
Kila memandangi punggung Lucas yang bergerak seiring lagu yang di mainkannya.
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Kila semakin terpaku mendengar alunan gitar Lucas yang menyayat hati dan membuatnya semakin larut dalam kesedihannya sendiri.
The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart
Beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
I'll love you for a thousand more
Ohh
Lagu panjang itu berhenti dimainkan oleh Lucas. Dia menarik nafas panjang dan merasa sangat lega. Kila terlambat memberikan apresiasi, matanya mengabur karena airmata dan dia semakin sibuk hendak menekan tombol STOP di ponselnya.
"Bagaimana penampilanku?" Lucas menoleh dan mendapati Kila mengusap airmatanya. Kila bertepuk tangan sangat antusias dan kembali menahan tangis diwajahnya.
"Jangan pernah berpikir aku akan mati besok, Ka" Kila semakin tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Dadanya sesak karena memikirkan semuanya.
"Lagu ini buat Anna, bukan buatmu, tahu!" Lucas mengajak Kila tertawa. Kila meringis dan melepaskan pelukannya dari Lucas.
Diam-diam Kevin memperhatikan mereka dari kejauhan. Hatinya terasa membeku dan pedih. Mengapa wanita diciptakan terlalu rumit terlalu sulit dipahami dan dimengerti? Mereka selalu berkutat pada hal-hal yang rumit dan memusingkan kepala. Mereka seakan tidak bisa berpikir secara santai dan logis. Mereka selalu melibatkan airmata dalam persoalan hidup mereka. Anna yang tetap menangis untuk lelaki yang mengkhianatinya, Fani yang menangis karena dirinya tidak pernah bisa membalas cintanya walaupun sudah sekian tahun berlalu sejak Kevin berada di anak-perusahaan yang dimiliki Gyuhyeon Group. Kola yang menangis untuk lelaki yang bahkan tidak mencintainya. Lihatlan Kila tetap saja menangis seperti anak kecil dan pada akhirnya dia tidak bisa menjadi orang yang menenangkan Kila saat ini. Padahal, sejak dia sadar Kila telah memikat hatinya beberapa bulan lalu, dia sudah memutuskan akan memperjuangang.
"Lucaa, berjanjilah padaku, kau akan menjalani terapi dengan baik, ya? Kila mengusap butir airmatanya yang terakhir. Lucas menepuk pundak Kila.
"Baiklah. Aku berjanji" Lucas meletakkan gitarnya dan menggosok-gosok tangannya yang satu lagi masih nepuk pundaknya.
"Kau tau, sebenarnya Anna mencintaimu." ucap Kila sambil menatap kosong ke depan.
"Aku tahu"
"Cinta yang menyakitkan, bukan?" Lucas tersenyum bijak. Kila diam. Semuanya sudah jelas dan tidak ada yang perlu dia jelaskan. Lucas pasti lebih memahami segala sesuatu yang terjadi saat ini.
"Kalau aku bagaimana?"
"Kau? Aku tidak punya hati untuk kubagi padamu, Kila." Lucas tertawa lagi kemudian dia melihat Kila cemberut.
"Ini namanya penolakan yang ke dua-belas-ribu-seratus-empat-puluh kalinya darimu" ucap Kila sedikit kesal.
"Apa? Lancar sekali kau menyebutnya" Lucas tertawa di depan Kila.
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir aku tidak tahu itu adalah nomor anggota Kevin di The Crowd Voice?" Lucas berdecak kagum dan geleng-geleng kepala. Kila menutup mulutnya. Suara tawa Lucas pmengalun lembut di telinga Kila. Kila tertawa geli.
"Akui saja kalau kau menyukainya" Ucap Lucas.
"hmm.. aku tidak tau" jawab Kila binggung. Dia merasa nyaman dengan Kevin, dia merasa senang bersama Kevin walaupun dia sering menjahili Kila tapi dia tidak tau apakah dirinya menyukai Kevin apa tidak. Malam semakin beranjak meninggalkan rembulan yang tertatih-tatih merangkak dalam kesunyian. Lucas dan Kila masing-masing terdiam dan tenggelam dalam pikirannya.
Kila memutuskan pulang besok. Setidaknya dia sudah mengetahui bahwa Lucas akan baik-baik saja. Dia juga meyakini bahwa Anna akan berada di samping Lucas, Lucas juga akan sembuh walau membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang, Kila akan terus berusaha melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk Lucas. Kila menarik nafas panjang.
"Terimakasih, Lucas"
"Sama-sama, Kila. Terimakasih karena kau semuanya menjadi lebih jelas untuk aku dan Anna."
"Terima kasih kembali Lucas. karena kau banyak hal yang aku pahami dan mengerti tentang kehidupan ini. Bahwa harapan adalah mimpi yang tidak pernah tertidur" Kila tersenyum lega.
Pagi ini saat Kila sedang duduk di taman untuk menunggu Kila, Fani datang menghampirinya.
"Hi, Kak" Fani menyapanya dengan riang. Kila menyambutnya dengan lebih riang.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Wajah Fani mendadak serius. Kila bersiap-siap dengan yang akan disampaikan Fani.
"Tidak bisakah kau tinggal disamping kakakku?" tanya Fani hati-hati.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, Mamaku berkali-kali memperingatkan kakak untuk tidak terlalu dekat dengan Anna, itu tidak baik untuk keluarga kami Seharusnya keadaan kami semua bisa menjadi lebih baik jika kau yang berada disamping kakak" ucapan ini membuat Kila sangat terkejut. Tidakkah Fani tahu siapa yang sebenarnya dicintai oleh saudara laki-lakinya itu?
"Kenapa kau membuat orang yang sudah sakit menjadi lebih menderita?" tanya Kila tidak memahami pemikiran Fani. Fani mendesah
"Manusia tidak akan hidup hanya dengan cinta, kak."
"Manusia tidak akan bisa hidup tanpa adanya cinta" Kila berkata mantap "Apakah kau tidak tahu betapa kakakmu begitu mencintai Anna?" lanjutnya.
"Seharusnya kau juga memahami perasaanku di sini. Kalian hanya peduli pada perasaan kalian sendiri. Kalian seharusnya juga peduli dengan perasaanku. Jadi, kau tidak mau berada di sisi Oppa?" Kila semakin tidak mengerti arah pembicaraan Fani, Gadis cantik ini kemudian menatap kila tajam.
"Akan ada banyak kemudahan jika kau mau bersama kakakku. Mamaku sudah menjanjikan itu, asal kakak mau berpisah dengan Anna. Kau sama sekali tidak tertarik?"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti mengapa kau membicarakan hal ini padaku?" Kila balik menatap Fani yang tampak bimbang dengan apa yang hendak dia lontarkan selanjutnya. Seharusnya dia tidak perlu melakukan ini. Memalukan.
"Jika kau tidak mau berada disamping kakak, lalu kau sebenarnya mencintai siapa? Apakah Kevin?" suara Fani mulai bernada putus asa dan Kila mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa maksudmu dengan Kevin? Mencintai Kevin? Aku bahkan baru bertemu dengannya satu hari yang lalu. Dan aku hanya berteman dengannya."
"Berhentilah mengatakan kau hanya berteman dengannya. Itu membuatku telingaku sakit."
"Maafkan aku Fani, sebenarnya apa yang terjadi?" Fani terdiam lama. Kila menunggu. Kevin sedang berjalan ke arah mereka. Sudah dengan tas ranselnya, bersiap untuk pulang dan kembali ke Incheon bersama Kila.
"Aku sudah lama mengejarnya namun gara-gara ada kau, aku harus berhenti berharap padanya!" Fani segera berlari meninggalkan Kila yang terbengong-bengong dengan seribu satu pertanyaan yang muncul secara beruntun. Bagaimana bisa? Ada apa ini? Apakah Kevin dan Fani pernah berhubungan? Apakah Fani mengenal Kevin sebelumnya?
"Kila" Kevin menegur Kila yang terdiam lama di tempatnya. Kila menoleh mendapati Kevin sudah berada di depannya tetapi tidak menjawab teguran Kevin dia langsung berjalan, Kevin yang binggung pun tidak bisa bertanya apa apa karena sepertinya Kila tidak ada niat untuk menjawabnya sehingga dia hanya jalan mengikuti Kila. Mereka berjalan beriringan menuju kamar Luvas untuk berpamitan.
"Fani mengatakan apa padamu?"
"Aku merasa Fani agak keterlaluan" sambung Kevin. Jila diam saja tidak ingin menanggapi pertanyaan Kevin. Kevin hanya mendesah pasrah karena Kila tetap tidak menjawabnya bahkan tidak menoleh ke arahnya.