
-Hari selasa.
Sudah 2 hari berlalu sejak kunjungan Aji ke rumah Rooney yang berakhir menjadi mimpi buruk bagi keduanya.
Rooney masih juga merasa gelisah tanpa sebab sejak kunjungan Aji ke rumahnya. Ditambah melihat Aji yang berlatih sendirian di lapangan sekolah, membuat Rooney merasa semakin buruk.
Pagi yang biasa membuat Rooney mengantuk sudah tidak ada, Rooney merasa tertekan hingga sulit tidur selama 2 hari ini, bahkan ketika dia sudah lelah karena tidak tidur, Rooney masih saja sulit untuk tidur, seperti pagi ini.
Rooney yang biasa tertidur di mejanya ketika sampai di sekolah, justru terjaga. Dia tidak bisa tidur walaupun mau.
"Woi Ron! Lu kenapa? Mukalu serem amat? Sudah berapa hari tidak tidur lu?" Roy menyapa Rooney dengan terkejut ketika melihat kondisi wajah Rooney.
Tidak tidur berhari-hari memperburuk kondisi wajahnya, dari yang semula sudah kusut, semakin bertambah kusut. Kantung matanya terlihat jelas, wajahnya kusam, kotor dan tertekuk.
Bahkan ibu Rooney menjadi khawatir dan sempat meminta agar anaknya itu untuk tidak sekolah karena takut pingsan.
"Ada apa dengan lu Ron? Ada masalah yah?" Tanya Roy khawatir.
Benar, Rooney punya masalah, tapi dia merasa tidak bisa menceritakannya pada Roy karena merasa malu.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawab Rooney berbohong.
Tentu saja Roy tahu itu adalah kebohongan, "Tidak mungkin lu baik-baik saja, muka lu sudah kayak mayat loh."
Tapi Rooney masih tetap mengelak dari pertanyaan Roy, "Benar kok, tidak ada apa-apa."
Roy masih belum mau menyerah, dia berniat untuk terus bertanya hingga Rooney mau menjawab dengan jujur. Namun, bel masuk membatalkan niatnya.
"Duh, sudah bel lagi. Ron, gua bakal nanya lagi nanti pas istirahat, lu jangan bohong terus, jawab aja dengan jujur." Ucap Roy sambil menuju mejanya.
Rooney sebenarnya tidak mau berbohong pada Roy, apalagi setelah semua kebaikan Roy pada Rooney selama ini. Tapi rasa malunya membuat dia berbohong pada Rooney.
Pintu kelas terbuka, guru masuk seperti biasanya. Lalu Aji sebagai ketua kelas berdiri untuk memberikan salam.
Ketika Aji berdiri, Rooney melihat ada hal yang tidak biasa, tangan Aji, penuh dengan plester luka. Jari-jarinya juga tampak bengkak dan kapalan.
Sejak kapan Aji seperti itu? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang.
Rooney menjadi penasaran, dia berpikir mungkin saja penyebabnya karena latihan kemarin.
Kemudian, 2 anak di depan Rooney yang sepertinya juga menyadari luka-luka di tangan Aji, bergosip tentang lukanya.
"Eh, lihat tuh si Aji. Sampe luka-luka gitu loh."
"Iya, berarti benar dong berita kemarin?"
Berita apa? Rooney menjadi penasaran ketika mendengarnya, sebagai orang yang jarang bersosialisasi, Rooney kerap ketinggalan gosip dan berita.
"Kayaknya sih, tapi aku yakin deh, dia beneran latihan bulu tangkis sampai malam di sekolah."
"Wah sudah gila anak itu. Masa beneran latihan sampai jam 10 malam sendirian sih? Tidak takut apa yah dia?"
"Heran aku juga, padahal nilainya sudah bagus, jelek dikit di satu mapel kayaknya masalah banget bagi dia sampe seperti itu."
"Sama, padahal ujian kelulusan juga bukan, kok sampai seperti itu sih? Kudengar dia sampai dimarahin satpam karena tidak mau disuruh pulang."
"Wah ngeri banget, pantesan jarang ada yang mau main sama dia. Semuanya selalu diseriusin, sampai bikin capek rasanya."
Rooney tidak bisa menangkap semuanya, tapi dia mengerti jika Aji memang latihan bulu tangkis sampai malam, dan tentang hubungan Aji yang ternyata cukup buruk dengan teman sekelas karena dianggap tidak asik.
Anak itu... Kenapa dia selalu serius seperti itu sih? Apa dia tidak lelah yah?
-Jam istirahat makan siang.
Rooney langsung kabur ketika bel istirahat berdentang demi menghindar dari Roy yang akan mengintrogasinya.
Rooney berniat untuk makan di halaman belakang sekolah yang biasa sepi, karena tempat duduk favorit Rooney di kantin sudah diketahui oleh Roy. Berbekal sepotong roti dan sekotak susu yang dibeli Rooney di kantin, Rooney pun langsung meluncur ke halaman belakang sekolah yang ada di balik gedung sekolah.
Namun, ada hal yang menahan Rooney ketika hampir sampai.
Tak... Tok... Tak...
Terdengar sebuah suara yang tidak asing bagi Rooney, suara yang sering dia dengar beberapa hari ini hingga terbawa mimpi.
Dalam hatinya, Rooney sudah tahu suara apa itu dan siapa yang menciptakannya. Tapi, dia merasa perlu setidaknya untuk melakukan pengecekan sekali lagi.
Dengan perlahan-lahan, Rooney mengintip ke halaman belakang dari balik sudut tembok gedung.
Yap, dugaannya benar, sama sekali tidak salah. Aji sudah berada di halaman belakang sambil berlatih bulu tangkis.
Aji seharusnya tiba belum lama, tapi dia sudah tampak kelelahan dan berkeringat ketika Rooney melihatnya. Lengannya yang penuh dengan plester kembali terluka dan berdarah. Entah seberapa parah latihan yang dilakukan Aji.
"Hoshhh... Hoshhh..." Aji terengah-engah kehabisan napas.
Tapi walau sudah kelelahan seperti itu, Aji tidak berniat untuk selesai, dia kembali melanjutkan latihannya sendirian.
Deg
Rooney tertegun melihat keseriusan yang terus ditunjukkan oleh Aji. Tak terlihat niat menyerah walau dia sudah jatuh berkali-kali hingga terluka.
Sebenarnya apa alasanmu? Kenapa kau berusaha sekeras itu?
Tak kuat berada disana berlama-lama, Rooney memutuskan untuk kembali ke kantin, lupa dengan niat aslinya yang sedang kabur dari Roy.
Dengan lesu, Rooney tiba di kantin dan duduk di kursi favoritnya. Dia hanya diam untuk beberapa saat sembari menatap roti yang dia beli. Lalu kemudian...
"Hayo! Ketemu lu!"
Seseorang menangkap punggung Rooney dari belakang. Rooney yang termenung langsung sadar dan menengok ke belakang.
Di belakangnya, ada Roy yang berkeringat.
"Eh?" Rooney terkejut dengan kehadiran Roy.
"Akhirnya ketemu juga lu."
Rooney tertangkap oleh Roy, barulah Rooney teringat alasannya ingin pergi ke halaman belakang sekolah.
"Ayolah, coba cerita, lu ada masalah apa? Tidak usah ngelak lagi, tadi aja kelihatan banget elu ada masalah."
Rooney ingin mengelak namun sulit untuk mencari alasan, walau memang dari awal dia tidak memberikan alasan apa pun.
Rooney berpikir untuk setidaknya curhat pada Roy tentang masalahnya. Mungkin saja, dia tahu apa solusinya.
"Hhahhhhh...." Rooney menghela napas panjang, dia sudah lelah mengelak terus dan memutuskan untuk berhenti berbohong, "Yah... Kau benar, aku punya sedikit masalah."
Roy tersenyum senang mendengarnya, entah apakah dia memang tertarik mendengar masalah Rooney, atau memang dia senang Rooney mau jujur padanya. Terserah yang mana saja. Roy pun duduk di sebelah Rooney untuk mendengar ceritanya.
"Nah, gitu dong dari tadi. Jadi ada masalah apa dah? Muka lu kusam banget, tadi juga malah bengong sendirian. Hati-hati kesurupan loh."
"Ahaha... Ini sulit untuk diceritakan. Tapi... Aku mau bertanya apa pendapatmu tentang satu hal ini."
"Apa tuh?"
"Eummm... Menurutmu, apakah sia-sia jika kita berusaha keras walau pasti akan gagal? Maksudku, jika memang kita tahu akan gagal, kenapa kita harus berusaha keras? Bukankah menyedihkan jika semua waktu yang kita habiskan tidak menghasilkan apa pun?"
Roy memasang ekspresi bingung mendengarnya, "Pertanyaan macam apa itu? Gua tidak mengerti maksudnya, kenapa lu bisa tahu bakal gagal padahal belum mencoba?"
Roy malah balik bertanya pada Rooney, tentu saja Rooney kelabakan dengan pertanyaan balik seperti ini, "I-Itu... Firasat saja sih, ta-tapi, secara logika memang pasti gagal. Eumm... Sulit untuk menjelaskannya lebih rinci, tapi memang sudah pasti gagal."
"Ya ampun Ron, gua tidak bisa ngasih jawaban kalau pertanyaan lu aja tidak jelas. Masa elu yakin bakal gagal cuman karena firasat sih? Nih yah, bagi gua sendiri, jangan terlalu ngandelin firasat. Masa depan mah tidak ada yang tahu, kita cuman bisa berusaha sekeras mungkin untuk berhasil."
"Tapi kalau gagal gimana? Misalnya, kita sudah gagal beberapa kali, tapi masih gagal terus. Bukannya jadi sia-sia semua usaha kita? Bukannya lebih baik menyerah saja daripada merasa sakit karena usaha dan kerja keras kita jadi sia-sia?"
"Hadehhhh..." Roy menggelengkan kepalanya, dia tampak kecewa dengan Rooney, "Ron... Lu berpikir terlalu rumit."
"Apa?"
"Yah... Mungkin ini hanya pemikiran pribadi gua saja sih, tapi gua sendiri jarang berpikir terlalu rumit seperti itu. Memang gua masih berpikir tentang skenario terburuk kalau mau usaha sesuatu, tapi selebihnya tidak terlalu gua pikirin. Soalnya yah, bagi gua, kalau terlalu fokus pada kemungkinan gagal, justru malah nambah kemungkinan gagal kita. Dikit-diki "Aduh gimana nih" "Sudah gagal inimah." Terlalu pesimis kalau begitu."
"..." Rooney termenung mendengarnya. Dia tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Roy.
Roy melanjutkan perkataannya, "Bagi gua sih, yang terpenting itu berusaha saja semaksimal mungkin, sisanya serahkan pada tuhan. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Tapi... Tetap saja, kalau gagal rasanya menyakitkan. Kita sudah berusaha maksimal, tapi malah tidak ada yang didapat."
Roy tertawa mendengar perkataan Rooney. Rooney yang merasa tidak ada yang lucu dari perkataannya, menatap Roy dengan bingung.
Roy pun berkata, "Kata siapa tidak ada yang bisa didapat? Kan ada yang namanya pengalaman."
"Eh?"
"Ya, pengalaman. Meski kita gagal, setidaknya kita bisa tahu apa kekurangan kita, sehingga bisa kita perbaiki buat kedepannya nanti."
"..." Rooney termenung, dia baru terpikirkan tentang hal ini. Selama ini dia hanya fokus pada rasa sakit dari sebuah kegagalan, tanpa melihat sisi positifnya.
"Lagian yah, kalau sudah menyerah sebelum mulai, itu rasanya kayak pecundang banget. Mulai saja belum, tapi malah yakin bakal kalah."
Ughhhh.... Rooney merasa tersindir karena perkataan Roy, memang benar Rooney itu seperti pecundang karena selalu takut pada hal yang belum pasti akan terjadi. Bahkan, Rooney berkali- kali gagal untuk berkenalan dengan Roy awalnya.
"Jadi gimana? Sudah bisa menjawab masalah elu belum?" Roy berkata dengan percaya diri, seolah yakin bahwa Rooney bisa menemukan jawabannya.
Rooney hanya bisa tersenyum pahit, dia belum bisa menemukan jawaban pasti, "Entahlah, tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya."
"Yah... Gua kira masalah elu bakal selesai dengan mudah, tapi kayaknya lumayan susah nih. Yasudah, gua tidak bisa ikut campur lebih dari ini. Tapi gua harap, elu bisa nemuin jawabannya secepat mungkin."
-Pulang sekolah.
Rooney pulang masih dengan perasaan ganjil, dia masih bingung apa masalahnya.
Kemudian, Rooney berpikir ingin melihat Aji, apakah dia masih berlatih? Apakah dia masih tetap pada pendiriannya? Pertanyaan seperti itu terpikirkan ketika Rooney mengingat tentang Aji.
Rooney pergi ke arah lapangan sekolah, saat hampir sampai, suara raket yang memukul Shuttlecock terdengar jelas.
Sama seperti biasa, Aji masih berlatih dengan giat tanpa partner. Awalnya Rooney selalu merasa heran dan aneh melihat Aji, tapi entah kenapa, setelah mendengar perkataan Roy, perasaan itu berubah menjadi rasa kagum.
-Keesokan harinya, hari rabu.
Pada jam istirahat makan siang, Roy mengajak Rooney untuk makan bersamanya, namun Rooney menolak dan hanya memberikan alasan bahwa ada sesuatu yang ingin dia kerjakan.
Rooney pergi ke halaman belakang seusai membeli makanan dari kantin.
Seperti biasa, Aji masih berlatih keras sendirian, dia sepertinya hanya makan sepotong roti dan minuman energy, terlihat dari sampah yang tergeletak di sampingnya.
Rooney memandangi Aji yang berlatih sendirian sambil makan, kali ini dia penasaran akan sesuatu.
Dengan diam, Rooney terus melihat Aji yang berlatih hingga akhir.
-Pulang sekolah.
Bel berdentang kencang, tapi Rooney tidak langsung pulang seperti biasanya. Dia dengan cepat langsung pergi ke lapangan dan bersembunyi di tempat yang tidak terlihat sambil menunggu sesuatu.
Yap, Aji lah yang ditunggu oleh Rooney. Entah mengapa, melihat Aji yang berlatih bulu tangkis sendirian malah menjadi tontonan kesukaan Rooney.
Entah sejak kapan, perasaan jijik yang dirasakan Rooney ketika melihat Aji, berubah menjadi rasa kagum.
Rooney ingin melihat Aji hingga akhir, tapi ibunya pasti marah jika dia pulang terlambat ke rumah. Karena itu, setelah 1 jam, Rooney pulang diam-diam saat Aji pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
-Keesokan harinya, hari kamis.
Hari ini libur karena ada rapat guru, Rooney pun berdiam di rumah tanpa ada kegiatan.
Rooney masih memikirkan masalahnya dengan Aji, dia merasa galau tentang apa yang harus dia lakukan dan hanya bisa berguling-guling di kasur.
"Rooooneeeeyyyy.... Ayo turun, daripada tidak ada kegiatan, mending kamu bantuin ibu beres-beres rumah." Dari bawah, ibunya memanggil, tapi Rooney yang galau malas turun ke bawah.
Namun, suara ibunya malah semakin kencang, "Roooooneeeyyyyy!!!! Jangan pura-pura tidur kamu. Ibu tahu kamu tidak tidur, cepet turun atau tidak ada uang jajan buat kamu selama sebulan." ibunya mulai mengancam.
Rooney yang uang jajannya terancam langsung panik dan turun ke bawah, "Iya bu! Aku turun sekarang."
Rooney sampai di bawah, di dapur, ibunya sedang sibuk mencuci wajan.
"Nah, akhirnya turun juga kamu. Tolong bersihin kompor sama pilah-pilah isi kulkas, kalau ada yang busuk langsung buang saja."
"Baik bu." Rooney membantu tanpa protes.
Rooney mengelap kompor yang kotor karena minyak dan memilah sayuran, daging dan buah di kulkas dengan hening.
Merasa suasana terlalu hening, ibunya membuka percakapan.
"Oh iya, kamu lagi mikirin apa Rooney?"
"Eh? Apa?"
"Yah, akhir-akhir ini wajah kamu kusut dan katanya kamu sulit tidur. Pasti ada masalah kan?"
"Eummmm..."
"Pasti ini berhubungan dengan teman kamu yang datang minggu kemaren kan?"
"Lah? Kok tahu?"
"Yah wajar dong, biasanya kan kamu emang kusut mukanya, tapi semenjak ada masalah dengan teman kamu itu, malah makin kusut muka kamu."
"Ughhh..."
Suasana menjadi hening kembali. Rooney tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya dan hanya diam saja membersihkan kompor.
Kemudian ibunya berkata, "Kamu kalau ada masalah, bilang saja ke ibu. Jangan terus dipendam sendiri."
Rooney terdiam, tangannya yang awalnya bergerak membersihkan kompor, menjadi terhenti sejenak.
Lalu, Rooney bertanya, "Eummm... Kalau begitu, aku mau nanya pendapat ibu."
"Hmm...? Apa itu?"
"Menurut ibu, bagaimana seseorang yang berusaha keras walau kemungkinan dia berhasil selalu rendah? Padahal dia bisa saja menyerah dan memilih jalan yang nyaman."
"Hmm... Itu sulit dijawab, pilihan hidup setiap orang selalu berbeda, kita tidak bisa memaksakan pilihan hidup kita kepada orang lain hanya karena kita merasa pilihan kitalah yang terbaik."
"..."
"Selalu ada alasan dibalik setiap pilihan hidup, mungkin jawaban ibu terdengar sok tahu, tapi menurut ibu, orang yang memilih jalan yang aman tanpa mau kesulitan hanyalah orang yang takut pada kegagalan. Sedangkan orang yang memilih jalan yang sulit karena dia ingin bisa berkembang menjadi lebih baik."
"..."
"Tapi bukan berarti ada yang salah dari 2 pilihan itu, semuanya tergantung pada setiap pribadi. Ibu sendiri tidak begitu suka mengatakan pilihan hidup yang diambil oleh seseorang adalah pilihan yang salah."
"Begitu yah." Rooney terdiam.
Tampaknya dia sudah mengerti suatu hal, alasan dibalik perasaan galaunya selama ini. Mungkin hanya sebuah rasa inferior ketika melihat Aji, itulah kenapa dia awalnya merasa jijik dan aneh melihat Aji yang berusaha keras.
Rooney pikir dia sudah memperbaiki sifat penakutnya sejak berteman dengan Roy, namun nyatanya, dia masih belum benar-benar berubah. Rooney masih takut untuk berubah dan berusaha karena takut dengan kegagalan, padahal itu hanyalah suatu hal yang tidak pasti.
Karena itu, melihat Aji yang berusaha tanpa takut gagal membuat perasaannya campur aduk, dia merasa inferior dan rendah diri, tapi sekaligus merasa kagum karena melihat ada orang yang bisa melakukan hal yang selama ini tidak bisa dia lakukan.
Rooney mendapatkan jawabannya.
"Itu dia!"
Rooney mengepalkan tangannya yang memegang kain lap untuk membersihkan kompor.
"Heh! Jangan berhenti, cepat beresin dulu!" Dan disusul dengan teriakan marah ibunya ketika melihat Ran berhenti bekerja.
"Eh iya bu, ma-maaf, ini mau langsung diterusin kok."
-Keesokan harinya, hari jumat.
Sepulang sekolah, Rooney pergi ke kantor guru karena ada sebuah urusan.
Roy bertanya apa urusan itu, dan Rooney hanya menjawab, "Hanya sebuah urusan untuk menyelesaikan masalahku."
Roy pun hanya tertawa mendengar jawaban Rooney.
-Di lapangan sekolah.
Seperti biasa, Aji berlatih bulu tangkis dengan giat sendirian. Hari ini lebih sepi dari biasanya karena hari jumat hanya ada sedikit ekskul yang memiliki jadwal, jadi hari ini Aji hampir sendirian di sekolah.
"Huffftt... Sendirian bukan alasan, aku pasti bisa menang meski sendirian saja." Ucap Aji untuk menyemangati dirinya sendiri.
Lalu, terdengar langkah kaki mendekatinya, Aji berpikir itu adalah seorang guru atau satpam yang memperingatinya untuk segera pulang.
Hadeh, padahal sudah minta izin, tapi masih aja diperingati.
Aji menengok sambil berkata, "Maaf pak, tapi saya su-" Omongannya terputus ketika melihat siapa yang datang.
Bukan guru atau satpam, tapi yang datang adalah seorang murid yang sama dengan Aji. Dia adalah Rooney yang membawa raket bulu tangkis.
Melihat Rooney yang datang, Aji bertanya dengan dingin, "Mau apa kesini?"
Rooney memutar-mutar raketnya dengan canggung, melihat Rooney yang hanya diam, membuat Aji bertambah kesal dan bertanya ulang.
"Mau apa kau kesini? Bukannya bagimu aku ini aneh?"
Rooney gemetaran mendengar suara marah Aji, namun Aji tidak menghiraukannya. Baginya, kedatangan Rooney sama saja menghinanya.
"Apa kau mau mengejekku lagi? Hah? Buat apa ka-"
"MAAF!" Rooney berteriak memotong omongan Aji.
"Eh?" Aji terdiam dengan keheranan mendengar permintaan maaf Rooney yang tiba-tiba.
"Maafkan aku, aku tahu omonganku sudah keterlaluan minggu kemarin."
"..."
"Maaf karena sudah bilang kau aneh, maaf karena sudah meremehkanmu."
"Lalu? Kamu datang kesini hanya untuk meminta maaf?"
"Ti-Tidak, A-Aku ingin membantumu latihan."
"Eh? Serius?" Tanya Aji ulang karena tidak percaya.
"I-Iya, karena itu aku tadi ke ruang guru untuk meminta izin memakai lapangan."
Aji diam sejenak sebelum bertanya kembali, "Apa alasanmu berubah pikiran? Ini terlalu mendadak."
"Sebenarnya, aku sudah memikirkan ini sejak lama, dan aku sadar bahwa selama ini selalu saja kabur dengan membuat alasan."
"..."
"Aku sudah salah ketika bilang kau adalah orang aneh, aku salah, sebenarnya akulah yang aneh karena takut pada sesuatu yang belum pasti. Menyadari kesalahanku, aku memutuskan untuk ikut berlatih, aku ingin berhenti kabur dan berusaha melakukan hal yang terbaik."
Aji hanya diam mendengar jawaban dari Rooney, dia hanya berbalik tanpa mengatakan apa pun.
Ahhhh... Kacau, dia pasti tidak mau memaafkanku.
Lalu, tiba-tiba Aji berkata, "Kalau mau berlatih, ayo mulai dari sekarang sebelum waktunya habis."
"Hah? Ka-Kau mau memaafkanku?" Tanya Rooney tidak percaya.
"Iya, lagipula tidak ada untungnya jika aku terus marah padamu, ayo cepat kita latihan."
"Ah baik!" Rooney masuk ke lapangan.
Permainan dimulai dari Aji yang melakukan servis, pukulan Aji membawa Shuttlecock terbang ke belakang Rooney.
Syuuunggg
biasanya Rooney akan membiarkannya, tapi kali ini berbeda. Rooney mengejar Shuttlecock itu dengan sekuat tenaga dan memukul balik.
"Uwaahhh... Berhasil!" Teriak Rooney senang.
Aji ikut senang melihat Rooney yang berubah, meski dia tetap menyembunyikannya.
Mereka berdua pun berlatih tanding. Walau berat, Rooney tidak mengeluh, dia tidak lagi hanya diam ketika merasa tidak akan berhasil. Kali ini, Rooney berusaha sekuat tenaga hingga akhir, dan mencapai akhir yang dia inginkan.