
Di kelas yang kosong dan lengang, Rooney merenungi kebodohannya yang berusaha mempertahankan teman-temannya walau selalu tersakiti.
Tap Tap Tap
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki dari lorong, entah siapa itu.
Guru? Atau satpam? Tapi harusnya sekarang masih jam kegiatan ekskul, harusnya satpam berkeliling sekolah setelah jam ekskul selesai.
Rooney mencoba menerka-nerka siapa yang mendatanginya itu.
Tep
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan kelas, sesosok anak laki-laki muncul di hadapan Rooney.
Aji, dialah orang di balik langkah kaki yang mendatangi Rooney itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kegiatan amal?" Aji menanyakan pertanyaan yang terdengar seperti hinaan.
Rooney mengingat dengan jelas apa saja yang sudah dia katakan pada Aji, itu membuatnya tertunduk malu.
"Apa kau senang seperti ini?" Aji bertanya ulang, "Kamu bilang aku tidak menyenangkan bukan? Jadi bersama mereka menyenangkan? Meminjamkan uang tanpa akan dikembalikan? Menggantikan jadwal piket mereka sendirian? Jadi ini adalah kegiatan remaja yang kamu anggap menyenangkan?"
Semua ucapan Aji terasa menusuk, ucapannya seperti tombak yang terbang menusuk dada Rooney.
"Bu-Bukannya kau sama saja? Kau sendiri... Menggantikan tugas piket orang lain kan?"
"Itu berbeda, aku mengerjakan itu tanpa diminta dan itu karena keinginanku sendiri. Pertanyaannya, apa memang ini keinginanmu? Apa kamu suka menggantikan tugas mereka?"
Rooney menggigit bibirnya tak bisa menjawab.
"Kutanya sekali lagi, apa kamu senang dengan hal ini?"
Rooney mulai gemetaran seperti ponsel yang berdering, dengan badan dan suara yang gemetar, Rooney menjawab, "Tentu saja tidak...! Siapa juga yang senang diperlakukan seperti ini? Bilangnya teman, tapi... Ketika, a-khu..." Suara Rooney semakin bergetar dan serak, "Ke-Ketika aku... Tidak mau meminjamkan mereka uang... Me-Merekha... Malah... Bersikhap di-dingin."
Rooney mulai menangis, menumpahkan emosinya yang selama ini dia tahan sejak lama.
Aji yang melihatnya menghela napas panjang, "Hhahhhhh... Lalu, kenapa kamu tetap membela mereka?"
"Ma-Mau bagaimana lagi? Me-Mereka tetap temanku."
"Bodoh." Ucap Aji dengan pelan.
Rooney terdiam mendengar ucapan Aji tersebut, dia tidak menyangka akan mendengar umpatan dari Aji.
"Itu namanya bukan teman Rooney, teman itu bukanlah orang yang bersama kita hanya karena perlu saja, bukan sesuatu yang akan bersikap dingin hanya karena kamu tidak bisa memberikan apa yang mereka mau."
"Lalu...? Teman itu apa menurutmu? Sebelumnya aku sudah menyebut kita sebagai teman, tapi aku masih belum paham apa itu teman. Dulunya kukira teman itu harus saling berkorban meski menderita, makanya aku mau latihan bulu tangkis denganmu, padahal itu rasanya sangat menyiksa. Jadi, apa itu teman menurutmu!?"
Aji berpikir sebentar dan menarik napas panjang, "Hmmmpp... Sejujurnya aku tidak yakin dengan jelas, aku sendiri bukan orang yang memiliki banyak teman dan bisa menjawab pertanyaanmu itu dengan mudah. Namun..."
"Apa?"
"...Setidaknya aku yakin jika teman itu ada untuk saling membantu, dan tidak akan meninggalkan kita hanya karena kita tidak mampu membuat kita puas. Teman itu harusnya selalu ada bagi kita, tidak hanya ketika dia butuh saja."
"Apa bedanya? Bukannya itu sama saja, saling membantu artinya saling berkorban satu sama lain."
"Sulit untukku jelaskan, namun, aku punya contoh. Minggu lalu, bukannya kamu membantuku ketika aku membersihkan kelas sendirian?"
"Iya, lalu?"
"Kamu membantuku ketika aku sendirian, kamu tidak meninggalkan aku ketika sendirian. Sedangkan saat ini, kamu sedang berkorban demi mereka, mereka meninggalkanmu sendirian. Bukannya itu jelas? Yang saat ini kamu lakukan hanya memberi pada mereka, sementara mereka hanya menerima tanpa mau memberi balik."
"..." Rooney termenung mendengarnya.
"Apa kamu puas jika harus memberikan sesuatu yang besar hanya untuk sekedar disapa balik oleh mereka? Apa kamu mau harus memberikan uang seumur hidupmu hanya agar mereka mau merangkulmu dengan hangat?"
Rooney akhirnya sadar, selama ini dia bukan berteman dengan mereka, hubungan dirinya dengan mereka bukanlah pertemanan, tapi hanyalah saling ketergantungan.
Seperti sebuah simbiosis mutualisme yang saling memberikan keuntungan pada 2 pihak, namun terasa tidak adil karena keuntungan yang didapat tidak sama.
Dengan adanya Rooney, mereka bisa mendapat uang tambahan dengan mudah, hanya bermodalkan menyapa balik Rooney ketika menyapa, mengajaknya keluar, mengajaknya makan bersama, atau sekedar merangkulnya.
Sementara bagi Rooney, dengan adanya mereka, itu bisa mengobati rasa kesepiannya, memberikan dia perasaan bahwa dia tidak sendirian dan memberikan kepercayaan diri semu bahwa dirinya mulai beradaptasi dengan masyarakat.
Tapi justru Rooney lebih banyak menanggung kerugian dibanding keuntungan, Rooney harus mengorbankan uangnya, waktunya, dan tenaganya hanya demi mendapat sapaan singkat dan sikap bersahabat dari mereka.
Hubungan ketergantungan ini bahkan mulai menjerumus ke arah simbiosis parasitisme karena mulai merusak Rooney, menjadikannya boneka yang akan melakukan apa pun demi temannya.
"Kau benar... A-Aku memang bodoh, selama ini aku hanya menipu diriku sendiri tanpa sadar dengan kenyataan kalau mereka hanya menganggapku sebagai alat untuk dimanfaatkan. Maaf..."
"Untuk apa minta maaf?"
"Maaf karena sudah mengatakan hal-hal jahat padamu, aku sadar jika selama ini aku juga sudah berbuat jahat padamu."
Rooney akhirnya mengatakannya, perasaan bersalah pada Aji yang selama ini tertumpuk akhirnya dilepaskan oleh Rooney.
Aji pun tampak puas dengan ini, seolah sudah menunggu Rooney meminta maaf sejak lama.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar, ayo cepat bangun, jangan duduk di lantai terus."
Aji mengulurkan tangannya untuk membantu Rooney berdiri, dengan sedikit terisak, Rooney menggapai tangan Aji dan berdiri.
Setelah Rooney berdiri, Aji berkata, "Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan sekarang juga?"
Rooney sedikit bingung dengan perkataan Aji, "Melanjutkan apa?"
"Apa lagi? Tentu saja lanjut membersihkan kelas ini, lihat itu! Disana masih kotor, kamu belum bersih menyapunya, barisan ini juga tidak lurus, sepertinya kamu sangat terburu-buru dalam membersihkannya."
Aji menunjuk ke sekeliling kelas untuk menunjukkan bagian-bagian yang masih belum bersih dan rapih.
"Lah? Bukannya kau bilang tidak perlu berkorban untuk mereka? Kenapa kau mau menggantikan piket mereka?"
"Itu bukan berarti kamu boleh melepas tanggung jawab yang sudah kamu ambil Rooney, kamu memang tidak wajib mengambil alih tugas atau tanggung jawab mereka. Tapi jika sudah terlanjur mengambil tanggung jawab seperti ini, maka harus dituntaskan sampai akhir."
"Eh.....? Tapi.... Kan...!"
"Sudah! Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu sapu ulang lagi bagian sana, aku mau merapihkan barisan yang disana."
Tanpa memberikan ampun, Aji memberikan sapu dan langsung mendorong Rooney untuk segera menyapu lantai yang kotor.
"Woi Rooney! Sapu yang benar! Kalau menyapu sembarangan seperti itu, debunya akan beterbangan."
"Ta-Tapi... Aku biasa menyapu seperti ini."
"Salah itu! Karena kamu menyapu dengan tidak benar seperti itu, makanya tidak bersih."
Sebelumnya Rooney hanya membantu di akhir ketika kelas sudah hampir bersih, baru kali ini dia merasakan piket bersama Aji dari awal.
"Sapunya jangan sembarangan ditaruh! Nanti kalau jatuh terus keinjak orang lain bisa patah."
"Kita hanya berdua Aji, tidak ada orang lain!"
"Bisa saja kita yang tidak sengaja menginjaknya, cepat taruh di tempatnya semula!"
Rooney merasa seperti bersih-bersih rumah bersama dengan ibunya, bahkan Rooney mulai melihat Aji seperti ibu-ibu cerewet dengan rambut keriting dan hanya menggunakan daster.
"Hati-hati kalau masukin sampah dari pengki! Nanti banyak yang tidak masuk ke dalam tempat sampahnya!"
Aduh... Dia semakin mirip ibu.
...****************...
"Akhirnya selesai... Itu sangat melelahkan."
"Ya, itu bertambah sulit karena kamu terus melawan ucapanku."
"Ughhh... Maaf... Soalnya kau selalu berteriak saat memberi perintah."
Selesai membersihkan kelas, Rooney dan Aji pergi bersama hingga ke gerbang sekolah.
Hal ini terasa seperti deja vu bagi Rooney, tapi dia menyampingkan hal itu dan fokus pada obrolan.
Rasanya menyenangkan, Rooney merasa bisa lebih akrab dengan Aji dibanding dengan Roy. Mungkin karena status Roy sebagai salah satu anak populer di sekolah yang membuat Rooney sedikit minder.
Sementara dengan Aji, Rooney merasa obrolannya lebih nyambung, bahkan dia berhenti berbicara gagap jika bersama dengan Aji.
Sampai di gerbang, mereka berpisah.
"Ok, aku pulang lewat sini, sampai jumpa besok."
"Ah, iya... Sampai jumpa besok."
Mereka berdua pulang lewat arah yang berlawanan, Aji melambai ke belakang ketika berjalan.
Punggung Aji semakin menjauh, menyisakan perasaan ganjil pada Rooney, entah mengapa, rasanya seperti sudah pernah dia lewati, dan itu membuatnya menyesal karena seperti melewatkan kesempatan besar.
Ah... Iya... Ini sama seperti dengan Roy, waktu itu kami berpisah seperti ini begitu saja. Mungkin...
Rooney memikirkan sesuatu, sesuatu yang sangat ingin dia lakukan.
"A-Aji! Tunggu sebentar." Rooney berteriak meminta Aji berhenti.
Aji kemudian berhenti dan menengok ke belakang, kemudian bertanya, "Ada apa? Ada yang ketinggalan?"
Tentu saja bukan itu.
"Anu... Mumpung masih sore, bagaimana jika kita main dulu? Oh iya, bagaimana jika kita membeli minuman yang segar? Pas sekali bukan jika setelah bekerja keras kita membeli minuman segar."
"Benar sih, tapi ada apa tiba-tiba?" Aji bertanya sambil mendekat agar bisa berbicara lebih jelas.
"Tidak apa-apa, aku hanya mau mentraktirmu sebagai ucapan terimakasih saja."
"Ya ampun, bukankah sudah kubilang agar tidak seperti itu? Apa kamu tidak mendengarkanku sedikit pun?"
"Tidak kok, ini tidak sama, ini murni hanya sebagai ucapan terimakasih saja."
Aji berpikir sebentar, sejenak dia berpikir jika Rooney kembali ke kebiasaan lamanya yang terlalu banyak memberikan sesuatu kepada orang lain agar bisa tetap berteman.
Namun, Aji melihat sorot mata Rooney, sorot matanya terlihat bebas dan ringan, tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat terobsesi pada hubungan pertemanannya.
"Haaaaa..... Yasudah, tapi biar aku yang pilih."
"Ok, tunjukkan saja jalannya." Rooney menerimanya dengan tersenyum lepas.
Melihatnya, Aji yakin jika Rooney sudah tidak lagi sama dengan yang sebelumnya.
Mereka pun segera menuju ke tempat yang Aji mau, tempat yang dipilih Aji terletak di taman kota.
Itu adalah taman yang indah, dengan pohon beringin besar di tengahnya. Banyak anak-anak, orang dewasa, atau pun remaja yang sering berada di tempat ini. Untuk sekedar bersantai, bermain, hingga dijadikan tempat untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Melihat banyak yang sering datang ke taman, tentu banyak perusahaan atau pedagang yang berniat mencari untung dengan berjualan disana.
Ada banyak toko yang didirikan di sekitar taman, ada juga pedagang kaki lama atau pedagang asongan yang berkeliling disana.
Aji mengajak Rooney ke sebuah toko minuman yang menjual minuman teh dengan banyak variasi.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Aji pada Rooney di depan kasir.
Rooney memandangi menu yang tertera di depannya, banyak variasi teh yang tersedia, ada yang original, dicampur dengan buah dan yang lainnya. Karena Rooney menyukai sesuatu yang manis, dia memilih yang original.
"Aku yang original saja, aku tidak terlalu menyukai rasa baru."
"Baiklah." Aji mengiyakan, kemudian Aji menghadap kasir dan mengatakan apa yang mau dia pesan, "Saya mau memesan 1 teh original dan 1 teh lemon mbak."
"Baik, ada lagi kak?"
"Tidak, itu saja."
"Baik, kalau begitu totalnya..."
Rooney pun maju dan membayar minuman mereka berdua karena dia sudah berjanji akan mentraktir Aji.
"Terimakasih kak, ditunggu yah pesanannya."
"Baik."
Selesai membayar, mereka berdua mencari kursi kosong di kedai itu dan duduk sambil menunggu minuman mereka selesai dibuat.
"Yah~ Aku menyukai minuman asam karena itu membuatku bisa terjaga jika sedang belajar."
"Ahahaha... Kenapa tidak minum kopi saja?"
"Aku juga suka kopi, aku biasanya meminum kopi pahit ketika bergadang agar bisa terjaga penuh. Tapi kebanyakan minum kopi terkadang membuat perutku sakit, makanya aku terkadang meminum minuman asam seperti jus lemon, jus jeruk, atau teh lemon sebagai pengganti kopi. Dan sekarang karena terbiasa, aku menjadi menyukainya."
"Uwaahhh... Memangnya kamu bergadang berapa kali sih? Rasanya kita tidak selalu dikasih tugas."
"Aku bergadang bukan cuma untuk mengerjakan tugas, biasanya aku mereview kembali materi yang baru dipelajari di sekolah."
"Uwahhhh... Anak yang mendapat ranking pertama memang berbeda yah."
Rooney bertepuk tangan sebagai apresiasi dan rasa kagumnya pada Aji.
"Entah kenapa aku merasa ucapanmu itu terdengar sarkas."
"Ahahaha... Tidak kok, aku memang murni memujimu."
"Begitu yah, omong-omong..."
Obrolan mereka terasa lancar, tidak berat dan sangat ringan.
Hingga tidak terasa waktu berlalu, minuman mereka sudah selesai dibuat.
"Atas nama Rooney."
Nama Rooney dipanggil oleh pegawai kedai, sontak mereka berdua berdiri dan mengambil minuman mereka.
"Terimakasih mbak."
"Sama-sama kak, silahkan datang kembali."
Mereka berdua berjalan pergi dari kedai sambil meminum minuman masing-masing. Bagi Rooney minuman ini enak, walau rasanya standar.
Tapi sepertinya bagi Aji minuman ini sangat enak, dia terlihat sangat menikmati menyeruput minumannya walau wajahnya tetap saja datar.
Entah kenapa... Walau wajahnya datar begitu, aku bisa melihat ada bunga-bunga di sekitarnya, sepertinya, dia memang sangat menyukai minuman itu yah?
Mereka berdua berjalan sambil mengobrol santai, apa yang mereka lakukan sangat biasa.
Mereka tidak pergi ke tempat mewah, makan di restoran mahal, pergi bersama perempuan-perempuan cantik dan mempesona, atau hal-hal lain yang biasa dilakukan anak-anak yang disebut "Anak-anak gaul."
Yang mereka lakukan hanya membeli minuman murah, dan berjalan-jalan santai sambil mengobrol. Tapi hal itu cukup membuat Rooney senang, dia merasa seperti sudah berkembang dibanding sebelumnya.
Bahkan sekarang Rooney berhasil mengajak seorang teman untuk bermain keluar, tidak hanya sekedar untuk makan siang bersama.
Saat minuman mereka habis dan matahari mulai semakin turun, mereka memutuskan untuk pulang.
"Sudah mau malam, sebaiknya kita segera pulang."
"Ok, lagipula ibuku akan marah jika aku sampai pulang malam."
Rumah mereka berlawanan arah, tapi mereka harus kembali ke sekolah dulu untuk bisa pulang.
Namun, dalam perjalan kembali ke sekolah dari taman, mereka berdua bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin mereka temui.
"Oalah, ada elu Ron! Katanya lu gantiin piket kita kan? Sudah selesai yah?"
"Sini dulu ayo, habis dari mana omong-omong? Dan itu siapa yang bareng elu?"
Kelompok Farizi sedang berkumpul di gang sepi sambil merokok, mereka menyapa Rooney ketika melihatnya lewat.
Kenapa mereka ada disana? Rasanya tadi saat lewat sini mereka tidak ada.
Rooney tidak ingin berbicara dengan mereka lagi, dia tidak mau hanya dimanfaatkan oleh mereka lagi.
Rooney pun menjawab dengan seadanya saja, "Iya, sudah selesai." Dan langsung mengalihkan pandangannya.
Tidak mau berlama-lama lagi, Rooney langsung mengajak Aji untuk segera pergi, "Ayo pergi." Ucap Rooney dengan berbisik.
Aji mengangguk pelan dan ikut berjalan dengan Rooney.
Farizi dan yang lain tentu keheranan dengan sikap Rooney yang tidak seperti biasanya. Biasanya, jika mereka sudah menyapa Rooney, Rooney akan segera menghampiri mereka seperti anjing pavlov.
Merasa penasaran, Anwar mengejar Rooney dan lansung merangkulnya untuk menahan Rooney.
"Eh buru-buru banget, ayo sini dulu lah."
Rooney sudah tahu maksud Anwar, tidak mau terjebak dengan pola yang sama lagi, Rooney pun menolak, "Ma-Maaf, aku harus buru-buru pulang." Jawabnya sambil menunduk untuk menghindari kontak mata.
Anwar sedikit kecewa dan mendecakkan lidahnya. Namun dia masih belum melepaskan Rooney.
"Yaelah, bentaran doang ayok, ada yang mau gua omongin nih." Anwar masih bersikeras.
Namun Rooney juga sudab membulatkan tekadnya, "Ma-Maaf, aku ada urusan."
Anwar terlihat kecewa dan cemberut karena Rooney yang terus menolak ajakannya.
Melihat pemandangan itu, yang lain mulai mengejek Anwar, "Sudah heh! Anak orang mau pulang itu, jangan ditahan-tahan terus."
"Tau nih Anwar, parah nih."
"Ah elah, berisik lu pada."
Rooney masih terus menunduk, dia tidak mau melihat mereka lagi karena takut akan goyah.
Anwar pun terlihat akan menyerah, namun sebelum dia melepas Rooney, Anwar menunjukkan niat aslinya.
"Yaudah kalau sibuk, tapi gua mau minjem uang dulu dong. Nanti gua ganti."
Dia menjanjikan hal yang sama lagi.
Rooney sudah tahu apa yang dimau oleh Anwar sejak awal, tapi dia tidak berniat lagi meminjamkan uang pada Anwar, atau yang lainnya.
"Maaf, seperti yang kubilang, aku sedang tidak bisa meminjamkan uang."
"Ah elah, dikit doang gua minjemnya, nanti juga gua ganti." Anwar masih memaksa.
Anwar yang terus memaksa Rooney, membuat Rooney mengeluarkan apa yang sudah dia tahan selama ini.
"Kau selalu bilang seperti itu."
"Hah!?"
"Ka-Kau bilang akan diganti nanti, tapi... sampai sekarang kau belum menggantinya, malahan kau meminjam uang lagi dan lagi! Makanya, aku tidak bisa meminjamkan uang padamu lagi."
Anwar terlihat marah, dia merasa seperti sudah dihina terang-terangan oleh Rooney.
"Apaan sih lu? Gitu banget sama teman, jangan perhitungan banget lah!"
"Lunasi dulu hutangmu! aku tidak mau lagi meminjamkan uang pada kalian!"
Anwar semakin berang, harga dirinya terus diusik oleh Rooney.
"An***g!!! Apaan maksud lu hah!? Lu ngatain gua tukang ngutang gitu!? Belagu banget jadi orang!"
Anwar mengangkat tangannya, dia terlihat berniat untuk memukul Rooney. Rooney yang ketakutan menutup matanya.
Syuunggg...
Tangan Anwar terayun ke wajah Rooney, Rooney sudab bersiap menerima tamparan Anwar dan menutup matanya.
Namun, seseorang menangkap tangan Anwar, dia adalah Aji.
"Apaan sih lu? Nggak usah ikut campur sana!"
"Tidak bisa, lagipula kamu mau melakukan kekerasan. Aku tidak bisa membiarkannya."
"Nggak usak sok bijak lu!"
Anwar berteriak dan hendak melepaskan diri dari cengkraman Aji, namun yang terjadi malah sebaliknya. Cengkraman Aji semakin kuat, menarik tangan Anwar ke bawah.
"Adah, adah, adah, stop! Stop! Lepasin, sakit woi!" Anwar mulai meringis kesakitan karena cengkraman Aji.
Melihatnya meringis kesakitan, Aji pun melepaskan cengkramannya.
Anwar langsung melepaskan Rooney, lalu mundur sambil mengusap tangannya yang kesakitan.
Rooney takjub melihat Aji, dia bisa menaklukkan Anwar dengan satu tangan saja.
Melihat temannya yang terintimidasi, Farizi, Fadhil dan Alen maju.
"Waduh, ada jagoan nih."
"Widih... Pahlawan dari mana nih?"
Mereka maju dan mengejek Aji yang lebih kecil dari mereka.
Fadhil yang berbadan paling tinggi, maju ke hadapan Aji dan mencoba mengintimidasinya dengan tinggi badannya.
"Anak mana lu!?" Tanya Fadhil dengan suara yang terdengar provokatif.
"Aku ini ketua kelas kalian, jangan bilang kalian lupa denganku."
"Ahahahahaha... Si ketua kelas ternyata. Sorry, gua gak kenal lu." Jawab Fadhil dengan provokatif.
"Tidak masalah jika kalian tidak mengenalku, toh kalian bukan orang yang penting juga." Balas Aji dengan provokatif juga.
Kesal karena diprovokatif balik, Fadhil mendekatkan wajahnya kepada Aji dan mengancamnya, "Mending lu pergi saja deh, gak usah ikut campur. Lagian lu siapanya Ron? Pacarnya!?" Fadhil mengejek Aji.
Rooney mulai ketakutan dengan situasi ini, mereka semua tampak menakutkan dan jago berkelahi, Aji sendiri pun pasti akan kalah.
Namun, yang terjadi adalah diluar ekspektasi Rooney.
Aji menggenggam kerah Fadhil dan mengangkatnya ke atas, tentunya Fadhil sangat terkejut karena diangkat oleh anak yang lebih kecil darinya. Farizi dan Alen pun sama terkejutnya hingga berjalan mundur.
Apa-apaan anak ini? Pikir mereka semua ketika melihat kekuatan yang ditunjukkan oleh Aji.
Tapi yang paling terkejut adalah Rooney sendiri, dia tidak percaya Aji sekuat itu.
"Aku adalah teman Rooney! Jangan mengganggunya lagi atau akan kulaporkan kalian kepada pihak sekolah karena sudah memerasnya."
Fadhil yang diangkat, tercekik oleh kerahnya sendiri dan memohon ampun, "Ok ok, gua janji, sekarang tolong lepasin gua!"
Gubrak
Aji melepaskan Fadhil dan membuatnya jatuh di jalan.
"Uhuk uhuk!" Fadhil terbatuk-batuk setelah tercekik oleh kerahnya sendiri.
Situasi mereka berbalik, Fadhil yang awalnya dengan sombong menghadap ke bawah, justru sekarang harus mendongak untuk melihat Aji.
"Sekali lagi kuperingatkan, jangan mengganggu Rooney lagi!"
"Cih."
"Ayo Rooney, kita mereka."
Aji mengajak Rooney pergi, dengan masih tidak percaya, Rooney pun mengikuti Aji.
Saat mereka sudah jauh dari Farizi dan yang lain, barulah Rooney mulai heboh, "Itu hebat sekali! Aku tidak menyangka kau sekuat itu."
"Yah, aku dulu memang suka berolah raga, sampai sekarang masih sih."
Rooney masih terkagum-kagum dengan apa yang ditunjukkan oleh Aji, dan baru sadar untuk berterimakasih.
"Oh iya... Terimakasih yah."
"Untuk apa?"
"Apa lagi? Kau sudah membelaku tadi. Jujur, ini pertama kalinya ada seseorang yang membelaku seperti tadi."
Dengan mengacungkan jempol, Aji membalas, "Tak masalah, kita ini kan teman."
Rooney pun tertawa lepas melihatnya. Dia tidak menyangka, orang yang sebelumnya dia dorong, berakhir menjadi orang yang membela dia.