Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Hari Baru



Hari Selanjutnya


Hari ini adalah hari dimana Lucas menjalani operasi. Hari sudah sore dan Kila sudah sejak tadi pulang dari kantor. Kila duduk di sebuah taman dekat kantornya dan melamun di sana. Kemudian dia mendesah panjang. Memandang langit memohon kekuatan dan tebaran mukjizat dari malaikat yang sedang menaburkan kebaikan di dunia. Kila hendak menelpon seseorang ketika sebuah panggilan tiba-tiba masuk.


"Kila.... maaf. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa bersama Lucas" Anna menangis tak terkendali. Seketika semua pikiran buruk menerpa Kila. Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk tidak larut dalam duka.


"Ada apa?" suara Kila akhirnya tercekat juga di tenggorokan.


"Aku memang tidak ditakdirkan untuk bersama Lucas. Aku seharusnya menyadari itu sejak awal. Cinta ini terlalu menyakitkan buatku."


"Siang tadi, Lucas meninggal saat di operasi." Tangis Anna semakin pecah dan berderai-derai kemudian serta-merta tangan Kila menjadi lemas


"Baik. Aku akan ke sana besok, Anna" Kila langsung menutup pembicaraan itu. Kila berdiri dan berjalan menuju pondokannya. Air matanya tidak mau jatuh betapapun dia ingin menangis dan berteriak. Tapi, tidak ada satu butir air mata pun yang jatuh. Perasaan itu demikian menyiksa dan membuat tubuhnya bergetar


"Kila, aku mendengar kabar Lucas, apakah kau sudah mendengarnya?" Kevin menghubungi Kila yang sejak sore tadi hanya terbaring tanpa daya diatas tempat tidur


"Ya" Kevin terdiam cukup lama menyadari bahwa dirinya juga sangat sedih kehilangan seorang teman seperti Lucas. Kevin mendengar desah nafas Kila sebagai pertanda hubungan telpon tersebut belum terputus.


"Apakah kau ingin aku ke sana?"


"Untuk apa? Aku besok akan pergi ke Jakarta"


"Baiklah. Apakah aku perlu menjemputmu? Tidak perlu. Aku bersama supir kantor besok. Kau tunggulah saja, aku juga akan menemuimu"


"Baiklah. Kita akan bertemu di rumah Lucas"


"Oke, Kevin... Apakah Lucas mengatakan sesuatu padamu saat kita bertemu dengannya dulu?" Kila hanya sekedar ingin tahu.


"Apa ya? Menurutku itu tidak terlalu penting untuk kusampaikan padamu" ucap Kevin.


"Katakanlah padaku. Lucas bilang padaku untuk selalu memberikan perhatian padamu karena kau suka sekali diberi perhatian," ujar Kevin. Kila tertawa mendengarnya


"Jadi,kalian berpikir aku ini kurang perhatian?"


"Kurang lebih seperti itu," Kevin terdiam setelah mengatakan hal itu. Akhirnya Kila bisa menangis. Semua kesedihannya tumpah. Kevin hanya mampu mendengarkan tangisan Kila yang tidak mau berhenti.


"Bagaimanapun Kila, hiduplah bersama semangat Lucas yang dia tinggalkan untukmu. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah kehilangan harapan"


"Ya" Kila menjawab masih dengan terisak-isak.


Setelah Kevin menutup pembicaraan, Kila melangkah menuju lemari pakaiannya. Dia mengeluarkan gaun berwarna hitam. Terakhir kali dia mengenakannya nya meninggal karena sebuah kecelakaan. Harus lah ketika ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan. Harus mengingat kembali perasaan sedih itu membuat bahunya semakin terguncang dan Kila menangis dengan hebat sambil memeluk gaun hitamnya.


 


"Lucas”


 


"Lucas.... “ Kila menangkupkan wajahnya berharap gaun hitamnya mampu membawa kesedihannya pergi seperti yang gaun hitam tersebut lakukan saat ayah dan ibunya tiada.


 


Suasana rumah mewah itu diliputi duka yang tergambar dari mendung yang melingkupi seluruh langit pada hari itu. Kevin menunggu kedatangan Kila dan belum akan masuk memberikan penghormatan terakhir sebelum dia melihat Kila. Kila sendiri baru saja sampai ketika tiba-tiba dia melihat Anna dan putrinya melintas di depan sana. Kila buru-buru turun dari mobilnya dan memanggil Anna. Putrinya yang terlebih dahulu menoleh dan kemudian menarik baju ibunya untuk memberitahu. Anna menatap Kila sedih dan mereka pun berpelukan


 


"Ucapkan salam pada Kakak Kila, Yora” ujar Anna.


 


“Selamat Pagi, kak” ucap Yora. Kila tersenyum manis menyambutnya


 


"Siapakah dia, Ma?


 


"Dia adalah teman baik Paman Lucas dari Jambi”


 


"Apakah dia juga mengenal Paman Lucas dengan baik?"


 


"Tentu saja Yora. Aku mengenal Paman Lucas sebaik ibumu mengenalnya”


 


"Lalu apakah kalian berpacaran?"


 


"Yora, kau tidak pantas berkata seperti itu pada Kakak Kila” ujar Anna.


 


“Tidak apa-apa” sergah Kila. Dia menundukkan badan di hadapan putri Anna yang masih berusia 5 tahun itu.


 


"Apakah Paman Lucas meninggalkan kesan yang baik untukmu?"


 


"Iya. Aku tidak mengerti mengapa orang baik seperti Paman tidak bisa hidup lebih lama. Aku tidak keberatan memiliki Papa seperti Paman Lucas. Dia sering mengajakku berjalan-jalan” Anna tersenyum sedih melihat putrinya dan membelai kepala gadis kecil itu. Kila terdiam mendengar kata-kata yang bahkan diucapkan seorang anak kecil namun membuatnya berpikir banyak hal.


 


"Apakah kau sedih, Yora?"


 


"Tidak. Karena kata mama, Paman sudah bahagia di langit” Yora menunjuk ke langit. Kila mengangguk-angguk. Hatinya merasa pilu mendengarnya.


 


Kevin berdiri disamping Kila setelah memberikan penghormatan terakhir pada arwah Lucas. Kila memandangi foto Lucas yang diberi bunga dan pita. Tidak ada lagi airmata yang bisa dia tumpahkan di sini. Benar apa yang dikatakan Yora, bahwa Lucas seharusnya sudah berbahagia di langit. Tidak perlu lagi merasakan sakit, tidak perlu lagi merasa menderita dan tidak perlu lagi merasakan cinta yang rumit.


 


"Selamat tinggal, Lucas. Sleep well” Kila bergumam lirih dan mengajak Kevin keluar ruangan. Fani menahan kepergiannya. Mengajak nya duduk sebentar di taman.


 


“Kak, kau datang ke Jakarta sekaligus untuk membicarakan penawaran dari kantormu, bukan?" Kila sedikit khawatir karena tidak ada guratan kesedihan saat Fani berkata seperti itu.


 


"Apakah pantas kita membicarakan bisnis di saat seperti ini?" tanya Kila. Fani tertawa.


 


 


"Lucas bilang padaku, untuk bersikap baik padamu. Maafkan aku, Kak" Fani menundukkan badannya dan membuat Kila merasa rikuh.


 


"Kita akan membicarakan rencana bisnis ini besok dikantorku, Kak” Fani bangkit dan berlalu. Ketika langkah Fani terlihat melemah, disaat itulah Kila menyadari betapa Fani mungkin lebih merasa kehilangan Lucas daripada dirinya. Sejak kecil tinggal dan dibesarkan bersama, saling menyayangi satu sama lain. Kila menarik nafas panjang.


 


Dua bulan kemudian...


 


Tahukah kalian? Lagu ini diciptakan mendiang Lucas untuk bandnya. Berdasarkan keterangan lagu ini didedikasikan untuk perempuan bernama Anna. Tapi, mendiang Lucas juga dekat dengan seorang gadis yang menginspirasinya dan akhirnya bisa menciptakan lagu ini, siapakah dia? Jadi sebenarnya, lagu ini untuk Anna atau gadis itu ya? Ah, sangat membingungkan!”


 


Kila mendengar siaran tersebut di sebuah acara televisi, Kila memandang layar kaca tidak berkedip. Ternyata ini band yang dimilik Lucas. DREAM. Mereka sedang bersiap-siap membawakan lagu ciptaan Lucas yang membuat nama band itu tiba-tiba meroket dalam dua hulan ini dan lagu tersebut menduduki rating teratas tangga lagu di semua acara musik saat ini.


Kila termenung melihatnya. Kila mengamati vokalisnya yang memang bersuara sangat merdu. Mereka berjumlah empat orang, jika personel itu termasuk Lucas maka band tersebut sebenarnya berjumlah lima orang. Vokalis band tersebut kini sedang membawakan lagu yang diciptakan Lucas. Semua terbayang kembali di matanya.


 


"Apakah kau akan merekamnya untukku?"


 


Kila mengambil ponselnya. Mencari file berisi rekaman suara Lucas. Di sana terekam semua pembicaraannya dengan Lucas. Kila sengaja tidak menekan tombol STOP ketika Lucas selesai bernyanyi. Kila kembali mendengarkan suara Lucas.


 


"Bagaimana penampilanku?”


 


“Jangan pernah berpikir aku akan mati besok Kila”


 


“Lagu ini buat Anna, bukan buatmu”


 


“Terimakasih karena kau semuanya menjadi lebih jelas untuk aku dan Anna.”


 


"Lucas, tetap kaulah yang paling bagus menyanyikan lagu itu. Aku merasa lagu itu kau ciptakan untukku, bukankah begitu?" Kila berkata pada dirinya sendiri dan tersenyum. Kila menikmati menonton talkshow profil band DREAM di televisi.


Pembawa acara tersebut menyebutkan bahwa band tersebut terbentuk kurang lebih 3 tahun lalu diawali dengan Lucas yang suka bermain gitar dan ingin bernyanyi namun tidak cukup kuat untuk bernyanyi terlalu lama, sehingga akhirnya dia mengajak Woro dan Rye untuk bergabung Woro selain bersuara merdu juga jago bermain piano, di sini Woro adalah vokalis tetap DREAM, sedang Rye selain mahir bermain drum, dia juga sering bersama-sama Lucas untuk menciptakan sebuah lagu.


Selanjutnya ada Sandi yang berperan dalam gitaris seperti Lucas di band tersebut dan Kent yang memegang peran bassist sekaligus rapper. Mereka menyampaikan dan mengakui dengan penuh kesedihan bahwa mereka merasa sangat kehilangan Lucas. Ketika Woro sampai tidak bisa berkata-kata saking sedihnya, Kila mengusap matanya yang basah.


 


"Aku rasa mendiang Lucas tidak bisa terlalu lama dalam bernyanyi adalah karena penyakitnya. Lucas sangat sulit dalam pernafasan perut dia selalu mengeluhkan sakit saat harus mengambil nafas. Lama kami sebagai teman-temannya menyadari, bahwa itu adalah karena sakitnya. Padahal kami semua harus mengakui kalau suaranya sangat bagus, kami sering membuat lagu bersama dan dia menyanyikannya...”


 


Kalimat itu berhenti di lidah Rye. Membuat Kila semakin merasa sedih


 


"Lagu yang diciptakannya terakhir adalah lagu yang sangat menyentuh hati kami semua. Kami tahu seberapa besar rasa cintanya terhadap keluarga, adiknya dan seseorang yang selalu hidup dihatinya sampai dia pergi. Lagu itu benar-benar menyentuh kami semua” sambung Woro.


Kila kembali menahan nafas sampai rasanya dadanya ikut sesak karena menahan luapan emosi. Namun, dibalik semua kehilangan dan rasa sedih ini, kenangan akan sosok Lucas akan selalu membawa kesan tersendiri baik bagi dirinya dan orang-orang yang dikenal Lucas. Kila akan selalu mencintai Lucas bagaimanapun caranya dengan sepenuh hati dan terus membawa semangat Lucas di dalam hari-harinya.


Hari-hari telah berlalu dan secara perlahan bisa dihadapi Kila dengan penuh semangat. Bagaimanapun, Lucas telah hidup dihatinya dan memberikan semangat tersendiri. Kila ingat pembicaraannya dengan Lucas beberapa bulan yang lalu saat mereka bertemu di Jambi dan menghabiskan waktu bersama.


 


"*Lucas, aku ini penulis gagal"


 


"Mengapa kau berkata seperti itu?"


 


"Karena sampai saat ini aku hanya menulis namun belum memiliki sebuah buku yang sudah terbit” Lucas menertawakannya. Kila makin merasa tidak berguna.


 


"Jangan berhenti berusaha. nanti, keinginanmu itu akan terwujud. Tetaplah berkarya dan tetaplah menulis. Tulisanmu bisa menginspirasiku dalam membuat sebuah lagu. Itu berarti tulisanmu memiliki makna” Lucas menghibur Kila


 


"Bukankah kau sudah memulai dari tulisan-tulisan yang kecil? Seperti blog, The Crowd Voice aku rasa itu adalah cikal-bakal bukumu nanti.”


 


“Jika suatu hari aku diberikan kesempatan aku akan menuliskan sebuah buku mengenai dirimu”


 


"Aku? Kenapa?”


 


"Aku hanya ingin menuliskannya. Menulis mengenai seseorang yang kita kenal sangat menyenangkan


 


“Aku akan selalu mendukungmu, Kila”


“Terimakasih”


“Kau masih ingin melanjutkan membaca komik?”


“Tentu saja”


“Baiklah, aku ingin rebahan dikamarku”


“Kau ingin tidur?”


“Iya, rasanya aku sudah mengantuk*"


"Baiklah. Sleep well, Kila" Kila tersenyum mengingat pembicaraan itu. Semangat yang di tinggalkan Lucas akan terus dijaganya sampai nanti.