I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Penyelesaian Masalah



"Kalian bodoh banget! Bisa-bisanya kalian berurusan dengan rentenir. Memangnya kalian perlu uang buat apa sih!?"


"..."


"Nggak mau jawab kalian!? Apa gua kasih aja kalian ke rentenirnya langsung?"


"Ja-Jangan! Sa-Santai dong Roy, masa lu tega sama temen sendiri."


"Ya kalian susah karena kelakuan sendiri. Gua marah sama kalian karena kalian sudah bikin salah malah kabur lagi."


"I-Iya... Ma-Maaf, kami cerita deh."


Singkatnya, setelah Roy menemukan mereka, dia langsung marah besar. Bukan tanpa alasan, itu karena ketika dia bertemu mereka lagi, mereka malah langsung meminta kepada Roy agar tidak melaporkan mereka ke sekolah terkait masalah ini.


Roy memang tidak berniat melaporkan mereka, tapi dia marah karena mereka yang lebih peduli pada diri sendiri ketimbang orang lain yang kesusahan karena mereka. Terutama orang tua mereka sendiri yang menanggung malu pada tetangga.


Akhirnya Roy memarahi mereka dan mengancam mereka agar segera memberitahu apa tujuan mereka meminjam uang pada rentenir.


Seram juga kalau Roy marah. Batin Rooney melihat Roy yang meledak-ledak.


Farizi yang telah dimarahi oleh Roy, kemudian menceritakan apa tujuan mereka meminjam uang sambil duduk bersimpuh, seperti seorang penjahat yang meminta maaf di pengadilan.


"Ja-Jadi... Sebenarnya kami minjam uang ke rentenir, buat..." Omongannya terhenti.


"Buat apa!?" Roy membentak, memaksa Farizi untuk lanjut bercerita.


"... Bu-Buat, be-beli sepatu."


Keadaan hening sebentar, semuanya terdiam, bingung untuk memberikan komentar apa pun.


"Sepatu?"


"Sepatu model baru yang viral kemaren Roy."


"Yang dipake sama aktor Tom. Yang main di film horor yang viral baru-baru ini."


Anwar dan Alen melanjutkan ucapan Farizi.


Rooney teringat film horror berjudul A Death Man Come Back yang ditonton oleh mereka sebelumnya. Kemungkinan film itu lah yang diperankan oleh aktor yang mereka maksud. Rooney ingat sepertinya ada nama Tom yang memerankan Harry, si karakter utama yang bagi Rooney sangat keren.


"Jadi kalian minjem uang ke rentenir sampe kabur ke tempat ini, rela ngegembel berhari-hari dan cuma makan mie instan yang dimakan mentah, cuma demi beli sepatu gitu?"


"I-Iya."


"Sinting! Kalau mau beli setidaknya nabung lah! Masa minjem uang ke rentenir gini sih?" Roy terlihat seperti Aji, dia tampak lelah dalam menghadapi kelakuan teman-temannya. Dia menepuk dahinya dan menutup matanya seperti tidak kuat melihat teman-temannya yang telah melakukan tindakan bodoh.


"Yah mau bagaimana lagi, sepatunya terbatas Roy, Terbatasss...! Lu tau sendiri kan, kita ini memang demen sepatu dari dulu. Sudah hobi, susah diilanginnya." Ucap Farizi membela diri.


Roy tidak bisa berkata-kata mendengarnya, dia sepertinya malu mendengar ucapan Farizi.


"Kalau begitu, kalian meminjam uangku untuk beli sepatu." Rooney tiba-tiba bertanya.


Rooney ingin memastikan sesuatu, walau ini adalah hal yang ingin dia lupakan karena merupakan kenangan menyakitkan. Tapi Rooney merasa harus tahu alasan mereka mendekatinya, dan berpura-pura menjadi temannya.


Farizi langsung kebingungan, dia terlihat sulit menjawab pertanyaan Rooney hingga membuang mukanya ke arah lain. Teman-temannya dia belakang juga ikut buang muka.


Roy yang melihat kelakuan teman-temannya itu kembali marah, "Oi! Kalian ini nggak tahu malu yah!? Sudah minjam uang orang, nggak dibalikkin lama banget, dan sekarang mau kabur juga!?"


Takut dengan Roy yang marah, Farizi dengan segera meminta maaf.


"Bu-Bukan itu sih tujuan sebenarnya, kami minjem uang ke elu itu buat bayar hutang ke rentenirnya..."


Grrrttt...


Rooney meremas tangannya seperti sarung tangan karet untuk menahan amarahnya. Dugaannnya selama ini benar, mereka hanya melihat Rooney seperti dompet berjalan.


"Habis minjam uang ke rentenir, kami malah bingung gimana cara ngebalikinnya. Karena itu kami belum memakai uangnya karena malah jadi kepikiran gimana bunga hutangnya nanti. Te-Terus, ada yang ngusulin buat manfaatin elu Ron."


"Siapa?" Rooney bertanya dengan dingin.


Glup


Farizi langsung pucat mendengar suara Rooney yang sangat dingin.


"Si-Si-Si... Anwar! Anwar yang ngusulin!" Farizi langsung menunjuk Anwar, melimpahkan semua kesalahan pada satu orang.


"Apaan sih? Kok jadi gua?" Anwar yang tak terima dituduh seperti itu, langsung menarik kerah baju Farizi yang sudah rusak.


"Yah memang benar kan? Lu yang nyuruh ngetest Rooney pakai cara diajak ke bioskop biar tahu dia mau minjemin uang atau kagak."


"Ta-Tapi kan... Kalian juga setuju dan mau aja."


"Yah berarti tetap elu yang salah, elu yang pertama ngajakin!"


"Yah tapi gak usah jadiin gua kambing hitam juga lah! Kaliam juga seneng-seneng saja tuh."


"Tapi elu yang paling suka morotin Rooney! Gua masih inget lu minjem uang lagi ke Rooney buat beli sepatu lain."


"Apaan sih lu! Ngungkit-ngungkit mulu masalah lama!"


Keduanya menjadi bertengkar setelah menyalahkan satu sama lain. Fadhil dan Alen berusaha memisahkan mereka berdua.


Bagi Rooney, mereka berdua tampak konyol, padahal keduanya bagi Rooney adalah orang jahat yang memanfaatkannya seperti dompet berjalan hanya demi memuaskan nafsu mereka. Tidak peduli siapa yang pertama memiliki ide tersebut, bagi Rooney, mereka berempat tetaplah orang jahat.


"Cukup!" Rooney berteriak, membuat pertengkaran berhenti.


Anwar tanpa sadar melepaskan kerah Farizi dan duduk lagi.


Rooney melanjutkan perkataannya, "Aku tidak terlalu peduli ide siapa, bagiku kalian tetap jahat tidak peduli siapa yang memulainya. Farizi coba lanjutkan lagi."


Farizi pucat pasi mendengarnya, dia akhirnya sadar, tidak peduli bagaimana dia akan berkelit, Rooney sudah menganggap sebagai orang yang jahat.


"Ya-Ya habis itu kita ngetes elu, mau enggak elu minjemin uang, pake cara pura-pura gak bawa uang pas dibioskop. Habis yakin kalau lu mau minjemin uang, kami mulai minjem uang lu dikit-dikit. Mungkin lu gak sadar, tapi uang yang kami pinjem entah itu buat bayar hutang ke rentenir atau buat jajan, habisnya sudah lumayan banyak."


"Berapa!?" Roy tiba-tiba memotong.


Glup


"Se-Sekitar 600 ribu." Jawab Farizi dengan ragu-ragu.


Roy terlihat semakin kesal dengan mereka, namun Rooney menghentikan Roy yang hendak memarahi mereka.


Selama ini Rooney sudah meminjamkan uang tanpa menghitungnya, tapi dia yakin uang yang keluar dari kantongnya lebih besar dari itu, karena, uangnya yang ada di tabungan yang telah dia kumpulkan sejak kecil, sudah mengeluarkan uang lebih besar dari itu untuk mereka.


"Itu bohong kan?"


Farizi mengalihkan pandangannya, "I-Itu sudah benar kok."


Yang lain ikut membuang muka, mereka tampak seperti orang yang sedang menutupi sebuah kebohongan dengan cara yang buruk.


"Itu bohong, aku yakin itu. Aku memang tidak menghitungnya, tapi uang tabungan yang keluar karena kalian, jauh lebih besar dari itu."


Farizi dan yang lain seketika bergetar, kebohongan mereka ketahuan dengan cara yang memalukan.


Tak bisa berkelit lagi, Farizi menundukkan kepalanya dan meminta maaf, "Ma-Maaf, i-i-i-itu benar... Kami memang meminta uang lebih banyak dari itu."


"Jadi berapa? Jawablah dengan jujur." Ucap Rooney dengan dingin.


Dengan wajah yang pucat pasi dan dipenuhi ketakutan, Farizi menjawab, "Ya-Yang kami pinjam itu, se-sebesar 1,5 juta."


Petir terasa menyambar kepala Rooney, dia baru sadar seberapa besar uangnya yang keluar hanya untuk mereka. Orang-orang yang tidak menganggapnya teman dan hanya memperlakukannya bagai dompet berjalan.


Roy terlihat murka dengan fakta ini, dia tidak menyangka bahwa teman-temannya meminjam uang dengan nominal jutaan kepada Rooney.


"Gila! Kalian ini orang macam apa? Bisa-bisanya kalian meras orang sampai sebesar itu. Bagaimana bisa hasilnya sebesar itu?" Roy bertanya dengan emosi marah dan heran yang bercampur aduk.


"Ti-Tiket bioskop lumayan mahal, dan waktu itu kami sengaja ngebiarin Rooney ngebayarin setengah harga paket makanan."


"Wa-Waktu itu gua minjem uang lumayan banyak pake alasan ibu gua sakit."


"Gua minjem buat beli game baru."


Satu-persatu kebohongan dan kedok mereka terbongkar. Membuat Roy dan Aji marah mendengarnya.


Rooney sendiri, hanya diam. Bukan karena tidak merasakan apa pun. Melainkan karena dia merasa sangat marah dan kecewa hingga bingung untuk bereaksi.


Rooney sejatinya sudah tahu dengan jelas bagaimana mereka memandangnya, tapi mendengarnya langsung dari mereka, terasa lebih menyakitkan.


Puk


Seseorang menepuk pundak Rooney, dia adalah Aji. Aji menenangkan Rooney yang bergetar menahan marah.


Kemudian Aji berkata, "Rooney, mendengar ini, kamu punya pilihan, apa kamu mau pergi dan menutup mata atas masalah ini, membantu mereka dengan melupakan apa yang mereka lakukan. Atau... Kamu mau melaporkan mereka kepada para rentenir, anggap saja sebagai hukuman untuk mereka."


Mendengar ucapan Aji, mereka berempat langsung ketakutan dan memohon ampun pada Rooney.


"Ja-Jangan! Plis Ron jangan laporin gua."


"Ma-Maafin gua, gua janji pasti bakal gua balikin semua uang lu."


"Please jangan ngelapor, rentenir itu gangster, kalo kami gak bisa bayar bisa mampus nanti."


"Gua mohon Ron, jangan laporin gua..."


Mereka tampak menyedihkan ketika memohon ampun seperti ini, tidak ada rasa bangga dan harga diri mereka yang tersisa sekarang. Yang terpenting bagi mereka adalah untuk selamat.


Pilihan ada di tangan Rooney, dia bisa saja melaporkan mereka kepada para rentenir itu. Tidak akan ada yang menyalahkannya karena itu adalah kesalahan mereka sendiri, bahkan Aji dan Roy berniat untuk lepas tangan jika seandainya Rooney memilih melaporkan mereka kepada para rentenir.


Itu adalah tawaran balas dendam yang manis dan menggiurkan, terdengar sangat pas bagi mereka yang menipu dan memeras orang lain.


Namun...


Ini bukanlah hal yang diinginkan Rooney.


"Eummm... Aji."


"Ya?"


"Setelah kupikirkan, sepertinya melaporkan mereka akan menjadi balas dendam yang bagus."


Farizi dan yang lain seketika pucat pasi mendengarnya.


"Tapi... Aku tidak begitu menyukai ide itu."


"Kenapa? Itu adalah kesempatan balas dendam yang bagus."


"Memang sih, tapi, rasanya tidak manusiawi jika melakukan itu setelah mendengar tindakan yang dilakukan oleh para rentenir itu. Entah kenapa, aku yakin jika aku akan menyesal jika melakukan hal itu."


"Jadi, kamu mau lepas tangan saja?"


"Tidak, aku akan membantu mereka!" Rooney menjawab dengan sangat yakin.


"Kenapa?" Aji bertanya dengan penuh keheranan.


"Karena, aku mau berkembang. Rasanya tidak baik jika aku malah menjadi seorang pendendam seperti itu, aku mau menjadi orang yang bisa memaafkan orang lain. Apa aku salah?"


Ucapan yang dilontarkan oleh Rooney, membuat Aji tersenyum puas.


"Tidak kok, kamu tidak salah, itu hakmu untuk memilih ingin menjadi apa."


Roy ikut puas dengan hasil ini, dia tertawa lebar atas jawaban Rooney, "Ahahaha... Lu terlalu baik Ron sebenarnya, tapi yah... Walau pun tidak selamanya bagus, tapi setidaknya itu bagus untuk saat ini. Tuh denger kalian! Sudah dimaafin kayak gitu, sungkem sana!"


Farizi, Alen, Fadhil dan Anwar menjadi malu. Mereka tidak menyangka kalau Rooney akan memaafkan mereka bahkan sampai mau membantu mereka menyelesaikan masalahnya.


"Ma-Makasih yah Ron, sudah maafin kita."


"Iya, makasih banget, gua minta maaf karena sudah bikin lu malu di depan kelas."


Rooney sebenarnya belum sepenuhnya memaafkan mereka, tapi, dia mau mencoba untuk bisa memaafkan mereka.


"Ya, tapi, bukan berarti aku akan melupakan hutang kalian, akan kupastikan kalian mencicilnya setiap hari."


"I-Iya, pasti kami bayar kok."


Permasalahan antara Rooney dengan Farizi, Alen, Fadhil dan Anwar sudah selesai dengan damai. Sekarang, hanya tersisa masalah hutang mereka.


"Farizi, berapa hutang kalian?" Roy bertanya.


Farizi agak bingung ditanya tiba-tiba, "Eh? Kenapa memangnya?"


"Sudah jawab saja."


"Eumm... Gua kagak yakin sih, awalnya tidak terlalu besar, tapi karena ada bunganya, mungkin saat ini sudah hampir 3 juta."


"Hmm... Cukup besar juga yah. Sepertinya sedikit sulit."


"Memang, makanya kami kabur seperti ini."


Roy kemudian melirik Rooney, "Ron, lu bilang mau bantu kan? Mungkin sekarang lu harus sedikit berkorban lagi. Mau kagak?"


"Ya, aku tidak keberatan, ayo kesana."


Farizi, Alen, Fadhil dan Anwar sedikit kebingungan dengan situasi ini, mereka tidak paham apa niat Roy dan Rooney.


"Tunggu! Kalian mau ngapain? Jangan bilang kalian mau ngelawan mereka langsung."


"Haaahhh? Apaan coba? Ya kagaklah! Lu kira ini komik remaja yang nyelesain masalah pake berantem?"


"Terus mau ngapain?"


"Tenang saja, kita bakal selesain masalah kalian pake cara yang paling rasional dan masuk akal."


...****************...


-Di sebuah tempat peminjaman uang.


Tempat ini adalah sebuah tempat yang buruk, penuh dengan hawa negatif yang membuat tidak nyaman. Di tempat inilah para preman dan gangster mendapatkan uang dengan cara memeras orang lain.


"Oi, anak-anak yang kabur habis minjem uang itu sudah ketemu belum sih?" Salah seorang gangster bertanya pada rekannya.


"Kagak tahu, kayaknya belum, bos kurang serius sih nyarinya, soalnya hutang mereka kecil."


"Kata siapa oi? Bos kagak peduli hutang kecil atau kagak, bos itu pasti bakal nyari orang yang kabur meski cuman hutang seharga permen doang."


"Ahahaha, terdengar berlebihan. Sejujurnya gua kasihan sama anak-anak itu, masih kecil tapi sudah berani minjem uang kesini."


"Nasib mereka sudah hancur habis minjem uang kesini."


Brak


"...? Ada apa?"


Pintu yang dibuka dengan keras, membuat obrolan para gangster itu terhenti.


Dari pintu, masuk beberapa anak remaja yang datang bergerombol.


"Loh, bukannya itu anak SMA yang kemaren minjem uang kesini?"


"Oh iya, ngapain dia kesini bawa temen tambahan?"


"Woi anak kecil! Ngapain kesini rame-rame? Mau berantem yah kalian?"


Rombongan Rooney digertak oleh para gangster, tapi mereka tetap maju.


Para gangster itu merespon dengan ikut maju, "Wah beneran mau nyari ribut nih?"


"Sudah gak bisa bayar yah? Sampe bawa temen gini buat berantem."


Tidak ada respon dari kelompok Rooney, mereka hanya terus maju.


Para gangster itu mengambil senjata dan maju sambil memberikan ancaman, "Gua sebenernya kasihan sama anak kecil kayak kalian, tapi kalau sudah nantangin gini, jangan harap gua kasih belas kasih loh."


Roy maju ke depan, seolah dia adalah pemimpin.


"Lu pemimpinnya? Mau duel 1 vs 1?"


Roy hanya diam, membuat gangster itu bingung. Lalu, secara tiba-tiba, Roy langsung meraih sesuatu dari belakangnya.


Syuuutt


Senjata?


Gangster itu dengan cepat merespon gerakan tiba-tiba Roy dengan mengayunkan pipa besi yang dia bawa.


Pipa besi itu terayun ke kepala Roy, namun... Roy langsung menunduk, menghindari pipa itu dan menyodorkan tangannya, kemudian berkata dengan cepat, "Maaf pak karena telat! Ini uang untuk bayar hutang teman saya!"


Gangster itu seketika berhenti, dia menarik kembali senjatanya dan mengambil amplop uang yang diberikan Roy, kemudian mengecek isinya.


"Hmmm... Kurang dikit sih sebenarnya, tapi gak masalah, cuman kurang 2 ribu doang. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf gua karena hampir nyerang elu." Gangster itu mengambil uang kecil dari dompetnya dan memasukkannya kedalam amplop tersebut, baru kemudian menyerahkannya pada rekannya di belakang.


"De-Dengan ini, hutang teman saya sudah lunas kan pak?"


"Iya iya, sudah lunas, tapi kalian lain kali jangan ngedobrak pintu seperti tadi. Kalau gak ada gua, kepala kalian sudah ketebas dari tadi."


"Ka-Kalau begitu, ka-kami permisi pak."


Roy berbalik dan berjalan ke pintu keluar bersama yang lainnya.


Barulah gangster itu sadar, mereka berjalan berombongan bukan karena ingin mencari keributan, tapi itu karena mereka ketakutan ketika masuk. Terlihat dari cara jalan mereka yang terlihat kaku.


"Bocah-bocah yang lucu."


...****************...


Brrrrmmmm....


"Haaaahhhh.... Jantung gua hampir copot."


Dalam perjalanan pulang, Roy mengemudikan mobil dengan jantung yang masih berdebar kencang.


"Tapi keren juga lu Roy, bisa langsung nyerahin kayak gitu, untung belum kepentung duluan."


"Iya, gua takut banget tadi."


Ya, apa yang dilakukan Roy sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Farizi. Roy benar-benar menyelesaikan masalah hutang ini dengan cara yang paling damai.


Membayarnya.


"Omong-omong, makasih banget yah Roy, lu sudah bayarin hutang kita, padahal itu jutaan rupiah loh."


"Yah gak masalah, kalian juga harusnya berterimakasih ke Aji sama Rooney loh. Mereka bayarin sisa yang kurang tadi."


"I-Iya, makasih banget yah Rooney, Aji, kalau kalian kagak ada, gak tahu deh nasib kami."


"Makasih yah, maaf banget kalian sampai keluar uang banyak."


Aji menjawab dengan tenang, dia sama sekali tidak keberatan dengan hal ini, "Tidak masalah, sudah kewajibanku sebagai ketua kelas untuk membantu anak-anak yang ada di kelas."


"Iya sama-sama, tapi jangan lupa untuk mencicilnya lagi nanti."


"I-Iya, kami pasti bayar kok."


"Besok langsung gua cicil kok."


"Gu-Gua ada tabungan sedikit, nanti gua bakal bayar hutang gua."


"Gua gak bakal kabur kok."


Mereka berempat menjadi malu setelah diingatkan lagi tentang hutang mereka, wajah mereka menjadi merah padam seperti kepiting rebus setelah harga diri mereka tercoreng.


"Makanya, jangan ngutang mulu kalian."


"Ahahahaha...."


Seisi mobil menjadi tertawa, kecuali 4 orang dengan wajah seperti kepiting yang baru direbus.