I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Perwakilan Pidato



-Pagi, hari senin.


Rooney berada di kelas seperti biasa, dengan suasana seperti biasa, yang tidak biasa hanyalah kondisi perutnya.


Akhhhh... Sakit sekali.... Harusnya aku tidak makan tofu pedas itu.


Kemarin malam, ibunya membuatkan tofu pedas melalui resep yang dilihat di internet.


Rooney adalah penyuka pedas, sehingga dia dengan lahap memakan habis tofu pedas buatan ibunya. Dan sekarang dia menghadapi karma dari perbuatan rakusnya itu.


Brrrkkk... Brrrt...


Perutnya mengeluarkan bunyi seperti sesuatu yang lembek sedang dihancurkan. Rasa sakit dari perutnya membuat Rooney sulit berdiri, dan yang paling buruk adalah, Rooney harus menahan gas bau yang serasa mendobrak bagian belakangnya.


Jika aku gagal menahannya disini, aku akan mendapatkan julukan seperti "Si Bocah Bau Kentut" Selama SMA.


Demi kelangsungan kehidupan sosialnya, Rooney harus menahan itu semua. Karena, saat ini sedang ada pengumuman penting yang sedang disampaikan oleh seorang kakak kelas anggota OSIS di depan kelas.


"...Jadi begitu dek kira-kira lomba untuk acara ulang tahun sekolah yang akan diadakan nanti, tiap kelas wajib untuk mengirimkan perwakilan untuk setiap lomba yah. Bagi kelas yang tidak mengirimkan perwakilan untuk lomba, bakal ada sanksi bagi kalian nantinya..."


Ulang tahun sekolah.


Itu adalah acara untuk memperingati berdirinya sekolah SMA yang dimasuki oleh Rooney ini.


Dengan alasan untuk meningkatkan kreativitas dan solidaritas murid sekolah, maka diadakan banyak lomba pada acara ini.


Mulai dari lomba olahraga seperti lari estafet, sepak bola, basket dan yang lainnya, hingga lomba seperti menyanyi, membuat drama dan memasak diadakan selama 3 hari.


Sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengan acara ini, tapi rasanya akan tidak sopan jika aku menyela pengumuman hanya untuk ke toilet.


"...Oh iya, sama satu lagi, tiap kelas harus mengirimkan 1 orang sebagai perwakilan kelas yang akan membacakan pidato yah..."


Oh iya, ada yang harus dipilih untuk membacakan pidato di atas podium yah.


Pembaca pidato.


Itu adalah peran untuk membacakan pidato berisi janji-janji sportivitas dan semangat dari suatu kelas yang akan diwakilkan oleh salah satu murid kelas itu.


Peran itu tentu sulit bagi sebagian orang dengan kepercayaan diri dan mental setipis tisu, karena mereka harus berdiri dan berbicara lantang di hadapan ratusan orang. Suatu peran yang sangat tidak cocok bagi orang seperti Rooney.


Brreeebeekkk


Suara seperti kodok terdengar dari dalam perut Rooney, disaat itu, Rooney sadar jika dia sudah mencapai batasnya saat ini.


Ukhhh... Sudahlah, aku tidak peduli dengan siapa yang akan jadi perwakilan kelas, toh itu tidak cocok untuk orang sepertiku.


Rooney mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kakak kelas OSIS yang sedang berbicara di depan berhenti sejenak.


"Ya? Ada apa dek? Ada yang mau ditanyakan?"


"Maaf kak, saya mau ke toilet."


Hening, sekelas hening karena permintaan Rooney yang terlalu mendadak ini. Tapi tidak ada alasan untuk menolaknya.


"Eummm... Yaudah, silahkan dek."


"Terimakasih kak."


Rooney segera berdiri dengan kesakitan sambil memegang perutnya yang terus berbunyi. Dan dengan tergesa-gesa, Rooney segera berlari menuju toilet terdekat setelah keluar dari kelas.


...****************...


"Uakhhhhhh....."


Di toilet terdekat, Rooney berteriak kesakitan untuk mengeluarkan isi perutnya yang harus dibuang itu.


Rasa panas terasa menusuk perut hingga ke bagian bawahnya, dan suara menjijikkan mengikuti suara teriakan Rooney.


"Akhhhh... Aku tidak akan memakan tahu itu lagi!!!"


Dan begitulah, Rooney berkutat di toilet selama 20 menit lebih dengan berteriak menahan rasa sakit.


-20 menit kemudian.


"Aaahhh... Lega~ Akhirnya selesai juga."


Rooney sudah selesai, dia saat ini sedang mencuci tangan sebelum kembali lagi ke kelas.


Oh iya, aku jadi penasaran siapa yah kira-kira yang menjadi perwakilan kelas? Apa mungkin Aji, atau malah Roy? Harusnya sih mereka berdua.


Rooney menebak-nebak siapa perwakilan kelasnya nanti, menurutnya, Aji dan Roy sangat pantas untuk menjadi perwakilan. Aji adalah siswa teladan yang sudah biasa menjadi perwakilan kelas dalam berbagai acara, sementara Roy adalah siswa populer yang jago olahraga dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Tidak ada orang lain selain mereka yang terpikirkan oleh Rooney selain mereka berdua.


Drrrkkk..


Rooney membuka pintu kelas dan masuk ke dalam, tapi ada hal aneh yang terjadi, seisi kelas mendadak menatapnya, hal itu sebenarnya sering terjadi, tapi mereka hanya menatap sekilas dirinya kemudian mengalihkan pandangannya lagi.


Tapi kali ini, mereka menatap Rooney dengan pandangan iba dan kasihan seperti orang yang baru saja berbuat kesalahan, bahkan ada juga yang terlihat seperti menahan tawa.


Ada apa? Apa karena tadi aku izin ke toilet?


Tidak butuh waktu lama bagi Rooney untuk tahu apa alasannya.


Ketika Rooney melihat papan tulis di depan kelas, yang semula kosong menjadi berisi tulisan nama-nama perwakilan lomba untuk acara ulang tahun sekolah nanti.


Beberapa nama orang yang dikenal oleh Rooney terpampang di bawah nama lomba yang akan diadakan. Dan diantara nama-nama itu, ada namanya sendiri, namun bukan berada di bawah nama lomba, namun berada di bawah nama "Perwakilan Pidato"


"....? A.....Apa!?"


Rooney melirik teman sekelasnya dengan tatapan kebingungan seolah baru saja terdampar di tempat asing dengan kebudayaan yang aneh. Teman-teman sekelasnya sontak mengalihkan pandangan mereka.


Dunia serasa berputar bagi Rooney, dia tidak pernah menyangka dirinya akan dipilih sebagai perwakilan kelas untuk membawakan pidato. Karena selama ini dia tidak terkenal di kelas.


Kenyataan yang menakutkan ini, meruntuhkan kekuatan yang menopang kakinya, dan membuatnya jatuh.


Bruk


Rooney jatuh bersimpuh dengan menyedihkan. Disaat itu, ada seseorang yang menepuk pundaknya.


Puk Puk Puk


Rooney menengok dan melihat Aji dan Roy berlutut di sampingnya, dengan memberikan tatapan iba.


"Sabarlah Rooney, aku tahu kamu tidak mau menjadi perwakilan kelas. Awalnya aku mau mengajukan diri, tapi karena aku sudah menjadi panitia, aku tidak bisa menjadi perwakilan juga."


Mereka berdua menjelaskan apa saja yang terjadi selama Rooney pergi ke toilet.


Intinya, selain Aji, tidak ada yang mau menjadi perwakilan untuk membacakan pidato. Sehingga kelas mengadakan voting untuk memaksa agar ada yang mau. Dan entah siapa, ada yang mengajukan agar Rooney saja yang menjadi perwakilan.


Semuanya setuju, bukan karena mau, melainkan karena yang lain pasti akan menolak dengan keras. Sementara Rooney yang tidak ada di tempat, tidak bisa menolak dan terpaksa menerimanya. Itulah arti tatapan iba mereka pada Rooney.


"Tapi itu tidak adil! Aku tidak tahu apa-apa, kenapa aku dijadikan perwakilan!? Kalian tahu kan jika aku tidak bisa berbicara di depan umum?"


Rooney mengeluh kepada Aji dan Rooney mengenai hal ini. Tapi mereka tidak bisa membantu karena satu kelas sudah setuju dan daftarnya sudah diserahkan pada panitia dan tidak lagi bisa diubah.


"Maaf yah Rooney, satu kelas sudah setuju. Tapi tenang saja, aku akan membantumu untuk berlatih, aku punya pengalaman untuk berbicara di depan umum."


"Gua juga bakal bantu, gak tahu sih bisa bantu apa. Tapi gua bakalan tetep bantu apa pun yang gua bisa."


"Kalian..." Rooney merasa terharu pada 2 temannya yang bersedia membantunya ini.


Tapi...


"Oh iya, sekadar informasi, Roy itu yang mengangkat tangan paling tinggi saat kamu dicalonkan tadi."


"Apa!? Kenapa!?"


"Ma-Maaf Ron! Tapi gua juga kagak mau jadi perwakilan."


Rooney menarik kerah leher Roy dan menggoyang-goyangkan badannya sambil menuntut penjelasan. Dia merasa menyesal sudah terharu kepada Roy, karena ternyata Roy sama sekali tidak mencegah agar dirinya tidak dijadikan perwakilan.


Sial... Ternyata Roy pengkhianat.


...****************...


"Habis sudah... Aku akan mempermalukan diriku sendiri di depan semua orang."


Di kantin, Rooney dengan frustasi meletakkan kepalanya di atas meja. Pemikiran buruk terus berputar di kepalanya. Baginya, jika dia melakukan kesalahan meski hanya satu saja pada saat membacakan pidato, itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan sosialnya.


"Jangan sedih gitu lah Ron, semangat saja." Roy yang duduk di sebelah Rooney mencoba menyemangatinya. Tapi saat ini, Roy adalah orang yang sangat tidak tepat untuk melakukan itu.


"Ini kan gara-gara kau tahu! Kenapa kau malah memilihku!?" Rooney menarik kerah Roy, dan menggoyang-goyangkannya dengan marah.


Roy segera menahan tangan Rooney dan melepaskan genggaman Rooney pada kerahnya, "Hei ayolah, masa nyalahin gua doang sih? Walau gua kagak ikutan ngevote, yang lain dah setuju tahu."


"I-Iya sih... Ta-Tapi..." Rooney tertunduk lemas, tidak bisa membantah lagi.


Roy menggaruk pipinya ketika melihat keadaan Rooney, "Hmm... Tenang saja lah, kan gua sudah bilang bakal bantuin elu."


"Memangnya kau punya pengalaman bicara depan umum?"


"Tidak sih, tapi pokoknya bakal gua bantuin apa saja deh."


Ah... Hancur sudah, aku terlalu memujinya, Roy sama sekali tidak punya pengalaman untuk berbicara di depan umum.


Rooney merasa semuanya sudah hancur, dia serasa tidak punya lagi harapan.


Lalu kemudian, disaat Rooney tertunduk dengan pasrah dan frustasu, seseorang yang bisa membantunya datang.


"Oi! Maaf telat." Aji melambai dari belakang.


"Yo Aji, lama banget lu."


"Maaf, tadi rapatnya lumayan lama."


Setelah pengumuman yang diberikan oleh kakak kelas OSIS tadi, anak-anak yang menjadi panitia acara, dipanggil untuk rapat yang membicarakan acara ulang tahun sekolah. Katanya, mereka membahas mengenai susunan acara, anggaran dan pembagian divisi.


Mendengar Aji yang datang, Rooney segera memohon kepada Aji untuk membantunya.


"Aji... Kumohon... Tolong bantu aku." Ucap Rooney dengan nada memelas.


"Iya, aku kan sudah janji mau bantu. Kebetulan aku punya banyak pengalaman berbicara di depan umum. Sekarang kita bahas dulu cara agar kamu bisa lebih percaya diri."


"Ba-Baik."


Sebenarnya, Rooney masih berharap agar Aji bisa menggantikan dirinya. Tapi sepertinya itu adalah hal yang mustahil mengingat posisi Aji. Sehingga Rooney harus bisa puas dengan dibantu oleh Aji agar bisa berbicara di depan umum.


Aji pun duduk di kursi depan Rooney. Rooney mengikuti Aji dengan gugup seperti seorang murid yang dipanggil ke ruang BK.


"Pertama-tama, kita coba mencari tahu bagaimana agar bisa bicara dengan fokus di depan umum."


"Ya, itu adalah masalah utamaku."


"Coba aku tanya, apa yang membuatmu takut jika bicara di depan umum."


"Eummm..." Rooney berpikir keras dengan mengingat-ingat pengalamannya selama ini, "Mungkin aku terlalu sering membayangkan apa yang dipikirkan orang lain, itu membuatku takut karena aku terus membayangkan orang lain tertawa karena kesalahan yang kubuat."


"Begitu yah, itu cukup berat, tapi itu adalah kasus biasa. Yang perlu kita lakukan adalah dengan membangun kepercayaanmu dulu."


"Jadi apa yang harus kulakukan?"


"Untuk sementara, lupakan tentang pidatonya, masih ada 1 minggu lagi. Untuk saat ini coba berlatih bicara dan meningkatkan kepercayaan dirimu saja dulu. Agar nantinya kamu tidak gugup saat akan berbicara."


"Bagaimana caranya?"


"Coba latihan berbicara di depan cermin, anggap saja dirimu di pantulan cermin adalah penonton, dengan itu coba kamu latihan bicara seperti sedang membuat pengumuman. Atau cobalah memuji dirimu di hadapan cermin agar bisa lebih percaya diri.


"Baiklah, akan kucoba."


...****************...


-Di rumah Rooney.


Rooney menatap cermin yang terpasang di kamarnya, wajahnya terpantul jelas di depan cermin.


"Ekhemmm..." Rooney berdeham, "Kau itu sangat tampan, orang paling tampan di dunia, tiada duanya..."


Rooney memberikan pujian-pujian terhadap dirinya sendiri yang terpantul di cermin.


Tapi setelah beberapa saat...


"Hoek... Ini terasa sangat menggelikan."


Ya, memuji diri sendiri dengan cara seperti itu malah terasa narsis. Bukannya membangun rasa percaya diri, latihan justru sukses membuat Rooney merasa geli dan mual.


"Sial... Tidak berhasil."