I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Hilangnya Kelompok Farizi



-Hari kamis, jam istirahat.


Rooney sedang di kelas, dia tidak pergi ke kantin karena dia membawa bekal. Tentu saja dia membawa bekal bukan tanpa alasan, karena dia mentraktir Aji dan Roy kemarin, dia sudah kehabisan uang mingguannya.


Karena itu tadi pagi dia diam-diam membawa sarapannya dengan kotak bekal yang sangat disayang ibunya.


Aku lupa, Farizi, Anwar, Alen dan Fadhil kan belum mengembalikan uangku. Kemarin sudah tersisa sedikit, tapi malah kupakai untuk mentraktir Aji dan Roy


Rooney membuka kotak makannya, hanya ada beberapa potong sosis dan sedikit telur dadar di dalamnya, dia terlalu terburu-buru dalam mengambil makanan hingga tidak sempat membawa banyak.


Aku lupa membawa nasi, sial.


Mau bagaimana lagi, yang bisa Rooney lakukan hanyalah makan apa yang ada di hadapannya.


Kemudian Roy kembali dari kantin dan melihat makanan Rooney dengan prihatin, "Bekal lu cuma segitu? Gak bawa nasi?"


"Tidak... Aku lupa bawa nasi."


"Ya ampun... Nih, siomay gua buat elu aja."


Roy menyodorkan siomay yang dibungkus plastik kepada Rooney. Rooney tentu senang mendapat makanan.


"Benaran nih?"


"Bener, lagian gua beli banyak makanan kok."


Rooney baru sadar, jika Roy membeli banyak sekali makanan. Bahkan ternyata, siomay yang dia kasih buat Rooney, bukan satu-satunya siomaynya, Roy masih memiliki satu bungkus siomay lagi. Selain itu, ada banyak makanan lain yang dia bawa dengan kantong plastik, ada chiki, roti, siomay, cilok, bahkan dia juga membeli mie goreng.


"Kau... Mau memakan itu semua?"


"Iyalah! Yakali gak gua makan."


Roy menarik kursi kosong di dekatnya dan duduk di depan Rooney. Dia membuka makanannya dan memakannya dengan lahap.


"Aku tidak sangka kau suka sekali makan. Perasaan sebelumnya kamu tidak makan sebanyak ini. Tapi bagaimana caranya kau tetap kurus meski banyak makan?"


"Hari ini spesial, ada sesuatu yang membuatku senang, makanya aku membeli banyak makanan. Soal kenapa aku tetap kurus, itu sih... Entahlah, mungkin karena aku suka olahraga, jadi sebanyak apa pun aku makan, aku tetap kurus seperti ini."


"Wow... Aku kagum dengan metabolisme tubuhmu."


"Yoi dong, nih, mau chiki?"


"Boleh."


Beruntung, masalah makanan terselesaikan berkat adanya Roy.


"Oh iya omong-omong, kemana si anak teladan itu?"


"Maksudnya Aji? Dia tadi dipanggil ke ruang guru. Aku tidak tahu apa yang mau dia bahas. Katanya sih, dia ditanya tentang Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil yang tidak masuk. Aku tidak mengerti kenapa Aji yang dipanggil jadinya."


"Oh iya, soal itu, ada yang janggal dari mereka?"


"Apanya?" Rooney mulai penasaran, kebetulan dia memang sudah penasaran tentang mereka yang tidak masuk tanpa keterangan selama 2 hari berturut-turut.


Roy mengunyah makanannya, dan menelannya dulu sebelum bercerita, "Hmm... Jadi begini, kemarin itu kan gua menelpon mereka, tapi nomor mereka justru tidak aktif. Dan yang anehnya, nomor mereka semua tidak aktif secara bersamaan."


"Eh? Apa biasanya mereka seperti itu?"


"Tentu saja tidak. Sebelumnya mereka semua selalu bisa dihubungi, bahkan pas gua sakit, mereka beberapa kali nelpon gua. Tapi baru kemarin mereka semua tidak bisa dihubungi bersamaan."


"Aneh sekali, seolah-olah mereka semua menghilang tiba-tiba."


"Benar, makanya hari ini gua mau pergi ke rumah mereka langsung. Lu mau ikut gak Ron?"


Glup


Rooney memang merasa khawatir pada mereka, tapi dia tidak mau mengunjungi mereka lagi karena masalah yang terjadi sebelumnya.


"Eummm... Tidak usah deh, aku tidak terlalu akrab dengan mereka. Aku takut membuat mereka tidak nyaman jika datang kerumahnya."


"Begitu yah... Sayang sekali."


Rooney tidak bisa menceritakan hal yang sebenarnya, dia tidak mau Roy tahu masalah antara dirinya dengan Farizi dan yang lain. Dia berniat mengubur masalah ini dan menjadikannya sebuah kejadian yang tidak pernah ada.


Rooney dan Roy pun lanjut makan, mencoba melupakan masalah Farizi dan yang lainnya untuk sementara.


Beberap saat kemudian, Aji datang. Tapi bukannya menghampiri Rooney dan Roy, Aji malah berdiri di depan kelas dengan wajah serius.


Perasaanku tidak enak. Pikir Rooney ketika melihat ekspresi serius di wajah Aji.


"Tolong perhatiannya dulu sebentar teman-teman..."


Beberapa anak-anak di kelas menghentikan makannya, sebagian tetap makan dan hanya memperhatikan sedikit.


Aji melanjutkan pengumumannya, "...Saya ingin bertanya, ada tidak, diantara kalian yang melihat Teman kita yang bernama Farizi, Alen, Fadhil dan Anwar? Jika kalian melihatnya, bisa segera melapor kepada saya atau wali kelas. Karena tadi orang tua dari teman kita yang sudah saya sebutkan, memberi laporan bahwa teman kita ini sudah menghilang sejak beberapa hari lalu."


Seisi kelas menjadi gaduh karena pengumuman yang disampaikan oleh Aji.


"Menghilang? Waduh..."


"Jangan-jangan diculik nih."


"Bagaimana keadaan mereka sekarang."


"Anj*r, ngeri..."


Suasana semakin gaduh, anak-anak yang sebelumnya tidak begitu peduli dengan pengumuman Aji, ikut gaduh bersama yang lain.


"Ekhemmm... Sekali lagi, seperti yang sudah saya katakan, jika ada yang melihat mereka, atau bahkan bisa menghubungi mereka, bisa segera disampaikan kepada saya atau wali kelas. Terimakasih." Aji menutup pengumuman dan kembali keluar, menyisakan perasaan ganjil di dalam kelas.


Perasaan tidak enak Rooney terbukti, entah apa alasannya, mereka berempat menghilang di waktu yang berdekatan setelah sempat konflik dengan Aji dan Rooney. Mungkin itu pula kenapa Ekspresi Aji tadi sedikit bermasalah, karena Aji adalah orang terakhir yang bertemu mereka.


Roy yang ada di depan Rooney terlihat yang paling gelisah diantara yang lain. Dia terlihat memikirkan sesuatu dengan serius. Apa pun itu, yang pasti Roy sangat mencemaskan mereka.


Rooney hanya bisa berdoa semoga mereka bisa segera ditemukan.


...****************...


-Keesokan harinya, hari jumat.


Rooney berangkat ke sekolah dengan masih memikirkan tentang empat orang yang menghilang ini. Dia sempat berpikir jika menghilangnya mereka berhubungan dengan dirinya.


Apa jangan-jangan karena aku dan Aji? Tidak tidak, sangat aneh jika mereka tidak masuk sekolah hanya karena diancam oleh Aji. Setahuku mereka sendiri memang sering berbuat masalah dengan orang lain.


Rooney berjalan masuk sambil memikirkan masalah kemarin. Lalu kemudian seseorang merangkulnya dari belakang yang memecahkan lamunannya.


"Oi Ron... Hoshh... Hosh..."


Itu adalah Roy yang menghampiri Rooney dan langsung merangkulnya, dia tampak lelah dan berkeringat hingga ngos-ngosan.


"Eh Roy? Ada apa? Kenapa kau kecapekan seperti itu?"


"Ah itu, tadi aku salah lihat jam, makanya datang sambil lari hosh... ke sekolah. Eh! Bukan itu hosh... yang mau kubicarakan."


"Ada apa sebenarnya?"


"Hosh... Hosh... Ini tentang Farizi... Dan... Yang lain, hosh... Hooshh... Tapi... Gua gak bisa cerita se...sekarang... Hosh... Gua sudah ditunggu sama pelatih basket, hosh.... Akan gua ceritain nanti, saat istirahat."


"Ah baik, kalau begitu hati-hati, jangan lupa minum dulu."


"Iya, hoshh... Tunggu nanti saat istirahat yah."


Roy pun pergi duluan ke gedung lain dengan meninggalkan Rooney yang dipenuhi oleh tanda tanya.


Apa yang mau dia bicarakan?


Meski penasaran, Rooney terpaksa menyimpan rasa penasarannya itu dan pergi ke dalam kelas.


Di dalam kelas masih dipenuhi kehebohan akibat berita kemarin, Rooney tidak bisa tidak mendengar gosip terkait Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil yang menghilang.


Banyak gosip-gosip buruk dan mengerikan yang terdengar, ada yang menganggap mereka kabur karena orang tua mereka yang kasar, ada gosip tentang mereka kabur dan bergabung dengan gangster, bahkan ada juga yang mengatakan mereka diculik dan diambil organnya seperti kasus yang sempat viral beberapa tahun lalu.


Beruntung semuanya hanya gosip, aku tidak bisa membayangkan jika ada berita mengerikan tentang keadaan mereka.


Rooney hanya bisa berharap mereka selamat dan tidak kenapa-napa.


Tidak lama, guru datang dan membuat semua gosip terhenti.


-Jam Istirahat.


Rooney segera membereskan bukunya, Roy datang tidak lama kemudian dan langsung mengajak Rooney pergi.


"Ayo, ikut gua."


"Ok, sebentar."


Mendengar percakapan singkat mereka, Aji menginterupsi dan bertanya apa yang mau mereka lakukan.


"Kalian berdua mau kemana? Kalian terlihat sangat buru-buru, jika boleh menebak, sepertinya bukan mau ke kantin kan?"


Roy tidak menyukai Aji, sehingga dia enggan memberitahu Aji, "Gak usah ikut campur. Mending lu diem saja."


Tahu dia akan kalah jika berdebat dengan Aji, akhirnya Roy dengan frustasu menyetujuinya, "Okelah, lu boleh ikut. Tapi syaratnya jangan bilang siapa-siapa dulu."


"Baiklah, aku setuju. Kalau begitu tolong ceritakan."


"Tidak bisa disini."


"Kenapa? Lebih baik langsung diceritakan saja."


"Masalahnya susah buat dijelasin disini, kalau mau denger cerita gua, ikut gua ke tempat yang sepi."


"Baiklah, aku akan mengikutimu."


Roy dan Rooney mengikuti Roy, mereka bertiga keluar dari gedung sekolah dan pergi ke area belakang sekolah.


Untuk sebentar, Rooney mengira jika mereka mau ke halaman belakang sekolah. Namun, tempat yang dituju oleh Roy adalah toilet tidak terpakai yang tersembunyi di belakang gedung sekolah.


"Lah kenapa kita kesini!?" Teriak Rooney memprotes keputusan Roy.


"Gak usah protes Ron, disini tempat yang paling sepi."


Toilet ini adalah area paling terpencil di sekolah, terletak paling belakang, hampir tidak ada yang memakainya lagi selama bertahun-tahun setelah terjadi kebocoran pipa. Setelah toilet ini rusak, pihak sekola tidak memperbaikinya lagi karena sudah ada toilet di tiap gedung sekolah sehingga toilet ini dirasa tidak diperlukan lagi.


Ditinggal bertahun-tahun, toilet ini menjadi tempat dengan banyak cerita horror yang beredar. Pernah terdengar ada anak yang melihat hantu perempuan yang membawa bayinya yang sudah mati, bahkan ada yang bilang di sekitar toilet, sering terdengar suara anak kecil menangis.


Rooney memang lemah terhadap cerita horror seperti itu, namun yang paling mengganggi Rooney adalah, banyaknya serangga di tempat ini, di bagian depannya saja sudah banyak kecoa, dan Roy memaksa Rooney untuk masuk ke dalamnya.


"Kan ada halaman belakang sekolah, disana juga sepi, kenapa harus kesini sih." Teriak Rooney.


"Halaman belakang masih banyak yang lewat, udah paling bener di dalam sini saja, dijamin gak bakal ada yang lewat."


"Tahu darimana?"


"Tahulah, gua sering bolos disini." Ucap Roy dengan bangga.


Rooney masih tidak mau untuk masuk ke tempat yang banyak serangganya seperti ini. Rooney berbalik kepada Aji, mencoba mencari dukungan. Namun Aji tampak tidak keberatan sama sekali.


"Menurutku disini memang yang paling sepi Rooney, aku sering di halaman belakang, dan disana masih sering ada yang lewat."


"Nah... Tumben kita sepemikiran. Sudahlah Ron, gak usah protes terus, ayok masuk."


"Tu-Tunggu! A-Aku tidak mau masuk! He-Hentikan!"


Mau tidak mau, Rooney didorong masuk ke dalam toilet menakutkan itu tanpa belas kasihan.


Didalamnya, tidak seperti perkiraan Rooney, justru di dalam lebih buruk dari yang Rooney kira.


Debu tebal menutupi lantai, perabotan dan sampah tidak terpakai yang ditaruh asal, kemungkinan tempat ini sempat dijadikan tempat untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai, tapi akhirnya lupa untuk dibereskan lagi. Bau busuk seperti campuran kotoran dan air kencing tercium, dan tidak hanya terlihat kecoa saja, tapi juga tikus dan juga kotorannya.


Rooney serasa akan muntah karena tempat menjijikkan ini, Hueeekkkk... Tempat ini sangat buruk.


Berbeda dengan Rooney, justru Aji dan Roy tampak biasa saja dengan tempat ini. Bahkan Rooney saja sampai heran melihat mereka yang bisa santai di tempat yang seperti pembuangan sampah ini.


Tidak mau berlama-lama, Rooney segera bertanya apa yang mau diberitahukan oleh Roy.


Roy pun bercerita apa yang dia tahu, "Yah jadi begini, mendengar pengumuman dari Aji kemarin, gua langsung buru-buru ke rumah Farizi pas udah pulang. Dari sana, gua dapat info kalau mereka berempat, bermasalah dengan tempat peminjaman uang ilegal, kemungkinan masalah hutang."


"Apa!?" Rooney dan Aji terkejut bersamaan.


Aji langsung menyerbu Roy dengan banyak pertanyaan lain, "Bagaimana bisa? Kemarin orang tuanya tidak berkata apa pun tentang peminjaman uang ilegal, mereka hanya memberitahu jika anaknya tidak pulang dari sekolah dan tidak bisa dihubungi."


"Pasti itu karena aib, orang tua mereka takut jika pihak sekolah tahu anaknya terlibat dengan peminjaman uang ilegal, karena bisa saja mereka semua dikeluarkan karena masalah itu. Gua saja tahu tidak langsung dari mereka, tapi dari tetangga yang melihat beberapa preman datang ke rumah Farizi dan menagih hutang. Makanya gua minta kalian jangan ada yang ngasih tahu guru, terutama elu Aji, takutnya kalau ketahuan guru, mereka bisa dikeluarkan."


"Lalu? Apa orang tuanya mau membayarnya?"


"Katanya sih tidak, pasti karena anak mereka sudah hilang duluan, jadi mereka tidak mau membayarnya karena bisa saja itu kebohongan."


Suasana menjadi hening untuk sesaat, Rooney tidak mengira jika masalah ini lumayan serius.


"Kalau begitu, apa kamu tahu cara menemukan mereka Roy? Kau pasti punya rencana buat menemukan mereka kan?" Rooney bertanya kepada Roy.


Roy menggaruk kepalanya dan menampilkan ekspresi yang bermasalah, "Rencana sih ada, tapi... Aku kurang yakin karena kita akan berurusan dengan gangster." Ucapan Roy terdengar sedikit ragu, dia sendiri pastinya ragu


"Jadi... Kamu takut?" Aji bertanya dengan nada datar, namun cukup untuk membuat harga diri Roy terusik.


"Apa!? Takut katamu? Tentu saja kagaklah! Yakali gua takut sama gituan doang."


"Bagus, coba ceritakan apa rencanamu untuk menemukan mereka."


Wow... Rooney menatap kagum kepada Aji yang mampu menarik kembali kepercayaan diri Roy.


"Baiklah, gua punga dugaan tentang tempat mereka berada saat ini. Ada 2 dugaan, 1, mereka diculik apa para debt collector, atau mereka saat ini sedang bersembunyi di satu tempat."


"Apa kamu punya perkiraan tempatnya?"


"Ya, sebenarnya dulu mereka pernah beberapa kali mereka pernah bilang ingin meminjam uang dari tempat peminjaman uang yang mereka lihat di sebuah brosur, dulu gua kira itu cuma candaan, gua masih inget nama tempatnya, bisa kita cari lewat internet..."


"Lalu yang satunya?"


"...Kemungkinan di tempat persembunyian rahasia kami, dulu gua sama mereka pernah bikin tempat persembunyian rahasia waktu kecil, ada kemungkinan mereka ada disana."


"Baik, mari kita coba ke tempat debt collector itu dulu, untuk sementara kita lihat saja dulu."


"Ok, gua cari dulu alamatnya."


Mereka berdua sudah menyusun rencana untuk menemukan Farizi, Alen, Fadhil dan Anwar yang menghilang. Sementara Rooney hanya diam mendengarkan.


Rooney berpikir, apa dia memang harus menolong mereka, atau lebih tepatnya, apa dia tidak keberatan menolong mereka?


Setelah apa yang mereka lakukan padanya, apa dirinya bisa berbesar hati untuk memaafkan mereka dan membantu mereka. Bahkan jika dia hanya dianggap dompet berjalan bagi mereka semua.


Diamnya Rooney membuat Aji sadar apa masalahnya, Aji pun berinisiatif untuk bertanya pada Rooney.


"Rooney, apa kamu tidak masalah dengan ini?"


"Eummm... Entahlah."


Roy yang mendengar percakapan mereka langsung bertanya apa maksudnya, "Hmm...? Apa maksudnya tadi? Memangnya lu kenapa Ron?"


"Oh iya, kamu tidak tahu yah?"


"Hah? Apaan? Gua ketinggalan apaan nih?"


"Akan kuceritakan, masalah yang dibuat oleh mereka..."


Aji pun menceritakan semua yang terjadi, apa saja yang dialami oleh Rooney, dan apa saja yang dilakukan oleh mereka berempat kepada Roy.


Roy tampak kecewa mendengarnya, dia menepuk keningnya sambil menghela napas panjang, "Haaahhhh... Dasar mereka ini, kenapa tidak bisa nahan diri sih? Gua kira mereka cuma minjem uang ke tempat ilegal, ternyata sampai meras uang orang lain loh."


Mendengarnya, Roy pasti paham jika Rooney merasa sedikit keberatan jika menolong mereka, terlebih, uang Rooney sendiri masih belum dikembalikan oleh mereka, bahkan mereka sendiri malah mencaci Rooney ketika ditagih. Pastinya Rooney sakit hati dengan mereka.


Ukhhh... Suasananya jadi tidak enak.


Dengan ekspresi gelisah dan terlihat merasa bersalah, Roy meminta maaf dengan menunduk, "Ron, gua mewakili mereka berempat minta maaf sama elu. Gua paham mereka keterlaluan banget. Itu hak elu mau maafin mereka atau kagak, lu boleh gak bantuin mereka karena lu pasti sakit hati sama mereka."


Rooney bimbang, disatu sisi dia masih merasa sakit hati, tapi jika Roy sampai minta maaf seperti ini, justru Rooney akan terkesan jahat jika tidak menerimanya.


"Eummm... Aku sendiri masih susah maafin mereka, tapi karena masalahnya sudah begini, rasanya jahat jika sudah tahu tapi nutup mata. Jadi... Meskipun aku masih susah maafin mereka, aku bakal bantu buat nyari mereka, dan sebisa mungkin bantu menyelesaikan masalah mereka juga."


Roy terlihat terharu mendengarnya, "Ya ampun Ron, lu baik banget, gua janji dah, nanti kalo mereka sudah ketemu, gua suruh mereka buat minta maaf sampe elu puas."


"Haha... Tidak usah sampai seperti itu."


Aji juga ikut senang melihat Rooney mau memaafkan dan tidak mendendam lagi.


"Baguslah, omong-omong bagaimana? Sudah ketemu tempatnya?"


"Sudah, ini alamatnya." Roy menunjukkan alamat yang tertera di handphonenya.


Tempat peminjaman itu tidak jauh, lumayan dekat dari sekolah, hanya berjarak 15 menit jika memakai kendaraan.


"Hmm... Tidak jauh, kalau begitu ayo sekarang." Aji langsung mengajak untuk segera menuju tempat itu.


Roy dan Rooney tentu kaget dengan keputusan mendadak seperti itu, "Lah? Sekarang banget nih? Kan masih jam sekolah."


"Tumben sekali kamu berpikir seperti itu, biasanya kamu suka bolos dan harusnya senang jika kuajak sekarang."


"Diam lu, gak usah ngejek terus, gua justru kaget karena anak teladan kayak elu mau langsung pergi. Harusnya kan elu nunggu waktu pulang dulu."


"Lebih cepat lebih baik, akan buruk jika mereka sudah diculik oleh para debt collector itu. Lagipula aku tidak mengajak bolos, akan kuurus surat izin untuk kita."


"Baiklah, ternyata elu khawatir banget yah, yasudah secepatnya yah."


"Baik. Kalian bereskan tas dan barang-barang kalian, lalu susul aku di ruang guru."


"Ok."


Mereka bertiga pun, segera bergegas untuk mencari Farizi, Alen, Anwar dan Fadhil yang menghilang.