
Happy reading
****
Ananta berjalan di selasar rumah sakit yang sedikit lengang hari ini. Sebelum berencana untuk menjenguk Husna. Dia akan bertemu dulu Didi untuk sekedar bertanya kabar.
Riky dan Rayhan tak jadi ikut. Ada beberapa urusan yang perlu mereka bereskan hari ini. Karena hari ini waktu Ananta luang. Dia berencana untuk menunaikan janjinya tempo hari.
"Nan! "
Didi berlari kecil ke arah adiknya, dia heran mendapati Ananta di sini.
"How's going on? "
"Bien, " Ananta memeluk sebentar Kakaknya.
"Ada urusan apa kamu di sini? " tanya Didi khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan adiknya.
"Aku ingin jenguk seseorang." jawab Ananta.
"Your friend? "
"Non, " Ananta menggeleng. Didi menatap curiga.
"Your girlfriend? "
"Halah tahulah! Bingung aku juga, "
Kalau teman, dia gak begitu banyak berinteraksi dengan Husna. Apalagi pacar? Dia bertemu saja karena insiden.
"Terserah, " Didi tak memilih melanjutkan topik. Dia membawa Ananta ke ruangannya. Sekedar berbicara santai.
"Bagaimana sekolah? "
"Baik-baik saja, "
"Besok bisa bertemu? Kita hangout bareng Dav. " ajak Didi.
Davino— pacar kakaknya selama 2 tahun ini.
"Aku kerja, "
"Hah! What— coba ulangi lagi? "
"Aku kerja, " Didi mengerjap kaget mendengar penuturan adiknya.
"Bwahahaha... Are you kidding me? "
Ananta menggeleng heran. Kenapa dengan kakaknya itu?
"Non. Kenapa sih heboh banget reaksinya,"
"Kamu dulu apa-apa minta sama kakak. Sekarang tiba-tiba kerja,"
"Sound Good bukan, sekarang aku bisa hasilin uang sendiri."
"Yeah.. You're amazing." Didi memberikan applause dengan nada datarnya.
Tok tok!
"Masuk! "
Seorang pria paruh baya nampak muncul di balik pintu. Ananta tersenyum sopan saat dia ingat beliau yang pernah bertemu dengannya dulu di depan ruangan Didi.
"Pak Wijaya, silakan duduk." Arifin Wijaya segera duduk di samping Ananta. "Kenalkan, dia adik saya yang pertama." ucap Didi.
"Assalamualaikum, Om. " Ananta mencium tangan Arifin dengan sopan. Arifin sedikit terkejut, sebelum kembali menguasai dirinya lagi.
"Saya masih ada urusan, saya tinggal dulu Pak."
Arifin mengangguk, Didi memeluk sebentar adiknya.
"Jadi harus ke mana aku nyari Husna? " bingung Ananta. Ananta melanjutkan langkah ke depan pelataran rumah sakit. Kenapa dia tidak tanya resepsionis saja dari tadi.
Lembayung sudah menghiasi sebagian langit. Sebagian pasien ada yang menikmati waktu di taman rumah sakit yang terlihat asri.
Dan seketika itu juga pandangan Ananta terpaku pada seorang gadis di atas kursi roda sedang menebar senyum
"Assalamualaikum.."
"Ehh.. " Husna berjengit kaget, "Wa'alaikumussalam."
"Maaf, baru bisa ketemu sekarang, "
Husna menyengit bingung, dia tidak sedekat itu dengan Ananta tapi kenapa pemuda ini seperti sangat merasa bersalah.
"It's okay, "
Ananta mengerjap bingung, keadaan canggung sia rasakan. Ananta sibuk memilih topik pembicaraan dengan gadis datar dihadapannya ini.
"Maaf gak bawa apa-apa juga,"
Husna menatap Ananta dengan bingung, "Aku sudah bilang tidak apa-apa. Lagi pula kita tidak sedekat itu sampai kamu merasa bersalah."
Ananta sedikit kaget mendengar balasan dari gadis di depannya. Ananta membalas dengan senyum kecilnya.
"Well kita memang tidak sedekat itu— bahkan, komunikasi kita bisa dihitung jari. Setidaknya aku menjalankan janjiku dulu ingin menjengukmu. " ucap Ananta.
"Tidak sampai seperti itu juga," komentar Husna.
Ananta mengangkat bahu acuh, "bukannya salah satu ciri orang munafik ialah ketika ia berjanji dia tidak menunaikan? "
"Yeah.. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, aku pergi. " ucap Husna.
"Mau kubantu? " tawar Ananta.
"Tidak, terima kasih. " Husna menjawab dengan cepat, beristighfar dalam hati saat merasakan jantungnya berdetak cepat. Oh ia harap ini karena penyakitnya bukan karena yang lain.
"Astagfirullah.. Jangan sampai Zina." Ananta segera mengalihkan pandangannya saat netranya nenangkap wajah ceria hangat Husna dari kejauhan.
"Butuh suplemen nasihat ini mah," gumam Ananta.
****
"Gue tebak lo pasti gagal pdkt-an! "
Ananta mendorong Rayhan secara spontan saat mendengar nada nyeleneh dari temannya itu.
"Heh! Enak aja lo bikin asumsi." Rayhan bersungut saat pantatnya terasa nyeri jatuh ke atas lantai akibat dorongan Ananta.
"Dasar lo! Badan kerempeng aja tenaganya subhanallah, "
"Alhamdulillah.." Ananta membalas Rayhan dengan cengirannya.
"Ngaku aja deh lo. Lo beneran suka,kan sama Husna? " selidik Rayhan.
"Ray kita aja baru ketemu dua kali gak ngobrol banyak juga. Gimana ceritanya jadi suka? " heran Ananta.
Pikiran Rayhan sudah melayang jauh ke mana.
"Halah gak usah pura-pura. buktinya lo sampai rela buat jengukin. " todong Rayhan.
"Gue salah ky kalau jenguk orang yang sakit? " tanya Ananta. Riky menggeplak pundak Rayhan cukup keras.
"Jangan di dengerin kalau anak ini ngomong."
"Heh! Lo pikir gue apaan dah? " sungut Riky.
"Husna sakit apa Nan? " tanya Riky.
Ananta menggeleng pelan dengan raut wajah yang polos.
"Astagfirullah.. Terus lo ngapain aja di sana. Jadi patung? " Seru Rayhan.
"Gimana mau ngobrol, respon dia aja jutek gitu. Jadi kesel gue." bela Ananta.
Ketiganya kini larut dalam tayangan televisi, sesekali Rayhan berseru gemas melihat adegan yang lucu. Mereka sedang menonton kartun naruto.
"Kok gue gak mudeng ya, " gumam Ananta.
"Lebih seru nonton Naruto dari seri pertamanya. Wajar aja lo gak mudeng." komentar Rayhan.
"Gimana kerjaan lo? "
"Baik-baik aja, " jawab Ananta. Ananta menatap jam di pergelangan tangannya. Raut wajahnya seketika berubah kaget, "—wait, gue telat! "
Rayhan sekali lagi mengaduh saat tangannya tak sengaja terinjak Ananta. Kebetulan posisi Rayhan sedang rebahan di karpet.
"Ananta hati-hati!"
"Sorry, gue telat nih. Gue cabut duluan ya! "
Ananta berbenah dengan cepat, memasukan dompet, baju ganti ke dalam tas ranselnya. Segera memakai jaket dan sepatunya dengan tergesa.
"Nan.. "
Ucapan Riky terhenti saat Ananta memberi salam.
"Wa'alaikumussalam.."
"Nanti juga dia bakal sadar sendiri, " ucap Rayhan. Riky mendelik saat Rayhan mengeluarkan tawa gelinya.
"Resiko punya wajah ganteng ya gini." Ananta mencoba tak peduli pada tatapan yang mengarah padanya sepanjang jalan. Dia berkaca di ponselnya dan tidak menemukan sesuatu yang aneh di wajahnya. Lalu apa yang membuat orang- orang terus menatapnya.
"Assalamualaikum, Bang sudah pulang? Maaf ya gue telat. " ucap Ananta. Ridwan menatap aneh pemuda di depannya. Alisnya mengerut mencoba menerka.
"Wa'alaikumussalam.. " jawabnya
"Nan, lo mau jadi model? " Ananta menatap bingung pada Ridwan.
"Kalau mau ada yang kontrak mau Bang. Lumayan uangnya. " jawab Ananta.
Ridwan mendecak, tangannya menarik jaket Ananta dari belakang seperti anak kucing.
"Gak punya kaca di rumah? "
Ananta melotot saat melihat rupa tubuhnya di cermin dapur. Cermin full body itu memantulkan bayangan Ananta dengan jelas.
"Astagfirullah, pantesan aja sepanjang jalan tadi pada ngeliatin sambil ketawa. " gumam Ananta.
Celana levisnya yang terbalik, dia ingat tadi. Karena kamar Riky yang agak gelap dia jadi kurang bisa melihat, sehingga memakai celana terbalik. Saat akan menggantinya lagi. Rayhan mengajaknya bicara sampai lupa pada niatnya.
Ananta meringgis, sudah pasti kedua temannya itu tahu kondisi dia. Celana dan jaket terbalik.
Model pakaian baru tahun ini, kah? Ananta membatin.
Ridwan berseru keras
"Cepat ganti baju Anan. Ada banyak pelanggan di luar! "
"Iya-iya, " Ananta bersungut, ingatkan dia untuk membalas pada kedua sahabatnya itu. Akibat diamnya Mereka. Ananta jadi malu seperti ini.
****
Hai, maaf ya baru bisa up lagi. Banyak kegiatan di real life sekedar buka hp saja paling cuma sebentar.
Makasih yang udah nunggu ya. Happy reading. Please give me vote and coment.
Share juga dong ceritanya, semoga temanya ada yang berkenan baca.
La plus tard 🙋