I Found It

I Found It
Sebelas



"Rian lo bagian bawa sawi itu. Tomatnya jangan lupa! "


"Iya-iya,"


Ketujuh pemuda itu saling membantu. Riky dan Rayhan sudah akrab dengan keempat penghuni kost lainnya. Umur mereka juga tidak jauh membuat obrolan mereka nyambung.


"Ky, Cabenya udah semua?"


"Udah Bang Yon. Sekalian sama bawangnya nih." jawab Riky.


"Sip! " Dion membantu Riky membawa keresek berisi cabai dan bawang putih dan merah.


"Istirahat dulu di sini. Semua panennya simpan aja dulu di gudang." titah Ibu kost—Bude Las.


Semuanya menuruti perintah Ibu orang jawa itu. Setelah meletakan semua sayur mayur dan buah-buahan dengan rapih di gudang. Mereka beranjak menuju saung di dekat kolam ikan.


"Wih pisang goreng," ucap Rayhan.


"Ayo di makan. Kebetulan kemarin pulangnya sudah diambil duluan jadi bisa langsung dimasak." terang Bude Las.


"Makasih Bude," koor mereka.


"Bude tinggal dulu ya."


"Es kelapa kayaknya enak ya," gumam Manu.


"Apalagi pake sirup Bang," tambah Rayhan. Dicuaca terik begini es memang menjadi pilihan utama.


"Siapa yang mau manjat pohonnya. Ada yang matang tuh," tunjuk Reza ke pohon kelapa yang terletak di samping kebun dekat dengan jalan.


"Bang Dion tuh," tunjuk Riky.


"Apaan dah jadi gue,"


"Abang, kan suka olahraga panjat tebing. Masa panjat pohon aja gak bisa."


Dion menunjuk Rian dengan dagunya.


"Tuh, Dia suka naik gunung, masa naik pohon aja gak bisa."


"Hadehh, " Rayhan menggeleng melihatnya. Kenapa jadi saling tunjuk.


"Ayo lah, sambil ngambil janurnya. Kali aja ada bisa cepet nikah," ucap Manu konyol.


"Mana ada teorinya kayak gitu Manu," sela Dion.


"Lah, kan tadi gue yang bilang. Berarti ada." ucap manu kekeh.


Reza mengikuti Manu ke arah pohon kelapa itu. Berjaga-jaga di bawah takut tiba-tiba ada yang jatuh. Reza berharap sih yang jatuh kelapa bukan Manunya.


"Temennya es kelapa apa ya? "


"Makanan mulu lo Ray! " sela Riky. Rayhan mendengus kemudian wajahnya berbinar saat mengingat sesuatu.


"Es krim durian enak deh Bang,"


"Istighfar lo Ray," ucap Rian.


"Kemarin juga gue cobain enak rasanya. Meskipun baunya menyengat." ucap Ananta.


"Lo jajan gak bilang-bilang sama gue." protes Rayhan.


"Jangan mau Nan. Habis duit lo kalo jajan sama tuh bocah." Rayhan mendelik ke arah Dion.


"Gue mau ke belakang dulu," pamit Riky. Kandung kemihnya sudah penuh, Riky tidak bisa menahannya lagi.


"Ayoklah kita nyari durian," ajak Ananta.


"Itu pohonnya ada Nan. Gak usah nyari." ucap Rian.


Ananta beranjak dari tempat duduknya. Benar juga ada pohon durian di pojok kebun.


Reza dan Manu kembali dengan membawa tiga kelapa muda. Peluh nampak di dahi Reza dan Manu.


"Nih kelapanya. Beli susu sama es batu sana. Kalau sirup punya gue masih ada kayaknya." ucap Reza.


"Kapan lo punya sirup? " tanya Rian heran. Pasalnya temannya itu jangankan membeli bahan dapur. Membeli peralatan mandi saja malasnya kebangetan. Iya, yang suka nyuri sabun itu Reza.


"Dari lebaran, " cengir Reza.


"Astagfirullah, udah lama bener masih ada. Dua bulan lagi juga udah puasa."


"Yang penting belum kadaluarsa."


Rayhan melahap gorengan terkahir dengan semangat membuat Dion dan Rian menggeleng kepala takjub.


"Perasaan habisnya sama Rayhan deh. Gue cuma makan dua potong." ucap Dion.


"Apalagi gue cuma satu," tambah Rian.


"Enak aja Ananta tuh yang habisin." sela Rayhan. Dia makan yang sisa bukan berarti dia yang makan banyak ya.


"Anan kemana? " tanya Dion bingung. Sia baru sadar bule itu hilang. Gak mungkinkan ikut sama Riky ke toilet.


"Nan! " panggil Rian.


"Lah ada suara gak ada orangnya."


"Kayak dari sana, deh! " Manu menunjuk ke arah pohon durian. Dion, Rian dan Rayhan saling berpandangan. Lalu kelima cowok itu segera bergegas ke sana.


"What the—"


"Mata gue rabun ini mah,"


"Pengen ketawa gue,"


"Gusti, punya temen gitu amat,"


"Dasar bule nyasar."


Kelimanya melihat dari bawah ke arah Ananta yang sedang memanjat pohon durian. Iya memanjat!


Kelimanya saling berpandangan lantas uraian tawa terdengar begitu menggelegar di seluas kebun itu.


"Aduh gue pengen ngompol." Manu merapatkan kakinya. Badannya sampai berguling di tanah. Dia begitu kuat menahan kandung kemihnya.


"Astagfirullah Ananta turun lo!" titah Dion. Kelimanya masih menyisakan derai tawa sesekali. Sedangkan Manu sudah lari tunggang lalang ke toilet.


"Lo ngapain di atas? " tanya Rian heran.


"Ngambil durian," jawab Ananta lugas. Dia heran kenapa semua temannya tertawa begitu keras.


"Yang nyuruh lo manjat pohon buat ngambil durian siapa? " tanya Dion. Dia masih berusaha begitu keras menahan tawanya.


"Kata Abang tadi gak usah beli! Ada pohonnya. Yaudah gue manjat."


"Aduh polosnya temen gue, " Rayhan kembali tertawa.


"Ada apaan sih, Bang Manu sampai kocar kacir masuk toilet?" tanya Riky. Saat baru saja tadi dia keluar dari toilet. Manu langsung menerobos sampai membuat Riky terhuyung jatuh.


Apalagi saat dia kembali melihat wajah Ananta yang kebingungan dan kelima cowok yang lain tertawa keras.


"Gue manjat pohon buat ngambil durian. Lucunya di mana, sih Ky? " tanya Ananta. Ananta memutuskan bertanya pada orang waras saja. Iya cuma Riky orangnya.


Riky menatap Ananta dalam, sekarang dia tahu kenapa yang lainnya sampai tertawa sekeras itu.


"Durian nunggu jatuh gak usah dipanjat, Nan. "


Mendengar ucapan Riky kontan membuat kelima cowok tadi kembali tertawa. Sedangkan Ananta merasa malu.


"Arghhh.. " Riky melihat Ananta yang bergegas pergi ke saung membuatnya menggeleng kepala merasa geli.


"Dasar bule nyasar."


*****


"Kita harus mencari donor secepatnya, Pak."


Arifin mengusap wajahnya kasar. Dalam hatinya dia lantunkan dzikir terus menerus.


"Apa semakin parah? "


"Obat hanya mengurangi gejalanya saja Pak. Cara terbaik hanya dengan operasi transplasi jantung."


"Tolong dokter bantu cari donornya." pinta Arifin.


"Pihak rumah sakit sedang berusaha Pak. Semoga Tuhan memberi jalan terbaik."


Arifin mengangguk berterima kasih. Arifin sedikit mengintip di pintu kaca melihat keadaan putri satu-satunya yang kembali lagi harus dipasangi berbagi kabel medis untuk menunjang kehidupannya.


Setelah vonis menjatuhkan ada yang salah dengan jantung Husna ketika berumur 10 tahun. Vonis dokter mengatakan kalau hidup putrinya tidak akan lama lagi. Tapi lihatlah, kuasa Allah lebih utama dari keputusan manusia sekalipun. Sudah enam tahun putrinya itu bertahan dari sakitnya.


"Hamba gantungkan semua harapanku kepada-Mu ya Rabb." bisik Arifin.


"Pah," Anggraeni segera masuk ke dalam pelukan suaminya. Menangis keras di sana. Melihat putrinya kembali drop membuat hatinya tak kuasa. Sekian tahun dia menunggu kehadiran bayi kecil dalam rumah tangganya. Allah dengan kuasa-Nya mendatangkan janin ke dalam kandungannya di saat semua keluarga besar pasrah dengan keadaan Anggraeni yang tidak kunjung hamil.


Dia begitu amat bersyukur mendapatkan  putri yang cantik dan cerdas. Tapi semenjak putrinya mendapat vonis dari dokter dunianya kembali terguncang.


Dia sadar apa yang ada di bumi dan langit ini hanya milik Allah. Dengan kuasa-Nya Allah mendatangkan janin di tengah panjang penantiannya. Dan dengan kuasa-Nya pula janin itu akan kembali.


Anggraeni berharap dia masih punya cukup waktu untuk membahagiakan putrinya.


"Serahkan semuanya Kepada Allah. Allahu kafi."


*****


Kalian dapet feel gak sih bacanya?


Takut gak ada feelnya. Aku nulis ini juga agak susah sih maksudnya bener2 ngambil kisah hidup orang lain.


Nulis—hapus, nulis hapus lagi. Cari kalimat yang enak dibaca dalam cerita ini.


Semoga aja kalian enak ya bacanya.


Jangan lupa tandain typonya. Keayboard aku sedang bermasalah 😂😂


See you next chap!


La plus tard