
"RAMAI" itulah kata yang pas
tapi bukan untuk arti yang baik, apalagi untuk seorang perempuan kakinya gemetar tubuhnya bagai es, keningnya berkeringat.
disana ada ayahnya, ibu tirinya, Anton dermawan ayah perempuan sumber keributan ini ya, Lena.
kemal memijat pelipisnya entah karna lelah atau karna kesal. situasi benar benar tegang.
Arjun mendekati putrinya
'PLAKK
"Tak tahu diuntung, SIALAN Kurang mempermalukan diriku seperti apalagi, aku memperlakukan mu dengan baik menjodohkan mu dengan laki laki sempurna tapi apa balasan mu. apa aku mendidik mu untuk membunuh?"
sementara Margaretha gelagapan dengan tingkah suaminya dia takut penyakit Arjun kambuh
"sayang, hentikan sudahlah tidak ada gunanya biarkan suaminya melakukan yang seharusnya. kau tidak ada gunanya meluapkan emosi seperti ini"
yang ditampar belum menunjukan perlawanan apapun dirinya diam
'mendidik? mendidik apa? sejak kapan kau mendidikku tuan Arjun aku hanya anak dari istri simpanan mu tak pernah dapat perlakuan bagus sejak kapan kau sok tau tentang diriku' batin nata.
dia tentu tak berani melawan dirinya sedang tidak dalam posisi untuk bisa membantah toh percuma.
"NATALIE! kau liat orang tua disana" kemal menunjuk ayah Lena
"kau liat berapa orang yang kau sakiti hanya karna rasa irimu, berapa orang tua yang kau buat hancur?"
"aku tak melakukan nya kemal" suara parau natalie dengan nada memelas
"kumohon percaya lah demi tuhan kemal"
"ya, aku percaya padamu" kemal tersenyum dengan jijiknya sambil mendekat kearah Natalie
Natalie benar benar tak percaya, seluruh tubuhnya gemetar seumur hidup dia tak pernah membayangkan masuk penjara.
"jangan....ku..mohon jangan" ucapnya hati hati
takut dia benar-benar ketakutan
"APA DISINI ADA YANG KEBERATAN JIKA WANITA HINA INI PERGI KETEMPAT NYA? KEPENJARA?" Teriak kemal dengan nada mengancam seolah olah siapa yang membela Natalie akan mati.
"bagaimana tuan Anton, apa hukuman ini cukup? atau anda ingin apa?"
"tidak, sama sekali tidak terserah tuan saja mau bagaimana. mau dihukum seperti apapun putri saya tidak akan hidup lagi biarlah Tuhan yang membalasnya besok, tugas saya hanya mendoakan putri saya tenang" suara parau seorang ayah yang kehilangan putrinya
istrinya meninggal saat melahirkan Lena dia membesarkan Lena susah payah selama ini. tapi kenyataannya kini putrinya tidak ada lagi. hatinya hancur benar-benar kehilangan sumber kehidupan nya.
"saya tidak melakukan nya demi tuhan tidak, saya memang tidak menyukainya tapi saya tidak pernah melakukan hal sekeji itu tuan"
"anak saya bukan orang sembrono yang pergi ke sembarang tempat, dia mendapat telfon dari anda untuk datang ke jalan sepi kemudian beberapa orang menculiknya lalu membakarnya. Anda seharusnya mengaku saja mungkin saya akan memaafkan tapi sikap anda benar-benar membuat saya merasa anda memang pantas mendapatkan balasan"
"aku bahkan-"
belum sempat natalie membantah kemal memerintahkan polisi membawanya.
"bawa dia, jangan sampai muncul lagi benar benar menjijikkan hanya dengan melihat wajahnya"
Natalie mundur ketakutan ketika polisi mendekat kearahnya
"tidak tidak kumohon demi tuhan jangan ampuni aku, aku tak melakukan nya kumohon"
menjerit, menangispun tidak ada yang kasihan padanya orgtuanya, ibu mertua dan adik ipar nya hanya memandang dengan tatapan malu, marah sekaligus tak habis pikir kenapa wanita itu begitu tega membunuh gadis tak bersalah.
malam ini dunia benar-benar menghakimi dirinya atas apa yang tak dilakukan nya.