Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Anna



Kamar Kila dan Kevin bersebelahan. Mereka benar-benar seperti liburan dan kini sedang menginap di sebuah hotel. Kila langsung merebahkan badannya di atas kasur yang sangat lembut. memejamkan matanya dan berusaha menikmati semuanya dengan perasaan tenang. Kemudian ada pesan yang masuk ke ponselnya dari Lucas bahwa setelah mandi, mereka berdua ditunggu di ruang makan, mereka akan makan bersama. Kila meneruskan pesan tersebut pada Kevin yang dijawab Kevin melalui emoticon khasnya. Kila langsung menghambur ke kamar mandi yang sekali lagi membuatnya terkagum-kagum dan menaksir kira-kira seberapa kaya pemilik rumah ini? Kila menyentuh pinggiran bathtube yang terbuat dari porselen yang kilaunya bahkan bisa memantulkan bayangan dirinya. Kemudian dia menerka-nerka caranya menghidupkan kran yang terdapat di tengah bathtube. Karena aksi sok tahunya ini akhirnya membuat Kila tiba-tiba berteriak kaget.


"Kila, kau kenapa teriak" Kevin dari kamar sebelah, yang benar-benar di desain ber dampingan, kamar mandi di kamarnya berdempetan dengan kamar mandi di kamar Kevin. Ini tentu saja terkait dengan desain dan arsitektur bangunan untuk memudahkan dan menyatukan saluran pembuangannya


"Kevin, kau bisa mendengarku?" balas Kila


"Sudah, jangan berteriak-teriak begitu! Kau tidak apa apa kan?"


"Aku tidak apa apa, hanya saja...."


"Hanya apa?"


"Bagaimana caranya mematikan kran ini, Kevin?!l Wajah dan bajuku sudah basah semual!!" Kila berteriak panik, menjauhi sumber air yang memercik ke segala penjuru ruangan


"Ya ampun, Kila" suara Kevin terdengar menjauh. Kila menyadari Kevin pasti akan ke kamarnya, kemudian dia langsung membuka pintu kamarnya. Sesampainya Kevin di depan kamar Kila, Kevin tidak dapat menahan tawa melihat Kila yang sudah basah kuyup dari mulai kepala sampai dengan ujung kaki. Persis anak ayam yang habis tersiram hujan deras.


Kila merasa sangat malu dan jengkel. Kevin yang masih saja tertawa lalu masuk ke kamar mandi dan dengan sigap mematikan kran air yang terbuka.


"Segeralah mandi, Lucas pasti sedang menunggu kita" Kevin menepuk bahu Kila sana masih mencoba menahan tawanya.


"Atau kau bisa langsung mengelap tubuhmu dengan handuk, karena sepertinya kau memang sudah mandi" Kevin menambahkan lagi kemudian segera masuk ke kamarnya dengan kecepat sebelum Kila hilang kesabarannya. Saat Kila membalikkan badabnya Kevin membuka pintu kamarnya lagi.


"Ada cara mandi baru ya?" kemudian Kila melotot sebal pada Kevin dan Kevin menatap Kila kasihan. Kila langsung menutup pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian, Kila dan Kevin berjalan menuju tempat yang ditemani pengurus rumah, sebuah ruang makan terbuka di halaman luas di depan pavilion, tepat di depan kamar Lucas. Meja dan empat buah kursi telah ditata secara rapi ditemani lilin-lilin yang menyala di sudut-sudut taman, piring dan mangkuk juga telah tertata rapi diatas meja. Kevin bertanya-tanya kapan mereka menyiapkan semua ini? Sangat mewah, sangat klasik dan sangat romantis. seperti yang telah diduganya, mereka telah ditunggu tuan rumah.


"Maaf, Kila sangat lama berdandan, pada hal juga tidak dapat membuahkan hasil atau perubahan apapun" Kevin membungkuk di depan Lucas dan seorang gadis cantik yang terlihat dewasa.


"Kau ini" lirik Kila pada Kevin. Lucas melihat itu semua sambil tertawa.


"Perkenalkan, ini Anna" ucap Lucas pada keduanya. Kila seketika menoleh pada gadis cantik dan dewasa di samping Lucas. Anna tersenyum manis dan mengucapkan salam dengan hangat dan ramah.


"Kau sangat ingin bertemu dengannya bukan?" tambah Lucas. Entah mengapa hati menjadi sangat berdebar dibuatnya.


"Eh? Benarkah begitu?" ucap Anna membuat Kila salah tingkah Kevin menatap Kila tidak mengerti atas apa yang dilihatnya saat ini. Wajah Kila yang tiba-tiba berubah menjadi mendung tak terkira. Ada apa sebenarnya dibalik semua ini?


"Apakah kau juga ingin bertemu dengan Fani? tanya Lucas.


"Iya. Dimanakah dirinya?" jawab Kila pendek.


"Dia sangat sibuk mengurus binis Ayah karena aku sendiri juga tidak bisa diandalkan." Lucas melihat jam tangannya Kila menganguk-anggukan kepalanya, Kevin menarik nafas panjang mencoba mengerti segala persoalan yang terjadi.


"Fani biasa pulang di atas jam sembilan. Jadi sekitar satu jam lagi, mari kite makan duluan saja" Lucas mulai mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang baru datang dan masih mengepul hangat.


"Maaf, aku hanya ingin bertanya. Apakah kau ini betul putra dari seorang pengusaha Sukses Gyuhyeen Group?" Lucas sedikit terkejut dengan pertanyaan Kevin. Kila bahkan baru mendengar mengenal banyaknya para konglomerat yang tinggal di Seoul dan kini dia sedang berada di rumah salah satu konglomerat itu sungguh hebat.


"Kau melacakku, Kevin? " tanya Lucas sangat kalem membuat Kila merasa tidak enak mendengar nada suara Lucas.


"Bukan. Hanya saja aku seperti tidak asing dengan namamu, ternyata benar kau anak pengusaha itu ya?" Kevin membungkuk sopan dan mulai menyantap hidangan diatas piringnya sambil banyak berpikir akan sesuatu.


"Anna, Kila juga suka menulis, mungkin kau ingin bertukar pikiran dengannya" info Lucas. Kila sedikit mengangkat jarinya dan menempatkan di depan bibirnya memberi intruksi agar Lucas tidak memberi tahu, tapi sudah terlambat.


"Oh, benarkah? Senang sekali mendengarnya. Kau suka menulis apa, Kila?" tanya Anna. Kila masih merasa takjub dengan Anna yang berdasarkan info dari Lucas bahwa dia sudah memiliki satu anak perempuan namun tampaknya Anna masih sangat menawan. Maksudnya, usia Anna dengan dirinya seperti hanya terpaut beberapa bulan saja. Tapi, mungkin saja memang begitu. Kila sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku suka menulis apapun yang aku suka, tidak ada yang begitu spesial dari tulisanku" ucap Kila merendah membuat Lucas tersenyum.


"Anna ini sudah menerbitkan sebuah buku berjudul To Be A Fearless Single-Parents." Anna tersipu malu, sedang Kila hanya membulatkan mulutnya menjadi bentuk o yang cukup tertahan lama dimulutnya.


Setelah makan malam selesai, Kila berbincang-bincang dengan Anna sambil memandangi taman rumah itu di malam hari. Lucas sudah harus beristirahat lagi di dalam kamarnya dan Kevin memilih mengobrol sedikit dengan Fani. Kila memandang gelas anggurnya dan memutarnya beberapa kali.


"Aku dengar kau sangat menyayangi Lucas" ucap Anna dengan suara tertahan. Kila terkejut mendapat kata-kata seperti itu. Dia belum memutuskan untuk menjawab ketika akhirnya Anna berkata lagi.


"Aku bahkan mendengar Lucas secara khusus mengunjungimu di Jambi" Anna berpaling menatap Kila yang saat itu seperti K.O. hilangan kata-kata. Kila tidak mampu menanggapi perkataan Anna, rasanya semua kosa katanya menguap entah kemana. Lidahnya terasa pahit dan Kila kembali meneguk anggur di gelasnya.


"Tahukah kau, kita mencintai orang yang sebentar lagi mati?" perkataan itu membuat Ka tersentak. Tidak pernah menyangka orang seanggun Anna akan mengucapkan kata-kata sepedas itu.


"Apa maksudmu, Anna?" Kila merasa tidak suka Anna berkata seperti itu. Setidaknya manusia tidak boleh kehilangan harapan karena harapan diciptakan agar manusia lebih kuat dan lebih tegar menghadapi segala persoalan hidup. Harapan akan terus ada selama manusia masih memiliki mimpi, begitupun sebaliknya. Kila meletakkan gelas anggurnya diatas meja dengan sedikit hentakan. Anna tertawa.


"Kau tidak tahu? Seseorang yang terkena penyakit sirosis hati sulit untuk sembuh bahkan tidak ada yang bisa sembuh. Karena sirosis hati akan memicu penyakit baru seperti kanker hati. Obat-obatan hanya memperburuk keadaan, tapi jika tidak ada obat-obatan yang dikosumsi mungkin Lucas sudah tiada sejak dulu." Terdengar ada keputusasaan yang tergambar dalam nada bicara Anna. Anna membuang pandangannya jauh ke langit yang mencoba berbicara dalam hati berharap Tuhan mendengar pemohonannya malam ini, setelah beberapa lama terdiam Anna kembali membuka suara.


"Karena itu aku tidak mau mencintainya. Aku tidak mau memberinya harapan, sedangkan nanti aku tidak akan bisa menjaga harapan itu tetap ada" Suara Anna bergetar, tenggorokannya tercekat. Kila berusaha meredam gemuruh hatinya, mencoba menenteramkan perasaannya sendiri.


"Tidak bisakah kau menguatkannya, Anna? Dia begitu mencintaimu.." Kila tiba-tiba tidak bisa meneruskan kalimatnya karena di potong oleh Anna.


"Kalau aku melakukan itu aku harus seumur hidup menanggung kesedihan karena kehilangan dirinya?" airmata sudah meleleh di pipi Anna. Kila menunduk dalam dalam