I Want To Change Myself

I Want To Change Myself
Berperan Dalam Drama



-Di lapangan tempat pertandingan sepak bola


Setelah jeda untuk istirahat bagi para peserta, akhirnya pertandingan dilanjutkan. Sekarang adalah pertandingan kelas X IPS 1 dan XII IPS 1.


Rooney senang menonton pertandingan ini. Walau dia kurang terbiasa dengan sorakan ricuh dari para penonton. Dia tetap bisa menikmati pertandingan secara normal.


Dalam pertandingan ini, sayangnya Roy masih belum mencetak gol atau pun assist sama sekali. Rooney berharap akan ada keajaiban di menit-menit terakhir sama seperti pertandingan sebelumnya.


"Ayo Roy, kau pasti bisa." Ucap Rooney dengan berbisik, berharap Roy bisa mencetak gol.


Posisi kelas mereka sebenarnya sudah unggul dengan skor 1-0. Tapi, Rooney berharap temannya bisa mencetak gol, karena Roy yang terlihat sangat senang ketika berhasil mencetak gol.


1 menit tersisa untuk pertandingan ini, bola sedang dikuasai oleh Alen. Dia menggiring bola maju dengan lincahnya. Kemudian, dalam sekejap, dia langsung mengoper bola ke arah Roy.


Namun sayangnya, Roy tidak berhasil menerima bola tersebut, karena direbut oleh pemain bertahan lawan. Segera setelah merebut bola, lawan melancarkan serangan balik.


Beruntung, Farizi bisa segera merebut kembali bolanya dan segera membuang bola itu keluar lapangan.


Prriiittt...


Pertandingan pun selesai, Roy gagal mencetak satu gol pun. Terlihat jelas wajah kecewa Roy meski timnya menang.


Roy pun mendatangi Rooney dengan cemberut, mereka berdua tos dengan kedua tangan ketika bertemu.


"Kerja bagus, kau bermain dengan sangat hebat." Ucap Rooney untuk menghibur Roy yang terlihat tidak senang.


"Ya, tapi sayangnya, gua gagal mencetak gol. Sayang banget dah, 3 kali bola kerebut di kotak penalty."


"Hahaha... Tidak apa-apa, begitulah yang namanya pertandingan. Aku pun tadi merasakannya."


Walau masih terlihat kurang senang karena merasa kurang berkontribusi, Roy akhirnya harus puas dengan kemenangan timnya ini.


Rooney pun mengajak Roy untuk duduk dan minum dulu, "Ayo duduk dulu, kau terlihat sangat kelelahan."


"Ok deh, mumpung masih istirahat."


Rooney membeli air untuk mereka berdua dari siswa yang sedang berjualan keliling. Mereka berdua kemudian duduk di pinggir lapangan.


"Ini, kau pasti haus kan?" Ucap Rooney sembari memberikan sebotol air dingin kepada Roy yang sedang mengibaskan bajunya yang berkeringat.


"Yo, makasih." Roy menerimanya, kemudian langsung membuka tutupnya dan meminum air itu hingga habis setengahnya.


Mereka mengobrol ringan sambil menunggu waktu pertandingan berikutnya, atau sampai seseorang datang dengan terburu-buru.


"Hufftt... Huffttt... Ternyata kamu disini Rooney."


"Aji? Ada apa? Kenapa kau terlihat lelah begitu? Dan kenapa bisa kalian berdua datang menemuiku dengan kondisi yang sama sih?"


Aji datang tiba-tiba dengan berkeringat, Rooney tentu saja terkejut melihatnya datang. Karena Aji adalah panitia acara ini, bahkan dia masih mengenakan tanda pengenal sebagai panitia acara. Karena itu harusnya dia sibuk mengatur acara, dan tidak punya waktu menemui Rooney.


Tapi, sepertinya ada hal darurat yang sampai membuat Aji turun tangan langsung meski sedang sibuk.


Rasanya seperti deja vu, memberikan perasaan buruk bahwa ada hal yang menyebalkan yang akan datang.


"Kamu lupa yah Rooney? Kan kamu juga ikutan pentas drama."


"Apa!? Drama? Aku tidak tahu itu." Rooney berteriak kaget.


Roy yang mendengarnya tampak teringat dengan sesuatu, "Oh iya, kan gua tadi ngasih tahu elu, kalau elu dimasukin 2 lomba. Yang pertama pukul kendi, dan yang kedua pentas drama."


"Hah? Kenapa kau tidak memberitahuku lebih lengkap?"


"Duh lupa, maaf yah, tadi gua fokus buat lomba gua sendiri." Roy mengalihkan tanggung jawabnya dengan mudah seperti membalikkan telapak tangannya.


Rooney tidak mau ikut drama ini, citranya sudah cukup buruk karena pidato pembukaan tadi pagi. Dan dia tidak mau menambahkannya dengan merusak drama kelasnya.


"Ini aneh Aji, kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau aku ikutan drama? Bahkan aku tidak tahu kalau aku ikutan. Bagaimana bisa aku ikutan drama tanpa tahu apa peranku dan cerita drama itu?"


Aji membalasnya dengan santai, "Ooohhh... Kata mereka sih, peranmu tidak susah dan hampir tidak ada dialog. Makanya mereka tidak mengajakmu latihan sebelumnya."


"Alasan apa itu? Bagaimana bisa mereka mengabaikanku hanya karena peranku tidak begitu penting? Aku tidak mau ikut drama itu."


Seketika, wajah datar Aji, terasa seperti marah, Rooney tahu apa sebabnya, "Rooney, aku sudah pernah bilang kan? Jangan pernah lari dari tanggung jawabmu! Kamu sudah dipilih untuk ikut lomba ini, dan kamu tidak boleh kabur dari tanggung jawabmu. Mau kamu sudah latihan atau tidak!"


Aji tidak bisa diajak kompromi, dia adalah orang yang keras jika sudah berurusan dengan yang namanya tanggung jawab.


Rooney yang tahu akan fakta itu, berkeringat dingin karena tahu tidak akan bisa menolak lagi jika Aji sudah memaksanya.


Aji pun langsung menarik tangan Rooney untuk membawanya pergi, "Ayo Rooney, waktuku hanya sebentar, setelah ini aku harus kembali mengecek lomba yang lain."


"Tidak! Tunggu dulu Aji! Aku tidak mau ikut drama ini! Roy! Tolong aku Roy!"


Rooney meminta tolong pada Roy, dengan harapan Roy akan menolongnya. Namun, Roy hanya mengacungkan jempolnya pada Rooney sambil berkata, "Semangat."


"....? Roy!"


Akhirnya, Rooney pun diseret paksa oleh Aji ke tempat lomba.


...****************...


-Di Aula sekolah.


Rooney saat ini berada di belakang panggung yang dibuat di dalam aula sekolah. Rooney merasa gugup saat ini, dia dengan dipaksa harus mengikuti drama yang baru saja akan dia pelajari.


Dengan sedikit takut dan gugup, Rooney membuka naskah drama yang baru saja diberikan padanya tadi. Dia diminta untuk mempelajarinya 30 menit sebelum drama dimulai.


Dalam naskahnya, drama ini, mirip dengan drama musikal klasik, bercerita tentang seorangan pangeran yang sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan putri.


Rooney akan berperan dalam drama ini, dan perannya adalah...


"...Pohon?"


Ya, Rooney berperan sebagai pohon yang akan mengiringi perjalanan si pangeran. Tidak ada dialog sama sekali untuknya. Perannya hanya sebatas mengayunkan kipas yang menurut Rooney berbentuk seperti brokoli, walau dimaksudkan untuk berbentuk menjadi dahan pohon dengan daun yang lebat.


Rooney hanya bertugas sebagai efek tambahan ketika adegan pertarungan antara sang pangeran dengan penyihir jahat.


"Pantas saja mereka tidak mengajakku latihan, aku hanya perlu bergerak sedikit saja dalam drama ini."


Perasaan Rooney menjadi rumit. Di satu sisi, dia merasa lega karena tidak mendapat peran rumit. Tapi disisi lain, dia merasa kecewa karena dianggap tidak penting.


"Yasudahlah, lebih baik aku hafalkan saja peranku agar tidak salah nanti."


-30 Menit kemudian.


Setelah penampilan dari beberapa kelas, akhirnya kelas Rooney mendapat giliran.


"Ayo ayo! Langsung siapin propertinya sekarang. Jangan sampai salah atau rusak yah."


Salah satu teman sekelas Rooney yang berperan sebagai sutradara dalam film ini, segera memberi perintah untuk menyiapkan properti yang akan dipakai. Semuanya, termasuk Rooney, langsung bergerak dengan patuh.


Dengan sedikit berisik, mereka menyusun properti yang diperlukan di balik tirai. Setelah selesai, tirai pun dibuka, seketika itu, para murid langsung berfokus ke atas panggung.


Adegan dimulai dengan adegan romansa antar pangeran dan putri. Rooney berdiri di atas panggung sebagai bagian dari adegan itu. Tentu saja bukan sebagai pangeran, tapi sebagai pohon untuk latar belakang adegan yang ada di hutan.


Bersama dengan dua teman sekelasnya, Rooney mengenakan kostum pohon yang terbuat dari kardus bekas. Mereka tidak berbicara apa pun, hanya bergerak dan mengibaskan kipas brokoli untuk memberi efek dramatis.


"Oooohhhh... Pangeranku. Apakah, kita harus terus bertemu seperti ini?"


"Maafkanlah aku, wahai kekasihku. Maafkan aku yang harus memintamu datang ke hutan saat malam hari seperti ini."


Pemeran pangeran dan putri, saling berbicara dengan ucapan yang sentimental. Tapi, bagi Rooney, adegan ini sangat menggelikan.


Euuuu... Siapa sih yang menulis naskah ini? Aku tak tahan dengan cara mereka berbicara yang terasa terlalu dibuat-buat.


Adegan demi adegan pun mulai dilalui, mulai dari adegan romansa antar pangeran dan putri, kemudian dilanjutkan dengan adegan konflik, berupa penyerangan penyihir ke kerajaan sang putri.


Pada adegan penyerangan penyihir, Rooney harus menjadi batang pohon yang berguling-guling akibat efek sihir penghancur si penyihir yang merusak kerajaan.


Ini konyol. Batin Rooney.


Sebagian murid mulai tertarik, tapi kebanyakan tertawa karena adegan ini juga terlihat konyol di mata mereka. Karena ada 3 orang yang memakai kostum pohon dari kardus, yang berguling-guling seperti cacing kepanasan hanya karena seorang laki-laki yang memakai baju kebesaran berwarna hitam, komat-kamit tidak jelas seperti sedang kumur-kumur.


Adegan kembali berpindah, sekarang adalah adegan dimana sang pangeran meminta izin raja untuk menyelamatkan sang putri. Di adegan ini, Rooney sama sekali tidak tampil, jadi dia diminta untuk membawakan properti yang dibutuhkan.


"Wajai raja! Aku tahu jika kerajaan kita saling bermusuhan. Namun, aku meminta izinmu untuk menyelamatkan sang putri."


"Hmmmph! Apa yang membuatmu mengira aku akan mempercayaimu, wahai pangeran dari kerajaan diamond!?"


"Percayalah! Saya tidak akan menculik atau pun menyakiti sang putri. Karena, saya sangat mencintai sang putri!"


Adegan berlangsung dramatis dengan ditambah musik yang membuat suasana bertambah tegang. Walau isi percakapan mereka terasa sangat kaku, padahal keduanya sangat menjiwai peran mereka.


Adegan percakapan selesai dengan cepat, kemudian dilanjutkan dengan adegan petualangan yang terasa dipercepat karena keterbatasan waktu.


Kemudian, cerita mencapai klimaksnya. Adegan pertarungan antara penyihir dengan sang pangeran.


Adegan dibuka dengan percakapan intens dari antara sang penyihir dan pangeran.


"Wahai penyihir, apa gerangan yang membuatmu menculik sang putri? Apa kesalahan sang putri, hingga engkau tega menculik putri tak berdosa itu?"


"Ihihihihi... Pangeran... Kau tidak akan pernah paham, dirimu yang memiliki segalanya, tidak akan pernah paham perasaan orang yang tidak memiliki apa pun."


Tidak berubah, Rooney tetap berperan sebagai pohon. Untuk saat ini, dia perlu untuk menunggu adegan klimaksnya datang, baru lah beraksi.


Adegan percakapan pangeran dan penyihir akan berlangsung cukup lama, sebelum masuk adegan klimaksnya. Rooney pun menjadi bosan karena harus menunggu cukup lama.


Haahhhh... Berapa lama adegan ini berlangsung? Kakiku mulai sakit.


Rooney hanya perlu menunggu diam. Namun, hanya diam justru membuatnya semakin sulit.


Deg


Perasaan buruk menghampiri Rooney tiba-tiba, dan sesuatu terjadi pada kakinya.


Ka-Kakiku? Kesemutan!


Kaki Rooney tiba-tiba kesemutan sehingga mulai kehilangan keseimbangan. Rooney tahu dia harus berdiri tegak, tapi, kaki yang mulai kehilangan tenaga, ditambah kostum pohon yang cukup berat. Membuatnya, tidak bisa bertahan lagi.


Ti-Tidak!


Rooney perlahan-lahan mulai jatuh ke arah Thomas yang berperan sebagai pangeran.


"Hmm?" Thomas melirik ke arah Rooney yang hampir jatuh ke arahnya.


Dengan cekatan, Thomas langsung melompat ke belakang sebelum pohon Rooney jatuh menimpanya.


Bruk


Rooney jatuh di hadapan semua murid yang menonton drama ini. Sebagian mulai berbisik jika ini adalah kecelakaan. Anak-anak kelas Rooney pun kebingungan untuk mengatasi masalah ini.


Ti-Tidakkk... Aku lagi-lagi menghancurkannya.


Thomas memutar otaknya, mencari jalan keluar dari masalah ini. Kemudian dia memikirkan suatu ide.


"Ekhem! Wahai penyihir! Licik sekali dirimu! Kau sengaja mengalihkan perhatianku, dan berniat membunuhku dengan menjatuhkan pohon besar ini."


Anak-anak kelas Rooney termasuk Rooney sendiri terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Thomas.


Itu kan... Di luar naskah. Dia mencoba improvisasi. Batin semuanya.


Zidan, anak yang berperan sebagai penyihir, segera sadar dengan upaya yang ingin dilakukan oleh Thomas.


"Khikhikhikkhik.... Sayang sekali yah pangeran. Padahal aku berencana membunuhmu dengan satu serangan itu. Padahal, jika kau mati karena serangan tadi. Kau tidak akan merasakan sakit lagi."


"Hmmmph! Kau memang sudah tidak bisa ditolong lagi! Aku akan memusnahkanmu wahai penyihir jahat!"


"Kemarilah! Aku akan memusnahkanmu lebih dulu!"


Mereka berdua berimprovisasi untuk mengatasi masalah Rooney yang terjatuh. Dan dengan alami, berhasil masuk ke skenario lagi.


Me-Mereka berdua, sangat hebat.


Setelahnya, drama berjalan dengan lancar tanpa hambatan lagi hingga akhir. Dan murid-murid bertepuk tangan ketika tirai ditutup.


Prok Prok Prok Prok Prok


"Wah, keren yah."


"Iya, apalagi adegan pas pohonnya jatuh. Aku tidak menyangka adegan itu akan muncul."


"Adegan saat pohon itu jatuh terlihat sangat alami seperti asli."


"Oh iya, muka yang jadi pohon tadi kok kayak kenal yah?"


Entah bagaimana, para penonton malah jadi mengagumi adegan saat Rooney terjatuh. Banyak yang memujinya sangat alami dan tidak terlihat seperti akting. Padahal Rooney memang beneran terjatuh.


Akhhhh... Lagi-lagi jadi seperti ini. Memalukan sekali. Aku malah jadi bahan omongan karena tingkah konyolku lagi.


Rooney yang mendengar pembicaraan para murid dari balik tirai, menjadi malu karena dibicarakan oleh banyak orang. Ini menjadi kali kedua dirinya dibicarakan banyak orang dalam hari ini.


Eh tapi, bukan waktunya fokus pada itu.


Rooney teringat hal yang lebih penting daripada memikirkan dirinya yang menjadi bahan omongan banyak orang.


Rooney segera pergi ke tempat anak-anak kelasnya berkumpul di belakang panggung.


"Hmm? Ada apa?" Thomas yang melihatnya datang dengan terlihat gelisah, menjadi yang pertama bertanya.


"Eummm... Begini..." Rooney sulit untuk berbicara. Dia merasa malu untuk mengucapkannya.


"Ada apa memangnya?"


"Po-Pokoknya, aku minta maaf!" Rooney tiba-tiba langsung menunduk minta maaf.


Thomas dan teman sekelasnya yang lain, kaget dengan Rooney yang minta maaf dengan tiba-tiba.


"Lah? Kenapa? Kok tiba-tiba minta maaf?"


"Ka-Karena, saat drama tadi, aku malah jatuh. Aku merusak dramanya." Ucap Rooney dengan terlihat sangat menyesal.


Namun, Thomas tidak terlihat marah. Bukan hanya Thomas, semua teman sekelasnya terlihat santai saja.


"Oalah. Kirain ada apaan. Santai saja Rooney. Iya kan teman-teman?"


"Iya, tenang saja. Lagipula, berkat elu yang jatuh, Thomas sama Zidan jadi bisa improvisasi lebih bagus."


"Benar, lagipula ini salah kami yang tidak mengajak kamu latihan."


Rooney tidak mengira ini, tidak disangka, ternyata tidak ada yang menyalahkannya sama sekali.


"Teman-teman..." Ucap Rooney dengan terharu.


Kemudian, Dafina, yang berperan sebagai ketua dalam drama ini, mengeluarkan ponselnya, "Oh iya, kalau begitu. Kamu mau kan kalau drama ini aku masukkin ke dalam yo**ube?" Ucapnya sambil menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan video drama tadi, terutama saat adegan Rooney terjatuh.


"Ti-Tidak! Jangan diupload!" Teriak Rooney dengan panik dan ketakutan.