I Found It

I Found It
Tiga



...happy reading, guys! ...


Ananta menghentikan langkahnya dengan jengkel. Sudah lewat 2 minggu dia sekolah d  sini dan saat hari itu banyak sekali siswi-siswi yang mengganggunya. Laci di bawah mejanya saja setiap hari diisi coklat, bunga dan surat cinta. Tentu saja tanpa membacanya, semua surat itu berakhir di tong sampah. Dan jangan tanyakan ke mana coklat dan semua bunga pemberian fans Ananta.


Rayhan dengan dalih mubazir, mengambil semua coklat dan bunga untuk dijual kembali. Iya, hasilnya dia sendiri yang menikmati. Ananta tak peduli, lagi pula itu lebih bermanfaat dari pada dia sendiri yang makan, kan?


"Pagi, Ananta! " Ananta mencoba bersabar dalam hati. Dari sekian banyak siswi yang kagum padanya. Liyana— siswi yang paling berani dan tidak tahu malu mendekatinya. Bukannya apa, Ananta hanya risih melihat sikap Liyana.


Meskipun sudah lama tinggal di luar negeri belum pernah dia merasakan pacaran apalagi having sex begitu. Bisa-bisa dia dikebiri Ayahnya. Bagaimanapun Ananta punya adik dan kakak perempuan, terlebih seorang Ibu. Tentu saja dia harus menghormati seorang perempuan, kan? Bukan merusaknya yang berdalih untuk kesenangan.


"Permisi, gue ada jadwal piket pagi." ucap Ananta datar.


"Rajin banget, calon suami aku. Kita bareng ke kelas yuk." ajak Liyana antusias.


Ananta menggeleng, memilih untuk tidak menanggapi lanjut Liyana. Langkahnya bergegas pergi sebelum itu lengannya dicekal kuat oleh lengan putih ramping milik Liyana.


"Apa lo gak ada kerjaan lain selain ganggu gue? " tukas Ananta sembari melepaskan cekalan Liyana.


Liyana tersenyum malu, rambutnya dia sampirkan ke belakang telinganya pelan. Wajahnya memerah seiring dengan tatapan kagumnya pada seorang Ananta, murid baru idola sekolah.


"Aku mau ajak —"


Rayhan dengan santainya merangkul bahu Ananta dan pergi meninggalkan Liyana yang kesal akibat ulahnya.


"Ananta, tungguin. Rayhan lo apa-apaan sih? " pekik Liyana kesal. Rayhan hanya melambaikan tangan dengan ceria sebelum berlari kecil menuju kelas bersama Ananta.


"Huh, makasih Ray." ucap Ananta lega.


"Sama-sama, lain kali kalau ada nenek sihir langsung lari aja. Jangan diladenin," Rayhan terkekeh geli membayangkan betapa kesalnya Liyana yang sebut dia nenek sihir.


"Maunya sih gitu, cuma kalah cepet aja." tukas Ananta. Rayhan berdecak melihat sikap Ananta. Ananta ini tipe orang yang welcome. Gak tegaan sama perempuan.


"Ya kalau itu mengganggu lo. Harusnya hindari juga,"


"Iya-iya," tukas Ananta tak ingin perdebatan terus berlanjut. Dia menarik Rayhan ke arah kantin dengan semangat.


"Ayolah, gue traktir sarapan."


Rayhan berteriak heboh, tangannya menarik antusias Ananta menuju kantin.


****


"Ky,"


"Riky,"


"..."


Ananta menepuk bahu Riky cukup kencang sampai membuat Riky kaget.


"Kenapa Nan? "


"Kantin yuk," ajak Ananta.


"Sama Rayhan," ucap Riky padat.


"Rayhan pergi ada kumpulan buat pertandingan basket nanti."


Riky menghela napasnya pelan. Pasalnya dia jarang jajan di kantin saat istirahat pertama. Dia selalu jajan di istirahat kedua setelah sholat dzuhur. Perutnya bisa-bisa bereaksi kalau diisi sebelum waktunya.


"Gue temenin,"


"Masa gue makan sendiri, lo cuma lihatin. Tega bener gue." sela Ananta.


Riky berucap pelan," yaudah, nanti siang aja."


Ananta mengangguk, lagi pula dia tidak terlalu lapar.


"Ky gue mau tanya,"


"Apaan? "


"Kok cewek muslim itu pake kerudung. Ada yang pake ada juga yang gak. Padahal katanya wajib bagi cewek muslim." terang Ananta.


"Bukan kerudung sih, yang wajib itu menutup aurat. Dan menutup aurat itu bukan hanya dengan kerudung saja. Percuma kalau pake kerudung tapi bajunya ketat." jelas Riky.


"Jadi gimana? "


"Perintah menutup aurat itu ada dalam Qur'an surat Al Ahzab ayat 59


يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ


فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا


Artinya:


“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”


Ananta mengangguk paham, kemudian Riky kembali bersuara,


" Ada juga di dalam Qur'an surat An-Nur ayat 31


وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ


Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."


أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ


عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا


إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ


Artinya:


"Asma' binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, 'Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini', Beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya."


"Jadi aurat perempuan itu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan?" tanya Ananta.


Riky mengangguk, tangannya masih asyik menggores di atas buku sketsanya.


"Menurut beberapa ushul fiqih beda-beda. Seperti menurut imam hanafi, aurat perempuan seluruh tubuhnya sampai kukunya pun aurat. Ada pendapat yang lain hanya wajah dan telapak tangan pengecualian."


"Jangan dijadikan perdebatan. Semuanya kembali pada Allah dan Rasul, yaitu AlQuran dan Sunnah."


Ananta mengangguk paham, jujur saja pembahasan seperti ini membuatnya antusias. Semakin ke sini Ananta sadar bahwa islam itu sangat memualiakan perempuan.


"Terus kenapa ada yang pake ada juga yang gak. Padahal seperti tadi muslimah yang sudah baligh wajib menutup aurat mereka?"


"Mungkin, belum sampai ilmunya pada mereka. Kita yang tahu wajib memberitahukan. Saling menasihati, tapi kembali lagi mungkin Allah belum memberi mereka hidayah. Bagi muslimah yang belum sempurna dalam menutup auratnya kita mendoakan saja semoga mereka cepat cepat menutup auratnya sebelum ditutup sama kain kafan."


Ananta bergidik ngeri, kalau pembahasannya sampai menuju hal kematian, dia selalu saja merinding.


"Ada manfaatnya juga gak kalau mereka menutup aurat Ky? Maaf sebelumnya ya. Dari pendapat teman-temanku di Paris. Justru perempuan yang tertutup rapi pakaiannya itu lebih memancing fantasi liar bagi mereka. Bahaya juga untuk perempuan seperti itu." terang Ananta.


"Sejatinya, seorang mukmin yang taat pada perintah Allah akan senantiasa dalam perlindunganNya."


Riky menatap tajam Ananta." Itu teman-teman lo aja yang sering bergabung sama setan. Jadi pandangannya terlihat seperti itu. Lo juga, kan? "


Ananta tersentak kaget mendengar penuturan Riky. Sontak saja dia langsung menggeleng tak setuju.


"Enak aja!  Gak ya! Gue gak pernah ada pikiran kayak gitu. Gue cuma heran aja kenapa gak semua muslimah menutup auratnya."


"Syukurlah, kalau lo gak sering bergabung sama setan." Ananta mencebik mendengar nada datar Riky. Ini maksudnya lega apa nyinyir sih?! Batin Ananta.


"Ada apa nih, bahas setan." celetuk Rayhan. tangannya penuh dengan bungkusan camilan. Ananta menyambut bahagia beberapa snack itu.


"Bayar ya Nan."


"Iya bawel, gak mau rugi amat lo."


"Jadi lagi bahas apaan, lihat muka Ananta kayak yang seru." tanya Rayhan.


"Iya dong seru, secara muka gue ganteng." Rayhan mencibir melihat kenarsisan Ananta. Tangannya mengulurkan minuman kopi dingin ke arah Riky yang disambut Riky dengan ucapan terimakasih.


"Lebih ganteng gue dari pada lo." selak Rayhan.


"Serah lo aja deh. Gue laper." ucap Ananta.


Ananta menelan habis makanannya dengan cepat.


"Terus apa lagi manfaatnya Ky?"


"Dengan jilbab para muslimah juga terlindungi. Aku kasih kiasan deh, gini ada dua cewek yang pake hijab. Nah, mereka mau makan siang direstoran yang baru dibuka. Pas mereka mau pesen. Tiba-tiba pelayanannya bilang kalau semua menu di sana gak halal. Misalnya ada daging babinya. Nah, kan dari jilbab mereka pelayan itu tahu kalau mereka itu orang muslim yang haram makan daging babi. Coba kalau rambut mereka terurai dan gak nanya dulu. Itu sih kiasan aku."


"Dan juga kalau cewek pake jilbab itu lebih keliatan imut, ayu jadi betah mandanginnya." tambah Rayhan.


"Nah, ini yang suka bareng sama setan," tukas Riky.


Rayhan shok mendadak mendengar perkataan pedas Riky. Sedangkan, Ananta terkekeh pelan.


"Jaga pandangan ya bro. Awas zina mata." celetuk Ananta.


Rayhan semakin merengut mendengar balasan Ananta.


****


Husna membereskan bukunya dengan cepat. Supirnya sudah terlalu lama menunggunya. Kebetulan tadi jadwal piket kelasnya.


"Gue pulang dulu ya! Lo hati-hati Na." ucap Bella.


Husna mengangguk setelah mengucapkan salam, teman sebangkunya itu keluar dari kelas. Tak lama Husna pun mengikuti dengan langkah cepatnya tak ingin supirnya membuat terlalu lama menunggu.


Bukk!


Husna meringgis saat sikunya terbentur lemari khusus piala di koridor ruang guru.  Dia mengambil jalan pintas menuju gerbang.


"Maaf-maaf. Gapapa, kan? "


Husna mengangguk tanpa melihat siapa yang menabrak dia langsung bergegas pergi.


"Ehh..  Tunggu dulu! " Ananta berteriak. Dia cemas, pasalnya tadi dia melihat noda merah di seragam putih cewek itu tepat dibagian sikunya. Sepertinya terluka.


"Nan, ayo buruan! Riky udah lumutan nungguin." teriak Rayhan.


Ananta bergegas pergi bersama Rayhan. Semoga saja dia kembali bertemu dengan gadis itu. Dia akan meminta maaf dengan benar.


......well, aku nulis ini juga selain buat hiburan tapi ada pengajaranya juga. Biar kita bisa bersantai sambil belajar ya. ......