
"Aku sedang dalam perjalanan ke Jakarta, Kak. Fani yang memberitahumu aku akan ke sana?"
“Tidak, Aku membaca The Crowd Voice" Kila tidak dapat mengatakan apa-apa. Kevin yang juga tersadar beberapa menit yang lalu menyimak pembicaraan itu.
"Kau datang bersama seseorang?" suara Lucas mengalun lembut di telinga Kila.
“Iya. Aku bersama Kevin"
"Oh, Kevin. Aku tahu kau sudah lama mengaguminya bukan?" Lucas tertawa di seberang sana
"Lucas, kau tahu darimana?" suara Kila timbul tenggelam.
"Beritahu aku kalau kau sudah akan sampai ya, biar orangku yang menjemput kalian, terima-kasih sudah mau mengunjungiku, Kila” Hubungan telepon itu tiba-tiba terputus padahal Kila masih ingin mengatakan banyak hal. Kila menatap layar ponselnya. Mengapa perasaannya begitu penuh. Kila menoleh ke belakang dan mendapati Kevin masih tertidur pulas. Kila menatap layar ponselnya. Menarik nafas sejenak, menoleh kembali ke arah Kevin. Tiba- tiba Kila mendapatkan ide jahil untuk mengganggu Kevin, sebenarnya Kila ingin membalas perbuatan Kevin. Kila segera mengambil foto Kevin yang wajahnya sangat tenang ketika ia tertidur. Kila tersenyum sendiri melihat foto Kevin.
“Siapa yang mengijinkanmu mengambil fotoku seperti itu?” gumam Kevin membuat Kila tersentak, antara kaget dan malu.
"Berikan padaku!" ucap Kevin.
"Tidak mau!"
"Hei, sebaiknya ambil fotoku dengan benar!" ujar Kevin mencoba meraih ponsel di tangan Kila. Setelah mendapatkan ponselnya Kila, selanjutnya Kevin berpose dengan sangat manis kemudian memfoto dirinya sendiri. Kila tidak dapat menahan tawa dan rasa sebalnya terhadap manusia satu ini.
Lucas menelpon Kila kembali setelah Kila mengabarkan mereka sudah sampai di Jakarta. Kevin hanya diam dan mengikuti langkah Kila yang menunjukkan sikap ragu dan khawatir. Tujuannya adalah menemani dan menenangkan Kila, entah mengapa dia ingin melakukan hal tersebut. Kevin hanya ingin melakukan hal itu untuk Kila.
"Kita dijemput menggunakan mobil mewah?” tanya Kevin terkejut. Kila juga dalam hatinya merasa bingung, apa-apaan ini? Rasanya tiba-tiba dia menjadi tamu eksklusif Lucas di Jakarta
"Aku pikir Lucas-mu itu orang kaya, ketika Kevin hendak membuka pintu mobil dan segera supir membungkukkan badan dan dengan segera sigap membukakan pintu mobil untuk Kevin. Kila mengikuti dari arah belakang.
"Jangan sebut dia Lucas-ku karena dia bukan milikku.”
"Jadi, mungkin semua ini telah dipersiapkan dan direncanakan?" Kevin mendelik kesal pada Kila.
“Mana aku tahu, kau pikir aku tahu kita akan diperlakukan seperti pejabat penting seperti ini?" Kila balik melotot kearah Kevin.
“Waaaah, Kila, kau beruntung sekali! Mobilnya hebat! Di cuaca yang dingin mobilnya bahkan terasa hangat!"ucapan Kevin seperti mengandung makna yang lain.
“Diam!” ucap Kila sebal. Sopir Lucas melirik mereka tidak mengerti.
"Kau belum pernah naik mobil mewah seperti ini kan?”
“Kevin!" Kila memukul bahu Kevin untuk menyuruhnya diam, Kevin malah bersiul-siul. Sebenarnya Kevin merasa kesal harus menemani Kila yang ternyata membuatnya kesal dengan mendapatkan perlakuan istimewa dari seseorang yang entah sebenarnya siapa. Mobil berwarna hitam metalik itu berhenti di rumah bangunan luas berpagar tinggi yang segera terbuka ketika mobil sampai di depan bangunan rumah mewah yang sepertinya memiliki luas berhektar-hektar itu.
Kila melihat terkagum-kagum dalam hati. Belum pernah seumur hidupnya dia melihat rumah semewah itu dan bisa memiliki keempatan masuk bangunan semewah itu.Kevin menarik nafas panjang. Lucas ternyata anak seorang konglomerat di Jakarta. Seharusnya dia bisa menyadari hal ini lebih awal. Karena sepertinya dia tidak merasa asing dengan keberadaan Lucas.
"Kau pasti sudah tahu kalau Lucas anak seorang konglomerat, kan? Makanya kau sengaja memaksa untuk bisa datang kemari"
“Kevin, berhentilah memiliki pikiran seperti itu!" Kevin tertawa panjang menanggapi perkataan Kila Setelah mereka turun dari mobil, mereka dibawa pengurus rumah berjalan menuju sebuah pavilion yang di sekitarnya dinaungi pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang tumbuh dengan cantik sepanjang jalan menuju pavilion tempat Lucas berada. Menunjukkan bahwa tanaman-tanaman itu mendapat perlakuan yang sangat baik dan istimewa.
"Tuan Muda Lucas menyuruh Nona Kila dan Tuan Kevin untuk berkunjung langsung secara pribadi untuk bertemu beliau, Mohon sampai kepada kami, jika kalian membutuhkan sesuatu. Kami juga sudah menyiapkan kamar khusus untuk kalian" seorang pelayan membungkukkan badan dengan hormat dihadapan mereka berdua membuat Kila dan Kevin berpandangan sama-sama heran.
"Jadi, kita ke Jakarta untuk liburan?" tanya Kevin dengan rasa takjub yang tidak mau hilang sedari tadi.
"Arasso. Aku ikut saja denganmu, aku juga bisa mengambil libur beberapa hari dari pekerjaanku karena selama ini aku tidak pernah mengambil jatah liburku”
"kenapa? Kau seorang pecandu kerja?"
"Tidak. Hanya karena aku masih sendiri, jadi aku hanya bisa menghabiskan waktu dengan diriku sendiri" ucap Kevin. Mereka disambut sederetan pelayan bak tamu agung yang mengunjungi kerajaan. Hal ini membuat Kila dan Kevin malah semakin canggung dan menjadi kikuk. Ketika pintu pavilion terbuka, seseorang tengah terbaring lemah diatas tempat tidur namun wajahnya penuh dengan senyuman yang hangat. Senyum khas milik Lucas.
Kila memegang pintu kamar dengan tangan bergetar "Lucas” Kila mendekati tempat tidur Lucas. Lucas tersenyum dan melambaikan tangannya pada Kila, meminta Kila duduk di dekatnya. Kila duduk di tepi pembaringan. Kevin melihat bunga-bunga yang terpajang di depan kamar Lucas, menelitinya satu-persatu seperti utusan dari dewan pengamat lingkungan dan botani, dia mendengarkan Kila dan Lucas berbicara dan merasa salah tingkah serta tidak berguna ada di sana. Kevin mulai memegang daun-daun bunga dan berpikir hendak meremasnya karena jengkel, namun sepertinya Kevin lebih ingin menyiramnya kemudian dia melihat lagi bahwa tanaman itu pasti lebih terawat daripada dirinya, tanaman itu pasti tidak pernah telat disirami dan dipupuk.
“Maaf, Lucas, aku sungguh tidak tahu kalau kau sakit" Kila berkata setengah sedih, setengahnya lagi bahagia karena bisa bertemu Lucas.
"Aku juga tidak ingin memberitahumu kalau aku sakit" Lucas tertawa cukup senang.
"Kenapa kau menon-aktifkan ponsel?"
"Aku tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku menjadi khawatir" Lucas bersandar pada dua bantal yang ditumpuk menjadi satu.
"Maaf menanyakan ini, ini rumahmu?”
"Bukan. Ini rumah orang tuaku. Aku menumpang di sini. Oh ya, aku juga tidak bekerja di perusahaan Ayahku. Aku mencari kerja dengan usahaku sendiri, sekedar mengisi waktu luang dan menyenangkan diri sendiri saja. Kesukaanku hanya bermain musik” cerita Lucas serius.
“Bahkan saat sakit pun kau masih bisa sombong” Kila tertawa dan memperhatikan ruangan dimana Lucas berada. Di sudut ruangan tersebut, ada gitar yang bersandar di dinding dengan manisnya. Banyak lukisan terpajang di sana. Mata Kila menyapu seluruh ruangan dan mendapati Kevin yang terlupakan. Kila jadi sedikit merasa bersalah karena telah mengabaikan Kevin. Kevin menoleh ketika namanya dipanggil "Perkenalkan, ini Kevin” Kevin mengulurkan tangan sambil tersenyum pada Lucas. Lucas menyambutnya dengan hangat.
"Kau ini yang selalu memposting hal-hal menarik di The Crowd Voice? Senang bertemu denganmu” ujar Lucas.
"Aku sempat beberapa kali mengetahui dirimu di The Crowd Voice" sahut Kevin.
"Aku jarang menulis di sana, hanya senang membaca-baca saja” ucap Lucas.
"Kebetulan aku membaca tulisan kalian yang akan menjenguk aku di sini. Ternyata penggemar ku hanya dua orang ini” Lucas tertawa.
"Mereka mengerjai kami. Mereka sengaja membiarkan kami pergi berdua.” Ucap Kila sebal karena memang teman-temannya di The Crowd Voice sengaja membiarkan mereka berdua.
“Tenang saja, aku mendapat kabar dari mereka juga akan datang kemari di hari yang bebeda dengan kalian. Oh ya? Lalu, kalian ada hubungan apa” tanya Lucas pada Kila. Kila tersipu malu dan Kevin hanya tertawa saja.
"Apakah harus ada hubungan terlebih dahulu agar bisa jalan bersama?" tanya Kila
"Biasanya begitu” Lucas lebih mengembangkan senyumnya lagi. Kemudian dia terbatuk-batuk
"Apakah kami mengganggu jam istirahatmu?” tanya Kevin
“Tidak. Aku hanya sedikit lelah saja, aku akan meminta pelayan mengantarkan kalian ke ruangaln kalian, agar kalian bisa beristirahat”
"Terimakasih, Lucas”
"Maaf sudah merepotkanmu, Kak” ucap Kevin.
"Anggap saja seperti di rumah kalian sendiri dan jangan sungkan untuk meminta apapun yang kalian butuhkan. Aku ingin kalian seperti sedang berlibur daripada menjenguk aku yang sedang tidak berdaya seperti ini”
"Maaf, Kak, rumahku tidak seperti ini, jadi akan sulit membayangkan apalagi menganggap rumah ini seperti sedang berada di rumahku sendiri" ucap Kevin membuat Lucas tertawa namun segera menghentikan tawanya karena perutnya terasa sakit. Kemudian Kevin merasa bahunya terasa sakit dan panas karena ternyata Kila memukulnya lumayan keras.