
Ananta membenarkan tali tasnya yang sedikit melorot, pandangannya menatap sekitar dengan antusias. Akhirnya dia bisa kembali sekolah lagi.
Langkahnya terkesan santai melewati beberapa murid-murid yang menatap penasaran kepadanya.
Wihh, ganteng ya. Mukanya bule.
Kulitnya putih banget gue jadi iri.
Siapa tuh?
Ananta terkekeh pelan saat mendengar kata bule. Ananta dulu penasaran dengan arti kata bule. Sampai seseorang mengartikan dengan sebutan beautiful, Ananta sampai terkejut saat mendengar arti kata itu. Berarti dia cantik gitu? Dia kan laki-laki ya harus tampan dong! Ternyata usut punya usut orang yang mengartikan beautiful itu sama sekali gak ngerti dengan bahasa inggris. Maklum saja jawabannya melenceng karena pada saat itu Ananta bertanya menggunakan bahasa indonesia.
"Eh maaf," Ananta merasa bersalah saat cowok dihadapannya sedikit terkejut akibat tepukannya.
Cowok beralis tebal itu menatap Ananta bingung.
"Ruang kepala sekola di mana ya? " tanya Ananta.
"Ayo ikutin gue aja," jawab cowok bertubuh tinggi itu. Ananta berjalan di samping cowok itu dengan santai sesekali matanya menatap sekitar.
"Nama lo siapa? "
Cowok berkaca mata itu menoleh acuh pada Ananta, "Riky," jawabnya.
Ananta mengangguk paham. Ayahnya memang memasukan dia ke sekolah Negeri favorit bukan sekolah khusus khatolik. Dia bisa melihat siswi-siswi di sini ada yang mengenakan jilbab putih untuk menutupi kepala.
"Udah sampe, lo tinggal masuk aja."
Ananta tersadar dari pikirannya sebelum mengucapkan terima kasih.Riky sudah terlebih dahulu meninggalkan Ananta di depan ruang kepala sekolah. Ananta dibuat heran dengan tingkahnya.
***
"Ky, gue pinjem catatan biologi lo dong, " pinta Rayhan memelas.
"Punya lo ke mana? " tanya Riky. Tanganya dengan lincah menggores sketsa di bukunya.
"Hehehe kemarin belum nulis," cengir Rayhan. Riky mendengus tangannya masih sibuk dengan membuat goresan tak menghiraukan Rayhan yang terus merengek.
"Buat apa lo punya tangan sehat kalo gak ada manfaatnya." cibir Riky.
"Ada dong! Bisa di pake makan, minum, gali tanah, pake baju, cebok—"
"Gandengan sama cewek, jawil hidung cewek, pelukan sama cewek itu gunanya." sela Riky. Rayhan merengut saat melihat Riky akan memberinya nasihat lagi.
"Kalo buat dosa aja semangat, giliran dipake buat kebaikan diri sendiri aja malesnya minta ampun." selak Riky.
"Ya Maaf Kakanda, ananda tidak akan mengulanginya lagi."
Tanpa jawaban Riky langsung memberikan buku catatannya pada Rayhan. Dia terlalu malas untuk berhadapan dengan sikap dramatisnya Rayhan.
"Assalamualaikum anak-anak, "
"Wa'alaikumussalam, Bu! "
"Kalian kedatangan teman baru. Nak, silakan perkenalkan diri kamu."
"Hallo, nama gue Ananta. Gue pindahan dari Paris. Mohon kerja samanya." Ananta dengan senyum tipisnya membuat heboh murid perempuan di kelas itu.
"Sudah-sudah! Ananta kamu boleh duduk kita lanjutkan pelajaran yang minggu lalu."
"Ta! Kantin yuk! " ajak Rayhan. Ananta mengangguk, langkahnya dipercepat mengejar Rayhan dan Riky yang sudah berjalan di depannya.
"Mang Bakso spesial ya! " teriak Rayhan.
"Berisik! Kebiasaan lo. Kenapa gak ke sana aja aih sekalian pesen." ucap Riky.
"Males," mata Rayhan menatap antusias Ananta yang duduk di depannya.
"Kok lo bisa ganteng banget sih Ta." kagum Rayhan. Ananta dan Riky saling melirik. Keduanya kontan bergidik ngeri bersamaan.
"Yaelah reaksi lo berdua gitu amat. Gue hanya mengagumi ciptaan Allah aja." bela Rayhan.
"Kali aja lo belok gitu, jangan mau nanti nasibnya sama kayak kaum shodom."
"Gak ya! Gue gak bakal nyalahin kodrat gue sebagai cowok."
"Hal itu di sini sangat tabu ya," gumam Ananta.
"Iyalah, agama saja melarang. Orang-orang yang gak punya akal yang menyalurkan nafsu pada jenisnya sendiri."
"Btw, lo muslim kan? " tanya Rayhan.
"Belum," jawab Ananta. Matanya menerawang ke luar kantin. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai asumsi. Sejak dulu, hatinya selalu tentram saat mendengar suara adzan apalagi suara lantunan ayat suci orang islam.
Tapi hatinya masih ada yang mengganjal. Saat dia mencari tahu tentang agama islam. Selalu saja ada yang menghalangi.
"Semoga lo dapet hidayah, Nan." ucap Riky pelan.
"Kalo gue mau kenal tentang islam. Bisa lo ajarin Ky?" tanya Ananta.
"Alhamdulillah.. Nanti gue ajak lo ke kajian. Gue kenalin ke ustadz di sana. Semoga aja dapat bimbing lo menuju kebenaran." tanggap Riky bahagia.
Seseorang yang ingin kenal islam betapa bahagia orang yang mendengarnya. Allah membuka pintu hidayah bagi mereka. Maka kewajiban seorang muslim yang lain adalah merangkulnya membimbing mereka yang ingin mengenal islam. Dengan kehendak Allah semoga mereka menggapai ridho islam dan menjadi saudara dalam berbuat kebaikan.
"Makasih ya. Gue pikir dateng ke sini gak bakal ada temen tulus kayak kalian. Walaupun kita beda paham. Tapi kalian masih bisa menerima gue."
" Siapa bilang kita tulus?" ejek Rayhan.
Riky kontan mendengus melihat gelagat temannya itu. Dia tahu pasti ujung-ujungnya–
"Lo harus traktir kita di hari pertama lo kenal kita." ucap Rayhan semangat.
Ananta yang mendengar bernapas lega. Dia kira Rayhan serius, ternyata hanya bercanda belaka. Mulai sekarang dia harus mencoba adaptasi dengan mereka. Rayhan si usil dan Riky si kaku. Baiklah semoga awal jumpa ini menjadi akhir yang bahagia.
cerita ini juga ada di ******* ya. Jadi kalau kalian menemukan cerita ini di aps ******* itu juga punyaku. Jadi bukan plagiarisme atau apapun itu.