Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
SMS PDKT



Kila berdiri dan membungkukkan badannya sopan di hadapan Kevin. Kevin mendesah


"Terimakasilh sudah mau menemaniku, Kevin" Kila berpamitan. Kevin diam saja.


"Apakah kau akan langsung kembali ke Jakarta?" tanya Kila. Kevin mengangguk.


"Seharusnya kau bilang lebih awal sehingga kau tidak perlu mengantarku sampai ke Jambi. Kila merasa kini dia yang sangat bersalah pada Kevin


"Apakah aku tidak bisa mampir ke tempatmu?" tanya Kevin.


"Maaf, tidak bisa Kevin."


"Baiklah, aku akan menunggu bus lagi di sini. Kau pulang dan beristirahatlah." Kevin kembali duduk. Kila menarik nafas panjang dan mulai berjalan meninggalkan Kevin. Hatinya tidak menentu. Kevin memandangi kepergiannya dengan rasa kecewa. Kenapa gadis itu yang kini akhirnya membuatnya menjadi jatuh hati?


Pagi sekali Kila sudah sampai di kantor memulai aktifitasnya. Hari itu dirinya sangat sibuk karena beberapa pekerjaan yang dia tinggalkan kemarin selama cuti telah menumpuk di meja kerjanya. Kila tidak sadar jika Juno memperhatikan kesibukannya. Saat usai makan siang, Juno memanggilnya ke dalam ruang rapat. Kila bergegas merapikan mejanya dan menuju ruangan dimana teman-teman lainnya sudah turut berkumpul.


"Perusahaan akan segera mengeluarkan produk baru yang akan di launching di banyak hypermarket, bisakah kami mempercayakannya padamu sebagai kepala pemasarannya?" tanya Juno di hadapan Kila. Kila tiba-tiba merasa terkesan akan ucapan Juno barusan.


"Kau tidak cukup berhasil di produk terakhir perusahaan, kira-kira apakah kali ini kita bisa mempercayainya untuk proyek besar ini?" ucap Ina


"Apa maksudmu tidak cukup berhasil?" tanya Kila sedikit kesal.


"Tentu saja tidak cukup berhasil karena produk terakhir kita adalah produk pendamping produk utama. Target kita adalah penjualan produk utama, jadi tidak ada masalah dengan itu, bukan? Karena target produk utama selalu terpenuhi setiap bulannya." Kila akhirnya mendebat perkataan Ina. Selain tidak terlalu suka dengan kepribadian Ina. Kila juga memiliki sentimen pribadi terhadap orang ini. Ina sudah lama juga menaruh hati pada Juno sehingga seisi kantor menjadi tahu dan Juno dengan tegas tidak pernah menanggapi Ina. Entah kenapa hal ini semakin membuat Kila merasa kesal jika harus berhadapan dengan Ina.


"Ini produk baru kita," Juno membuka penutup sebuah keranjang berisi snack berlabel tanpa pengawet dan tanpa MSG.


"Ini adalah tester dan semua staff akan mencicipi kemudian memberikan penilaian terhadap aroma, rasa, suara, tekstur dan kerenyahan, kemasan produk baru kita" Juno membagikan kertas kuesioner pada semua yang hadir di ruang an itu. Kila mengambil posisi duduk yang nyaman Juno duduk di hadapannya. Mereka yang ada di ruangan itu mulai serius berdiskusi mengena semua aspek yang terlibat dalam produk baru perusahaan mereka.


Produk utama perusahaan mereka adalah susu kambing murni yang diubah menjadi minuman yang menyehatkan. Ternyata banyak orang yang menyukainya sehingga beberapa tahun terakhir ini permintaan akan produk tersebut selalu meningkat setiap bulannya. Sedangkan yang disebut produk pendamping yang disinggung Ina dan Kila adalah yogurt aneka rasa yang ternyata sedikit kurang laris di pasaran, meskipun begitu produk tersebut tetap tidak bisa dianggap produk gagal karena permintaan tetap ada walaupun sedikit.


Kila mulai mengamati dengan membaui snack yang ada di depannya dan meneliti kemasannya. Kemudian Kila mencicipi makanan ringan berbentuk chips beragam rasa itu.


"Sebaiknya jika memang berlabel tanpa MSG, bumbunya tidak terlalu menyengat seperti ini" gumam Kila. Dia membaca lagi keterangan pada label snack


"Baunya masih sedikit tidak enak. Apek" ucap Kila. Juno mengamatinya sambil mengecek layar ponselnya. Kila menuliskan pendapatnya pada lembar kuesioner. Kila mulai mencicipi lagi.


"Seharusnya diciptakan berbagai macam bentuk yang menarik, jangan hanya bulat seperti ini" Kila meminta pendapat pada teman di sebelahnya. Temannya hanya mengangguk-angguk.


"Hey, apakah menurutmu yang rasa daging panggang ini enak? Menurutku masih kurang rasa daging panggangnya" Kila kembali meminta pendapat pada teman sebelahnya. Temannya malah tertawa-tawa.


"Aku kenyang sekali" jawabnya membuat Kila menjadi sedikit kesal.


"Misal jika rasa original adalah bulat, maka segitiga atau mungkin heksagonal bisa menjadi pilihan rasa lainnya" Kila berkata pada lembar jawabannya. Ketika dia mendongak dan mendapati Juno memandanginya Kila jadi salah tingkah. Dia menyenggol kemasan snack dan hampir saja isinya berhamburan keluar. Setengah jam berlalu di ruangan rapat dan sebelum sesi itu berakhir, Juno mengatakan sesuatu pada Kila.


"Kau harus membantu kami dalam proyek ini, Kila" ujar Juno. Kila merasa tidak mungkin juga dia tidak membantu proyek di kantornya karena memang itulah tugasnya.


"Apa yang dapat aku bantu sepenuhnya?" tanya Kila.


"Baiklah, Kila. Aku kemarin sudah bertemu dengan putri pengelola perusahaan retail besar di Seoul. Kali ini kau tinggal melakukan negosisasi dengan mereka" Juno menyerahkan sebuah dokumen untuk dipelajari Kila. Kontrak kerjasama dan pasal-pasal yang harus dicermati. Kila menerimanya. Kemudian dia menghela nafas ketika membaca sebuah nama terpampang di berbagai dokumen yang kini ada ditangannya. Gyuhyeon Group.


Tiba-tiba Kila menerima sebuah pesan dari Juno. Juno mengajaknya makan malam. Kila merasa sangat terkejut dan tidak bisa mengendalikan rasa bahagianya. Akhirnya Juno kembali menjadi orang yang kembali dikenalnya. Hangat dan akrab. Kila segera mempersiapkan diri dan berdandan sangat cantik. Juno menjemputnya dan mengajaknya makan di sebuah restoran yang cukup mewah.


"Aku dengar kemarin kau ke Jakarta" tanya Juno


"Iya, aku kan sudah bilang padamu sebelumnya"


"Bukan itu yang menarik buatku. Aku dengar kau bahkan berkunjung ke rumah putra Gyuhyeon. Benarkah itu?" tanya Juno membuat Kila semakin terkejut.


"Darimana kau tahu?"


"Fani yang memberitahuku" Ucapan Juno akhirnya tidak lagi membuat Kila merasa heran. Ah, tentu saja. Mereka sekelas dan setara. pastinya dengan mudah cepat mengenal satu sama lain.


"Kau membicarakan bisnis dengannya ketika kemarin datang ke Jakarta?"


"Kalau aku tahu lebih awal kau akan mengunjungi rumah Fani, aku pasti dengan senang hati memberimu tumpangan. Kebetulan aku sendiri belum pernah berkunjung ke rumahnya" Kila mulai tidak senang dengan sikap Juno kali ini. Sungguh keterlaluan.


"Kakaknya Fani adalah temanku dan dia sakit, kemudian aku menjenguknya. Aku pergi ke Jakarta bukan semata-mata untuk liburan. Uangku tidak akan cukup untuk mendaftarkan kata liburan dalam pengeluaran bulananku." Kila akhirnya mulai meluapkan emosinya.


"Apakah gaji yang kami berikan kepadamu kurang?" tanya Juno berlagak kecewa.


"Sudahlah Juno, ada apa sebenarnya kau mengajakku kemari?" tanya Kila.


"Juno, apakah kau ada hubungan dengan Fani?"


"Tidak. Hanya saja, dia memang sangat menarik" Juno tampak tersenyum penuh arti yang membuat dada Kila bergemuruh.


"Bukankah masih banyak perusahaan retail dan hypermarket yang lain, mengapa harus Gyuhyeon Group?"


"Karena mereka yang paling besar" Tatap Juno tajam ke arah Kila. Kila mengerti.


"Baiklah" ucap kila. Makan malam bersama Juno diiringi pertanyaan dari Juno seputar Fani. Kila sebenarnya tahu bahwa Juno mendatangi perusahaan itu karena Fani. Kini Kila lebih sadar dimana sebenarnya bumi yang di pijaknya. Walaupun Juno tidak mengatakan langsung padanya, tapi Kila mengetahui bahwa Juno tertarik pada Fani.


Hal ini semakin menyadarkan Kila mengenai posisi Kila di hati Juno. Baiklah, mulai sekarang Kila akan berhenti menyiksa dirinya dengan menyukai Juno. Jika yang ada di dalam dunia dongeng bahwa si kasta rendah dan kasta tinggi tetap bisa hidup bersama, maka ini tidak berlaku di dunia yang disebut dengan realitas.


Pangeran mencintai upik abu hanya ada dalam kisah-kisah pengantar tidur untuk menyamarkan rasa kecewa terhadap rasa keadilan. Kila menarik nafas panjang menatap Juno yang selalu mempesona di matanya.


Setelah selesai makan malam bersama Juno, Kila kembali kerumahnya. Kila segera mandi karena merasa gerah dan panas. Selesai mandi Kila menerima SMS dari Kevin.


Kevin : Bagaimana kabarmu, Kila?


Kila : Baik, kau bagaimana kabarmu?


Kevin : Aku baik


Kevin : Asalkan kau bahagia hari ini aku sudah cukup senang


Kila : Apa maksudmu berkata seperti itu?


Kevin : Tidak apa-apa. Maaf.


Kila : Oya, Kevin. Aku suka kata-katamu "Jebakan terbesar dalam hidup adalah ketika kita merasa pintar karena hampir selalu benar."


Kevin : Benarkah? Terimakasih, itu berasal dari dalam hati


Kevin : Kau sedang ada dimana, Kilab?


Kila : Dihatimu... HAHAHAHA


Kevin : Kau mulai berani merayuku sekarang.


Kila : Siapa yang merayumu?


Kevin : Lupakan saja >_<


Kila : TCV kenapa hari ini, error, tidak bisa dibuka.


Kevin : Sama denganku. TCV hari ini tidak dapat diakses


Kevin : Aku ingin sekali bertemu lagi denganmu, Kila. Aku harus bagaimana?


Kila : Aku juga tidak harus bagaimana, Vin


Kevin : Ya sudah, aku pergi dulu


Kevin : Bye!


Kila : Hey, Kevin!


Kevin : Fiuhhh, aku tidak suka kalau berjauhan dengan orang yang kusukai.


Kila : Kau bisa datang ke Jambi kapanpun kau mau.


Kevin : Dengan satu catatan kau tidak lagi marah padaku.


Kila : Apakah aku marah padamu?


Kevin : Menurutmu bagaimana?


Kila : Aku tidak pernah bisa marah padamu, Kevin. Seberapa menyebalkannya kau, aku tidak pernah bisa marah padamu.


Kevin : Makasih :)