I Found It

I Found It
Dua belas



Bonjours !


"Ky..."


"Hmm.. "


"Lo mau temenin gue gak ke rumah sakit?"


"Kenapa emangnya?" tanya Riky.


"Gue kemarin terlanjur ngomong buat jenguk lagi Husna." terang Ananta.


"Husna? " Riky menatapnya bingung. Sejak kapan cowok di sampingnya ini dekat dengan perempuan.


"Siapa? "


"Duh, itu yang kemarin bertengkar sama Liyana di kantin,"


"Oh cewek yang pake hijab itu, kan? " tanya Riky memastikan. Ananta menganguk membenarkan.


"Emangnya dia kenapa? "


"Gak tahu, cuma kemarin ketemu di rumah sakit."


"Yaudah nanti pulang sekolah," putus Riky.


"Merci^"


"Sama-sama."


*****


"Kakak mau sekolah,"


"Kak, tunggu keadaan kamu pulih dulu ya. Jangan dipaksakan gak baik." bujuk Arifin.


"Tapi kakak bosen Pah." ucap Husna.


"Iya Papah tahu. Tapi kalau ingin sekolah harus nunggu kamu kuat dulu ya. Sekarang kakak mau ke taman biar papah temani." tawar Arifin.


Husna mengangguk, setelah merasakan anaknya duduk nyaman di kursi roda. Arifin pun segera mendorongnya perlahan menuju taman rumah sakit.


Saat tiba di taman. Banyak para pasien juga yang berada di sana. Lembayung senja mulai terlihat di langit menambah kesan cantik di cakrawala. Subhanallah.


"Kakak mau apa lagi? "


"Kakak mau gambar, tapi kertasnya di kamar." terang Husna.


"Papah ambilkan, mau pakai krayon apa pensil warna?"


"Pensil warna aja Pa." Arifin mengangguk. Lantas pamit sejenak ke kamar.


"Ya Allah,"


"Kok di luar? " Husna merasakan tepukan pelan di bahunya. Lantas menengok ke samping.


Wajahnya cemberut melihat sepupunya yang baru datang berkunjung menemuinya.


"Gak usah cemberut gitu Kak. Deva datang kok ini."


"Iya tapi lama,"


"Deva, kan baru pulang dari Malang. Nunggu Umi dulu beres urusannya di sana." bela Deva.


"Papah ke mana? " tanya Deva. Maniknya berkeliling mencari keberadaan Arifin.


"Ke kamar dulu, "


"Oh, Kakak kapan masuk sekolah lagi? "


Husna menggeleng, menatap netra sepupunya dengan memelas.


"Bujuk Papah ya biar besok bisa sekolah." pintanya.


"Kalaupun papah kasih izin tapi Kalau Abi aku nyerah."


Abinya—Papa Deva memang lebih possesive kepadanya dari pada Deva sendiri. Terkadang Husna merasa bersalah kalau Deva disalahkan akibat kesalahan Husna sendiri.


"Gak jadi deh," Husna cemberut, semakin lama di rumah sakit akan semakin bosan.


Deva terkekeh pelan, wajahnya tertutup cadar warna hitam. Tingginya hampir sedada Husna. Dia masih menginjak kelas dua SMP.


*****


"Jadi ke rumah sakit? "


"Hah?! Siapa yang sakit? " tanya Rayhan heboh.


"Anan mau jenguk Husna di sana."


"Husna? " Rayhan berpikir mencoba mengingat siapa Husna itu.


"Yang kemarin lo tabrak di koridor itu Nan? "


"Iya," jawab Ananta.


"Emang dia sakit kenapa? "


"Gak tahu, "


"Lah, gimana sih lo."


Riky segera meninggalkan kedua temannya itu di kelas. Dia malas untuk ikut berdebat dengan mereka.


"Karena gue gak tahu dia sakit apa, makanya gue jenguk Ray." ucap Ananta sabar.


"Terus kenapa gue gak tahu lo mau pergi? " pandangan Rayhan menyipit mencoba mengulik alasan dibalik ketidaktahuannnya.


"Sekarang lo tahu kan gue mau pergi? "


"Tahu.."


"Yaudah, gak ada masalah," Ananta segera beranjak ke luar kelas setelah membereskan bukunya.


Sedangkan di belakangnya Rayhan cemberut mengikuti.


"Ada cewek bule di gerbang. Cantik banget,"


Riky menyengit bingung saat mendengar bisik-bisik di sekitarnya. Karena ingin membuktikan dugaannya dia segera berlari ke arah gerbang.


Benar saja, di sana perempuan remaja yang masih mengenakan seragamnya sedang berdiri bingung di bawah pohon.


"Chela? "


"Kakak Riky! " jawab Chela antusias. Dia memang sengaja datang ke sekolah Abangnya. Dia ceroboh karena tidak memberi tahu abangnya dulu. Jadinya dia menunggu di gerbang sekolah.


"Kamu kenapa ke sini? "


Dulu Riky dan Rayhan sempat berkenalan dengan Chela dan Bundanya Ananta. Thalitha dengan suara lirihnya memohon agar menjaga Ananta. Riky menyanggupinya. Karena bagaimanapun Ananta adalah temannya. Dia sebisa mungkin akan menolong temannya itu.


"Saya datang karena rindu kepada Abang. Abang di mana? "


"Biar gue panggil dulu biar Ananta ke sini."


Saat Riky akan menelpon Ananta. Dari kejauhan dia mendengar suara kedua temannya yang asyik meributkan sesuatu. Riky urung menelpon Ananta dan kembali menyimpan ponselnya.


"Chela, kenapa kamu di sini? " tanya Ananta kaget. Pasalnya anak itu tidak memberitahu kedatanganya.


"Tu me manques^^ Abang," Chela segera memeluk Ananta dengan erat.


"Bunda dan Ayah pergi ke Bima." jawabnya.


Karena kedatangan Chela rencana mereka yang tadi akan ke rumah sakit tidak terjadi. Keempatnya malah terdampar di pameran kota.


"Kenapa gak ke mall aja sih. Kita main di timezone." usul Rayhan.


"Kalau lo mau dompet lo tipis karena Chela gapapa sih." ucap Ananta.


"Dia kalau belanja gak ingat waktu," tambah Ananta.


"Kakak itu apa? "


"Bianglala, " jawab Riky.


"Bolehkah naik ke sana? " tanya Chela. Dia cukup penasaran.


Riky menoleh ke arah Ananta. Ananta mengangguk. Kapan lagi adiknya diajak ke tempat seperti ini.


"Gue sama Rayhan nyari makanan. Lo bisa tolong jaga Chela." pinta Ananta.


"Oke,"


Ananta dan Rayhan pergi meninggalkan Riky dan Chela. Keduanya memiliki kesukaan yang sama yaitu kuliner. Selalu penasaran dengan menu baru.


"Wow, indah sekali." Seru Chela. Tubuhnya tak bisa diam saat melihat pemandangan di atas bianglala membuat Riky panik.


"Aduh Chela diam ya. Nanti kalau jatuh gimana? "


Mendengar penuturan Riky, Chela duduk diam di tempatnya. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Kakak Riky ayo Chela fotokan." titahnya.  Tangannya sudah siap dengan kameranya.


"Kamu aja yang di foto. Sini gue fotoin." ucap Riky


"Tidak mau! Fotonya nanti jelek."


"Yaudah silakan foto tuan putri." pasrah Riky.


"Wah bagus sekali,"


Riky mengintip fotonya, ada siluet dirinya dengan background langit sore.


"Kakak tampan ya?"


"Langitnya cantik, "


Abang dan adik sama-sama suka menjatuhkan dari harapan.


Setelah turun mereka mencari Ananta dan Rayhan. Hari juga akan gelap, Riky khawatir Chela dicari orang rumah.


"Nan,"


Ananta menengok ke samping lantas tangannya melambai menyuruh kedua orang itu mendekat.


"Ini apa? " tunjuk Chela. Makanan yang dimakan Ananta itu berkuah dan warnanya terlihat merah.


"Seblak.."


"Hah, seb—lak? " ucap Chela. Ananta mengangguk. Dia menyodorkan sesendok ke arah Chela.


"Ayo coba! " dengan ragu Chela menerima suapan dari abangnya. Wajahnya terlihat aneh saat mengunyah makanan seblak itu.


"Tidak enak," keluhnya. Ananta melotot saat pedagang seblak itu menatap mereka. Dasar adiknya.


"Gak boleh ngomong gitu, " sela Ananta.


"Namanya juga adik lo Nan." bela Riky.


Chela itu apa adanya. Apa saja yang ada dalam pikirannya pasti dikatakan.


"Ayo, udah mau maghrib. Anterin Chela dulu. " ajak Riky.


"Tunggu Rayhan dulu, " Riky baru sadar saat Rayhan tidak bersama Ananta.


"Ke mana? "


"Toilet,"  Ananta terkekeh, salahnya juga sih tadi mengerjai Rayhan dengan menuangkan banyak sambal ke dalam baksonya.


"Tinggalin aja, " seloroh Riky. Ananta makin tergelak mendengarnya.


"Chela tidak mau pulang? "


"Kenapa?" Ananta menatap menyelidik ke arah adiknya. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Chela.


"Gue anterin pulang Chela dulu. Lo bareng aja sama Rayhan." ujar Ananta.


"Gak ditemenin, nih? "


"Gak usah, " Ananta memutuskan mencari tahu masalah Chela sendiri.


Riky mengangguk, kemudian menyodorkan kunci motor kepada Ananta yang disambut kekehan Ananta.


"Martabak aja ya, bensin gak di isi."


"Martabak sama bensin lebih mahal martabak kali Nan." gerutu Riky.


Setelah pamit kepada Riky. Ananta dan Chela pun segera pergi ke parkiran.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga puluh menit dengan keheningan. Keduanya sampai di rumah mewah sisi pantai.


"Kamu masuk, Abang di sini aja." ucap Ananta. Ananta sedikit merasa malas masuk ke rumah besar itu.


"Oh, jadi kamu yang ajak Chela buat bolos bimbel."


Mendengar nada datar dari Ayahnya Ananta menghela napas pelan. Kenapa pula adiknya itu sampai tidak memberitahu dirinya kalau dia bolos bimbel.


"Ayah, Chela yang pergi ke abang. Bukan salah abang." belanya meskipun merasa sedikit takut pada Ayahnya.


"Masuk! " Chela menggeleng, merapatkan tubuhnya ke samping tubuh Abangnya.


"Chela Masuk!! " Ananta menyuruh Adiknya untuk segera masuk ke rumah. Sebelum kemarahan Ayahnya semakin besar.


"Dia adikmu! Kenapa kamu malah membiarkannya bolos bimbel. Kamu ingin adikmu bodoh seperti kamu! " teriak Danov.


"Tentu saja saya tidak mau. Dia harus lebih dari saya agar tidak selalu ditekan oleh anda." balas Ananta datar.


Wajah Danov semakin menahan kesal mendengar nada tak sopan Ananta.


"Pergi dari sini! Kamu hanya membawa kebiasaan buruk pada adikmu! "


"Chela itu juga manusia. Ada kalanya tubuh dan hatinya lelah. Jangan terlalu memaksakan kehendak anda tuan Rechan."


Ananta segera pergi tanpa pamit pada Ayahnya. Dia butuh mendinginkan kepalanya.


"Anak sialan!"


*****


Merci : terimakasih


Tu me manques : aku rindu padamu


Kalau pusing dengan karakter chela. Adik ananta itu memang gitu gaya bicaranya. Harusnya sih dia pake bahasa inggris. Cuma aku males translate jadi bikin bahasa indonesianya baku. Chela ngerti kok bahasa indonesia cuma gak bisa ngucapinnya aja gak terbiasa kayak Ananta.


Makanya indonesianya baku gitu kayak yang kaku 😂😂


Oke, please give and comment ya. Tandain juga typonya.  Merci beaucoup for the readers.