
-Hari Minggu.
Pagi hari yang cerah, yang terasa sama dengan sebelumnya. Namun, ada hal yang berbeda bagi Rooney.
"Tatap mata penonton Rooney, jangan menunduk terus untuk melihat teks."
"Aku tidak bisa, mana bisa aku menatap mata ratusan orang. Aku bisa kena serangan jantung jika melakukannya."
Seperti janjinya, Aji datang ke rumah Rooney pada akhir pekan untuk membantu Rooney pidato. Aji memberikan banyak saran agar Rooney bisa membacakan pidato dengan lancar dan benar. Tapi sayangnya, semua saran Aji masih sulit untuk dilakukan oleh Rooney.
"Kan sudah kubilang, kalau mau bawa teks, jangan sampai kebanyakan nunduk buat baca teks. Jadi, nunduk bentar untuk baca teksnya dalam hati, habis itu angkat lagi kepalamu dan tatap mata penonton sambil membacakan teks yang sudah dibaca sebelumnya. Tidak usah panjang-panjang."
"A-Aku tidak bisa..."
"Coba saja dulu, masa kamu sudah bilang tidak bisa padahal belum dicoba?"
"Aku sudah coba, tapi masih tidak bisa."
"Haaahhh..."
Aji menunduk frustasi. Wajar saja, mereka berdua adalah orang yang sangat berbeda. Aji sulit untuk memahami apa kesulitan Rooney.
"Ini sulit, walau sudah tahu masalahnya, aku masih tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Bagaimana dengan saranku sebelumnya? Kamu sudah coba bicara di depan cermin?"
"Sudah, tapi aku malah merasa jijik? Entah kenapa rasanya seperti orang narsis."
"Haduhhh... Masalah ini sangat rumit ternyata."
Aji semakin frustasi, dia tidak tahu bagaimana cara menghilangkan sifat pemalu pada Rooney.
Ting Nong
Bel rumah berbunyi, ada tamu yang datang.
"Rooney, ada teman-teman kamu nih."
Siapa?
Drap Drap Drap
Terdengar bunyi dari beberapa orang yang naik ke atas. Tidak lama kemudian, seseorang langsung membuka pintu tanpa permisi.
"Yo! Halo Ron!"
"Roy? Kenapa kau datang tiba-tiba?"
"Kan gua sudah janji mau bantu. Makanya gua datang ke sini, dan bahkan bawa yang lainnya juga."
Roy datang dengan seenaknya, dan menunjukkan orang-orang yang ikut bersamanya.
Mereka adalah Farizi, Fadhil, Alen dan Anwar.
"Ha-Halo... Ron."
"I-Iya, halo."
Mereka menyapa Rooney dengan canggung. Semenjak kejadian dengan rentenir yang terjadi sebelumnya, hubungan mereka menjadi sangat canggung.
Sulit untuk menyapa satu sama lain seperti biasa. Untungnya, mereka tetap menepati janji untuk membayar kembali uang yang mereka pinjam.
"Kenapa kamu mengajak mereka kesini?" Tanya Aji dengan sedikit kesal.
"Wehhh... Santai dong ji, kalian kan lagi latihan buat pidato nanti. Dan menurut gua, cara yang paling efektif itu, dengan latihan langsung di depan banyak orang."
Apa!? Apa yang Roy katakan? Bicara saja belum lancar, kenapa dia ingin aku langsung praktek?
"Hmm... Masuk akal, memang sebaiknya langsung praktek saja, siapa tahu dengan ini kamu akan terbiasa, dan mungkin dengan itu kamu bisa lebih percaya diri untuk bicara di depan umum. Bagiku itu lebih efektif dalam mencoba menumbuhkan kepercayaan diri dari nol."
Apa!? Kenapa Aji setuju?
"Nah! Tumben kita sepemikirkan Ji, yaudah Ron, langsung kita mulai saja. Gua sudah repot-repot bawa mereka ke sini loh."
Roy dan Aji memaksa, Rooney tidak memiliki keberanian untuk menolak saat ini. Tanpa persetujuannya, Roy dan yang lain, langsung masuk ke dalam kamarnya, kemudian duduk di hadapannya seperti akan menonton layar tancap di lapangan.
Dalam sekejap, semua perhatian berfokus pada Rooney. Mereka semua menatapnya, menunggu untuk Rooney membacakan pidato.
Bagaimana ini!!!??? Teriak Rooney panik dalam hatinya.
"Ayo Ron! Langsung tes saja, jangan lama-lama."
Roy semakin menekan Rooney untuk segera membacakan pidatonya. Yang lain ikut menekan Rooney dengan pandangan menusuk mereka yang berharap agar Rooney segera membacakan pidato.
Ditekan dari segala arah, Rooney pun tidak punya pilihan lain. Dengan terpaksa dan berat hati, Rooney membacakan pidato yang sudah dibuat oleh anak kelasnya.
"Ka-Kami... Kh-khelas... IPS, eh, se-sepuluh IPS 1, menjung-jun tinggi..."
Kacau, itulah yang dipikirkan semua orang yang mendengarkan pidato Rooney.
Suaranya serak seperti orang sakit, sering sekali ada typo dan pengulangan, dan intonasi yang buruk.
"Ba-Bagaimana?" Rooney bertanya setelah selesai membacakan pidato.
"Eummm... Maaf Ron, tapi itu jelek banget."
"Aku tidak mau membuatmu sakit hati, tapi itu pidato yang sangat buruk sekali."
"Lu kayak orang sakit bacanya."
Semuanya kompak memberikan kritik pedas.
"Tuh kan! Aku memang tidak bisa. Huwaaa..."
Komentar pedas yang dilayangkan padanya, membuat Rooney jatuh menangis karena ditampar kenyataan tentang penampilannya yang buruk.
"Aku mau diganti saja, siapa pun tolong... Gantikan aku." Teriak Rooney frustasi sambil tertunduk lemas.
"Yah gak bisa Ron, semuanya sudah setuju elu yang harus jadi perwakilan. Daftarnya juga sudah diserahin. Jadi elu gak bisa nolak."
"Ukhhh..."
Rooney frustasi, dia tidak sanggup jika harus membacakan pidato di hadapan banyak orang. Di depan teman-temannya saja susah hancur, apalagi jika dia membacanya di hadapan ratusan pasang mata yang menatapnya nanti.
"Duh, jangan menyerah dong Ron. Eh kalian, ada yang punya ide gak?" Roy bertanya pada yang lain.
Hening, semuanya tidak ada ide tentang bagaimana membuat Rooney bisa membaca pidato dengan lancar. Terutama Aji, dia sudah kehabisan ide untuk membantu Rooney.
Tapi, beberapa detik kemudian, ada yang mengangkat tangannya.
"Bagaimana jika memberinya motivasi." Fadhil memberikan sarannya.
"Gimana tuh dil?"
"Jadi gini, kan kita harus bisa bikin si Rooney lancar berpidato, sementara waktunya sudah mepet dan dia susah belajarnya..."
"Terus?"
"Nah, gimana kalau kita bikin dia punya motivasi yang jelas saja. Soalnya gua pernah denger, kalau ngelakuin sesuatu pakai motivasi yang besar, bisa bikin orang belajar dengan lebih cepat."
Hening, ide itu tidak terdengar buruk bagi yang lainnya.
"Sepertinya tidak buruk sih. Hanya saja..."
"Motivasi apa yang harus kita berikan pada Rooney?"
Pertanyaan ini merujuk pada Rooney. Motivasi apa yang dia miliki untuk bisa menyemangati dirinya sendiri.
Sejujurnya, Rooney tidak punya motivasi apa pun untuk menjadi perwakilan pidato ini. Baginya, ini adalah sesuatu yang tidak cocok bagi dirinya. Yang dia inginkan adalah menjadi anak remaja normal yang bisa bersosialisasi dengan biasa.
Tapi, Aji yang sudah paham tentang apa yang diinginkan oleh Rooney, menemukan hal yang bisa dijadikan motivasi oleh Rooney.
Aji berdiri dan mendekati Rooney, "Rooney, kemarikan kupingmu sebentar."
Rooney tidak tahu apa yang direncanakan oleh Aji, tapi, dia tetap menurut karena tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan.
"Kalau kamu bisa sukses membacakan pidato ini, kamu akan lebih dikenal oleh siswa lain, dan akan semakin mudah untuk mendapatkan teman."
Deg
Jantung Rooney langsung berdegup kencang, ucapan Aji yang menyebut kata "Teman" seolah menekan tombol di kepala Rooney.
"Aku akan mencobanya lagi!" Rooney langsung membara. Dia terlihat lebih percaya diri kali ini.
Aji tersenyum puas melihatnya, dia sadar jika Rooney sangat ingin memiliki banyak teman. Jika dia memberitahu Rooney kalau dirinya akan mudah mendapat teman jika berhasil kali ini, maka dirinya akan lebih terpacu karena memiliki tujuan.
Rooney berdiri kembali di hadapan semuanya, dia merasa bisa fokus pada teks yang sudah diberikan padanya.
Setelah membacanya sebentar, Rooney mendongakkan kepalanya ke hadapan teman-temannya yang berperan sebagai penonton. Kali ini dia tidak merasa setakut sebelumnya.
Rooney terus berpikir tentang perkataan Aji, dia menanamkannya kuat-kuat ke dalam pikirannya.
Bisa dapat teman! Bisa dapat teman! Bisa dapat teman! Bisa dapat teman!
"Ekheum... Kami, siswa-siswi kelas sepuluh IPS 1, berjanji! Ba-Bahwasanya, akan mendukung, nilai sportifitas! Serta..."
Lebih bagus.
Hasilnya tidak sempurna, intonasinya masih rendah, dan masih ada typo. Tapi, hasil ini lebih bagus dari sebelumnya. Tidak ada suara seperti orang sakit lagi.
"Bagaimana? Apakah... Lebih bagus?" Rooney bertanya dengan ragu-ragu.
Semuanya kompak mengacungkan jempol dan berkata, "Lumayan, lebih bagus dari sebelumnya."
Rooney bernapas lega mendengarnya, "Haaaahhhh... Kukira akan jelek lagi."
"Baguslah Rooney, dengan ini, kamu tinggal berlatih beberapa hal dasar lagi saja."
"Ya, terimakasih Aji. Oh iya, terimakasih juga untuk kalian, karena mau datang untuk jadi penonton. Yah, aku tidak memintanya sih. Tapi, terimakasih Fadhil, berkat saranmu aku bisa lebih fokus karena punya tujuan."
"Yah... Itu bukan hal besar sih." Jawab Fadhil dengan sedikit malu.
"Oh iya, aku akan bawakan cemilan untuk kita. Sebentar yah."
Rooney turun ke bawah, dia membuka tempat cemilan dan minuman untuk di bawa ke kamarnya.
Setelah itu, mereka latihan berulang-ulang. Beberapa kali, dia diberikan saran untuk memperbaiki cara berpidatonya.
Mulai dari cara berdiri, ekspresi, intonasi, dan yang lainnya, mulai diperbaiki setelah Rooney bisa lebih percaya diri sekarang. Saran Fadhil sangat efektif.
...****************...
-Hari perlombaan.
Akhirnya, hari perlombaan untuk memperingati ulang tahun sekolah, sudah tiba.
Sekarang adalah waktu upacara pembukaan lomba, dimulai dengan pidato dari kepala sekolah, dan diakhiri dengan pembacaan pidato berisi janji-janji sportifitas yang akan dibacakan oleh perwakilan tiap kelas.
Rooney yang sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, tentu saja, masih merasa gugup.
"Ukhhh... Roy, tolong aku, perutku sakit sekali." Rooney meringis kesakitan kepada Roy sambil memegang perutnya.
"Lu makan apa sih? Sudah tahu bakal pidato hari ini, ngapa gak dijaga makannya?"
"Aku tidak makan yang aneh-aneh, hanya saja, karena terlalu gugup, aku jadi tidak makan, dan sekarang perutku sakit sekali."
"Ya ampun dah, kan kemarin-kemarin sudah latihan. Masa lu masih gugup."
"Tentu saja aku gugup! Tidak mungkin aku tidak gugup hanya dengan latihan seperti itu. Pidato di depan kalian, sangat berbeda dengan pidato di hadapan semua murid."
Karena terlalu gugup, Rooney tidak sempat makan sejak malam, dia terlalu fokus untuk menghafal pidatonya agar tidak melakukan kesalahan. Tadi pagi pun sama saja, dia melewatkan sarapannya meski ibunya sudah memanggilnya. Dan saat ini, Rooney menghadapi akibat dari tidak makan sejak malam tadi.
"Aduh, minta obat sama PMR dulu saja, siapa tahu mereka punya obatnya."
"Eummm... Tolong mintain dong."
"Lah, kenapa gak lu sendiri saja?"
"Aku... Malu."
"Yaelah, malu mulu lu. Yaudah gua cari dulu PMRnya, lu susah gerak lagian juga."
"Ok, aku tunggu disini."
Roy beranjak pergi untuk mencari PMR, meninggalkan Rooney di barisan belakang sendirian.
Namun, belum sempat Roy menemukan petugas PMR, acara sudah sampai di pembacaan pidato oleh murid.
Dan sialnya, kelas Rooney berada di urutan pertama.
"Untuk perwakilan kelas sepuluh IPS 1, silahkan maju."
"Ah, tidak, ini buruk." Rooney langsung gemetaran, mendengar kelasnya dipanggil.
Tapi, tidak ada kompromi, teman sekelasnya yang lain, tidak berniat untuk membiarkan Rooney, mereka langsung menatap Rooney dengan pandangan yang menusuk, seolah-olah berkata, "Cepat Maju!"
Dengan langkah yang berat, Rooney maju ke depan. Berdiri di hadapan semua murid sekolah dengan tatapan yang berbeda. Ada yang menatapnya dengan intens, ada pula yang menatapnya dengan malas dan terlihat ingin semuanya cepat selesai.
Glup
Rooney semakin tegang, suasana ini jauh berbeda di banding latihannya selama ini. Rasanya jauh lebih berat, membuat kakinya menjadi gemetaran karena ketakutan.
Petugas memberinya microphone, memintanya untuk segera membacakan pidatonya karena keterbatasan waktu.
Rooney meraih microphone itu dan mengentuknya pelan.
Ngiiinggg...
Suara bising keluar dari microphone dan membuat telinganya sakit. Tindakannya itu, sukses membuat siswa yang awalnya terlihat bosan, menjadi melihat Rooney.
Rooney semakin berkeringat dingin, tapi dia tidak bisa mundur lagi setelah mencapai titik ini.
Rooney membuka kertas pidatonya, dan membaca tulisan yang ada.
"Kha...KAMI!"
Hening, semuanya terdiam karena suara melengking yang Rooney keluarkan. Suaranya seperti anak perempuan yang baru puber, terdengar lucu dan konyol, yang membuat semuanya tertawa.
"Hihihi..."
"Ahahahaha... Kayak cewek nj*r."
"Kalau gua, pasti malu tuh."
Ya, Rooney gagal total dalam langkah pertamanya. Wajah Rooney merona merah, dan dia melongo tidak percaya atas suara yang baru saja dia keluarkan tadi.
Kepercayaan dirinya, lenyap seperti api lilin yang ditaruh di tengah badai.
"Ka-Kami... Si-Siswi IPS 1..." Rooney melanjutkan pidatonya dengan terpaksa.
Suaranya terdengar seperti orang pesakitan dengan banyak kalimat yang salah dan terpotong.
Latihannya selama ini, gagal total!
Rooney kembali ke barisannya setelah selesai, dia berjalan dengan diiringi oleh suara tawa yang menertawakan adegan lucu yang terjadi tadi.
"Anak kelas mana tuh? Awkwkwkw..."
"Kasihan, malu tuh pasti."
"Namanya siapa tuh?"
"Kalau gua, malu tuh pasti."
Ukhhh... Aku benar-benar dikenal oleh semuanya, tapi jika seperti ini, apa ada nilainya?