
Ananta memasukan buku-bukunya ke dalam tas dengan cepat. Khawatir Riky menunggunya terlalu lama. Salahnya juga terlalu asyik dengan ponselnya tadi sampai lupa pada Riky yang menunggunya di gerbang.
Ananta bergegas menuju gerbang sekolah. Suasana nampak sepi, hanya segelintir siswa yang sedang ekskul di lapangan.
"Nan, cepetan! " Ananta bergegas saat maniknya melihat sosok adiknya di samping Riky. Rayhan tertidur di bangku panjang pos satpam.
"Chela ngapain ke sini? " tanya Anan heran.
"Ingin bertemu dengan Abang, Chela rindu." jawabnya.
Semenjak kejadian mengantarkan Chela pulang dari pasar malam itu membuat Ananta khawatir kalau Ayahnya melampiaskan ke pada Chela, adiknya.
"Ayah, Bunda tahu kamu ke sini? "
"Bunda tahu. Bunda juga menitipkan ini." Chela mengangsurkan sekotak kue brownies ke arah Ananta.
Ananta mengambilnya seraya mengucapkan terima kasih. Dia merangkul bahu adiknya. Riky mengikuti di belakang Ananta dengan diam.
"Kak Rayhan? " Chela menatap Rayhan yang masih terlelap di bangku panjang itu. Bermaksud akan membangunkannya namun Ananta lebih dulu mencegahnya.
"Biarin aja, "
"Kasihan, Abang. " sela Chela. Chela merengut, melepaskan pelukan kakaknya kemudian berjalan menuju Rayhan.
"***** dasar. "
"Kayak lo juga, kan? " Ananta terdiam mendengar balasan santai Riky.
"Kakak Rayhan ayo pulang! " Chela sedikit mengguncang tubuh Rayhan. Namun, cowok itu bergeming di tempatnya. Merasa lelah karena berdiri lumayan lama menunggu Abangnya tadi. Chela memukul cukup keras bahu Rayhan membuat Rayhan terlonjak kaget.
"Ehh ayam— ayam mau ke mana ehh mau ke sini, "
Ananta dan Riky saling berpandangan, cukup kaget mendengar suara latah dari temannya. Apalagi Riky yang sudah lama berteman dengan Rayhan cukup kaget mengetahuinya.
Rayhan mengelus dadanya. Kepalanya sedikit pening karena dipaksa bangun mendadak. Matanya menatap kedua sejolinya yang sedang menahan tawa.
"Kak Rayhan kenapa? "
Pecahlah tawa kedua sahabat itu mendengar pertanyaan Chela. Chela lebih dibuat bingung melihat situasi itu. Sedangkan Rayhan mendumel kesal melihatnya.
*****
"Chela mana? "
"Pergi sama temannya," Thalita menjawab tanpa memandang ke arah Danov, tangannya masih asyik membalik majalah di pangkuannya.
"Bukannya harus les? "
"Itu hari kemarin, ada pergantian jadwal yang baru katanya. "
"Kenapa aku tidak tahu? "
"Entahlah, " Danov merasa istrinya semakin dingin saat putranya pergi dari rumah. Sebelumnya mereka hanya berkomunikasi saat ada pekerjaan saja. Selama ini juga dia belum bisa berbicara santai dengan istrinya itu.
Berada di situasi canggung membuat Thalita tidak nyaman, dia segera bangkit dari duduknya pergi menuju kamarnya.
"Tunggu!"
"Ada apa? " tanyanya tanpa membalikan badannya. Dia berdiri di tangga kedua. Sedangkan Danov memandangnya di atas sofa.
"Kita perlu bicara!"
"Aku tidak ada waktu."
"Begini sikapmu pada suamimu sendiri. " Danov mencoba menahan suaranya agar tidak terlalu terdengar keras.
"Lain kali saja, " jawab Thalita. Dia ada janji dengan Anak sulungnya makan siang bersama.
"Thalita—
"Apa kamu juga pernah membiarkan aku untuk berbicara?" tukas Thalita. Tanpa mendengar jawaban Danov dia segera pergi menuju kamarnya.
****
"Mau Chel? "
"Tidak enak, " Chela menggeleng saat Rayhan memberinya semangkok seblak.
"Hadehh, gue lupa kalau lo bule tulen,"
"Apa Kak? "
"Gak! " Rayhan memutuskan topik pembicaraan sebelum adik temannya itu bertambah penasaran. Meskipun baru beberapa kali bertemu dengan Chela, Rayhan sudah bisa menebak kalau Chela mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dia tidak akan puas bertanya sebelum dia paham.
"Bang Ridwan jadi nikah nanti? "
"Iya, dua bulan lagi. " jawab Ananta. Dia sudah diberitahu rencana pernikahan Ridwan yang akan digelar dua bulan lagi di Semarang. Tempat kelahiran calon istrinya.
"Datang, gak? " tanya Rayhan.
"Jauh, "
"Tenang aja, Bang Ridwan kasih tumpangan gratis buat ke sana." himbau Ananta.
"Tiket pesawat? "
"Iya, "
"Whoaa— Rayhan berdecak, "gila Bang Ridwan baik bener."
"Lo itu muji apa ngeledek sih. Di awal gila diakhir baik. " cetus Riky.
"Muji elah, yang awal jangan dihiraukan."
"Ehh— Rayhan mengarahkan wajah Ananta ke samping tepatnya mengarah pada sebrang jalan. Kebetulan mereka sedang berada di kedai menu jajanan. Karena Rayhan ingin makan seblak tadi.
"Itu Husna, kan? " tanya Rayhan. Ananta menyipitkan matanya. Kemudian mengangguk membenarkan. Husna dan Devana sedang berada di luar toko buku. Mungkin mereka tadi membeli buku di sana.
"Ehh kesini woy." seru Rayhan.
"Apaan sih? " tanya Riky melihat kehebohan kedua temannya.
Tak berapa lama pun pintu kedai terbuka memperlihatkan kedua sosok gadis anggun di sana. Karena kebetulan meja yang kosong berada di samping meja Ananta dan kawan-kawannya. Akhirnya kedua gadis itu duduk di sana.
"Assalamualaikum, "
"Wa'alaikumussalam. " jawab kedua gadis itu.
"Iya, " Ananta hanya mengangguk. Ananta kembali menikmati semangkok bakso yang dipesannya tadi.
"Nan, nginep di rumah yok!"
"Kapan-kapan,"
Rayhan mendesah lesu mendengar jawaban temannya. Pasalnya kalau Ananta menginap, dia ada teman bermain game sampai malam.
"Gue ad janji nginep di rumah Mami Dahlia, " lanjut Ananta. Ananta memanggil Mami Dahlia atas paksaan dari wanita paruh baya itu, katanya dia sudah menganggap Ananta sebagai anaknya sendiri.
"Hehh, kok gue gak tahu! " seru Rayhan.
"Sekarang, kan tahu. " jawab Riky santai.
"Pokoknya gue ikut nginep di sana." tegas Rayhan.
"Iya-iya, "
"Chela juga ingin menginap bersama," celetuk Chela. Gadis berparas putih itu telah menghabiskan beberapa tusuk bakso bakar yang dipesankan Abangnya tadi.
"Non! Ayah pasti marah. Nanti abang antar kamu pulang." tegas Ananta.
"Tidak mau! " kekeh Chela.
"Ayo nanti menginap di rumah kakak." ajak Riky.
"Ky.. "
Riky menggeleng, kemudian dia memberikan ponselnya kepada Ananta.
"Bunda bilang akan pergi ke luar kota sama Pak Danov selama tiga hari." terang Riky.
"Kok lo bisa kirim pesan sama Bunda sih? " Ananta saja sekarang jarang berkirim kabar dengan Bundanya karena sibuk kerja.
"Lo aja yang sibuk, "
"Okey, jadi nanti malam kita main game bareng Chel, " senang Rayhan.
"Yeahh.. " Chela memekik senang. Setidaknya dia bisa bersantai sejenak dari penatnya belajar.
Keempatnya menoleh ke samping saat mendengar suara keributan. Devana sedang menyanggah tubuh Husna yang pingsan.
"Kenapa Dev? " tanya Ananta.
"Kakak pingsan,"
"Mau panggilkan ambulan? " tanya ananta.
"Boleh, kak. Tolong. " Devana segera menyahut.
Tak lama ambulanpun datang. Husna segera diangkat ke atas brangkar. Devana dan Ananta ikut masuk ke dalam ambulan.
"Ayo Chela, kita susul Ananta." ajak Riky. Ketiga orang itu langsung bergegas naik ke dalam mobil Rayhan. Mengikuti ambulan itu dari belakang.
"Dok tolong kakak saya."
"Saya usahakan, tolong hubungi keluarga pasiennya."
Devana meluruh di lantai dengan isakan tangisnya. Dia merasa menyesal mengajak kakaknya jalan-jalan meskipun dia tahu kakaknya masih dalam tahap pemulihan diri.
"Lekas telpon keluargamu Dev, aku ke kantin sebentar." ucap Ananta.
"Iya, Makasih sebelumnya Bang." ucap Devana.
Ananta mengangguk kemudian lekas pergi ke kantin.
"Dek, "
Devana menoleh, dia mendapati teman teman Ananta di sana.
"Bang Ananta sedang ke kantin." terangnya.
"Kakak tadi kenapa? "
"Pingsan, " jawab Rayhan.
"Iya, kenapa? " Rayhan segera membekap mulut Chela yang berdiri di sampingnya saat melihat keluarga Husna berdatangan.
"Kakak kamu kenapa sayang? " Anggraeni bertanya cemas. Devana menunduk dalam saat pandangannya bertemu dengan mata abinya.
"Pingsan Mam. Maafin Deva karena membuat kakak pingsan seperti ini." lirihnya.
"Sudah, kakakmu itu keras kepala. Bukan salah kamu, sayang." Arifin mendekap tubuh keponakannya dengan lembut.
Pandangan Arifin bertemu dengan Ananta yang baru kembali dari kantin.
"Assalamualaikum," salam Ananta.
"Wa'alaikumussalam, "
"Abang Ananta yang menolong kami tadi papa." jelas Devana.
"Terima kasih, " ucap Arifin tulus.
"Tidak masalah Om."
Di balik pintu rawat, Didi keluar membuat Chela terkejut melihat kakak perempuannya di sana.
"Husna kelelahan, tubuhnya masih belum sehat betul. Jangan biarkan dia kecapean."
"Terima kasih Dok. Boleh kami temui Husna?"
"Silakan, " ucap Didi.
Para orangtua segera masuk ke ruang rawat Husna, meninggalkan Devana dengan rasa penyesalannya.
"Chela margaretha ikut Kakak." tegas Didi. Chela cemberut dibuatnya. Kendati begitu dia tetap mengikuti langkah kakaknya.
"Nan.. "
"Gapapa, beliau kakak gue." ucap Ananta.
"Dev, kita pergi dulu. Sampaikan salam pada Husna dan keluarga kamu." titip Ananta.
"Iya Kak, terima kasih."