
Ruangan 800 nata ingat ruangan itu ada dilantai 8, gedung ini ada 9 lantai namun tiap lantai luasnya bukan main. sekarang dia bingung harus bagaimana, naik tangga? apa kakinya mampu? tapi dia tepis pikiran tersebut dan mulai menaiki tangga satu persatu pelan-pelan.
45 menit lebih nata terseok-seok menaiki tangga akhirnya sampai, dirinya mengetuk pintu dengan pelan dan sopan sampai seorang perempuan membuka pintu.
" nona, saya tukang pel" ucapnya sopan menunduk
saat memasuki ruangan remang hanya ada beberapa laki-laki dan entah berapa perempuan nata tak mampu melihat hanya untuk menghitung jumlah mereka. memulai pekerjaan nya dengan pelan tampak beberapa bagian lantai basah karna anggur yang tumpah. nata dengan hati-hati mengepel dan membereskan meja.
"bos, mereka bilang disini tempatnya lumayan tapi lihat betapa buruknya pelayanan pekerja mereka kita memanggil tukang pel hampir sejam sampai anggur itu saja hampir kering" tunjuk nya pada beberapa bekas genangan anggur tumpah
"hey bibi kenapa kau memakai jaket dan masker memangnya musim salju?"
nata tak berani menjawab dia takut, hanya menggeleng.
tidak puas atas jawaban nata pria tadi menyingkirkan wanita dalam pangkuan nya.
"buka maskermu"
"tuan, pekerjaan saya sudah selesai boleh saya pergi?"
"heh seenaknya saja, kau datang lambat sekali sekarang buru-buru pergi"
"biarkan mungkin sudah dipesan orang" sahut pria lain, nata tak tau yang mana matanya hanya menatap lantai.
"hey bibi kubilang buka maskermu baru boleh pergi, mungkin kau cantik aku akan tertarik" ucapnya meremehkan dibalas kekehan seisi ruangan
nata bingung harus apa perasaan nya berkecamuk entah mengapa rasanya enggan sekali membuka masker yang selalu ia kenakan.
"apa kau tuli?"
DEG
DEG
DEG
jantung nya sudah hampir lepas dari tempatnya saat ini, suara...suara yang dia takutkan hal yang paling dia tidak inginkan
dunia seperti berhenti pada dirinya, kaku tapi gemetar tubuhnya benar-benar tidak sinkron.
"hey, bibi? beneran tuli ya"
nata tersadar dari lamunannya.
"buka atau aku yang bukakan" ucap seorang pria dengan nada sensual membuat wanita yang berada disana berteriak gila.
"tuan, harusnya aku saja"
"tuan benar-benar menyebalkan"
goda wanita-wanita itu dengan genitnya
nata panik karna laki-laki tersebut berdiri tidak main-main dengan ucapannya. perlahan dengan gemetar membuka maskernya masih berharap dia bisa diampuni dan pergi dengan tenang.
dengan kecewa mereka mendengus mendapatkan yang mereka inginkan tidak sesuai ekspektasi, dibalik masker hanya ada perempuan jelek yang kusam bukan perempuan cantik. tapi tidak dengan pria diujung sana yang sibuk memainkan gelas nya tersenyum miring 'ketemu'
nata gemetar bukan main dia sadar sangat sadar seorang pria diujung memperhatikan nya dia berharap semoga itu hanya hayalanya namun salah.
"pergilah" ucap pria yang tadi memaksanya dengan nada kecewa
"tidak menarik" sementara wanita disampingnya mengibas-ngibaskan tangan layaknya mengusir ayam.
lega, lega nata hampir merasa lega dengan cepat mengambil ember dan lap pel yang dibawanya tadi lalu cepat-cepat ingin keluar dari sana.
"permisi tuan,nona, maaf mengganggu saya permisi ucapnya dengan pelan"
satu langkah dua langkah bahkan terasa lambat bagi nata meninggal kan ruangan itu.
"tetap disini" suara yang menghentikan langkahnya bahkan jantungnya juga berhenti sejenak.
"kau sombong sekali b-i-b-i" ucapnya penuh penekanan.
nata sadar jurang terdalamnya, hidup mengerikan nya, nerakanya bukan lah penjara itu tapi laki-laki bernama kemal-mantan suami nya dia adalah sebaik-baik tempat penyiksaan bagi nata. dia pikir hidupnya akan bebas lagi sedikit saja tak apa, tapi kini dia salah dia paham ketika dirinya mendengar suara ini maka hidupnya sudah tak ada artinya lagi.