I Found It

I Found It
Sembilan



"Thank's Nan."


"De rien.. "


Rayhan meneguk perlahan kopi dinginnya. Mereka bertiga sedang berada dipinggir lapangan. Riky masih asyik menggiring bola bersama teman sekelasnya yang lain.


Iya, Riky lebih senang dengan sepak bola daripada basket.


"Lo udah ada plan kedepannya?" tanya Rayhan. Ananta menggeleng pelan. Dia sudah memikirkan matang-matang beberapa hari belakangan ini.


"Mulai besok gue kerja di restorannya Bang Ridwan. Bang Ridwan juga nawarin buat tinggal bareng sama dia di apartemen tapi gue gak mau." jelas Ananta.


"Terus lo tinggal sama Riky? " Ananta menggeleng, dia sudah cukup banyak merepotkan keluarga Riky. Meskipun keluarga Riky menerimanya sangat baik tapi Ananta merasa tak enak menikmati kebaikan mereka berlama-lama.


"Ada kost deket restoran Bang Ridwan lumayan lah. Kebetulan gue juga masih ada tabungan."


"Okelah, padahal kalau lo mau tinggal sama gue juga gapapa. Ibu suka nanyain bule ganteng ke mana. " ucap Rayhan sambil terkekeh. Ananta ikut tersenyum geli saat membayangkan sosok Ibu Rayhan itu. Baik, cantik dan cerewet.


"Bantuin pindahan nanti. Sekalian syukuran kost baru," ucap Ananta. Rayhan mengangguk kepala.


"Kopi gue lo sikat Ray? "


"Emang gue mau gosok ke sekolah sampai bawa sikat."


Riky mendengus, dia mencari cari kemasan botol kopinya yang tidak ada di sana. Padahal tadi semua camilan ada di samping Ananta.


"Kan tadi udah habis lo minum Ky." Ananta mengerutkan dahinya. Dia sadar tadi sebelum kembali bermain Riky menghabiskan kopinya.


"Iyakah?— oh iya lupa udah gue habisin." kekeh Riky. Rayhan mendengus melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Nanti sore jadi lo pindahan? "


"Jadilah, temenin ya. Sekalian cek kondisi di sana." pinta Ananta.


"Padahal Mami gak keberatan lo di rumah." ucap Riky.


"Iya, nanti kapan kapan nginep di sana. " ucap Ananta.


Drttt


Ananta membuka ponselnya saat merasakan benda itu bergetar. Senyumnya terkembang manis saat melihat chat dari kakak perempuannya.


Nanti pulang sekolah ke rumahsakit. Kita bicara bareng.


Meskipun pesannya biasa saja, Ananta sangat merasa senang.  Dia tahu kakaknya itu kaku sama seperti Ayahnya. Jangan harap mendapat ucapan sayang dari kakaknya itu.


"Pulang sekolah gue gak bareng ya. Ketemu kakak dulu."


"Kak Didi? " tanya Rayhan.


"Iya, " kedua teman Ananta mengangguk maklum. Tak mudah bagi keluarga Ananta menerima keadaan Ananta sekarang apalagi Ayahnya.


"Ke kantin yuk, gue mau beli minum lagi. " ajak Riky. Keduanya mengangguk mengikuti langkah Riky.


*****


" Ruangan Dr. Diana Rechan di mana ya sus?"


"Dari sini belok kanan diujung koridor dekat lift, Dek. "


"Makasih Sus." Ananta menyusuri koridor rumah sakit dengan tenang. Langkahnya menuntun ke arah ruangan pojok setelah berbelok tadi sesuai petunjuk dari Suster.


Saat akan membuka ruangan Ananta tak sengaja mendengar obrolan orang di dalam sepertinya Kakaknya sedang ada pasien. Ananta memutuskan duduk menunggu diluar ruangan.


                            ???


Rayganteng: Nan udah balik belum. Gimana sih yang mau pindahan keburu malem ntar.


Riky:selesaikan dulu urusan lo Nan. Lo nginep aja dulu di sini.


Rayhanganteng: heh ini Ibu ratu nanyain mulu anak bulenya. Nginep di sini aja  Nan.


Ananta terkekeh melihat percakapan kedua temannya yang ribut tentang dirinya. Jari panjangnya segera membalas kedua pesan temannya.


Me:Kalo gak jadi hari ini besok. Gue masih belum ketemu sama kakak. Masih ada pasien.


Riky:sejak kapan anda rajin mentraktir kopi kita? 😑


Rayhanganteng:purbakala 😂


Ananta segera menyimpan kembali ponselnya saat mendengar pintu terbuka.


"Siang Om, " Ananta menyapa sopan.


Pria paruh baya itu membalas sapaan dan tersenyum sebelum bergegas pergi.


"Masuk Nan," ucap Didi dengan keras. Ananta masuk ke dalam ruangan kakaknya itu. Ruangannya terlihat monokrom dengan gorden abu-abu dan lukisan abstark di dinding.


"Comment ca va? "


"Je vais bien, " Ananta mengucap syukur dalam hati mendengar kabar baik kakaknya. Terkadang Ananta selalu khawatir dengan kakaknya. Kakaknya itu jarang istirahat di tengah jadwal operasi yang padat.


"Gimana sekarang? "


"Apanya? " tanya Ananta bingung.  Didi mengajak Ananta duduk di sofa berwarna cream itu.


"Are you happy?"


"Yes, Ananta nyaman sama kehidupan Ananta sekarang." jawab Ananta tegas.


"Yeah, jalani apa yang kamu putuskan dengan baik." saran Didi. Ananta mengangguk.


"Satu minggu lagi ulang tahun Kakek. Kamu mau datang? " Tanya Didi. Kakek dari pihak Ibunya selalu merayakan hari lahirnya setiap tahun dan tentu saja dengan pesta karena Kakeknya termasuk pembisnis sukses di Paris.


"Insya Allah," Ananta tak memberikan janji pada Kakaknya. Beberapa hari lalu Ananta mendapat materi tentang perayaan hari lahir di kajian. Dia jadi agak ragu untuk pergi Ke Paris.


"Kakak gak memaksa." ucap Didi. Kemudian tangan Didi mengulurkan sebuah kartu Atm kepada Adiknya.


"Pakailah," pintanya. Ananta tersenyum sambil menggeleng. Dia akan berusaha untuk hidup mandiri. Dia punya tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Setidaknya dia tidak akan membebani Danov Ayahnya untuk mengurusinya setelah keputusannya membuat Sang Ayah murka.


"Anan masih ada tabungan," tolaknya halus. Didi tetap bersikeras menyodorkan kartu kreditnya.


"Anan sudah mulai bekerja, Insya Allah cukup untuk hidup Ananta kak. Sebelumnya Ananta makasih sama kakak."


Didi menghela napasnya melihat kekeras kepalaan adiknya. Sebelum mengangguk menyetujui. Ananta sudah beranjak dewasa. Biarlah dia mengawasinya dari jauh saja.


Setelah berbincang lama Ananta memutuskan untuk pamit. Saat melihat jam yang masih menunjukan pukul  empat sore. Ananta berencana untuk pindah sore ini ke kostnya.


"Loh, gak salah lihat,kan?" Ananta mengucek matanya pelan memastikan kalau dia memang tidak salah mengenali orang.


"Husna? " panggilnya pelan. Benar, sosok yang ada dihadapannya ini memang Husna. Adik kelas yang tidak sengaja dia tabrak dulu.


Lain dengan Anan, Husna begitu terkejut saat melihat Ananta dihadapannya.


"Assalamualaikum, Kak? "


"Wa'alaikumussalam, kamu sakit?" tanya Ananta, melihat wajah Husna yang sedikit pucat tentu Ananta tahu. Tapi dia ingin memastikannya sendiri.


"Iya Kak..."


"Syafakillah Dek," Husna mengangguk berterima kasih. Cukup terkejut saat Ananta memanggilnya dengan sebutan Adik.


"Kamu dirawat di sini?"


"Iya, kak. "


"Ayo aku antar kembali ke kamar. Sudah mulai sore." tawar Ananta.


"Gak usah kak. Lagi pula Mamah nanti pasti mencari aku karena gak ada di sini." tolak Husna. Ananta mengangguk.


Sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan. Tapi begitu melihat ponselnya yang banyak mendapat panggilan dari Riky dan Rayhan membuat Ananta bergegas pulang.


"Aku pulang dulu ya. Insya Allah nanti jenguk kamu lagi." pamit Ananta. Husna hanya mengangguk. Setelah mengucapkan salam Ananta bergegas menuju parkiran rumah sakit. Kebetulan tadi dia meminjam motor Riky untuk ke rumah sakit. Sedangkan Riky sendiri pulang bersama Rayhan.


"Dia kenapa ya? "


...Ananta menggeleng pelan, mencoba fokus pada jalanan. Dia tidak ingin kejadian nyasar kemarin malam terulang lagi....


...Update lagi 😂 pokoknya tandain aja typonya ya. Ngetiknya cepet soalnya matanya udah sepet 😂...