I Am Not Me

I Am Not Me
INGIN HIDUP



Hujan deras dari pagi hingga malam membuat siapapun enggan keluar dari kamarnya. termasuk Natalie.


namun, dirinya harus melayani tuan itu.


Dirinya takut, tapi lebih takut membuat kemal marah. didepannya elena berjalan pelan mengerti dengan situasi Natalie yang kesulitan berjalan.


didalam ruangan hanya tampak laki-laki tidak ada perempuan bahkan beberapa dari mereka kemarin tak ada. kemal berniat mempermalukan nya lebih jauh.


"wah wah anjing kita sudah tiba"


"anjing katamu? astaga makhluk imut itu seharusnya aku mampir membeli makanan tadi"


malu? tidak dirinya tak malu dirinya hanya ingin hidup. Natalie ingin hidup sekali lagi.


panggilan anjing sudah sering dia dengar belum lama ini tentu dia tak terkejut.


"Natalie....kau ingin hidup?"


yang dipanggil meng'iya'kan


"kau tau cara memohon untuk hidup?"lanjut kemal "perlihatkan pada ku caranya"


Natalie keluar dari punggung kecil elena perlahan berlutut didepan kemal. tanpa menghiraukan penghuni didalam ruangan.


"tuan Cole yang terhormat saya mohon izinkan saya pergi saya ingin bebas sekali lagi" tampak beberapa pria yang belum mengetahui suara natalie terkejut sekaligus jijik.


entah mengapa Cole kembali geram, dirinya mengira kemarin Natalie berlutut karna hanya ada mereka tapi kini didepan orang lain dirinya berlutut memohon dengan suara mengerikan. kemal tak suka di iya kan oleh Natalie, tak ada yang paham apa sebenarnya yang diinginkan kemal.


"UPS..." elena tersungkur indah dilantai seorang laki-laki kasar mendorong dengan kakinya. "begini baru benar bibi,kukira kau paham cara memohon"


"terimakasih tuan" ucap Natalie membuat kemal memberikan tatapan dingin.


"Elena...apa kau memperkerjakan nya?"


"tidak tuan, dia hanya melayani anda" elena tersadar dari lamunannya hatinya mencelos melihat Natalie seperti ini.


"mulai besok ajarkan dia untuk melayani laki-laki, suruh dia bekerja memang nya dia nona muda"


"tapi tuan...dengan tubuhnya...itu..." elena bingung harus menjelaskan bagaimana.


kemal menyeringai "aku tak peduli, dia ada disini hidup dengan fasilitas gedung ini. kau fikir dengan hanya menunjukkan kebodohannya itu bisa berguna?"


"tidak tuan"


"suruh dia bekerja besok, hasilkan uang"


"baik, kalau begitu saya permisi"


"pergilah, aku sedang tak mood denganmu"


Natalie sama sekali tak bergerak dari posisinya, benar-benar tak elegan.


"diamlah, kalo kalau bos bilang tidak mood artinya jangan diganggu"


takut-takut Natalie meninggalkan ruangan itu, tampak kesulitan berjalan, tapi kali ini elena tak menunggu nya mungkin sibuk.


Natalie merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.


ya, dia ingin sangat ingin hidup. bukan demi siapapun, atau untuk apapun. hidupnya ya hanya untuk hidup.


ARWAN


laki-laki yang muncul setiap kali natalie masuk dunia mimpi.


laki-laki bengis yang katanya psikopat membantai seluruh keluarga tanpa ampun.


"Natalie" ucapnya singkat


"baiklah, Natalia. Lia"


"Natalie bukan Natalia"


entah apa yang membuat laki-laki itu mendekati setiap jam makan siang. mereka tak sedekat untuk disebut teman, tapi entah sejak kapan Natalie selalu menanti Jam makan dan waktu kerja bakti para tahanan. dengan itu dirinya bisa bersama dengan Arwan.


"Lia, tetaplah hidup besok sekali lagi saat bebas. tempat ini bukan penjara tapi alam lain besok saat keluar sama saja kau lahir kembali"


"Lia, saat keluar kau tak punya apapun. kau mulai dari nol"


"Lia, besok saat kau bebas duluan tunggulah aku. mungkin aku akan menikahi mu haha"


"Lia, tetaplah hidup"


"Lia, mungkin diluar sana ada orang baik bertemulah dengannya Lia"


" Lia, orang baik memang ada tapi tak akan ada yang mau mati hanya demi orang lain termasuk aku. hiduplah untuk dirimu sendiri Lia"


ah ya hari itu Jumat waktu kerja bakti, dilorong sempit itu seorang perempuan memangku kepala laki-laki yang sedang menuju ajalnya.


"Lia, jangan mati kau tau sakit saat akan mati rasanya ribuan kali lebih sakit dari apa yang kau alami sekarang"


laki-laki diperlukannya meski akan mati tak berhenti mengoceh untuk menyuruhnya hidup.


beberapa menit yang lalu entah karena masalah apa Arwan berkelahi dengan penghuni yang lain. alhasil dirinya dikroyok habis-habisan kepalanya mungkin mengalami pendarahan hebat.


"Lia hiduplah, tetaplah hidup. jangan mati"


Natalie menarik nafas bangun dari tidurnya dengan mata merah dan sembab. sudah lama dia tak menangis, apalagi dalam tidur.


laki-laki itu adalah orang yang membuat nya hidup seperti sekarang lebih tepatnya memberi alasan hidup meski tak jelas. kalau tidak mungkin dia sudah bunuh diri dipenjara. beban kata-katanya bagaikan hantu dikepala Natalie.


tetap hidup. bukanlah hal mudah.