
lamunan nya terhenti saat bibi emi menegurnya, entah mengapa jantungnya berdebar tak karuan. perasaan nya kalut tapi tak tau karna apa. mungkin dia harus pulang.
"hey nata letakan ini digudang" perintah ania seorang gadis yang sering menindas nata.
semua orang didunia ini mungkin bisa menindas nata, bagi mereka nata tak lebih dari gadis gangguan mental alias setengah gila yang kadang meminta ampun dan dikasihani hanya karna dibentak.
syukurlah mereka ada dilantai dua karna jika berada dilantai yang lebih tinggi lagi nata akan kesulitan turun karna pekerja seperti mereka dilarang menaiki lift hanya boleh naik tangga. turun dengan pelan sambil mecincing banyak alat kebersihan saat melihat lantai bawah nata terkejut 'memangnya jam berapa sampai tamunya sudah datang' dirinya hati-hati berjalan kegudang karna takut mengganggu.
"bibi tamunya sudah datang, memangnya sekarang jam berapa?"
"hampir jam 9"
pantas dia benar-benar lelah dia tak sadar sudah 3 jam bekerja tanpa henti, dia ingin pulang tapi pasti sekarang sudah tidak bisa
"kenapa tidak kuat?"
"tidak bi tidak apa-apa" bi emi mendengus kasar dia benar-benar tak mengerti.
semakin malam semakin banyak tamu yang datang. nata tak menyukai nya dia tak suka tempat ramai takut banyak yang memandang nya sama seperti dulu, semakin ramai semakin ingin dia pulang tapi tak bisa karna sudah terlanjur.
para pekerja berkumpul, semua sibuk menggosip tentang tamu baru mereka yang tampaknya begitu diangungkan nona elena. pasalnya selama ini banyak tamu yang hadir namun baru kali ini ada yang benar-benar diperlukan seperti raja.
"kau tau katanya dia seorang pengusaha besar bahkan memiliki saham disini"
"gila sih wajar saja elena itu sampai segininya"
"aku lihat mukanya tadi tampan, benar-benar tampan. pasti beruntung wanita yang dipilihnya malam ini"
bisikan demi bisikan terdengar ditelinga nata, namun yang dilihat bibi emi adalah nata terlihat gelisan seperti mengalami panic attack
"ada apa denganmu kenapa kambuh, disini hanya ada kami bukan orang lain" bisiknya
"tak tau bi, tanganku gemetar tak tau kenapa. aku ingin pulang"
bibi emi tampak tak kalah khawatir, nata yang selalu berkata tak apa kini seperti meminta tolong. benar-benar momen langka.
"tahanlah aku akan cari selah nanti" bisiknya lagi dibalas tatapan memelas dari nata
perlahan lama kelamaan pekerja mulai bubar karna memiliki pekerjaan sendiri sendiri tak terkecuali bi emi.
"dengar, aku usahakan aku cepat kembali"
"tapi-"
"aku tau, aku tau. ketika kau ada kesempatan pergilah lewat manapun kau paham?"
"iya" wajah nata gelisah bukan main
apa sebenarnya yang dia takutkan.
jawabannya tentu hanya satu, tapi dirinya terlalu takut hanya untuk memikirkan jawabanya sangat takut. ya, satu orang hanya satu orang yang bisa membuatnya benar-benar sekalut ini.
"nata kau disuruh membersihkan ruangan 800 bawa lap pel dan ember disana mereka sedang bermain" lagi lagi ania namun kali ini terlihat dari wajah gadis itu tak ada niat untuk menyiksa nata wajahnya lelah.
Nata hendak menolak tapi mustahil, mulutnya tak bisa. Dengan enggan nata mengambil ember dan lap pel.
kali ini tubuhnya berhenti bergetar. 'tak ada yang akan terjadi, tenanglah semua akan baik-baik saja kau akan tetap hidup'
makna hidup nya hanyalah tetap hidup, menghadapi neraka selama ini nata sadar harga dirinya membuatnya disiksa. dia tak perlu harga diri untuk hidup cukup berlutut dan memohon saja kau bisa hidup kenapa harus susah-susah menaikan standar diri.