
...Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok, Mataram....
Kaki panjangnya menyusuri kepadatan Bandara. Wajah blasterannya tampak tampan kala diterpa cahaya senja. Rambut kecoklatannya berkibar pelan karena angin. Sudah mulai masuk bulan september, artinya musim penghujan akan segera melanda Indonesia.
Netra kehijauannnya menatap sekeliling. Sekedar memastikan kehadirannya ditunggu oleh seseorang. Tak ingin berangan lebih, segera saja dia menghentikan taksi.
"Where do you want to go, sir?"
"Caffe terdekat saja pak."
"Bule pinter berbahasa Indonesia,"
Supir itu berdecak kagum, pasalnya pemuda di belakangnya ini menggunakan bahasa Indonesia bukan dengan logat yang aneh seperti turis lainnya. Sepertinya Sang pemuda cukup fasih dalam berbasa Indonesia.
"Turis, dek?"
"Bisa dibilang begitu, Pak."
"Cukup fasih dalam berbahasa," Komentarnya pelan. Ananta hanya terkekeh pelan sambil mengangguk.
Ananta menatap sekitar jalan. Mataram, tujuan keluarganya menetap sekarang. Kakek dan nenek dari pihak Ayah memang asli orang Indonesia. Sebelumnya mereka tinggal di Paris. Tapi kini keluarganya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Kakak perempuannya juga memiliki tugas di sini. Di salah satu rumah sakit besar di Mataram sebagai salah satu Dokter bedah.
"Pemandangannya asri ya pak,"
"Kalau Bapak bandingkan sama zaman dulu, sekarang sudah tak asri lagi, dek."
Ananta hanya mengangguk pelan. Masa kecilnya memang dihabiskan di Paris. Tapi keluarganya sesekali datang ke Indonesia untuk menjenguk kakek dan nenek dari pihak Ayah. Maka dari itu Ananta cukup fasih dalam berbahasa.
A
llahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu Allahu Ila Hailallah
~~
Ananta menyentuh dadanya. Selalu seperti ini setiap kaki mendengar lantunan ayat suci kitab orang Muslim dan mendengar suara Adzan. Hatinya menjadi tenang. Degup jantungnya bertalu-talu. Tapi bukan sakit, lebih merasa nyaman. Hal yang selalu ingin dia dapatkan setiap saat.
"Kenapa, Pak? "
Ananta melirik Pak supir yang terlihat gugup. Sang supir melirik spion dengan ragu.
"Boleh kita mampir dulu ke mesjid terdekat. Bapak mau sholat dulu."
"Boleh dong Pak. Siapa yang ngelarang mau ibadah ini."
Si supir mengangguk, menjalankan mobilnya menuju mesjid di ujung jalan. Sedangkan Ananta terbungkam, mengunci dirinya dalam pikiran.
"Ayo Dek, sekalian berjama'ah"
Ananta keluar dari dalam mobil mengikuti Sang Sopir.
"Bapak duluan saja. Saya tidak sholat,"
Mata Sang supir melebar. Namun kemudian wajahnya kembali biasa. Mengangguk paham. Beliau ijin bergegas menuju mesjid.
Ananta hanya menatapnya sambil tersenyum. Menyentuh dadanya, "di mana ketenangan itu," Bisiknya lirih.
_________
Sekitar 2 jam perjalanan karena macet karena menjelang jam pulang kerja. Akhirnya, Ananta sampai di rumah. Ayah, Bunda, Kakak dan adiknya memang berangkat lebih dulu ke Indonesia. Ananta berangkat belakangan karena ada urusan sekolah yang harus dia bereskan mengenai perpindahan sekolah. Sekarang dia duduk di bangku kelas 2 SMA.
Ananta mendorong pintu pelan. Langkahnya memasuki rumah yang sepi. Ayah dan Bundanya sudah pasti sibuk bekerja. Kakak berada di Rumah sakit dan adiknya kecilnya pasti sedang asik belanja.
"Den, Bibi gak dengar suara Aden tadi."
Ananta menatap sembari tersenyum kecil pada pembantunya -- mungkin, pikirnya.
"Bibi tahu siapa saya? "
"Tahu atuh Den, Wong di rumah ada foto Aden sama keluarga."
Ananta mengangguk
"Bibi orang Jawa ya? "
"Panggil saja Bibi Inem."
Ananta mengangguk antusias.
"Boleh dong kapan kapan saya belajar bahasa Jawa."
"Boleh dong Den, Insya Allah nanti bibi ajarkan. Ehh-- sampai lupa. Aden mau makan apa mau istirahat dulu."
"Iya, tuan sama Nyonya ada kerjaan. Kalau Nona Didi ada di rumah sakit. Nona chella keluar sama temannya."
"Chella uda punya teman ya Bi,"
"Iya, kayaknya teman sekolahnya Den."
Ananta mengangguk, kemudian ijin pamit untuk ke kamarnya. Tubuhnya butuh istirahat.
"Bibi jangan dibangunin ya."
Teriaknya di atas tangga. Bukannya apa. Ananta kalo tidur dibangunkan ujungnya pusing. Lebih baik dia terbangun dengan sendirinya. Aneh memang.
Setelah sampai di kamarnya. Ananta menaruh kopernya di pojok kamar. Tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mencuci muka. Kemudian dia keluar dan langsung berbaring di kasur. Tak butuh lama sampai ia kemudian terlelap.
_______________
وَاذۡكُرۡ فِى الۡـكِتٰبِ مَرۡيَمَۘ اِذِ انْتَبَذَتۡ مِنۡ اَهۡلِهَا مَكَانًا شَرۡقِيًّا
Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur'an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),
فَاتَّخَذَتۡ مِنۡ دُوۡنِهِمۡ حِجَابًا ۖفَاَرۡسَلۡنَاۤ اِلَيۡهَا رُوۡحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.
قَالَتۡ اِنِّىۡۤ اَعُوۡذُ بِالرَّحۡمٰنِ مِنۡكَ اِنۡ كُنۡتَ تَقِيًّا
Dia (Maryam) berkata, "Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa."
قَالَ اِنَّمَاۤ اَنَا رَسُوۡلُ رَبِّكِ ۖ لِاَهَبَ لَـكِ غُلٰمًا زَكِيًّا
Dia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci."
قَالَتۡ اَنّٰى يَكُوۡنُ لِىۡ غُلٰمٌ وَّلَمۡ يَمۡسَسۡنِىۡ بَشَرٌ وَّلَمۡ اَكُ بَغِيًّا
Dia (Maryam) berkata, "Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!"
صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ
Husna menutup Al-Qur'annya setelah menciumnya penuh khidmat. Agenda setiap harinya ialah membaca surah Maryam. Surah favoritnya. Dia ingin sekali seperti halnya Bunda Maryam yang selalu menjaga ketaatannya kepada Sang Khaliq.
Merasakan kecupan di pucuk kepalanya membuat Husna menoleh. Menatap sayang kepada Sang Ibu yang di balas senyuman meneduhkannya.
"Sudah makan obatnya, sayang? "
"Alhamdulilllah, sudah Mah."
"Alhamdulilllah, "
Dalam hatinya Husna ingin sekali menyerah menelan beberapa pil yang lumayan besar membuatnya cukup lelah selama ini. Tapi demi ingin melihat banyaknya senyuman di wajah orang tuanya. Husna bertekad untuk berjuang sekali lagi. Setidaknya membuat orang tuanya bangga sebelum raganya ini dikubur tanah. Memang tidak ada yang tahu kapan ajal datang. Tapi vonis dokter membuatnya pesimis.
Ingat sayang, boleh saja dokter memutuskan tapi hakim yang sebenarnya ialah Allahu semata. Mamah yakin kalo putri mamah ini kuat akan terus bertahan bersama mamah dan papah.
Husna teringat pesan mamahnya itu. Wanita yang melahirkannya selalu memberikan dorongan motivasi untuknya. Selalu tersenyum untuknya meskipun dia tahu di sepertiga malam-Nya mamahnya itu beruarai air mata, memohon kepada Sang Khaliq untuk kesembuhannya.
Sedangkan papahnya selalu tersenyum tak lelah bekerja untuk biaya pengobatannya yang memang mahal. Tapi beliau tetap menjalaninya dengan ikhlas.
Jangan khawatirkan soal papah, Nak. Kamu sehat dan selalu bersama kita itu sudah membuat papah bahagia.
Rasanya Husna ingin sekali menangis meraung-raung. Dia bersyukur lahir dari orang tua yang sangat menyayanginya. Demi mereka, dia harus bertahan sekali lagi. Demi senyuman orang tuanya.
...________...