
"Itu bukan sesuatu yang menarik untuk di bahas di sini" ucap Kila sambil mengunyah mie nya.
"Yaa, makan dulu baru bicara!" ujar Lucas menatap Kila, Kila mengabaikan ucapan Lucas.
"Bukankah dia orang yang kau sukai?"
"Lantas apa menariknya?" ucap Kila sambil meletakkan sumpitnya.
Terdiam sesaat.
"Membicarakan seseorang yang kita sukai tentu saja selalu menarik" Lucas berkata.
"Kau sendiri, bagaimana?"
"Kau kan belum menjawab pertanyaanku"
"Aku tidak ingin bercerita tentang dia saat ini" Kila menggelengkan kepalanya. Karena Lucas ada bersamanya saat ini. Dia juga sudah melupakan Juno untuk sementara waktu.
"Aku mencintai seorang wanita bernama Anna." Lucas mengawali pembicaraan seriusnya.
"Dia sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan berusia satu tahun,"
"Apa?" Kila terkejut.
"Kau tahu? Suaminya adalah seorang player. Anna pernah memergoki suaminya selingkuh dengan perempuan lain dan bukan hanya sekali-dua kali suaminya melakukan hal seperti itu, berselingkuh secara terang-terangan, sampai Anna bosan memberitahu dan memperingatkan suami nya" Kila terdiam. Ada keperihan yang tergambar dari wajah Lucas saat mengatakan itu, ada sesuatu yang tersembunyi di sana, sesuatu yang seperti hanya Lucas yang boleh mengetahui itu. Sesuatu yang tidak Kila pahami dari hati seorang Lucas.
"Dia lebih memilih mempertahankan rumah tangga dan keluarganya daripada berpisah dengan suaminya itu, yang sudah sangat jelas mengkhianatinya. Padahal aku berulang kali mengatakan padanya, aku siap menerimanya"
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa kau mau menerimanya?"
"Aku tidak tahu. Anna tidak cantik, tapi saat menatap perempuan itu..." kata-kata Lucas berhenti. "Ah, kau tidak akan mengerti masalah ini, hahaha," Lucas tertawa.
"Aku mengerti" Kila mengangguk dalam. Kemudian menghembuskan nafas panjang dan meneguk segelas anggur di cangkirnya lagi. Ada kehangatan mengalir di nadinya. Air matanya hendak jatuh. Bukan karena perasaannya terhadap Lucas tetapi mencoba memahami perasaan Lucas terhadap perempuan itu, Anna. Kekuatan apa yang membuat Lucas memiliki perasaan hebat seperti itu?
"Anna jelas-jelas menolakku. Dan, mama juga tidak setuju aku menyukai perempuan itu. Mama bilang padaku, sebaiknya aku mencari perempuan yang masih sendiri agar nantinya tidak henjadi gunjingan dan pembicaraan orang lain"
"Kau memiliki hati yang sangat baik dan lembut" Kila berkata lirih.
"Benarkah?"
"Dan kau juga... tampan?" Kila tertawa, Lucas melirik Kila kemudian menghadapkan wajahnya di depan botol dan memandangi wajahnya sendiri di pantulan botol. Kila tertawa melihat tingkah Lucas.
"Apakah kau mabuk?" Kila tertawa keras sambil menatap Lucas dengan sedih.
Setelah selesai makan Lucas dan Kila berjalan kembali ke hotel mereka. Berjalan dengan perlahan melihat indahnya langit dan kota di malam yang dingin, bercanda tawa bersama. Tidak terasa mereka sudah sampai di depan pintu kamar.
"Lucas, kau tidak mengucapkan selamat tidur untukku?" Kila berdiri di depan pintu kamarnya sambil menguap, waktu sudah beranjak dari jam 12 malam. Lucas berbalik dan kemudian memandangi Kila, sedikit merasa aneh. Kila menunggu sambil memegang handle pintu. Lucas mendekati Kila.
"Sleep well, Kila" Lucas mengecup kening Kila dengan lembut dan segera masuk ke dalam kamar. Kila tertegun lama sekali. Setelah diam cukup lama, akhirnya Kila membuka pintu kamarnya. Rasanya semakin aneh saja perasaan. Perasaan apa ini? Hampa dan bahagia berkumpul menjadi satu? Perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang jatuh cinta dan patah hati di waktu yang sama baik.
Dua jam kemudian, Kila masih saja belum bisa memejamkan matanya.
"Kau masih membaca komik?"
"Masih, kau belum tidur?"
"Kemarilah kalau kau tidak bisa tidur" Kila diam tidak membalas. Kila merasa kesal dengan dirinya sendiri. Dia berusaha memejamkan matanya sebisa mungkin.
"Lucas! Bangun! Sekarang sudah jam berapa?!" Kila mengetuk pintu kamar Lucas karena ketika Kila mencoba menghubungi ponsel Lucas, ternyata ponselnya mati.
"Jangan berteriak di depan kamarku!" Lucas menyahut dari dalam kamar.
"Lucas!" Kila malah berteriak lagi. terdengar gerutu dari dalam.
"Kila!!" Lucas membuka pintu kamarnya seraut wajah mengantuk muncul di hadapan Kila. Lucas menatap Kila tidak berminat. Padahal Kila sendiri juga baru terbangun setengah jam lalu dan langsung mandi air hangat. Sekarang dirinya sudah rapi dan wangi.
"Ini sudah jam sepuluh!" Lucas masuk lagi kedalam kamar dan melemparkan dirinya keatas tempat tidur. Kila mengikuti dari belakang.
"Ayolah, kita bisa berjalan-jalan dan membeli sesuatu, cuaca sedang cerah di luar sana" Kila duduk di tepi pembaringan, Lucas malan pura-pura mendengkur.
"Lucas" suara Kila terdengar manja. Lucas menarik tangan Kila dan membuat Kila terbaring di samping Lucas. Lucas membuka matanya dan memandang Kila. Kila balas menatap dengan tajamnya.
"Apa alasanmu datang ke Jambi?" Kila menatap mata Lucas yang coklat, Kila merasa terbius mendadak. Mata Lucas terpejam lagi. Kila menjadi teringat apa tujuan Lucas datang kemari.
"Menumpang tidur dan membaca komik hanya itu alasanku datang kemari. Untuk menemuimu juga, sebenarnya" Lucas meraih Kila dalam pelukannya. Jantung Kila serasa mau melompat dari kotaknya. Lucas membuka matanya dan menatap Kila yang sedang dalam pelukannya. Kila memandangi Lucas tanpa suara. Lucas tidak kuasa ketika menatap Kila kemudian secara perlahan menyentuh bibir Kila dengan lembut dan Kila mulai membalasnya, tiba-tiba Lucas tersadar kembali.
"Maaf"
"Kenapa?"
"Ciuman di bibir bisa menambah perasaan sayang" ucap Lucas dan mulai melepaskan pelukannya dan kembali terlentang dengan menyangga kepala dengan dua tangannya. Kila mencoba memahami kata-kata itu, Kila diam saja. Selama seharian Lucas hanya membaca komik dan membaca komik tanpa peduli dengan apapun. Makan siang mereka berdua pun hanya dipesan dari restoran guest-house. Namun, Kila juga tidak menyesal mengirimkan komik tersebut untuk Lucas walaupun dia jadi mengabaikannya. Kila akhirnya ikut membaca komik dengan santai dan tertawa-tawa sendiri saat menemukan bagian dalam cerita komik yang lucu yang membuat Lucas menjadi heran dan menatap Kila serta berujar "Memangnya ada bagian yang lucu?"
"Kau tidak menikmati ini dengan baik, ini lucu sekali" Kila kembali tertawa-tawa lagi membuat Lucas mengerutkan keningnya. Komik di tangan Kila, yang barusan dibacanya beberapa saat lalu menurutnya tidak ada sesuatu yang cukup lucu untuk bisa ditertawakan seperti yang dilakukan Kila saat ini.
"Berlebihan sekali" gumam Lucas membuat Kila melirik sebal pada Lucas. Seharian mereka habiskan berdua di dalam kamar hanya untuk membaca komik, mereka baru keluar di malam hari dan kembali makan di tempat yang sama seperti malam sebelumnya.
"Lucasss" Kila melirik Lucas yang duduk di sebelahnya. Masih di sofa yang sama, masih dengan komik di tangan.
"Apa?" Lucas tersenyum. Kila menghela nafas, melihat senyum Lucas saat ini rasanya merupakan kebahagiaan tersendiri. Senyum yang membuat Kila selalu merasa berdebar-debar.
"Bolehkah aku...meminta sebuah pelukan. lagi?" tanya Kila setengah ragu mengatakan itu membuat Lucas yang kini ganti menghela nafasnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Lucas lembut
"Ada apa denganku?" Kila balik bertanya karena tidak bisa menjelaskan betapa bahagianya dirinya ketika bisa mendapat sebuah pelukan yang tulus. Seperti yang Lucas lakukan beberapa saat setelah mereka bertemu.
"Kau suka sekali dipeluk? Kenapa?" Lucas menatap Kila yang salah tingkah.
"Karena setelah aku dewasa, belum ada yang memelukku seperti caramu memelukku"
"Ada apa rupanya dengan pelukanku?" Lucas tersenyum lagi.
"Hangat. Nyaman. Tulus. Penuh kelembutan. Kasih sayang. Dan persahabatan" Kila ikut tersenyum. Lucas meletakkan komik yang dibaca nya. Perlahan menatap Kila yang semakin salan tingkah. Lucas menyentuh anak rambut Kila dan membelainya.
"Kemarilah" Lucas mendekap Kila dalam pelukannya. Tubuh Kila serasa lunglai di dalamnya, bahunya terasa lemah dan Kila takjub karena semua beban yang dirasakannya selama seperti menghilang. Tangan Lucas menepuk pundak Kila seakan ingin memberikan kekuatan pada Kila. Kila makin mempererat pelukannya. Pelukan yang didambakannya. Kila rasanya sangat terharu sampai rasanya ingin menangis.
"Makasih" Kila berbisik. Lucas mengangguk, nafasnya terasa di punggung Kila hangat dan dekat.
"Jadilah perempuan yang tegar dan kuat sehingga badai pun takut padamu" Lucas sekali lagi menepuk pundak Kila kemudian melepaskan pelukannya. Kila mengusap matanya. "Tidurlah" ucap Lucas.
"Iya" Kila beringsut dari tempat duduknya dan meninggalkan Lucas yang memandangi punggungnya yang menjauh. menghela nafas dan melarutkan konsentrasi dengan mebaca komik kembali. Di kamarnya, Kila tak henti-hentinya mengusap matanya yang berair. Seakan tidak dapat di cegah dan tidak mau berhenti. Kila memahami cepat atau lambat dirinya akan kehilangan Lucas, namun Kila juga ingin sekali tidak pernah kehilangan Lucas dalam bentuk apapun, dengan cara apapun. Kila hanya tidak mengerti kenapa dirinya merasa ingin selalu bersama Lucas. Itu saja.