
"Abang.." merasa bahunya dirangkul dari samping, Ananta menoleh menatap wajah adik perempuannya yang terlihat cemberut.
Tak menghiraukan gerutuan adiknya, Ananta kembali lahap menghabiskan makan malamnya.
"Don't distrube me, chel." tukas Ananta. Makanannya belum habis setengahnya.
Dia tidak terbiasa makan sambil berbicara.
"Uh.. You don't care what I'm feel."
Wajah cantik Chela merengut melihat sikap cuek abangnya. Chela mendudukan diri di hadapan Ananta dengan kesal.
Suasana rumah cukup sepi. Ayah dan Bundanya belum pulang bekerja. Kakaknya pun ada operasi dadakan tadi. Bertahun-tahun hidup sepi sudah bukan hal baru lagi bagi Ananta, apalagi chela.
"What happened? " Ananta membereskan piring bekas makannya. Menaruhnya ke dalam wastafel. Tangannya mengambil segelas air hangat dan membawanya ke meja.
"Ayah daftarin aku di bimbel lagi. Bujuk Ayah ya Abang. Aku sudah cukup lelah belajar selama ini." pinta Chela.
"Kamu mau jadi orang bodoh? "
Chela menggeleng tegas, tatapannya berubah serius. Ananta hanya diam sesekali meminum air hangatnya.
"Tanpa Chela belajar. Chela sudah pintar kok."
"Terserah kamu,"
Chela berteriak saat Abangnya itu malah pergi meninggalkannya. Ananta butuh asupan materi karena besok ada ulangan harian di kelasnya.
****
"Assalamualaikum Riky,"
"Wa'alaikumussalam," langkah Riky bergegas meninggalkan Rayhan di koridor. Riky punya firasat melihat wajah memelas Rayhan. Pasti berhubungan dengan catatan materi tentang ulangan nanti.
"Ky, pinjem catatannya. Lo gak kasihan nanti nilai gue jelek karena gak bisa jawab." keluh Rayhan.
"Lo aja gak kasihan sama diri sendiri, apalagi gue." tukas Riky tajam.
Rayhan mendengus, kalau saja minggu kemarin dia mencatat materinya. Dia tidak akan memelas meminjam pada Riky.
Tak tega melihat frustrasinya Rayhan. Riky pun mengalah, memberi catatannha kepada Rayhan. Setidaknya semalam dia sudah membacanya.
"Makasih Ky. Pengertian deh lo."
"Gak usah lebay! " Rayhan langsung duduk di kursinya. Mencoba fokus memahami materi di buku catatan Riky.
"Pagi,"
Ananta melihat kedua temannya sedang sibuk. Rayhan yang sedang membaca dan Riky yang sedang menggambar.
"Rajin sekali Rayhan," Rayhan diam mendengar cibiran Ananta ini bukan waktu di mana dia berdebat dengan Ananta.
"Ky, sore nanti jadi kajian ya? " tanya Ananta. Sudah 2 kali Ananta mengikuti kajian bersama Riky. Dan hari ini memang jadwal kajian rutin yang dilaksanakan setiap seminggu sekali.
"Iya, tungguin gue dulu. Ada urusan di club menggambar." jawab Riky.
Ananta mengangguk. Riky memang mengikuti ekskul menggambar, Rayhan basket. Sedang dia tidak berminat sama sekali. Kalau saja ada wushu dia pasti akan ikut.
"Assalamualaikum anak-anak,"
"Wa'alaikumussalam, Bu."
****
"Husna ayo ke kantin," Husna menggeleng tangannya menggenggam kotak bekalnya.
"Kamu aja, aku makan di kelas."
"Udah ayo, kamu harus punya suasana baru. Masa dari masuk sekolah makan di kelas aja. Bawa bekalnya kita makan di kantin." putus Bella.
Tak ingin berargumen lagi, Husna mengikuti Bella menuju kantin.
Husna lebih suka makan di kelas. Keadaan kantin yang selalu berisik
membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Lo mau minum apa? "
"Susu coklat aja," Bella mengangguk, dia pergi memesan pesanannnya meninggalkan Husna sendirian di meja kantin.
Husna menatap sekitarnya yang terdengar riuh. Ada yang sedang bernyanyi, makan sambil bercerita. Suasana di sini terasa cukup menyenangkan.
Mama: sudah makan, Nak?
Me:Ini lagi di kantin. Bella ajak kakak, katanya kakak harus rasain suasana baru.
Mama:Alhamdulillah,makannya habiskan, jangan lupa obatnya. Dan bilang makasih sama Bella dari Mama.
Me:Iya,Ma nanti kakak sampaikan sama Bella.
"Nih, Na. Ayo makan! Keburu masuk lagi." Bella mengulurkan segelas susu coklat hangat yang disambut Husna dengan ucapan terimakasih.
"Sesekali lo harus jalan-jalan di sekolah. Keliling kek, lihat keadaan sekolah gimana. Suntuk tahu di kelas mulu." oceh Bella.
"Iya, nanti kamu guide nya. Mama bilang makasih sama kamu." ucap Husna.
"Iya sama-sama tante, lagi pula gue mau lo itu nyaman sekolah di sini."
Husna terkekeh, netranya menatap ke arah pintu masuk kantin yang terdengar riuh.
"Ada apaan sih? "
Bella menengok, kemudian mendengus sebal melihat kakak kelasnya Liyana yang sedang tebar pesona. Melihat sikap manjanya membuat dia risih.
"Kak Liyana lagi caper sama murid baru." ucap Bella.
Husna mengangguk tak seantusias tadi. Husna sering mendengar tentang Kak Liyana yang selalu berhungan dengan siswa tampan di sini.
"Ky, kantin yuk. Gue mau isi asupan. Otak gue serasa ngebul habis ngerjain banyak soal." seloroh Rayhan.
Riky mengangguk. Ketiganya berjalan santai si koridor sekolah. Sampai Ananta melihat Liyana yang berjalan di hadapannya. Dia langsung berlari ke arah toilet tanpa kata.
"Kenapa tuh, kebelet banget Ananta? " gumam Rayhan.
"Ray, Ananta di mana? "
Rayhan menoleh, pantas saja Ananta kabur. Dia melihat nenek sihir di sini.
"Gak tahu," ucap Rayhan.
"Bohong ya lo? " selidik Liyana. Audah hampir 5 hari sia tidak bertemu dengan Ananta. Dia sudah merasa rindu. Ehem
"Tanya aja sama Riky." titah Rayhan.
Riky menatap Liyana malas, langkahnya pergi meninggalkan mereka berdua dengan santai.
"Malah ditinggal. Lo cari aja sendiri sana." ucap Rayhan, lantas mengejar Riky.
Liyana berbalik ke arah lapangan. Tapi sebelum itu dia melihat siluet Ananta yang menghilang dibelokkan koridor menuju toilet laki-laki.
Liyana bergegas mengejar sosok itu. Ternyata benar, memang Ananta yang habis keluar dari dalam toilet.
"Ananta! " Ananta menghela napasnya pelan. Mencoba menyabarkan dirinya. Tak lama lengannya dirangkul seseorang. Segera saja Ananta melepasnya dengan sedikit kasar. Dia sudah cukup capek meladeni sikap Liyana.
"Kamu mau ke mana? "
"Ihh Ananta, kok gak dijawab."
Liyana merengut sebal saat dia diacuhkan Ananta. Tapi semangatnya tak putus. Dia tetap berjalan di samping Ananta yang senantiasa diam.
Sampai di kantin, mereka jadi pusat perhatian. Dengan malu, Liyana kembali merangkul Ananta mencoba mengisyaratkan kalau Ananta adalah miliknya.
"Gue sabar ya selama ini. Tapi sikap lo semakin menjadi." desis Ananta.
Ayolah, emosi seseorang yang sedang lapar berkali kali lipat lebih bahaya.
"Kita kan mau makan Ananta. Kenapa sih? "
tanya Liyana santai.
"Gak usah sampai rangkul gini! Lo kan cewek, setidaknya tahu jaga harga diri lo sendiri."
"Tapi aku suka sama kamu,"
"Gue gak suka! Ngerti gak sih?! "luap Ananta. Tak peduli melihat mata Liyana yang berkaca-kaca.
Langkahnya pergi meninggalkan Liyana. Tak menghampiri teman-temannya juga. Ananta butuh sendiri untuk menenangkan diri.
Sebelum itu, netra hijaunya bertabrakan dengan netra hitam legam milik seseorang. Seakan ingat kalau sosok itu yang ditabraknya kemarin.
Ananta kembali berpaling. Setidaknya dia sudah hapal wajah gadis itu. Ananta pergi ke luar kantin. Tak peduli teriakan Rayhan yang menyuruhnya berhenti. Ananta butuh ketenangan untuk meredakan emosinya.