonton satu film ini.


Orang-orang di sebelahnya, yang melihat Rooney mulai fokus pada film, mendadak tersenyum dengan sangat aneh. Padahal di layar sedang ditampilkan adegan mayat hidup yang memotong tangan seorang pria.


...****************...


Film akhirnya selesai.


Lampu studio kembali dinyalakan lagi.


Haaaaa.... Ternyata memang sangat menyeramkan yah, sebaiknya aku tidak lagi meremehkan suatu film hanya karena covernya saja.


Rooney bernapas lega setelah film berakhir, selama film berjalan, dia terus dikejutkan oleh Jumpscare yang terus muncul.


Farizi lalu mengajak Rooney untuk segera keluar dari studio karena sudah mulai sepi.


Sambil berjalan, mereka ber-empat heboh membicarakan isi filmnya.


"Gila cuy, gak nyangka ternyata beneran bagus."


"Asli, awalnya gua kira bakal ngecewain pas liat awalnya, tapi ketika sudah sampai di bagian Alex lawan zombie, mulai bagus loh."


"Tidak sia-sia nonton, lain kali gua mau nonton ulang dah."


"By The Way tadi banyak banget Jumpscre loh, gua sempat kaget ketika bagian nerobos rumah."


"Ahahahaha... Gua juga sempat kaget tadi, minuman gua aja hampir jatuh tadi."


Mereka dengan semangat membicarakan isi film yang menurut mereka berkesan sambil terus memberikan pujian.


Rooney ingin bergabung melihat mereka yang tertawa senang. Dia pun mencoba memberikan pendapat tentang film itu.


"Oh iya, endingnya juga tidak disangka yah?"


Rooney ingin mengutarakan tentang ending film tersebut yang dia anggap sangat tidak tertebak. Tapi suaranya malah tenggelam oleh suara tawa mereka.


Tak kunjung ditanggapi juga, Rooney mencoba sekali lagi mengutarakan pendapatnya, "Eh, eummm... Halo teman-teman, menurut kalian endingnya tadi bagaimana?"


Sia-sia, suara tawa mereka menjadi seperti perisai yang menghalau orang asing untuk masuk. Ironisnya, Rooney lah si orang asing itu.


Rooney ikut berkumpul bersama mereka, dia ikut menonton bersama mereka, bahkan dia membantu mereka yang kekurangan uang, namun rasanya dia malah seperti sebuah barang tambahan yang tidak terlalu penting.


Merasa dirinya tidak dianggap, tanpa sadar Rooney berjalan sedikit jauh dari mereka. Dia mulai berpikiran negatif.


Namun ketika akan turun ke lantai bawah menggunakan eskalator, Fadhil menyadari Rooney yang berjalan terlalu jauh.


Kemudian Fadhil mengajaknya untuk mendekat, "Eh Ron, ngapain jauh-jauh? Sini... Nanti malah kepisah bisa-bisa."


Melihat sorot mata ramah mereka, Rooney kembali berpikir positif, dengan mudahnya pikiran negatif itu hilang dan digantikan oleh pemikiran positif.


Benar, aku kan teman mereka, mereka pasti hanya tidak dengar saja tadi.


Mereka lalu berjalan bersama walau Rooney masih belum ditanggapi, tapi Rooney masih berpikir positif, hingga berpisah ketika keluar dari mall.


Rooney dengan senang melambaikan tangan ketika berpisah sendirian karena memakai kendaraan umum sementara mereka memakai kendaraan pribadi.


Ketika Rooney berbalik, terdengar suara tawa, "Hihihihihi..."


Suara tawa yang jelas dan terasa ganjil, tapi suara bising kendaraan di sekitar mengaburkan suara tawa tersebut sehingga Rooney tidak mendengarnya.


Tanpa mendapat peringatan, Rooney tidak bisa tahu bahwa suara tawa itu adalah pertanda buruk bagi kehidupan sosialnya.