
Jam 3 dini hari Natalie dan beberapa tukang bersih-bersih lain masih sibuknya membersihkan bekas ruangan bermain para manusia semalam, dari bekas botol minuman keras, rokok, bahkan baju wanita berserakan dimana-mana. mereka harus menyelesaikan nya sebelum dipakai lagi nanti malam.
tiga bulan sudah dia hidup seperti ini, bukan berarti tidak ada hinaan dan siksaan, Natalie kerap kali menjadi sasaran Bulian pekerja lain bahkan wanita-wanita malam yang gagal merayu laki-laki beruang dengan kesal melampiaskannya kepada Natalie.
dirinya hanya diam dan lebih baik menunduk lalu meminta maaf, entah sejak kapan dia selalu minta maaf dan ampun atas sesuatu yang tak dia lakukan. itulah caranya bertahan hidup memang apa yang salah?
meskipun demikian dia senang karna sedikit nya mampu menabung bahkan hidup layak, makan teratur, mandi dengan bersih punya rumah bahkan punya kasur. baginya hidup seperti ini sudah cukup tenang.
jam 9 pagi mereka kembali untuk istirahat dan sarapan. bibi emi yang sudah pulang duluan menyiapkan makanan lalu sarapan bersama Natalie.
"lepas maskernya, memang kau mau makan seperti itu"
"iya bibi"
"wajahmu pucat, kambuh lagi?"
"tidak, tidak apa apa hanya lelah sedikit"
bibi emi mendengus, dia tau segalanya tentang tubuh Natalie bahkan diam diam dia selalu memantau Natalie takut-takut sakitnya kambuh lagi. tapi Natalie tak pernah mengeluh atau mengatakan apa yang dia rasakan 'tidak apa-apa' itulah yang selalu terdengar
"pergilah kedokter tubuhmu tidak baik-baik saja, memangnya mau sampai kapan?"
"bibi, aku tak punya uang biarlah nanti juga baikan. bibi juga berhentilah membeli salep aku gak butuh sudah tak bisa hilang juga. hanya membuang uangmu saja"
meskipun sudah sering mendengar nya emi tetap tak terlalu terbiasa dengan suara kasar Natalie apalagi saat mengatakan kalimat panjang membuat nya mengira dia sedang bicara dengan hantu karna lumayan horor.
"aku membeli salep karna ingin, bukan karna dirimu" dengus bibi emi
"nanti ada tamu besar kata nona elena kita harus siap siaga dipanggil kapanpun" ucap bibi emi mengakhiri makanya
jam menunjukkan pukul 11 Natalie bergegas memakai jaket tebal dan masker lalu berangkat ke gedung tempatnya bekerja.
sampai disana para pekerja sudah mulai sibuk membersihkan ini itu begitu juga Natalie. 'tamu kali ini sepenting apa sampai-sampai kamar mandi harus dibersihkan dua kali' gumamnya
beginilah hidupnya, tak ada lagi nona Cole yang dlu yang ada hanya Natalie mantan narapidana yang ingin hidup dengan cahaya matahari dan angin segar serta makan teratur.
jam 2 siang dirinya kembali kerumahnya, kakinya nyeri benar-benar nyeri. bibi emi yang seakan paham langsung membantu Natalie berjalan lalu memijit kakinya berharap bisa mengurangi rasa sakit nya.
"nanti malam kita harus tetap disana, perintah nona elena" ucap bibi emi disela sela pijitannya
Natalie mengangguk" sudah bi tak apa, bibi istirahat lah pasti lelah"
"kau yakin akan pergi bekerja aku bisa meminta izin nona elena agar kau istirahat"
"jangan, aku sudah banyak merepotkan. tidak lagi. aku bisa bi"
"nanti kalo merasa tidak kuat pulang lah"
"iya"
bibi emi sebenarnya sosok yang baik tapi tatapan dan kata-kata nya kadang tajam membuat nya seperti orang judes. Natalie beruntung tinggal dengannya, bibi emi yang terpaut 7 tahun lebih tua darinya rasanya seperti sosok ibu untuknya.
kakinya benar-benar lemah sekarang, sudah tak terhitung selama dipenjara berapa kali kakinya patah karna ulah 'teman sekamarnya' dan hanya beberapa kali saja dia diberi perawatan seadanya. maklum, seorang narapidana memangnya apa yg bisa didapatkannya?
Natalie
rambut nya pendek diatas bahu, tak ada lagi rambut panjang tebal yang indah, rambutnya saja tipis dan kering bahkan didahinya tercetak dua bekas luka jelas yg tak bisa ditutupi dengan mudah, harus sering menunduk agar tertutup. tubuhnya yang kering bagaikan tulang dibalut kulit, kulit kasar dan kusam, bibir yang terkelupas mata yang gelap, segelap masa lalunya.