I Found It

I Found It
Tujuh



Ketemu lagi sama Ananta


Happy reading guys, tandain typonya.


"Kak.."


Husna menoleh ke sumber suara. Menatap wajah ibunya yang masih terlihat cantik diusianya yang senja.


"Kenapa Mah? " Husna segera menutup laptopnya. Perhatiannya kini teralih semua kepada Ibunya.


"Papah ada keperluan bisnis ke Jepang. Mamah juga akan ikut, Kakak mau ikut tidak?" tanya Anggraeni.


"Kakak di sini saja. Lagi pula kakak bisa menginap di rumah Abi," Abi yang dimaksud Husba ialah adik laki-laki dari Anggraeni.


"Ya sudah, jaga makannya dan jangan lupa obatnya." Husna mengangguk saat mendengar pesan ibunya yang selalu sama saat ia akan ditinggal pergi.


Husna merebahkan kepalanya dibahu sempit sang Ibu. Mendapat usapan sayang pada wajahnya membuatnya merasa nyaman dan hangat. Dia berharap bisa lebih lama lagi merasakan usapan itu.


"Mama gak percaya kalau putri Mama ini sudah besar. Mama masih merasakan baru kemarin kamu Mama pakaikan kain lampin. Tapi walau begitu, Kakak akan jadi terus putri kecil Mama."


Husna memeluk Mamanya dengan erat, apabila mendengar kembali kisah dulu saat Mamanya mengharapkan kehadirannya selama belasan tahun. Husna bersyukur lahir dari rahim wanita yang luar biasa.


"Kakak akan jadi putri kecil Mama selalu,"


"Kakak jangan dulu nikah, ya. Temani dulu Mama di sini."


"Apa sih Ma. Kok bahasnya jadi ke sana. Lagi pula Kakak masih mau kuliah ke Jepang." elak Husna seketika pipinya memerah sangat mengingat sesuatu.


"Lho kok ini pipinya merah? Hayo kakak mikirin apa? " Husna cemberut saat digoda Mamanya.


"Ada apa nih? " Arifin bergabung dengan kedua wanita yang dicintainya itu.


"Ini Pa, katanya kakak—"


"Mama!" ucapan Angraeni terhenti saat rengekan Husna terdengar.


"Mau kuliah ke jepang," lanjut Anggraeni dengan kerlingan menggoda ke arah Husna. Husna mencebik, menutup wajahnya dengan kedua tangan merasa malu.


****


Plak!


Ananta tetap bergeming ditempatnya. Meskipun pipinya berdenyut nyeri akibat tamparan dari Sang Ayah. Bukan pertama kalinya Ananta mendapat perlakuan seperti ini. Jadi dia sudah biasa merasakannya.


"Ke mana hilangnya pikiranmu itu Ananta! " pekik Danov berang.


Di sisi sudut yang lain Chela menangis dipelukan Sang Bunda sedangkan Kakak sulungnya, Didi berdiri di samping Sang Bunda.


"Jawab pertanyaan Ayah anak sialan!  Kenapa kamu bisa berpikir ke sana?!"


Ananta mengumpulkan keberaniannya. Menatap netra Hitam Sang Ayah dengan mantap.


"Aku sudah mantap melabuhkan hati, akal dan jasadku untuk islam. Tidak ada paksaan untuk memeluk Agama islam." ucap Ananta tegas.


Setelah makan malam tadi dia mengutarakan niatnya kepada keluarganya. Davon bereaksi cepat. Marah akan keputusan Anaknya itu.


Davon menatap putra satu-satunya dengan lamat. Tidak ada keraguan di diri putranya. Davon mengalihkan pandanganya sejenak agar tak menatap paras anaknya.


"Kalau itu keputusanmu, Laksanakanlah —" Ananta menatap haru Ayahnya.


"—Tapi jangan kembali lagi ke sini. Kamu bukan putra rumah ini lagi."


"Ayah?! " Bunda segera menyusul kepergian Sang Suami ke lantai atas. Ananta menyeka pipinya yang basah. Ananta harus kuat. Sedikit mendengar dari ustadz di kajiannya. Banyak sekali sahabat nabi yang mendapatkan cobaan dalam memeluk islam. Setidaknya Ananta masih beruntung dari pada Bilal bin Rabbah yang disiksa oleh tuannya. Lebih beruntung dari keluarga Yassir yang mati dengan cara yang keji.


"Chela.." Ananta segera memeluk tubuh adiknya. Kedua bahu insan itu bergetar. Isakan sesekali terdengar dari Chela. Ananta mengeratkan pelukannya. Setelah ini bagaimana Ananta melindungi Chela dari dekat. Kalau kenyataannya dia di usir dari rumah.


"Jangan nakal! Kalau ada apa-apa datang pada Abang, sayang. Adik cantiknya abang Ananta harus kuat." Chela semakin mengeraskan suara tangisannya. Ananta membelai kepala Sang Adik dengan sayang. Perlahan merenggangkan pelukannya. Mengusap air mata di pipi putih adiknya.


"Abang?! " chela merengut, situasi sedang sedih begini. Abangnya malah bercanda.


Keduanya mengalihkan perhatian kepada kedua paruh baya yang menuruni tangga. Di tangan Sang Ayah, sudah ada koper hitam besar.


"Pergi dari sini! Ayah sudah bereskan semua barangmu." Thalita memeluk putranya dengan sedu tangis yang keras.  Melawan suaminya akan memperburuk keadaan. Kini, dia hanya akan membantu putranya itu dari jauh.


"Maafkan Ayahmu, Nak. Maafkan Bunda." Ananta melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Sang Bunda dengan sayang.


"Akan selalu aku maafkan Bunda. Bahkan sebelum kalian meminta maaf, sudah aku maafkan. Aku minta maaf belum bisa menjadi putra kebanggaan Bunda." lirih Ananta.


"Gak sayang, Kamu putra hebat Bunda. Jalani apa yang sudah kamu pilih. Bunda selalu sayang sama putra Bunda ini."


Hati Thalita tak kuasa melihat kepergian putranya. Dia memeluk Chela dengan erat berbagi kekuatan dengan putri bungsunya.


"Kak Di.. " Ananta menghela napasnya merasa sedih melihat respon kakaknya yang berlalu tanpa bicara padanya. Sedikit takut karena respon kakaknya yang dari tadi selalu diam.


"Maafin Ananta Ayah. Aku pamit.. "


****


Drtt


Riky membereskan buku di atas meja belajarnya. Sedikit merenggangkan tubuh. Dia menilik siapa yang menelponnya malam malam begini.


"Hallo.. "


Riky bersandar dikursi dengan lesu. Otaknya berpikir dengan cepat. Tak berapa lama bel rumahnya berbunyi. Dia bergegas turun ke bawah.


"Siapa Ky? "


Riky menghentikan langkahnya sejenak, "Temen Mi, boleh nginep di sini gak? nanti Iky cerita."


Setelah mendapat anggukan dari Sang Mami, Riky berjalan ke depan. Membuka pintu mendapati teman barunya di depan dengan wajah yang sedikit lesu.


"Maaf repotin,"


"Ayo masuk, " ajak Riky. Ananta mengekor di belakang Riky. Sampai di ruang tamu dia melihat seorang wanita paruh baya berjilbab putih dengan paras yang ayu.


"Temen Iky?"


"Iya, tante. Maaf repotin malam-malam begini." Ananta mencium tangan wanita itu sopan.


"Gak repot kok. Senang juga Iky ada temennya. Sudah makan, Nak? " Dahlia menatap wajah teman anaknya itu. Sedikit kurus terlihat dari tulang pipi yang menonjol sedikit meskipun wajah Eropanya kental.


"Sudah Tante."


Dahlia mengangguk kemudian menyuruh Iky untuk mengantar Ananta ke kamar.


"Lo sekamar sama gue dulu ya. Soalnya kamar tamu belum diberesin." ucap Riky.


"Santai Ky. Harusnya gue makasih sama lo udah mau direpotin." ucap Ananta.


Riky menepuk bahu Ananta sedikit memberi semangat.


"Lo harus kuat Nan. Meskipun orang tua lo gak terima. Lo harus tetap baik sama mereka walau bagaimanapun mereka adalah orangtua lo."


"Makasih Ky." Ananta membalas senyum  teduh teman barunya itu. Setelah bersih bersih dia melihat Riky tidur menelungkup di sisi ranjang dekat tembok.


"Guling sama bantalnya kok bertumpuk di tengah? " tanya Ananta heran. Riky mendengus mendengarnya. Dia menjawab dengan nada datar andalannya.


"Gue gak mau dikira homo."


..."Dih, gue juga gak mau kali." seru Ananta. Ananta membaringkan tubuh lelahnya di kasur. Mencoba menutup mata. Biarlah sejenak untuk melupakan masalah dengan tidur. Dia berharap besok masalahnya teratasi dengan baik. ...


...Please give vote and comment ya! Tandain juga typonya. ...