
Elena terdiam tak tahu harus bereaksi seperti apa, didepan matanya tersaji pemandangan mengerikan yang pertama kali ia lihat dalam hidupnya.
perut Natalie dengan jahitan khas seseorang yang sudah kehilangan satu ginjal serta beberapa sayatan yang cukup membuat elena meringis melihatnya.
"Bagaimana...... bagaimana ini bisa terjadi?"
Natalie hanya tersenyum melihat reaksi elena yang mengingatkannya pada bibi Emi.
"Aku tidak terlalu ingat, tapi seingatku anak seorang petugas disana membutuhkan ginjal. Mungkin itulah alasan mengapa aku kehilangan satu ginjalku nona" ucap Natalie pelan nyaris tidak terdengar
"kau memiliki luka lain?" tanya elena curiga
sementara Natalie hanya diam menunduk
"haahhhh aku benar-benar tak mengerti sebenarnya apa si yang terjadi dengan hidupmu"
"aku juga tidak mengerti nona"
"lalu sekarang bagaimana? maksudku ya hidupmu kau tau kalau kau sama sekali tidak cocok untuk pekerjaan menggoda laki-laki lalu aku sebenarnya tidak yakin kau bisa mengerjakan pekerjaan ekstra dengan tubuhmu yang setengah cacat ini"
Natalie tersenyum samar. Senyuman putus asa.
"kau tau sebenarnya aku tidak perlu peduli dengan hidupmu atau apapun yang terjadi padamu tapi kau sudah melibatkan ku dalam masalah besar dengan tuan besar Cole. Aku tidak ada pilihan selain harus membantu mu"
"aku minta maaf nona sungguh tidak bermaksud begitu"
"sudahlah ini lebih baik istirahat dulu mungkin besok kita bicarakan lagi" ucap elena sambil menepuk pelan pundak Natalie.
"iya nona"
Natalie cukup lama terpaku memandangi pintu tempat elena keluar tadi. Pikiran nya kosong hatinya tak menentu ia benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang, sepertinya untuk lepas dari laki-laki seperti kemal itu tidak mungkin.
sejenak ia berpikir ah bagaimana jika ia mati saja?
Natalie tidak tidur semalaman ia takut ia akan bermimpi saat tidur tapi ia juga tidak kuat dengan hidupnya yang seperti ini, rasanya sesak luar biasa antara menahan beban didadanya dan air mata dipelupuknya.
Selama hidupnya ia selalu bertanya kenapa ia dilahirkan, kenapa ia tidak pernah dicintai. Ibu yang melahirkannya direnggut tuhan, ayahnya bahkan tidak pernah melihatnya sebagai anak lalu setelah menikah pun ia tak mendapat cinta sepeserpun dari suaminya.
lihat saja wajahnya di cermin bagaikan nenek sihir.
rambutnya cokelatnya yang tipis,kusut, bibirnya yang kering dan pecah-pecah ditambah luka didahinya beserta tatapan matanya yang kosong.
kenapa begitu sulit baginya untuk hidup, dia tidak meminta hal yang sulit atau mustahil pada Tuhan dia bahkan tidak meminta orang yang telah memfitnah nya mendapatkan azab. Dia hanya ingin menata hidupnya sekali lagi makan dengan baik mandi dua kali sehari lalu tidur diatas kasur dengan nyenyak.
Sebenarnya seberapa besar dosanya sehingga tuhan memberikan penderitaan macam ini.
Sambil menyeka air matanya Natalie masuk ke kamar mandi lalu harus segera memikirkan cara untuk memenuhi syarat dari Kemal.
tok...tok...tok...tok
"siapa?" sahut elena
"saya nona, natalie"
"ada apa?"
"nona itu...saya anuuu.."
"apasih bisa bicara yang jelas tidak"
"nona.... tolong berikan saya pekerjaan apapun itu asal bisa memenuhi target bulanan yang tuan kemal berikan saya mohon"
"aku sudah memikirkan sampai sulit tidur tapi tidak menemukan jawaban. sejujurnya aku juga tidak tahu harus memberikan pekerjaan apa padamu"
Natalie tidak terlalu terkejut mendengarnya, yah pekerjaan apa yg bisa dilakukan olehnya hingga dapat menghasilkan 500jt dalam satu bulan menjual organ nya saja sudah tidak laku.
drrrrrttt.......
dering telepon elena memecah kebingungan diantara mereka mereka berdua
"halo,iya tuan ada apa?... ah ya baik tuan segera"
"aku ada urusan nanti saat aku sudah menemukan pekerjaan untukmu akan kuhubungi untuk sekarang kembalilah dan jangan lupa sarapan"
"tapi nona...."
"sudahlah Natalie nanti kita bahas lagi aku sibuk"
"baik nona saya permisi"
elena menatap seksama punggung Natalie yang menjauh ia benar-benar heran kenapa wanita seperti itu bisa memiliki masalah mengerikan seperti ini.
sesampainya didepan pintu kamarnya elena terkejut seingatnya ia menutup rapat pintunya kenapa sekarang terbuka. Dengan tergesa ia berjalan dengan panik segera memasuki kamarnya.
"tttt....ttuaann" disana tuan Cole sedang santai menggeledah atau lebih tepatnya melihat seluruh isi kamar dan barang Natalie
"ah kau sudah kembali rupanya, dari mana saja?"
"s..sa..saya dari tempat nona elena tuan "
"aku tidak ingat kalau kau gagap"
natalie menunduk sambil menggeleng pelan.
Kemal menatap Natalie dari atas sampai bawah berulang-ulang. Dia ingin memastikan bahwa orang didepannya benar-benar mantan istrinya. menyeringai
"tutup pintunya, setidaknya kita butuh privasi untuk berdua kan Na-ta-lie?"
"i..iya tuan" ejaan yang membuat jantungnya terasa lebih kencang, dengan gelagapan Natalie menutup pintu kamar kecilnya itu.
dia tidak bisa mengeluarkan suaranya untuk bertanya apa yang diinginkan oleh Kemal sehingga repot-repot datang ke kamarnya. bahkan rasanya berbagi udara yang sama dengan Kemal pun sulit seperti seluruh oksigen dikamar ini diambil alih olehnya.
Kemal mendekat ke tubuh Natalie, tidak memberi celah diantara mereka sementara Natalie mencoba untuk mengatur jantungnya. Mundur pun mustahil tubuhnya sudah mentok ke dinding, Natalie sungguh ketakutan.
"jika aku perhatikan sepertinya tubuhmu jadi lebih kurus ya nata hm?"