I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Retaknya Hubungan



-Pagi hari, di hari senin.


Hari yang biasa, hari yang sangat melelahkan bagi Rooney. Dia berjalan ke sekolah dengan rasa lelah dan pikiran yang kusut akibat masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


Padahal baru senin lalu dia bisa berangkat sekolah dengan perasaan senang dan bahagia karena mendapat banyak teman. Tapi sekarang orang-orang yang dia anggap teman justru malah menjadi sumber masalah baru baginya.


Selama akhir pekan, Rooney terus teringat dengan kata-kata dari Aji.


Apakah benar mereka tidak menganggapku teman? Apa mereka benar hanya memanfaatkan- ku? Tidak... Itu... Tidak mungkin benar. Pasti ini sama dengan waktu itu, ketika aku salah paham pada tatapan mereka.


Rooney masih mencoba berpikir positif. Dia terus berpikir bahwa ini hanya salah paham saja.


Sesampainya di sekolah, Rooney langsung dicegat oleh Aji di pintu gerbang.


Rooney mencoba mengacuhkan Aji dan melewatinya seolah dia tidak ada. Namun Aji langsung menarik Rooney, "Tolong ikut aku sekarang!"


Rooney terkejut dengan kejadian yang terlalu tiba-tiba ini, "A-Ada apa?" Rooney ingin melawan, namun terdapat perbedaan kekuatan yang terlalu besar ditambah dengan masalah yang saat ini memusingkan Rooney, membuatnya tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah ditarik.


Aji membawa Rooney ke belakang gedung sekolah, sesampainya disana, Rooney langsung melepaskan diri.


"Tolong lepaskan, jangan memaksaku seperti ini."


Aji pun melepaskan Rooney seakan dia memang sudah berniat melakukannya.


Tanpa diberitahu pun, Rooney tahu apa yang mau dibicarakan oleh Aji. Karena itulah dia ingin segera pergi.


"Aku tahu apa yang mau kau bicarakan, tapi... Maaf... Sudah kubilang berkali-kali, kau tidak tahu apa pun. Jadi tolong jangan ikut campur." Ucap Rooney


Ekspresi Aji tidak berubah, dia tidak goyah dengan perkataan Rooney. Melihat ekspresinya, Rooney berpikir jika urusan ini akan lebih panjang dari kemarin.


Namun, tanpa disangka-sangka...


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi, tapi setidaknya tolong beritahu, kenapa kamu terkesan mendiskriminasiku seperti ini. Aku juga temanmu, tapi entah kenapa kamu malah lebih membela mereka, jadi setidaknya, ceritakan alasannya."


Permintaan yang sulit, Rooney sebenarnya tahu apa alasannya lebih membela mereka, tapi alasan itu sulit untuk diceritakan.


Alasan yang dimiliki Rooney adalah alasan yang terlalu kejam, dia takut jika Aji akan terluka jika mendengarnya.


Karena itu Rooney hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab.


Rooney yang diam, memancing Aji untuk lebih bersikeras kepadanya, "Rooney, ayolah... Setidaknya aku berhak untuk tahu. Tidak adil jika aku seperti didiskriminasi olehmu tanpa tahu sebabnya."


Aji tetap keras kepala, Rooney tahu dia tidak bisa kabur dari situasi ini tanpa menjawabnya.


Akhirnya Rooney memutuskan, Urghhh... Aku tidak punya pilihan lain, Aji hanya menerima jawaban saja, bukan negosiasi.


Dengan suara yang bergetar, Rooney menjawab, "Ka-Kau... Tahu? Bersama denganmu.... I-Itu... Sangat... Melelahkan... Dan... Ti-Tidak menyenangkan"


"Huh?"


"Ka-Kau itu... Terlalu kaku... Tidak bisa bercanda.. Dan selama ini... Kegiatan yang kita lakukan... Ha-Hanyalah... Berlatih bulu tangkis... A-Aku tidak menyukainya... A-Aku juga ingin... Melakukan aktivitas yang... biasa dilakukan remaja lain."


Alasan yang sederhana, tapi menyakitkan karena secara tidak langsung, alasan itu memberitahu seseorang bahwa dirinya itu sangat.... Membosankan.


Rooney awalnya tidak mau menceritakannya, karena dia tahu bahwa alasan ini sangat menyakitkan dan kejam.


Ini karena Aji sendiri, dia sendiri yang memaksaku untuk memberikan alasan.


Rooney sudah siap dengan konsekuensinya, namun apa yang dia dapat ketika melihat wajah Aji adalah, wajah tegar seolah tidak ada yang terjadi.


"Begitu... Aku bisa mengerti kok, tapi, apa memang mereka tulus berteman denganmu?" Aji mengulangi pertanyaannya.


Pertanyaan yang berulang dari Aji membuat Rooney kesal, "Sudah kubilang, Ka-Kau itu tidak tahu apa-apa."


"Benarkah? Kalau begitu coba tagih hutang mereka. Kita lihat apakah mereka mau untuk mengembalikan uangmu."


"Eh? I-Itu sudah pasti kan, mereka itu kan temanku."


"Kalau begitu coba buktikan. Lihatlah dengan kedua matamu sendiri."


Glup


Rooney menelan air liurnya, dia merasa seperti ditantang oleh Aji. Pembicaraan mereka pun selesai dengan ditandai oleh dentang bel sebagai pertanda masuk kelas.


-Jam istirahat.


Rooney memikirkan tantangan yang diberikan oleh Aji. Perkataan Aji tentang mereka yang hanya ingin memanfaatkannya terus terngiang-ngiang dalam benaknya.


Akan kubuktikan bahwa dia salah.


Rooney membulatkan tekadnya, dia ingin membuktikan bahwa Aji salah. Dia pun langsung menghampiri mereka yang dia anggap temannya itu.


Mereka sedang bersantai seperti biasa di belakang kelas sambil makan bersama. Dengan hati-hati, Rooney menghampiri Farizi.


"Eummm... Fa-Farizi... A-Ada yang mau kubicarakan."


Farizi menengok dan tersenyum senang melihat Rooney datang, dia dengan ceria menyapa Rooney, "Owhhh... Ron! Ada apaan nih? Ayo duduk dulu saja, santai-santai dulu."


Rooney menuruti perkataan Farizi dan duduk di sebelahnya tanpa protes.


Farizi bertanya ulang pada Rooney, "Jadi ada apaan nih? Ayo sambil makan aja."


Rooney dengan sedikit ragu-ragu mengatakan niatnya, "Eummm... Jadi begini, kau ingat kan, kalau kau dan yang lain sempat meminjam uangku."


Mendengar perkataan Rooney, ekspresi Farizi berubah, tidak hanya Farizi, tapi yang lain juga berubah. Ekspresi ramah mereka hilang digantikan dengan tatapan dingin yang menyesakkan.


"Ah iya, benar, gua sempat minjem uang lu yah. Terus kenapa?"


"Eummm... Bisa tidak, kalian kembalikan hari ini? Ti-Tidak perlu semuanya, se-sedikit dulu tidak apa-apa, so-soalnya aku lagi... Perlu uang itu."


Farizi menghentikan makannya dan menatap Rooney dengan tajam.


"Haduh Ron... Kok lu gitu banget sih sama temen sendiri, uang receh aja masih tetep ditagih kayak gitu. Bikin suasana gak enak tahu."


"Bener, orang lagi pada mau makan juga, lu malah bikin suasana rusak kalau kayak ginimah Ron."


"Kayak nggak ada waktu lain saja Ron."


Yang lain ikut menimpali perkataan Farizi, dan entah bagaimana, Rooney serasa dipojokkan oleh mereka walau sebenarnya dia tidak salah.


"Ma-Maaf... Ta-Tapi A-Aku perlu uang itu."


Mereka bertambah jengkel melihat Rooney yang masih keras kepala, ekspresi bersahabat mereka hilang sepenuhnya.


"Ah elah, perhitungan amat sama temen sendiri. Lagian gua lagi nggak ada duit. Ini aja makan bekel dari rumah."


"Bikin gak nafsu makan lu Ron."


Mereka menyerang Rooney habis-habisan dan membuat Rooney menjadi orang yang bersalah.


Dipojokkan hingga seperti ini, Rooney hanya bisa tertunduk dan meminta maaf, "Ma-Maaf..."


"Dahlah, sudah gak nafsu makan gua."


"Yuklah, pergi saja."


Tanpa menerima permintaan maaf Rooney, mereka semua pergi meninggalkan Rooney sendirian.


Keributan yang mereka ciptakan membuat semua pasang mata di kelas menatap Rooney yang sudah ditinggalkan.


Berbagai bisikan dan gosip-gosip terdengar jelas di telinga Rooney, entah bagaimana, berbagai ucapan jahat terdengar dan menyerangnya.


"Napa dah? Bikin suasana nggak enak saja."


"Ih... Kayaknya tuh anak nagih-nagih utang mulu tuh, jadi teman kok perhitungan yah?"


"Jijik gua tadi dengernya, orang lagi makan malah ditagih utangnya, malah di kelas lagi nagihnya, sombong banget tuh kayaknya."


Dalam waktu singkat, Rooney berubah menjadi penjahat yang diadili oleh masyarakat. Dia menjadi pihak yang salah, sementara orang-orang yang dia anggap teman itu adalah korban.


Kenapa jadi seperti ini...? Apa salahku...? Pikir Rooney dengan perasaan sedih.


Rooney sudah rela membuang Aji demi mereka, tapi mereka malah membuang Rooney dan menjadikannya penjahat seperti ini.


Kemudian, seseorang datang kepada Rooney yang sedang berjalan sempoyongan, dia menepuk pundak Rooney dan berbisik di telinganya.


Bagaimana? Apa kamu masih yakin mereka itu temanmu?


Dia adalah Aji, dia datang untuk memastikan apakah ucapannya atau ucapan Rooney yang benar.


Dan terbukti, ucapan Aji lah yang benar, Rooney seharusnya bisa sadar melalui kejadian ini. Namun... Hatinya masih menolak untuk mengakui.


Tidak... Pasti karena waktunya saja yang tidak pas saja. Pasti mereka tetap menganggapku teman. Pasti...!


Rooney tetap teguh pada apa yang dia percaya, alih-alih meminta maaf pada Aji, dia justru malah mengejar orang-orang yang sudah meludahinya.


Aji yang melihat apa yang dilakukan Rooney, hanya bisa berkata, "Bodoh..."


Tap Tap Tap


"Hah... Hahh... Hah..." Dengan kepayahan, Rooney mengejar Farizi dan yang lain.


Ketika dia melihatnya, dia sontak meminta mereka untuk berhenti, "Tu-Tunggu."


Farizi dan yang lain berhenti dan menengok ke arah Rooney yang mengejar mereka.


Rooney langsung berhenti tepat di hadapan mereka dengan tersengal.


Dengan tatapan sinis, mereka bertanya, "Ada apaan? Sudah gua bilang, gua lagi nggak ada duit. Jangan nagih-nagih mulu, nanti juga gua bayar."


"Hoshh... Hosh... Ti-Tidak, bukan begitu."


"Terus ada apaan?"


Rooney menarik napas dalam-dalam, dan berkata, "A-Aku mau meminta maaf, a-aku sadar... Tadi aku salah, ka-karena nagih hutang di dalam kelas."


Rooney malah meminta maaf sekali lagi pada mereka, padahal dirinya tidak memiliki kesalahan apa pun pada mereka.


Namun, ini adalah hal yang sangat memuaskan bagi orang lain.


Berhasil.


Dengan ekspresi yang kembali bersahabat, Farizi merangkul Rooney, "Nah gitu dong, jadi teman itu jangan pelit. Jangan perhitungan banget apalagi sampai nagih di dalam kelas seperti itu."


"I-Iya, ma-maaf." Rooney sekali lagi meminta maaf.


Melihat Rooney yang meminta maaf, Farizi tersenyum puas, "Sudah bagus sih elu sadar dan minta maaf langsung. Tapi... Masa minta maaf doang sih?"


Rooney paham dengan apa yang dimaksud oleh Farizi, dan mengikuti apa yang diinginkannya, "A-Aku bakal traktir kalian sebagai permintaan maaf."


"Wah... Serius nih? Boleh milih apa saja?"


"I-Iya, bo-boleh."


Farizi dan yang lain langsung bersuka cita mendengar perkataan Rooney.


"Nah gitu dong."


"Katanya nggak punya uang, tuh punya uang kan ternyata."


"Mantep dah, memang temen terbaik dah lu Ron."


Mereka ikut merangkul Rooney dengan ramah, ekspresi bersahabat mereka kembali seperti semula.


Ya, kami ini kan teman...


...****************...


-Pulang sekolah.


Rooney hendak pulang ke rumahnya, tapi dia baru ingat kalau ibunya meminta dia untuk mampir ke minimarket untuk membeli beberapa keperluan rumah yang sudah habis.


Namun, sebelum Rooney keluar dari gerbang sekolah, ada Aji yang menghadangnya lagi.


Rooney tidak ingin meladeni Aji, tapi Aji dengan keras kepala menghadangnya.


Dengan sedikit kesal, Rooney meminta Aji untuk minggir, "To-Tolong minggir, aku hari ini sibuk."


Tapi Aji tidak mengindahkan perkataan Rooney, kemudian dengan tatapan sinis, Aji berkata, "Apa kamu puas?"


"...?"


"Apa kamu puas menjadi dompet mereka?"


"Aku tidak paham dengan yang kamu bicarakan." Rooney mencoba mengelak.


"Jangan terus menghindar, aku yakin kamu sudah paham dengan apa yang kumaksud."


"Sudah kubilang... Aku tidak paham apa yang kau maksud."


Aji terlihat marah bercampur dengan rasa kecewa, "Jangan berpura-pura bodoh! Kamu paham dengan yang kumaksud, kamu selama ini selalu menghindar dari kenyataan, bukankah sudah sangat jelas? Mereka itu hanya memerasmu selama ini..."


Rooney menggigit bibirnya, dia terdiam tanpa bisa membalas.


"...Kenapa kamu terus menutup mata? Apa kamu tidak punya harga diri? Setelah mereka meludahimu di depan banyak orang, setelah kamu dicemoh di hadapan banyak orang, bahkan setelah itu semua, kamu masih menganggap mereka teman?"


Rooney mulai bergetar, setiap kata-kata Aji berhasil menyerangnya dengan tepat. Rooney tidak bisa menyangkal apa pun dari omongan Aji, karena itulah, yang bisa dia lakukan hanyalah... Kabur.


"Kau tidak tahu apa-apa. Tolong jangan menggangguku lagi."


Aji sangat kecewa dengan jawaban Rooney, dia merasa tidak dihargai sedikit pun olehnya.


"Begitu yah? Terserah kamu saja." Ucap Aji dengan nada kecewa


Aji berbalik, dia keluar dari gerbang dengan terlihat sangat kecewa. Seiring dengan menjauhnya punggung Aji yang terlihat sedih, Rooney merasakan rasa bersalah yang besar.


Ini adalah keputusannya sendiri, dia sendiri sudah sadar dia harus menendang satu pihak jika ingin mempertahankan pemikirannya.


Rooney mengeratkan tali tasnya dan menggigit bibirnya untuk menahan emosinya.


Sudahlah, lebih baik aku membeli titipan ibu.


Di sekolah yang sudah sepi dan kosong itu, Rooney berjalan keluar sendirian.


Sepanjang perjalanan ke minimarket, kepala Rooney masih dipenuhi dengan pertanyaan tentang tindakannya pada Aji.


Apakah salah? Apakah benar? Apakah memang itu adalah pilihan terbaik yang bisa dia ambil? Atau kah ada pilihan lain yang lebih baik? Atau, apakah ada pilihan yang bisa menyenangkan semua pihak?


Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dan membuat kepalanya sakit.


Bahkan ketika Rooney sampai di minimarket, dia masih sulit untuk fokus hingga lupa apa saja yang harus dia beli.


Plak


Rooney menampar pipinya sendiri, memaksa dirinya untuk fokus pada apa yang ada di hadapannya.


Fokuslah, jangan terus memusingkan hal itu.


Namun, Rooney malah menangkap sesuatu yang menambah bebannya, dari balik kaca minimarket, Rooney melihat Farizi dan yang lain masuk ke dalam toko sepatu mahal yang ada di seberang jalan.


Rooney sudah tahu berapa harga sepatu yang dipajang di etalasenya, satu pasang sepatu disana memiliki harga yang sulit untuk dicapai oleh Rooney meski dia tidak memakai uangnya selama setengah tahun lebih. Hal yang aneh jika melihat orang-orang yang tidak bisa membayar hutang, malah pergi ke sepatu mahal alih-alih membayar hutang mereka.


Bu-Bukankah mereka bilang sedang tidak ada uang? A-Apa mungkin...? Ti-Tidak, pasti aku salah lihat saja, atau mungkin mereka punya urusan lain disana, la-lagipula, hanya pergi kesana bukan berarti mau beli kan? Lagipula Anwar baru beli sepatu, tidak mungkin dia beli lagi. Pasti begitu!


Rooney masih mencoba berpikir positif dan mencoba fokus pada urusannya. Namun, meski Rooney mencoba tetap fokus untuk berbenja, matanya tetap tidak bisa lepas dari melihat toko yang dimasuki teman-temannya itu.


Bahkan hingga ke kasir, Rooney masih mencoba untuk mencuri pandang ke toko sepatu di ujung jalan. Lalu, mereka pun keluar, Rooney berharap semoga saja kecurigaannya tidak terbukti, namun, ketika mereka keluar, harapannya terpatahkan.


Masing-masing dari mereka keluar dengan membawa satu kotak sepatu dengan brand terkenal yang Rooney tahu.


Sepatu itu tentu tidak murah, harganya pastinya tidak sebanding dengan harga snack di kantin sekolah. Jika mereka bisa membeli sepatu itu, seharusnya mereka juga bisa membayar hutangnya, atau setidaknya mereka tidak perlu untuk berhutang pada Rooney.


Melihat kenyataan di hadapannya, Rooney bergetar hebat dan berpikir, Apa mereka berbohong? Apa mereka Memang tidak menganggapku teman?