I Found It

I Found It
Sepuluh



Happy reading


Ananta memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Langit malam begitu cantik dengan bintang-bintang yang bertaburan. Ini sudah seminggu lebih dia bekerja di restoran Ridwan.


Ananta sekarang tahu betapa lelahnya untuk mencari rupiah, tapi dibalik itu semua dia merasa bersyukur atas hidupnya. Walaupun terkadang lelah tapi Ananta menjalani hidupnya dengan baik.


Beberapa hari lalu juga dia kembali membuat Ayahnya marah besar karena tidak hadir dipesta sang Kakek. Meskipun kakeknya msmaklumi tapi Danov mempunyai pandangan sendiri tentang itu.


Biarlah, semoga Allah memperbaiki hubungan keluarganya.


"Nan, bareng gak lo? " tanya Reza.


Reza ini rekan kerja sekaligus tetangganya di kost. Reza sedang menempuh bangku kuliah semester dua. Dia enggan dipanggil Abang atau kakak. Katanya lebih enak manggil dengan nama.


Ananta begitu terbantu akan kehadiran Reza. Dia tetangga yang baik, selalu  membantu walaupun Ananta tak meminta. Dia juga rekan kerja yang baik yang membimbing dia di sini.


"Gak repot,kan?"


"Gak, ayo! "


Meskipun jarak kost dan Restoran cukup dekat tapi pulang dengan keadaan lelah lebih baik menggunakan motor dari pada berjalan.


"Besok ajak temen lo buat ke kost. Anak-anak mau panen di sawah."


"Sawah yang di belakang itu? " tanya Ananta.


"Iya, punya Ibu kost. Buah sama sayurannya udah pada lebat. Mending langsung panen keburu ada yang maling." jawab Reza.


"Sip,  besok juga libur sekolah,"


"Iya, kerja juga masuk sore, kan? "


"Iya, Za."


Setelah menempuh waktu 5 menit mereka sampai di kost. Setelah berbasa basi pada Reza. Ananta segera pergi ke kamarnya. Kostnya hanya berisi 5 kamar. Walaupun sedikit tapi lingkungannya bersih dan asri. Di belakang ada sawah dan kolam besar milik Ibu kost. Kata anak kost yang dulu mereka memang sering membantu Ibu kost panen, seperti agenda wajib bagi mereka.


                             ????


Me: besok ke kost ya. Kata Reza kita panen.


Rayhanganteng: panen apaan emas?


Riky: otw


Rayhanganteng : heh kan besok panennya!


Riky: on the way nginep di sana 😴


Rayhanganteng : ikutttt


Me: maaf, pintu sudah terkunci rapat. Mohon kembali esok pagi!


Riky: bullshit.


Rayhanganteng: lieee


Me:  terserah


Ananta mendecak pelan, menduga kedua temannya itu pasti akan menginap. Dia beres-beres sejenak. Meletakan kasur lipat di ruang tengah depan televisi. Dia tidak ingin tidur di kamat berdempetan dengan kedua makhluk itu.


Dia kemudian bergegas mandi sebelum keduanya datang.


"Delivery! "


"Masuk gak usah banyak gaya," teriak Ananta.


Rayhan membuka pintu diiikuti Riky di belakang. Riky menaruh beberapa kresek di meja dekat tv.


"Apaan tuh? "


"Sate sama martabak." jawab Riky.


"Asikk.. Gue bawa piring dulu." Ananta segera berlari ke arah dapur. Rayhan yang sedang berbaring di kasur lipat menikmati acara televisi.


"Rame tahu, ada yang jadi pengantin baru, unyu-unyu gitu."


"Lo aja nikah biar gak ngehalu terus."


Rayhan mendecak sebal, segera saja dia memindahkan chanel sebelum mulut nyinyir Riky bersuara lagi.


"Makasih repot repot bawain." ucap Ananta.


"Perintah Mami, "


"Keinginan Ibu ratu." Ananta menggerutu, sudah dia duga mana mungkin kedua cowok itu berinisiatif sendiri membawa makanan.


"Gimana kerjaan lo? "


"Alhamdulillah, lelah tapi nikmat." jawab Ananta.


"Gak jelas lo!" seru Rayhan.


"Katanya Bang Ridwan udah punya calon. Lo pernah lihat gak? " tanya Rayhan penasaran. Soalnya Abangnya—Akhyar sering mengobrol dengan Ibu dan  Bapaknya tentang ini.


"Udah kali," Ananta mencomot martabak keju itu, memakannya dengan lahap.


"Lah masa lo gak tahu? "


"Emang Ananta harus tahu banget?" tanya Riky. Rayhan menatap Riky dengan malas, sebelum dirinya mendudukan diri di samping cowok itu. Berada di tengah kedua temannya.


"Turun gak sempit nih?! " Ananta mendorong Rayhan ke lantai membuat Rayhan bersungut-sungut.


"Lo kan kerja di restorannya. Masa gak pernah ketemu sama calonnya." protes Rayhan.


"Lo pikir ta'aruf sama kayak pacaran yang gandeng ke mana-mana." oceh Riky.


"Yakali pernah gitu, ketemuan atau apa."


"Belum Ray. Dan Bang Ridwan juga masih ada di Malang ada urusan." terang Ananta.


"Ta'aruf itu gak kayak pacaran Ray yang bisa ketemuan seenak jidat. Coba lo inget pernah gak Bang Akhyar ketemu sama Kak Nisa sebelum nikah atau lagi masa ta'aruf? " tanya Riky.


"Belum sih, cuma pas khitbah doang." jawab Rayhan.


"Nah, masa ta'aruf itu kan masa perkenalan. Akhwat dan ikhwannya saling memberi biodata diri dan mereka itu dihubungkan oleh murobbi masing-masing. Makanya kalau ada apa-apa atau bertanya apa-apa tentang ikhwan dan akhwatnya melalui murobbi dulu. Nanti murobbinya yang menyampaikan kepada yang bersangkutan."


"Kayak perantara gitu ya? " tanya Ananta.


"Yoi, jadi gak ada saling chat juga meskipun lagi masa ta'aruf sama aja bohong bikin zina. Zinanya hati kan berharap. Nah, kalo senyum senyum dapet chat dari ikhwan atau akhwat sama aja dosa. Gak bisa menjaga perasaan sebelum halal."


"Terus gimana urusan sama pernikahan. Kan banyak persiapannya. Gimana bisa sukses tanpa adanya komunikasi?" tanya Rayhan.


"Kata siapa? Kan dari kedua pihak keluarga yang berdiskusi. Keinginan anak-anaknya dikatakan kepada orang tua. Dan kedua orang tua pihak mempelai yang berdiskusi."


"Iya juga sih, gue denger bang Akhyar selalu membahas persiapan pernikahan sama orangtua gak sama istrinya."


"Ada manfaatnya juga. Jadi sebelum kedua mempelai itu halal. Komunikasi itu untuk mendekatkan kedua pihak keluarga. Dalam pernikahan bukan bersatunya suami dan istri tapi juga bersatunya dua keluarga si pihak mempelai."


"Ekhemm, "


Ananta menatap serius Riky.


"Lo kayaknya udah siap banget, ky. "


"Menikah itu harus siap. Kalau kita meletakan dasar pernikahan karena Allah. Insya Allah gak akan adanya kesusahan. Meskipun rumah kecil, istri suami gak cantik, kerja serabutan. Kalau niatnya karena Allah pasti akan dipermudah."


"Tuh ilmunya udah dapet. Aplikasinya kapan? " tanya Rayhan.


"Kalian berdua juga kapan? Kemarin kan ustadz Bima bahas tentang pernikahan. Kalian juga dapat ilmunya. Aplikasinya kapan? " tanya balik Riky.


"Ehehhe" Riky menggeleng melihat keduanya yang tertawa tak jelas.


****