
...Happy reading! ...
Husna berjalan dengan hati-hati. Kedua tangannya penuh dengan beberapa buku yang bertumpuk. Selesai pelajaran Ipa tadi, dia diminta tolong untuk mengembalikan buku ke perpus. Berhubung tugas Bella belum selesai, jadi dia pergi sendiri tanpa bersama Bella.
Dukk
Ananta sigap membereskan buku yang berserakan dilantai. Netranya menangkap seseorang yang familiar menurutnya.
"Kamu.."
"Makasih, kak. Tolong bukunya." Ananta menatap buku yang ada ditangannya.
"Aku bantu, ke perpustakaan kan?" tanya Ananta.
"Enggak kak, makasih." Husna menggeleng.
Tanpa mendengar ucapan Husna. Ananta segera beranjak menuju perpustakaan. Husna pun dengan sabar mengikuti dari belakang.
"Terima kasih, kak." Husna berucap pelan. Ananta mengangguk sebelum gadis itu beranjak, bahunya terlebih dahulu dicekal Ananta.
"Tunggu," Husna langsung menyingkirkan tangan putih itu dari bahunya.
Ananta tersenyum kikuk, kini keduanya berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh. Netra hijau itu menatap gadis dihadapannya yang dari tadi asyik menunduk.
"Untuk kemarin kemarin, aku minta maaf sudah menabrakmu di koridor ruang guru." ucap Ananta.
Husna mengangguk, dia sekarang tahu siapa yang menabraknya kemarin sampai membuat sikunya terluka.
"Gapapa, kak. Aku juga kurang hati-hati." jawab Husna.
"Terima kasih, kalau gitu aku duluan." ucap Ananta. Husna menghela napasnya pelan. Menatap punggung itu dari kejauhan.
****
"Abang gue nanyain lo,"
Riky menatap ke arah Rayhan yang sedang asyik bermain game diponselnya.
"Bang Akhyar?" Rayhan mengangguk.
"Kapan pulang?" tanya Riky.
Rayhan menatap Riky sebal, "nanti lah udah bel."
Riky menghela napasnya pelan, "maksud gue kapan Bang Akhyar pulang? "
Rayhan mendengus, salah dia saja yang bicara gak jelas. Kan jadi salah Rayhan menjawab.
"Kemarin, heran yang adiknya dia itu gue apa lo sih? Pulang-pulang bukannya tanyain kabar adiknya malah lo." sungut Rayhan. Terkadang, Rayhan sedikit sebal saat kedatangan Abang pertamanya itu. Bukan apa-apa, selalu saja menanyakan Riky baru kabarnya.
"Kan Bang Akhyar lihat kabar lo gimana, gue kan jarang ketemu sama dia." ucap Riky. Riky paham betul saat membahas Akhyar mood Rayhan suka anjlok.
"Gue heran sama abang gue, suka melanglang buana cari ilmu. Kasihan anak istri ditelantarin."
Riky melotot ke arah Rayhan saat mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Huss, gak boleh gitu. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim."
"Ya sekolah sambil kerja kek. Buat kasih nafkah istri sama anak di rumah,"
"Lho bukannya Bang Akhyar juga sambil ngajar di pondok ya." ucap Riky.
"Kok gue gak tahu! " teriak Rayhan. Dia yang adiknya saja gak tahu kalau abangnya itu jadi guru di pesantren.
"Makanya jangan lihat satu sisi aja. Lihat dari sisi yang berbeda." komentar Riky.
"Apa yang lo gak tahu, Ray? " Ananta bergabung dalam obrolan. Kebetulan tugasnya sekarang membeli camilan buat mereka bertiga.
Mereka bertiga sepakat untuk silih berganti mentraktir makanan. Ananta menyodorkan ketiga botol kopi dingin. Kebetulan saja, mereka mempunyai kesukaan yang sama yaitu kopi.
"Dia gak tahu Abangnya ngajar di pondok. Dia kira Abangnya cuma ngaji aja di sana. Kasihan katanya istri dan anak gak dinafkahi."
"Heh gak gitu, ya. " selak Rayhan, Riky hanya mendengus melihat gengsi anak itu.
"Lagian aku juga pernah baca hadist, Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Bener gak Ky? " tanya Ananta.
"Iya,"
"Terus gimana orang yang sibuk dengan menuntut ilmu akhirat. Kan ada kewajibannya juga mereka si dunia?" tanya Rayhan.
"Allah berfirman dalam surat Al-Qasas ayat 77:
^^^Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."^^^
Riky menatap kedua temannya itu.
"Direksi ayat di sini. Carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadamu, artinya,
Beribadahlah kita untuk mengumpulkan pahala untuk diakhirat dengan segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita."
"Apa sih yang tidak kita syukuri di dunia ini. Rizki di kasih, nafas saja gratis. Lalu semua potensi yang Allah berikan kepada kita itu digunakan untuk beribadah dengan sebaik- baiknya. bayangkan saja, kita hidup di dunia itu untuk mengumpulkan bekal kita menuju kehidupan akhirat yang panjang.
Bukannya Allah menciptakan kita hanya untuk beribadah kepadanya?
Az-Zariyat ayat 56
^^^وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ^^^
^^^Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.^^^
Jadi, jadikan segala aktivitas di dunia dan potensi yang Allah berikan itu hanya untuk beribadah kepadaNya. Yang tiada Illah kecuali Allah. Niatkan seperti itu, Insya Allah diberi kemudahan oleh Allah."
Ananta dan Rayhan kompak mengangguk mengerti. Betapa banyak waktu yang disia-siakan sedangkan kita hanya mencari amal di dunia saja.
"Kembali ke direksi ayat tadi. Dan janganlah kamu lupa bagianmu di dunia. Artinya, janganlah kamu lupa berarti sebagian kecil dari akhirat. Urusan dunia itu lebih kecil dari urusan akhirat kita."
"Bagaimana cara kita bersyukur dengan benar selain memanfaatkan potensi yang Allah berikan dengan baik?" tanya Ananta.
"Bersyukur yang benar adalah dengan beribadah yang sebaik-baiknya."
Riky menatap Rayhan dengan lamat, "dan Ray, lo janga khawatir tentang rizki saat seseorang itu lebih mengutamakan kewajibannya mencari ilmu akhirat."
"Disebutkan kisah, bahwa ulama besar Hatim Al-'Ashom meminta ijin untuk pergi menuntut ilmu kepada istri dan kesepuluh anaknya. Tentu saja istri dan anak-anaknya keberatan. Karena siapa yang akan memberi makan mereka? Tetapi salah seorang dari putri mereka itu berkata, " biarkan beliau pergi, beliau menyerahkan kita kepada Dzat yang Maha hidup, Maha memberi Rizki, Tidak pernah Mati."
Hatim pun pergi, menjelang malam mereka semuapun merasakan kelaparan tidak ada makanan yang dapat dimakan. Semuanya memandang protes pada putri yang mendorong kepergian Ayahnya itu. Lalu sang putri itu kembali meyakinkan, "Beliau menyerahkan kita kepada Dzat yang Maha Hidup, Maha memberi rizki, tidak pernah mati."
Tak lama pintu rumah pun terketuk, saat membuka pintu mereka melihat banyaknya penunggang kuda. Salah satu dari mereka(penunggang kuda) bertanya
"Adakah air di rumah kalian? "
Para penghuni rumah pun menjawab, "Ya, kami memang tidak punya apa-apa. Kecuali, Air."
Air pun dihidangkan untuk melegakan dahaga mereka. Kemudian si penunggang kuda itu bertanya,
"Rumah siapakah ini? " maka para penghuni rumah pun menjawab
"Hatim Al- Ashom, "
"Hatim, Ulama besar kaum muslimin?" si penunggang kuda pun terkejut.
Kemudian, si penunggang kuda itu melemparkan kantong berisi uang ke depan pintu rumah. Beliau berkata,
"Barang siapa yang mencintai saya. Maka lakukan seperti yang saya lakukan, "
Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong berisi uang mereka. Sampai pintu rumah sulit tertutup karena banyaknya kantong. Lalu, para penunggang kuda itu pun pergi.
Kemudian putri yang mendorong ayahya untuk pergi itu berkata sambil menangis,
"Jika satu pandangan Makhluk bisa mencukupi kita, Maka bagaimana jika yang memandang kita adalah Al-Khaliq?"
"Terima kasih, Nak. Engkau telah menyengat kami yang dominasi kegelisahan hanya untuk urusan dunia. Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Razaq hingga lupa jaminan-Nya." ucap Sang Ibu. "
Riky mengakhiri ceritanya, "Janganlah kita khawatir sebab Rizki sudah Allah cukupkan untuk kita. Gak ada istilahnya susah senang. Hanya saja mereka saja yang merasakan tak cukup atas apa yang Allah berikan. Bukannya serakah, kan? Selalu saja merasa tidak cukup?"
"Terkadang, gue suka sedih yang jadi prioritas ayah sama Bunda cuma kerjaan kerjaan terus. Dari kecil adik gue gak pernah diasuh sama mereka. Malah tetangga yang seperti orang tua." lirih Ananta.
"Ky, tadi kayaknya pemimpin kuda itu deh, sampai yang lainnya begitu mencintai dia. Siapa dia? " tanya Rayhan penasaran.
"Oh, namanya Abu Ja'far Al Manshur, Amirul mukminin." jawab Riky.
"Ky..."
"Apa? "
"Gue udah mantap buat masuk islam,"
"Heh?! " Riky dan Rayha melongo kanget. Kemudian keduanya segera mengucapkan hamdallah.
"Nanti gue kabarin dulu murabbi di sana. Beneran lo udah siap?" tanya Riky.
"Siap," jawab Ananta tegas. Dia akan berbicara pada keluarganya. Biarlah kebencian yang dia dapat. Karena dia sudah menemukan apa yang bisa membuat hatinya tentram.