I Am Not Me

I Am Not Me
PENCURI



"jawab Natalie apa kesalahan mu pada tuan muda Cole haa" elena memaksa Natalie sejak tadi bahkan sampai kamarnya.


"nona, aku sudah menjawabnya tapi nona sendiri yang tidak percaya. kumohon nona aku lelah izinkan aku tidur" memelas menatap Natalie


satu hal yang baru disadari elena dari natalie adalah tubuhnya tidak normal, dia baru memperhatikan nya. Natali selalu berjalan seolah memaksa kakinya, selama ini elena juga baru ingat hal itu saat dulu pertama bertemu Natalie.


dengan terpaksa elena meninggalkan Natalie sendiri. yang ditinggalkan merosot kelantai kakinya tak kuat lagi, dirinya sudah biasa dipermalukan seperti tadi saat dipenjara tapi bukan didepan laki-laki. malu tapi tak ada pilihan.


Natalie menutup telinganya dirinya mendengar suara orang-orang memarahinya dulu seperti menggema di kamar nya.


tidak boleh berkedip. jangan menangis. aturan dasar yang dimiliki Natalie untuk menghindari tamparan saat dipenjara.


Natalie yang kembali tenang terpikir untuk lari dari sini, entah apalagi yang akan dilakukan kemal besok pastinya penderitaan nya tak akan berakhir. tapi bagaimana?


seseorang mengetuk kamarnya, tampak seorang laki-laki rapih didepan pintu.


"tuan Cole memanggil anda" perkataan singkat bagaikan Guntur ditelinga nata.


"tuan, aku mohon ampuni aku biarkan aku pergi aku...akuu tak akan mengganggumu lagi aku bersumpah" Natalie kini bersujud dihadapan kemal


"mengampuni mu untuk apa nata bukanya kau tak pernah salah heh?" kemal menatap wajah Natalie sambil mencubit dagunya kasar.


"tidak tuan ampun, aku salah aku sudah dihukum kumohon biarkan aku pergi"


geram.


satu kata memenuhi kepala kemal. dirinya entah mengapa tak terima Natalie meng'iya'kan seluruh kata-katanya. dalam hatinya lagi-lagi kemal mencari sosok Natalie yang akan membantah dirinya habis-habisan.


"kau mau kemana? ingin pergi dariku? bukanya dulu kau bangga dengan mengatakan pada semua orang kau adalah istriku? ada apa denganmu?" kemal melepas cengkraman nya lalu duduk di kursinya bak raja


hanya ada mereka didalam ruangan ini 'tentu kau bebas mengemis Natalie tak ada yang akan melihat disini cih' batin kemal mencaci


"tuan, aku salah mencari gara-gara denganmu. aku sudah dihukum aku tak punya apa-apa lagi tuan biarkan aku pergi aku janji takkan mengganggu mu lagi seumur hidup"


dulu natalie dengan hebat berdebat dengannya membantah segala tuduhan kemal tapi kini?


"bawa dia" perintah kemal


"buktikan kau memang berubah besok Natalie, seperti sangat mudah merangkak dibawah kaki orang lain ya dirimu sekarang. baiklah besok kau harus berlutut dengan benar" seringai kemal terbit entah apa yang ada dipikirannya.


"katakan"


"nona aku seorang pencuri" wajah elena bingung, apa yang dicuri perempuan ini?


"nyawa...."


"nyawa orang terkasihnya"


elena hanya terpaku detik selanjutnya dirinya gelagapan.


"kau gila Natalie, kau tau siapa dia dan kau berani bermain-main dengan orang terkasihnya?" dia paham mengapa kini tuan Cole tanpa ampun menghina dan menyiksa Natalie.


"aku tau" jawabnya singkat


Natalie tau sangat sangat amat tahu siapa Kemal Cole bahkan lebih tau dari siapapun.


"kau benar-benar membunuh nya?"


"menurut anda nona?" elena tak habis fikir dengan Natalie. gila. itulah yang dia tau.


tapi didalam lubuk hatinya ada rasa aneh pada nata seperti enggan percaya dengan apa yang dikatakannya. untuk menantang bahkan membunuh orang terkasihnya pasti dibutuhkan juga kekuatan, kekuasaan, sehingga tak akan mudah dihancurkan kemal. tapi Natalie? dari awal bertemu malah terlihat seperti gembel. apa sebenarnya yang tak elena mengerti.


"kau...tak membunuh nya?" kalimat yang meluncur tanpa aba-aba


hanya dibalas anggukan kecil dari Natalie.


baru saja elena hendak menimpali


handphonenya berdering, cepat-cepat diterima nya.


"aku ada urusan, kau.. tak usah keluar kemana-mana besok makanan akan kusuruh orang mengantar"


"hum"


malam ini entah bagaimana natalie memikirkan cara lepas dari kemal. apapun...apapun itu dia ingin hidup dan jika berada didekat kemal maka dia tak bisa.