
Ananta menatap seorang pria paruh baya itu dengan lekat. Lantas matanya memandang ke arah jam dinding yang bertengger di tembok menunjukan pukul setengah dua belas malam.
"Baru pulang, Yah? "
Danov menoleh menatap putra satu-satunya itu dengan datar.
"Iya, baru sampai dari Bima."
Ananta mengangguk paham, tangannya menuangkan segelas air hangat kemudian diberikannya kepada Sang Ayah.
"Istirahat Yah, sudah terlalu larut." lirihnya. Tanpa kata Danov pergi menuju ruang istirahatnya. Ananta mencoba bersabar melihat sikap dingin Ayahnya.
Semenjak kecil Ananta sudah terbiasa ditinggal Ayahnya yang sibuk bekerja. Terkadang, dia juga dititipkan di rumah tetangga mereka dulu saat Bundanya pergi berjualan. Ananta bersikap biasa saat itu mencoba menerima kesibukan mereka untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Tapi, Ananta mulai tak terima saat adiknya Chela bernasib sama sepertinya. Ananta yang selalu menjaga anak kecil itu disaat dirinya pun masih butuh pengawasan orang dewasa.
Ananta hanya minta sedikit meluangkan waktu Ayahnya untuk Chela. Tapi Ayahnya justru marah saat itu. Beruntung ada Bundanya yang sigap menjadi benteng saat tangan Ayahnya terangkat untuk memukul dia.
Ananta membawa segelas late menuju ke arah kolam renang. Ananta akui keadaan ekonomi keluarganya sekarang, cukup membuatnya tenang, kiriman uang jajan dari Ayahnya setiap sebulan sekali terkirim pada ATM nya. Bisa menyekolahkan kakaknya sampai menjadi dokter spesialis.
Ananta butuh kasih sayang bukannya uang!
"Kenapa belum tidur? "
Ananta menoleh melihat sosok Bundanya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah menginjak kepala 4.
"Susah tidur, Bun."
Bunda mengusap sayang helaian rambut kecoklatan milik Ananta yang menurun dari Ayahnya.
"Cepat tidur, besok kembali sekolah. Bunda ke dapur dulu."
Ananta mengangguk, netranya menatap kepergian sang Bunda yang hilang di belokan koridor ruang tengah.
"Bantu aku Tuhan,"
****
Riky memejamkan matanya, raut wajahnya yang terlihat lemah begitu kentara dengan peluh yang menghiasi keningnya.
Matanya terbuka, menatap sosok Rayhan dan Ananta yang masih asyik berebut bola si lapangan.
"Yang kalah traktir bakso ya! "
"Iya bawel, " Ananta mempercepat langkahnya sembari mendrible bola dengan handal. Melakukan jumping shoot dan kembali mencetak point.
"Arghhh! " Rayhan memekik kesal saat pointnya tertinggal jauh dari Ananta dan sudah dipastikan dia kalah dalam permainan ini. Bagaimana dengan nasib uangnya.
"Bayar ya Ray," Kelakar Ananta. Rayhan berlalu dengan lesu, langkahnya menghampiri Riky yang terbaring di atas rumput taman sekolah.
"Nasib gue, kenapa bisa kalah sih." Gerutu Rayhan. Meneguk air dengan rakus, lantas membaringkan badannya di sebelah Riky.
"Ky, ayo bangun. Kita ke kantin Rayhan yang traktir." Seru Ananta. Rayhan langsung membuka matanya spontan, memicing ke arah Ananta yang terlihat gembira.
"Heh, kan gue main sama lo doang. Gak sama Riky." Protes Rayhan.
"Gapapa, sekalian dong."
"Begitulah datang yang baru yang lama pun terlupakan,"
Kedua cowok itu kontan menoleh ke arah Riky yang masih terbaring santai. Yang membuat Rayhan kaget adalah keluarnya nada puitis dari seorang Riky.
"Ky, lo ngelindur? "
"Iya, " Rayhan mengangguk paham membuat Ananta sebal.
"Kirain lo ngomong beneran, "
"Maksud lo gue bisu gitu? "
"Ehh, kok orang ngelindur jawabnya nyambung sih? " Heran Rayhan.
"Kuy lah Ky. Kita tinggalin aja Rayhan di sini." Ucap Ananta kesal. Riky langsung bangun dan beranjak mengikuti Ananta menuju kantin.
"Heh Ky. Jadi lo gak tidur. Tungguin gue woy!"
"Parah kemarin real madrid kalah sama juventus. Gue yang lihatnya aja keki, di detik-detik terakhir kejebol gawangnya... "
"Ray diem, lo gak capek dari tadi ngoceh mulu." Riky berucap lelah, semangkok mie ayam sudah ludes dia makan. Ananta masih asyik mengemil kerupuk udang. Dasar bule nyasar, semenjak sampai di sini dia hobi ngemil kerupuk.
"Lagian gue lagi keluarin uneg-uneg gue tahu!"
"Sia—"
"Dilarang mengumpat!" Rayhan langsung kicep mendengar nada datar Riky. Sudahlah, lebih baik dia habiskan makanannya dari pada berdebat dengan bule nyasar itu.
"Ngomong-ngomong Ray, gue boleh pesen lagi, kan? " tanya Ananta dengan senang. Ekspresinya itu membuat Rayhan sebal.
"Boleh dong, silakan." Ananta melebarkan senyum teduhnya itu. Membuat Rayhan mendelik sinis.
"Asal lo yang bayar! " Ananta mendengus, sedangkan Rayhan terbahak melihat ekspresi kecut Ananta.
"Uhukk—uhukk,"
Riky mendecak melihat tingkah sahabat 5 tahunnya itu. Tangannya mengulur memberikan segelas air kepada Rayhan yang disambut langsung olehnya.
"Makanya makan itu pelan-pelan!"
"Iya iya,"
"Nan, titip kopi satu." pinta Riky.
"Oui boss."
Ananta pergi ke stand minuman. Mengambil dua botol kopi dingin. Di tengah menunggu kembalian. Dia mendengar suara perdebatan, saat dia menoleh kontan membuatnya mendengus melihat Liyana dengan kesombongannya itu.
"Lo harusnya minta maaf!"
"Heh, jangan mentang-mentang lo kakak kelas bisa begini ya. Yang namanya orang salah yang minta maaf. Seenggaknya ngakuin salah kalo gak mau minya maaf."
Liyana tambah berang melihat perlawanan adik kelasnya itu. Saat tangannya terangkat ingin menampar, ada sebuah tangan yang mencekalnya dengan erat.
"Kak lo itu lebih tua dari kita, bisa gak bersikap lebih dewasa lagi dari kita. Kita juga tadi sudah minta maaf. Kenapa masalahnya jadi melebar gini."
"Na, dia yang nabrak gue duluan. Gue berdiri di posisi aman. Dianya aja jalan matanya gak dipake."
"Temen lo ini yang nabrak gue duluan. Enak aja lo nyalahin gue." Liyana mendorong kasar pundak Bella. Melihat Bella yang akan melawan lagi. Husna langsung merangkul tangan temannya dengan erat.
"Maafin ya kak. Kita yang salah,"
"Husna?! " Bella menatap protes temannya itu. Husna menggeleng menyuruh Bella untuk segera mengakhiri perdebatan itu.
Mereka berniat pergi dari kantin. Sebelum itu, langkahnya kembali dihadang oleh Liyana.
"Enak aja pada mau pergi, minta maaf yang bener. Kalau perlu lo semua bersihin sepatu gue yang kotor." congkak Liyana.
"Kak, kakak yang salah sudah tidak mau minta maaf apalagi mengakui kesalahan. Sekarang kita sudah minta maaf yang bukan kesalahan kita, kakak kembali berbuat ulah. Anda ini bodoh atau apa? "
"Lo?! "
Tangan Liyana terhenti di udara. Wajah marahnya menoleh pada siapa yang berani mencekal tangannya.
"Jaga attitude lo. Percuma segala hal lo punya tapi attitude lo buruk gini. Gak ada harganya." ucap Ananta pedas.
Ananta menatap kedua cewek dihadapannya. Sekarang dia ingat, salah satu dari mereka adalah gadis yang ditabraknya beberapa hari lalu.
"Gak usah diladenin orang seperti dia, percuma." Ananta menatap Liyana dengan datar.
Ananta menyuruh kedua gadis itu untuk segera pergi dari kantin. Menatap Liyana dengan remeh, "sekali lagi lo nyentuh kedua gadis itu. Jangan harap lo bisa tenang sekolah si sini."
Ananta kembali ke meja di mana teman-temannya duduk. Tak peduli pada seluruh tatapan yang kini menatap dirinya.
"Bagus! Sekali-kali lo harus tegas sama Liyana meskipun dia cewek. Tapi sikapnya itu udah keterlaluan banget." ucap Rayhan mengebu-gebu.
"Tapi gue merasa gak enak,"
"Wajar aja lo gak pernah berucap kasar sama perempuan." komentar Riky.
Rayhan memegang perutnya sebari menampilkan ekspresi sakit.
"Gue duluan ya, aduh perut gue gak bisa diajak kompromi." tanpa mendengar jawaban kedua temannya. Rayhan langsung bergegas pergi meninggalkan kantin.
"Nan, lo yang bayar ya! "
Ananta sudah menduga hal licik dari Rayhan itu. Untung saja dia sudah membayar terlebih dahulu pesanan mereka tadi.
"Sabar kalo ngurusin sikapnya Rayhan," ucap Riky.
"Sekalian punya gue bayarin ya."
"Iya, iya."