
nina berjalan menghampiri papanya yang menunggu di luar. kemudian mereka memasuki mobil menuju restoran untuk makan siang. mobil mereka berhenti di sebuah restoran mewah.
" ayuk sayang kita sarapan dulu " ajak papanya
" emm " jawab nina.
mereka masuk dan menuju meja kosong di pojok kanan. mereka memesan makanan, sambil menunggu makanan datang mereka sibuk melihat layar ponsel masing- masing.
" cinta tak bisa di tebak, iya datang sendiri dan akan hancur sendiri, harusnya aku tidak terjebak dalam perasaan seperti ini " batin nina yang melihat isi pesan lama dia dan uncle david di chattingan.
" nina, makanannya di makan dong ntar keburu dingin loh " ujar papanya yang melihat nina belum menyentuh makanannya.
" eh, eh iya pa " jawab nina kikuk.
setelah selesai makan mereka pun kembali menuju kantor papanya. selang beberapa jam mereka tiba di ruangan papanya.
" pa nina keluar bentar ya " ujar nina.
" mau kemana ?" tanya papanya yang sudah duduk di bangku kebesarannya.
" udah ngak usah rempong papa, nina bentar aja kok " jawab nina yang mengedipkan matanya dan mengacungkan jari jempolnya.
" emm " balas papanya sambil menaikan bahunya
nina keluar menuju meja tito, yang berada di luar ruangan papanya.
" hallo om, semangat ya cari info nya " sapa nina.
" om sudah tau identitasnya cuma belum detail kok " ujar tito.
" apa ?" tanya nina.
'huh' tito menarik nafas kasarnya dan menghempaskannya
" nadia adalah seorang janda, dan dia mempunyai seorang anak perempuan, anak perempuannya sedang menempuh pendidikan tinggi sekarang ini" jawab tito.
nina langsung deg deg an mendengar info tentang nadia yang ternyata seorang janda.
" apakah ini alasannya mendekati papa " gumam nina.
" nama anaknya siapa om ?" tanya nina
" om juga belum tau " jawab tito.
sementara di perusahaan twins group.
" aku tadi melihat anak perempuan itu hampir menyentuh foto ku, apa dia menyukai mu ? siapa dia ? " tanya anita.
" dia bukanlah siapa siapa, mana mungkin juga dia menyukai aku yang sudah matang sedangkan dia masih labil" ujar david.
" kapan kamu akan balik ke belanda sayang? " tanya david.
" minggu depan " jawabnya.
jam sudah menunjukan pukul 18.30 wib.
di sebuah perkarangan rumah terdengar suara langkah ' tap,,,tap,,tap,,'
" mama",,, panggilnya.
" kamu apa kabar nak? sehat kamu di belanda?" tanya mamanya.
" iya dong ma. emm kita cerita cerita di kamar mama yok " ajak anaknya dengan khas suara manja.
mereka memasuki ruang kamar mamanya, yang terlihat sangat mewah, bak kamar seorang putri. jauh di bandingkan sebelumnya mereka hanya tinggal di kontrakan yang sederhana, semenjak mamanya bekerja menjadi asisten pribadi pak wahyu papanya nina kehidupan mereka berubah, dari rumahnya yang mewah hingga bisa mengkuliahkan anita di belanda tanpa harus meminjam uang ke sana kemari.
" ma, gimana?? apa pak wahyu akan jadi papa anita ? tanya anita yang tak sabar mendengar cerita mamanya.
" belum saatnya sayang, perlahan waktu akan berjalan, tidak ada pendekatan tanpa menghasilkan buah " ujar mamanya.
nadia memang sangat tertarik pada papa nina selain kaya, beliau juga baik hati dan bijaksana sebagai seorang pemimpin, menurut nadia tak ada salahnya mendekati pak wahyu toh dia juga janda.
dirumah keluarga nina.
mereka sedang menikmati makan malamnya tanpa membuka suara. setelah selesai makan nina dan mamanya membantu bi imah membersihkan piring dan membersihkan dapur.
" ma apa mama ngak pengin gitu sekali kali ikut kerja sama papa?" tanya nina yang memulai pembicaraan.
" ya menemani aja sih, em ma kalau misalkn orang yang mama cintai dekat sama wanita lain respon mama kayak mana sih?" tanya nina yang mencuci tangannya.
" hemmm,,,mama sih positif thingking selagi mama percaya dia tidak akan menduakan mama, mama ngak marah kok " ujarnya pada anaknya.
nina hanya manggut manggut mendengar jawaban mama nya yang kelihatan baik dan penyabar. mereka berjalan menghampiri papanya di ruang tengah sambil baca koran.
" nina ini ada undangan perpisahan kelas kalian, tadi barusan ada yang antarin, katanya dari teman sekelas mu" ucap papa.
nina yang mendengar perpisahan angkatan mereka, dia sudah membayangkan pasti akan bertemu sama susi, nando, dan mega membuat dia engan untuk pergi.
" malas ahh nina ngak mau p.........." pembicaraan nina terputus karena terpotong papanya.
" kamu harus ikut. karena minggu depan kamu tidak lagi berada di indonesia,mengerti" ujar papa.
" hem ok" jawab nina cemberut.
hari perpisahan telah tiba acara akan di mulai jam 17.00 wib di hotel bintang lima, dresscode yang di wajibkan kaum perempuan memakai dress dan kaum lelaki memakai baju kemeja dengan bawahan celana jeans. nina tengah bersiap siap untuk pergi dia menggunakan dress seatas lutut dengan heels hitam dengan tinggi heels 7 cm. tak lupa dia memoleskan bedak di wajahnya dengan make up tipis dan liptin.
" ma, pa nina pergi dulu ya " pamit nina
" hati-hati " jawab mereka.
nina pergi menggunakan mobil mewahnya tanpa di temani supir pribadinya. iya berjalan menyusuri jalan menuju tempat party perpisahan setelah memakan waktu beberapa menit dia sampai di tempat tujuan, nina kemudian masuk ke dalam ruangan, dari jauh dia melihat segerombolan orang duduk di meja dan menatapnya, namun dia pura pura acuh tak melihatnya.
" boleh aku jujur? masih ada perasaan yang tersisa untuk mu" batin nando. yang sedari tadi terus menatap nina dengan tatapan penuh penyesalan.
" apa apaan nando, ngapain dia natapin nina dari tadi " kesal susi dalam hatinya.
" wow, ternyata nina jauh cantik yang gue kira" gumam rizal yang melihat nina tersenyum.
" ada yang caper" dengus mega.
setelah satu jam mereka party perpisahan, mereka saling berbincang kemana mereka akan menempuh pendidikan tinggi, tak lupa juga sekali dua kali terdengar suara ketawa dari mereka yang membahas lelucon lucu.
" guys gue ke toilet bentar ya " pamit nina pada teman temannya.
" oke " jawab mereka.
nina berjalan menuju kebelakang, tanpa nina sadari ada dua pasang kaki mengikutinya dari belakang, nina masuk dalam toilet setelah selesai ritualnya nina keluar, baru selangkah nina berjalan tangannya di cekal, dia langsung menoleh dan kaget ternyata susi dan mega.
" mau ngapain?" tanya nina.
" denger ya, jangan pernah sok caper di depan kita kita termasuk di depan nando " tukas susi.
" dan elu ingat dia milik susi bukan milik elu" timpal mega.
' heh ' senyuman mengejek nina tampilkan pada susi dan mega. sambil mengibas tangan nya yang di cekal susi.
" ya kali gue nerima barang rongsokan" ejek nina dengan senyum puas dia berjalan keluar.
susi nampak kesal mendengar ucapan nina, yang mengejek nya.
" guys gue pamit pulang duluan ya" pamit nina.
" loh kan belum selesai acara intinya" sergah temanya
" nyokap gue nelfon nyuruh gue pulang sekarang" jawab nina. tentu saja alasan itu nina buat buatkan.
" oh oke lah hati hati ya" ujar mereka.
nina kemudian pergi meninggalkan mereka dan berjalan menuju tempat parkiran mobilnya, dia menginjak gas meluncuri jalan malam kota yang masih pada dan ramai tentunya.
" gue engak nyangka, pernah temanan sama pecundang, mereka pikir mereka siapa? " batin nina.
" ngak ada perasaan tersisa buat mantan, ya kali gue balikan sama nando, gue kan suka sama uncle...........tidak tidak, ngomong apa aku" ujar nina pada dirinya sendiri yang memukul stir mobil.
mobil nina terus melaju namun bukan menuju arah rumahnya. nina terus menginjak gas hingga hampir memakan waktu 45 menit, nina tiba di sebuah taman kota. dia berjalan menuju bangku di tengah taman, dia menghempaskan bokongnya di bangku ' huh...' terdengar hempasan nafas kasarnya.
" pikiran ku kacau" gumamnya yang menatap kedepan dengan tatapan kosongnya.
" nina...." panggil seseorang, namun panggilan itu tak menyadarkannya dari lamunannya.
" nina...." panggilan yang kedua kali.
" ninaaaa,,,,,,,,,,