I Found It

I Found It
Lima belas



...Assalamualaikum..  Uda lama ya gak ketemu sama Anan. Gimana kabarnya. Maafnya baru bisa up lagi, happy reading....


"Jaga baik-baik adikmu. Meskipun besok libur antarkan Chela pagi-pagi ke rumah."


"Iya Kak. Aku ngerti." jawab Ananta paham.  Kakak perempuannya itu jadi cerewet mengenai masalah Chela. Meskipun keduanya sering tak akur. Tapi Ananta tahu kalau kakaknya itu begitu menyayangi adik perempuan satu-satunya.


Didi menatap dari kejauhan Chela yang tertawa bersama kedua teman Ananta, entah hal apa yang mereka bahas sampai adiknya itu tertawa lepas seperti itu. Di rumah saja adiknya itu hanya senang di dalam kamar, lebih senang dengan rumus-rumus. Apalagi kalau bersamanya adiknya itu pasti memasang wajah cemberut terus.


"Anan pamit, sampaikan salam sama Bunda ya." ucap Ananta. Didi mengangguk melihat keempat remaja itu masuk ke dalam mobil.


Chela melongokan kepalanya ke luar jendela, menatap Didi dengan antusias dan melambaikan tangan ke arah Kakak perempuannya itu.


"Dahhh Kak!"


Didi hanya menggeleng melihat keantusiasan adik kecilnya itu.


****


"MAMIII! " Dahlia beristighfar dalam hati saat merasa terkejut mendengar teriakan itu. Beliau segera menoleh ke arah sumber suara.


"Aaahhh! Mami baju Rayhan jadi basah." pekik Rayhan. Dahlia segera melempar selang yang tadi dia gunankan untuk menyiram tanamannya.


"Siram terus Mam. Sekalian Rayhan mandi." celetuk Ananta geli.


"Aduh, maafin Mami ya Ray. Kamu sih bikin kaget." bela Dahlia.


Beliau meringgis melihat seragam putih itu terlihat transparan akibat terlalu basah. Kaos hitam Rayhan di balik seragam pun tercetak jelas.


"Ayo masuk. Kamu ganti baju dulu. Masuk angin nanti." ujar Dahlia.


"Assalamualaikum Mami cantik."


"Wa'alaikumussalam Ananta ganteng." balas Dahlia. Ananta sudah cengengesan sendiri mendengar pujian dari Dahlia.


Riky mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan lembut.


"Anak Mami yang ini gimana sekolahnya? " tanya Dahlia. Beliau mengusap sayang kepala anak tunggalnya itu.


"Biasa aja Mam." jawab Riky.


"Mami gak bosen tanya sekolah sama Riky. Dia pasti selalu jawab biasa aja." gerutu Rayhan. Dia sudah melepaskan seragam basahnya. Dan kaos hitam yang dia pakai pun sedikit basah mrmbuatnya risih.


"Anak Mami ini gak macam-macam ya Ray. Gak kayak kamu yang selalu aneh-aneh." kelakar Dahlia.


Rayhan yang disebut begitu tambah cemberut. Dahlia menatap seorang gadis remaja di samping Ananta dengan penasaran.


"Heh! Sudah berani pacaran ya! " Dahlia memelintir kuping Ananta pelan. Walaupun tak sakit tetap saja Ananta berpura-pura mengaduh sakit.


"Ini adik aku Mami, bukan pacar!" jelas Ananta.


Dahlia berteriak antusias dan langsung merengkuh tubuh Chela. Menggoyangkan tubuhnya ke kanan ke kiri antusias.


"Aduh tante saya pusing."


"Ehh maaf-maaf. Kamu lucu banget sih. Ini pipinya— Dahlia mencubit gemas pipi berisi Chela.


"— imut,"


"Aww, sakit tante."  keluh Chela.


Seorang pria paruh baya yang masih terlihat tegap keluar terpogoh-pogoh dari dalam rumah.


"Kamu kenapa sayang? " tanyanya sambil menatap Dahlia.


"Apaan sih Mas. Aku mau ajak boneka baru aku. Ayo sayang!" tanpa menatap suaminya itu Dahlia bergegas masuk ke rumah bersama Chela di sampingnya.


"Mamimu kenapa sih Nak, tadi teriak keras gitu? " Riky menggeleng tak tahu. Karena memang dia gak tahu.


"Lho Rayhan bajumu basah itu, ayo ganti nanti masuk angin." titah Samudera.


"Iya Om." keempatnya masuk ke rumah bersama-sama.


Keempat lelaki itu hanya memandang heran kearah dua perempuan beda usia itu. Ananta tahu kalau Sang Adik itu begitu kaku tapi saat melihat dia mengobrol seru dengan Dahlia membuat Ananta menggeleng kepala heran.


"Adik kamu bule banget Nan." ujar Samudera.


Chela memang seperti terlihat orang kesasar di sini. Rambut kecoklatannya terlihat lebih gelap dari Ananta. Wajahnya pun menurun dari nenek pihak Bundanya yang memang asli orang prancis. Matanya biru terlihat kehijauan saat terkena sinar begitu cemerlang dan kulit kecokelatannya menurun dari Sang Ayah.


"Bule tulen dia. Masa ditawari seblak malah mau muntah," sela Rayhan. Setelah meminjam baju Riky untuk mengganti bajunya yang basah tadi. Rayhan langsung duduk nyaman di sofa sambil mengemil camilan sehat yang selalu di sediakan Dahlia untuk keluarganya.


Ananta terkekeh mengenang saat mereka ke pasar malam waktu itu. Rayhan yang memaksa menyuapi Chela seblak katanya sebagai percobaan eh malah adiknya itu muntah. Dia sampai merasa tidak enak kepada penjualnya waktu itu.


"Kalian akan menginap?"


"Iya Om. Kebetulan besok libur kita main game sepuasnya." ucap Rayhan antusias.


"Game terus! Nilai ulangan pada merah semua." ujar Dahlia.


"Aku gak ya Mam," bela Riky.


"Ada waktunya kan Mam. Belajar sekian buat refresing juga ada waktunya." bela Rayhan.


"Ada aja jawaban kamu Ray."


"Chela mau ikut ke dapur gak? Mami mau masak makan malam." ajak Dahlia. Chela menggeleng pelan. Dia tidak mengerti hal berbau dapur sama sekali.


"Anak itu mah males Mam kalau diajak ke dapur." ujar Ananta.


"Tidak seperti itu ya. Chela hanya bingung saja melakukan apa di dapur nanti." elak Chela.


"Nanti kamu bakar dapur Chel di sana." ujar Rayhan.


"Jangan dengerin Rayhan. Ya sudah, kamu di sini saja ya."


Dengan langkah semangat Dahlia menuju dapur. Dia akan memasak makanan enak untuk teman-teman anaknya.


"Chela kelas berapa?"


"Junior high school, di sini namanya apa SMN, SMS or—


Gelak tawa Rayhan langsung bersuara saat mendengar nada polos adik temannya itu.


"SMP Chel, sekolah menengah pertama." ucap Riky.


"Nah itu,"


"Sistem di sana sama di sini beda, kan Om. Awalnya Chela mau dimasukan ke sekolah internasional di sini. Tapi dianya nolak malah pilih jadwal les yang padat." ucap Ananta.


"Gimana sama public speaking kamu lancar?"


"Saya mengerti Om. Tapi mereka selalu ejek saya kaku kayak robot." curhat Chela.


Meskipun sudah ada sebulan dia bersekolah di sini. Tetap saja gaya bicaranya belum seluwes pribumi.


"Jangan di dengarkan omongan orang yang jelek itu," saran Samudera. Samudera menyadari pasti Chela merasa asing di sekolah barunya.


"Siapa yang berani ejek kamu sini abang Rayhan yang kasih pelajaran." seru Rayhan.


"Nilai pelajaran Abang saja masih kurang ingin memberikan orang lain pelajaran?" celetuk Chela polos.


Ananta tertawa puas melihat raut syok Rayhan di sampingnya. Samudera terkekeh pelan sambil menepuk bahu Rayhan menguatkan. Riky hanya menatap Chela gemas.


"Seterah lo juminten," kesal Rayhan.


"Kata yang benar terserah Abang." koreksi Chela.


"Iya terserah gue Chel."


****


Husna mencoba membuka matanya yang entah kenapa begitu terasa berat. Mendengar pintu terbuka dia tetap dalam keadaan terpejam, napasnya dia atur seteratur mungkin.


"Mama belum rela kalau Husna akan pergi secepat itu Pa."


"Sabar sayang. Semuanya kembali kepada Maha Kuasa. Allah lah yang mengaturnya."


"Kita harus cepat cepat menemukan donor yang cocok. Aku masih ingin melihat senyum putriku."


"Iya Insya Allah secepatnya. Dokter Didi juga sedang berusaha mencari sayang."


"Serahkan semuanya pada Allah. Tawakkal kita pada Allah," Arifin menarik istrinya ke dalam dekapannya. Berusaha menenangkan Sang belahan jiwanya.


Dalam diam Husna meneteskan air matanya perlahan. Hatinya tak sanggup mendengar lirihan tangis kedua orangtuanya.


Ya Allah, sudikah Engkau memberi batas kepadaku di dunia ini. Segala ketetapan sudah kau takdirkan. Tabahkan hati hambamu ini.


****