I Found It

I Found It
Delapan



"Nan.."


Ridwan merangkul hangat tubuh Ananta. Keterikatan seseorang bukan hanya dari darahnya saja. Terkadang ikatan lebih kuat saat satu aqidah satu pemahaman.


"Kenapa bang? "


"Akhyar nanyain lo kapan nikah, " Ananta mendelik kontan saja membuat Ridwan tergelak. Dia hanya bermaksud mencairkan suasana. Setelah proses Ananta tadi mengucapkan dua kalimat syahadat terasa mengharukan. Lelaki yang sudah dia anggap adiknya itu mengucurkan air matanya. Bahkan sampai sekarang pun masih sesekali menyekanya.


"Mapan dulu baru nikah,"


"Eitss — gak gitu juga kali. Tapi itu ada benarnya juga. Menikah itu menyempurnakan sebagian agama kata Nabi." Ridwan berjalan di sisi Ananta dengan langkah tegap namun tenang. Tangannya kini tak merangkul bahu Ananta.


"Gak ada kerjaan mau dikasih makan apa istri nanti bang." komentar Ananta.


Mata Ridwan menyipit, "kayaknya lo menentang keras soal nikah muda."


Ananta tergelak sebentar, matanya menyipit kala sinar matahari semakin berada di atas kepala. Mereka sedang dalam perjalanan kembali menuju mesjid. Setelah membeli camilan di warung terdekat.


Sebentar lagi waktu dzuhur akan tiba. Dan ini sholat pertama kalinya bagi Ananta. Semoga Allah mudahkan dia menjalaninya.


"Ayah sama Bunda juga menikah muda, lebih tepatnya Bunda masih kuliah kalau Ayah sudah kerja sih. Tapi di sana kan hal baru menikah muda dikehidupan yang bebas."


"Bunda sama Ayah kamu saja bisa. Kenapa kamu gak mau nikah muda. Menikah itu solusi dari menghindari zina." tambah Ridwan.


Ananta menatap Ridwan dengan seringaian khasnya. Lebih dari satu bulan mereka kenal membuatnya tak canggung melemparkan candaan.


"Terus abang kapan nikah? Sudah mau wisuda, kerjaan sudah mantap. Oh iya, jodohnya belum mengetuk pintu."


Ridwan mendengus melihat Ananta yang tertawa geli.


"Lagi dicariin sama Ustadz Bima. Tenang aja nanti juga kamu dapat kakak ipar."


"Iya, iya."


****


"Allahu Akbar.. "


Ananta mencoba untuk meneguhkan kakinya. Hatinya terasa sangat damai mendengar bacaan imam. Air mata kembali menganak di pipinya.


Sedih? Tidak! Ini bahagia yang Ananta cari. Ini kedamaian hati yang selalu Ananta nanti.


Ketika badan Ananta meluruh untuk pertama kalinya bersujud kepada Sang Pencipta. Tangisnya tak bisa dibendung lagi. Ananta terisak di dalam sujud pertamanya.


"Ustadz.. "


Ustadz Bima menggeleng saat salah satu jama'ah akan membangunkan Ananta.


"Lekaslah ambil wudhu dan sholat kembali Anan." titah Ustadz Bima.


Ananta mengangguk, langkahnya kembali menuntun keluar. Mengambil wudhu dengan khusu. Setelah keinginan Ananta yang ingin mengenal islam lebih dalam, Riky dengan antusias mengejarkan hal-hal dasar dalam beribadah.


Bagi otak cerdas Ananta tak ada kendala saat mempelajarinya, di mulai dari berwudhu, bacaan sholat dan beberapa hapalan surat pendek.


"Nih, makan." Riky mengangsurkan sebungkus nasi. Mereka ada jadwal kajian malam ini dan biasanya akan pernah berakhir larut malam. Riky sempat pergi tadi untuk mencari makan. Karena mereka tak mungkin pulang terlebih dahulu ke rumah.


"Makasih, lo udah makan? " tanya Ananta. Setelah mengucap basmallah dan minum dia mulai menyantap makanannya.


"Udah tadi ditraktir sama bang Akhyar." jawab Riky.


"Rayhan ke mana?" tanya Ananta. Dari Ashar tadi temanya itu tidak kelihatan.


"Di atas tidur. Udah biasa dia." Ananta menggeleng pelan. Setelah membuang sampah, dia kembali ke mesjid setelah mengambil wudhu kembali.


"Alhamdulillah, hari ini saudara kita bertambah. Semoga Allah mudahkan urusan saudara kita. Tetap menjaga istiqomah hatinya. Aamiin."


Ustadz Bima menatap semua jama'ah dengan lekat.


"Sesungguhnya tiada Illah kecuali Allah. Apa yang ada di Bumi dan langit semuanya hanya milik Allah semata. Orangtua, saudara, harta, perniagaan itu semua hanya milik Allah. Lantas apa yang kita sombongkan di dunia ini?"


"Bahkan iblis pun dengan kesombongannya yang tidak ingin bersujud kepada Adam sampai terusir dari Surga. Janganlah kalian menyimpan kesombongan sebiji zarah dalam hati kalian. Karena semuanya hanya milik Allah semata. Bahkan diri kita sendiri milik Allah. "


"Ky, ayo bareng aja. Motor kamu tinggal di sini. Besok ambil lagi." Ridwan terus membujuk agar Riky dan Ananta mau pulang bersamanya. Malam sudah menuju dini hari. Ridwan takut terjadi apa-apa. Apalagi sekarang geng motor sedang meraja lela.


"Gimana Ky?"


"Kalau ditinggal, besok kita berangkat sekolah naik apaan."


Riky menatap Ridwan dengan segan, setelah memilih untuk pulang dengan motornya, Ridwan pun tak ingin memaksa. Setelah pamit Ridwan terlebih dahulu pergi dengan mobilnya.


"Ayo, Nan. Gue udah ngantuk banget."


"Gue yang baca lo duduk dibelakang." tawar Ananta.


"Lo hapal jalannya, kan? " tanya Riky. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia akan tidur sebentar sebelum melaksanakan tahajud nanti.


"Hapal. Ayo dah buruan."


Kedua remaja itu dilingkupi keheningan selama perjalanan. Riky tentu saja sudah terlelap, dahinya bersandar di bahu kiri Ananta. Sedangkan tangannya memegang erat tas di belakang Ananta.


Ananta sendiri fokus menatap jalanan. Angin tengah malam menyapu wajah dan rambutnya, kebetulan mereka berdua lupa membawa helm akibat buru-buru tadi.


Ananta kembali mengingat momen mengharukan pagi tadi. Air matanya menetes pelan saat mengingatnya.


"Asyhadu Alla Ilaaha Illallah


Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah..."


"Barakalahu fii kum.. "


"Anan.. " Ananta menolehkan kepalanya ke pintu masjid. Seketika matanya terbelalak kaget melihat Sang Bunda dan adiknya Chela dengan selendang yang menutupi kepala.


Langkahnya bergegas menghampiri kedua perempuan yang sangat dia sayangi. Ketiganya tenggelam dalam pelukan hangat satu sama lain.


"Bunda datang, terima kasih." isak Ananta.


Thalita membelai sayang kepala putranya. Dia dekap erat dalam dadanya.


"Jalani apa yang kamu pilih sayang. Ingatlah selalu Bunda selalu ada bersamamu."


"Terima kasih, "


"Nan?! " Ananta mengerjap pelan saat mendapat pukulan keras dibahunya. Mencoba kembali sadar dari lamunannya tadi pagi.


"Lo mau ke mana? Kalau mau mati jangan ajak gue juga." oceh Riky.


Riky kontan kaget saat melihat matanya menatap sekitar. Mungkin efek bangun tidur dia jadi berkhayal. Dia mencoba menggosok matanya tapi tetap saja bayangan disekitarnya begitu jelas.


Ananta mengedar ke sekitar, hatinya meringgis melihat area pemakaman di daerah belakang perumahan Riky.


"Ngelamunin apa sih lo?!"


"Sorry, cepetan dah udah tengah malem ini." Riky bersungut menaiki motor. Tenggelam dalam pikirannya membuat Ananta tidak sadar sudah melewati rumah Riky.


*****


Al-Ma'idah ayat 83


وَاِذَا سَمِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰٓى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّۚ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ


Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur'an dan kenabian Muhammad).


...Hai, kembali lagi sama Ananta. Yg selalu baca cerita ini jangan tunggu up nya ya. Aku lebih suka nulis waktu gak ada kuota 😂 semangatnya itu loh! ...


...Jadi pas waktu kuota udah ke isi tinggal up double or triple. Tapi kasihan juga yang nunggu ini cerita. Semoga gak bosen ya. ...


...Kendalanya juga ada di Nasum. Iya lho. Ini ngambil sedikit dari cerita asli teman sekaligus abang aku. Makanya meskipun punya gambaran gimana jalan ceritanya. Aku gak bisa nulis detail yg bikin kalian feel baca. Jadi nunggu cerita si dia yang mecoba mengingat  😂😂 karena kejadiannya udah lama. ...


...Thank you for support. Tandain typonya...