
Di penghujung sore itu, Ananta berjalan di selasar koridor dengan santai. Bahkan, setiap langkah yang dia lakukan tak luput dia hitung. Memang aneh, tapi dari pada melamun sampai menabrak tiang koridor, kan dia bisa malu. Apalagi sampai wajah gantengnya lecet sedikit. Dia bisa tidak percaya diri.
Ananta menajamkan pandangannya, meskipun agak samar tapi dia yakin sosok di taman itu adalah Husna, teman sekolahnya.
Melihat gadis itu yang termenung, akhirnya Ananta menghampiri Husna dengan penasaran.
"Assalamualaikum,"
Walaupun lirih, tapi Ananta mendengar balasan salam dari gadis itu.
"Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Dan terimakasih, Dev bilang kamu yang menolongku kemarin." ucap Husna.
"Tidak masalah, sebaiknya cepat kembali ke ruangan. Hari sudah mulai gelap, apa boleh aku antar?" tanya Ananta sopan.
"Maaf, aku tidak terbiasa—"
"Aku mengerti," Ananta menyela dengan cepat. Tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Terlebih Ananta sudah melihat gerak gelisah selama Husna mengobrol dengannya. Husna tidak terbiasa berinteraksi dengan lawan jenisnya, yang bukan mahromnya.
"Husna!!" Bella memeluk teman sebangkunya itu dengan ekspresi khawatir. Sudah lebih dari tiga hari temannya itu izin sekolah karena sakit. Baru hari ini juga dia sempat untuk menengok temannya itu.
"Aku gapapa Bel," Husna mencoba menenangkan Bella dengan lembut. Temannya itu memang suka berlebihan menanggapi terkait masalah yang berhubungan dengan dia.
"Kalau gitu, aku permisi dulu. Semoga kembali Allah sehatkan kamu, Husna. Assalamualaikum,"
"Aamiin. Wa'alaikumussalam."
Bella terus menatap tubuh tegap Ananta dari belakang, matanya kemudian menatap penasaran kepada Husna.
"Kenapa bisa kenal sama anak baru itu?" tanyanya selidik.
"Qadarullah, ayo antarkan aku ke ruanganku dulu. Sebentar lagi mau maghrib." pinta Husna.
Bella mengangguk setuju, biar nantilah dia bertanya kepada Husna.
****
"Meskipun sudah mendapatkan donornya Pak. Saya sarankan untuk melakukan operasi besar tersebut di luar negri. Pihak rumah sakit sudah mengkonfirmasi dengan pihak rumah sakit di Penang. Donor sudah ada, tapi masih ada kendala dari keluarga pasien di sana." jelas Didi.
Setelah usaha pencarian sekitar beberapa tahun lalu, akhirnya donor yang cocok sudah didapatkan. Namun begitu, ternyata Tuhan masih menguji kedua pasangan di hadapannya ini untuk berusaha lebih keras lagi.
"Apapun itu Dok. Boleh kami bicara dengan keluarga pasien di sana?" pinta Anggraeni. Wajah ayu itu nampak jelas basah karena air mata. Hati Ibu yang menginginkan kehidupan untuk anaknya yang dia tunggu dengan sabar dan perjuangan nyawa yang sulit.
"Kami akan berusaha kembali, pak." Didi menutup diskusi dengan cepat. Tak tega melihat wajah kedua wali pasiennya yang sudah dia tangani lebih dari tiga tahun yang lalu nampak pucat, tidak ada rona merah semangat di wajahnya.
Setelah keduanya berpamitan, Didi menanggalkan jas putih kebesarannya di kursi. Dia termenung sejenak untuk mencari solusi agar Husna cepat melakukan operasi besar. Setidaknya agar nyawanya selamat.
"Kak!"
"Come here!" Suara pemuda itu kini nampak tegas. Meskipun dia merasa sedikit sedih akibat pengusiran Ayahnya kepada Sang adik. Namun, di sisi lain dia bisa melihat kehidupan adiknya yang nampak lebih dewasa.
"Tunggu sebentar, kakak ke kamar mandi dulu." titah Didi.
Ananta mengangguk dan mendudukan tubuhnya di sofa ruangan kakaknya. Dia ada janji makan malam bersama david dan Didi. Pagi tadi Chela sudah diantarkan ke rumah dengan selamat. Dia sedikit bernapas lega saat tidak bertemu dengan Ayahnya tadi pagi, setidaknya tidak ada perdebatan hari ini.
Ananta berjalan mengelilingi ruangan. Sejak kecil dia begitu bangga pada kakak perempuannya. Begitu mandiri, cerdas. Dia bahkan ingin mengikuti jejak sang Kakak yang meraih gelar clumlaude di usia muda.
Tangannya mengambil berkas yang bertuliskan nama Husna di meja. Ananta tahu dia lancang, lantas dia teringat akan CCTV Tuhan, dia menaruh kembali berkas itu. Seberapa penasaranpun dia tidak boleh bersikap tidak sopan dengan mengintip berkas itu.
"Apa yang kamu pegang?"
Ananta terlonjak saat mendengar suara Didi yang datar. Meskipun sudah biasa mendengar nada datar kakaknya. Ananta sesekali bisa sedikit takut oleh itu.
"Berkas Husna," jujur Ananta.
"Your girlfriend,"
"Yeah—eh, bukan cuma teman aja." gagap Ananta. Kan perkataan kakaknya itu suka menjebak.
"Kesempatan dia hidup semakin menipis, menderita penyakit gagal jantung turunan sejak usia lima tahun. Operasi dini hanya 5% kemungkinan selamat. Tapi dia gadis yang hebat. Sampai usianya yang kini tujuh belas tahun dia masih bertahan."
"Hidup dan mati itu sudah ditakdirkan, Kak." ucap Ananta.
"Tuhan sudah mengaturnya dari awal, " tambah Didi.
"Seharusnya Kakak tidak langsung menilai kapan hidup mati seseorang."
"Ananta kami para dokter menyampaikan apa yang kami simpulkan dari hasil pemeriksaan kami. Seberapa buruk kabar itu, itu hal yang harus disampaikan."
"Pasti ada keajaiban, dia bisa bertahan selama 12 tahun. Dia tidak akan menyerah begitu saja." ucap Ananta.
Entah kenapa hatinya sedikit kesal saat mendengar penuturan santai kakaknya tentang hidup mati Husna. Apa kakaknya itu berpikir dia Tuhan yang bisa menentukan kapan matinya seseorang.
"Dia kenapa?" gumam Didi.
***
"Nan!"
"Ya," Ananta menoleh ke arah Ridwan yang menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kamu kenapa?" tanya Ridwan.
"Gapapa bang," ucap Ananta.
Apanya yang baik-baik saja, Ridwan melihat anak itu asyik melamun dari tadi.
"Ada masalah sini cerita," pinta Ridwan.
"Gak ada bang." Ananta sendiri bingung kenapa dia bisa kesal begini.
"Terserah lah, kalau ada apa-apa kasih tahu abang." pinta Ridwan.
"Iya abang,"
"Ini seragam buat Riky, Rayhan sama kamu. Nanti kalian bareng sama Akhyar apa bawa mobil sendiri ke Semarang." Ridwan memberikan tiga paper bag ke arah Ananta.
Ananta mengintip isinya, lantas mengangguk paham.
"Datang ya! Awas aja kalau gak datang. Kalian semua abang gantung di pohon toge." ancam Ridwan.
"Yang ada dilahap habis sama Rayhan togenya."
Ridwan menggeleng pelan mendengarnya.
"Nah, kamu udah punya kandidat?"
"Apa?"
"Calon," Ananta menatap Ridwan bingung. Setelah melihat senyuman jahil di sana dia mendengus.
"Kuliah aja mikir dulu biayanya gimana."
"Lulus aja belum kamu Nan." geleng Ridwan.
"Harus ada rencana ke depannya Bang." bela Ananta.
"Iya-iya terserah kamu. Cepetan cari Riky aja udah ada." celetuk Ridwan.
Ananta mencondongkan tubuhnya ke arah Ridwan penasaran.
"Siapa?"
"Gak tahu, chat nya mesra gitu." ucap Ridwan santai.
Ananta menatap datar Ridwan, lagian dia gak percaya. Riky yang kasih ceramah terus tentang pacaran masa dianya sendiri yang pacaran.
"Siapa sih bang. Bikin penasaran aja." desis Ananta.
"Gak tahu," Ridwan menatap Ananta malas, "tapi namanya Chela sih." tambahnya.
Ha?
Apa tadi?!
Ridwan menatap aneh Ananta yang terlihat apa ya? Kaget, syok dan tidak percaya.
"Kenapa?"
"ADIK GUE ITU!!"
"Ha?!"
...Ketemu lagi sama Anan. Haduh mood nya emang gitu dia. Banyak kejutan lagi ya nanti. Karakter Ananta si Bule nyasar itu gimana. Gimana sama scene husna sma Ananta. Dapat feelnya gak. ...
...Lah aku aja bingung mau nulis mereka gimana. Kenal mereka aja uda pada nikah. Ini nulis tentang sebelum mereka nikah....
...Have great days teman. Tandain typo ya. Kasih vote and comment juga. ...