Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Jakarta Aku Datang



Kila mengingat kembali tentang Lucas dan melaksanakan aksinya. Kila berencana membuat sebuah tulisan di The Crowd Voice Berjudul ‘Mari Jenguk Lucas di Jakarta Komentar pertama dia dapatkannya dari Kevin, member dengan nomor anggota yang akan selalu diingatnya #12140.



Kevin : Kapan kau mengajakku untuk mengunjungi Lucas? Apakah sesuai tanggal yang kau berikan di atas?



Kila : Apakah kau tinggal di Jakarta?



Kevin : Aku di Jambi



Kila : Kau baik sekali, Kevin. Terima kasih



A : Wah, Kevin dan Kila akan berkencan!



B : Selamat, Kila dan Kevin! Kalian pergi berdua saja ya!



Kevin : Kalian semua! Kalian juga harus ikut dengan kami!



Kila : Betul! Kalian juga harus ikut! Kita akan menengok Lucas bersama-sama.



A : Sudah kalian pergi berdua saja, kami tidak akan menghalangi Si cantik Kila dan si kribo Kevin akhirnya menyatu!



Kila : Kalian ini! Baiklah, aku akan membuat voting dimulai dari komentar di bawah. Setuju untuk ikut katakan ya, jika tidak ikut katakan tidak. Mulai!



Kevin : Ne!



Kila : Ne!



B : Maaf, hari Minggu nanti aku sudah acara penting.



Garvin : Aku akan ikut jika Si Kribo tidak ikut!



Kevin : Apa maksudmu?



Garvin : Aku tidak ingin mengganggu kalian!



Kevin : Jelaskan apa maksudmu?



Garvin : Aku menyerah! Kalian pergi berdua saja ya



Kila : Garvin, harusnya kau menemaniku, tahu.



A : Aku ikut



B : Aku setuju!



C : Maaf, aku tidak bisa, sampaikan salamku pada Lucas ya.



D : Yaa,Kevin. kau tidak cemburu pada Lucas?



Kevin : Kenapa? Kenapa aku harus cemburu padanya? Apakah Lucas pacar Kila?



Kila : Enak saja kau bicara! Aku tidak berpacaran dengan Lucas!



A : Jadi apa alasanmu menemani Kila?



Garvin : Kalian semua tahu bahwa hati Kevin sangat tulus dalam... menyayangi Kila.



Kevin : Aku melakukan semua karena aku... sudah lama tidak ke Jakarta (-_-“)



Sampai di sini Kila dapat bernafas lega. Bahwa akan ada seseorang yang mau menemaninya ke Jakarta untuk menjenguk Lucas. Akan terasa aneh jika Kila nekad untuk pergi ke Seoul sendirian dan berusaha menemui Lucas, Kila tidak mau keluarga Lucas menebak yang tidak-tidak mengenal hubungan dirinya dengan Lucas.


Di hari yang telah dijanjikan, Minggu pagi Kila dan Kevin akhirnya membuat janji untuk bertemu di halte bus sesuai kesepakatan. Semua anggota forum telah sepakat mengerjai mereka dan membiarkan mereka hanya pergi berdua.



Kila dan Kevin saling memandangi satu sama lain, kemudian saling tersenyum karena seperti ada ikatan batin yang membuat mereka langsung saling mengenali. Kila memakai mantel berwarna coklat tua, syal coklat susu dan sebuah topi. Kevin ternyata tidak berambut kribo. Rambutnya lurus pendek dan tertata rapi. Kevin memakai mantel berwarna krem dan syal yang senada dengan warna mantelnya. Kevin mengambil topi Kila dan iseng memakainya. Kila memandangi Kevin, ternyata bukan hanya di dunia maya saja dia suka sekali iseng, kenyataannya memang Kevin terlahir dengan bakat jahil dan iseng.



“Hai, Kevin” Kila membungkuk di depan Kevin



"Hai, Kila! Aku harus memanggilmu apa ya?



“Tidak apa-apakan kalau aku lebih muda dari mu" ucap Kevin lagi membuat Kila tertawa geli



"Tidak. Wajahlah yang berbicara di sini, siapa yang lebih awet muda dan tidak" Kila bercernmin di tiang besi penyangga atap halte. Dibelakangnya Kevin berdiri dan mengikuti apa yang dilakukan Kila sambil mengejek Kila dengan berjoged-joged, membuat Kila langsung menoleh.



"Kau lahir tahun berapa?" tanya Kevin santai.




"Baiklah. Berapa umurmu sekarang supaya aku bisa menebak tahun lahirmu"



"Itu sama saja dengan memberitahumu, dasar kribo!" Kila mencibir dengan kesal. Kevin tertawa geli



"Tentu saja beda!"



"Aku tiga tahun lebih tua darimu, ayo beri salam dulu" Kila mengulurkan tangan meminta Kevin menjabatnya. Kevin melakukannya dengan berlagak malas, dia meraih tangan Kila dan mencium tangan dengan lembut membuat wajah Kila memerah.



"Lantas aku harus memanggilmu bibi atau nenek?" Kila melirik Kevin merasa dipermainkan.



"Panggil aku Kakak" ucap Kila sambil tertawa.



“Tidak, aku tidak ingin kau jadi merasa sungkan padaku, panggil saja Kila"



"Siapa juga yang mau memanggilmu Kakak?" Kevin mengembalikan topi Kila ke pemiliknya kembali



"Hei, Kila apa hubunganmu dengan Lucas?" tanya Kevin sedikit berwajah serius. Kila menoleh dan menunduk, bersamaan dengan itu bus yang mereka tunggu berhenti di hadapan mereka dan mereka langsung mereka melangkahkan kaku masuk ke dalam bus. Kila memilih tempat duduk dan memilih duduk sendiri. Kevin mengikuti dan duduk di belakangnya. Bus sudah mulai berjalan dan Kevin hanya bisa memandangi Kila dari bangkunya. Ada yang menarik dari gadis itu. Sederhana dan menyenangkan. Lama mereka terdiam dan membuat Kevin menjadi terkantuk-kantuk. Bus berjalan tenang dan pelan. Kila memandangi pemandangan di luar sana namun pikirannya melayang-layang untuk sekedar menjawab pertanyaan Kevin barusan. Apa hubungannya dengan Lucas? Teman? Hanya teman?



Tapi, perasaannya tidak mengatakan begitu. Namun, jika bisa diibaratkan di sini, mungkin saja hubungan ini bisa dianggap lebih dari sekedar teman, namun semua itu berhenti pada Lucas yang tidak menerima Kila. Pertanyaan Kevin terlalu membuat Kila menjadi sedih untuk bisa menjawab. Kila sangat menyukai Lucas, kepribadiannya yang penyayang dan lemah lembut, suaranya yang menenteramkan, suaranya yang merdu saat bernyanyi, bakat bermain gitar yang Lucas miliki, tatapan mata cokelat Lucas yang mampu menembus jauh ke dalam hatinya. pelukannya yang hangat, bibirnya yang juga hangat, canda tawa yang manis, dua hari bersama Lucas adalah selamanya buat Kila. Karena selama hidup, Kila belum pernah bertemu dengan orang sehangat Lucas.



"Kila, kau belum menjawab pertanyaanku" Kevin mencondongkan tubuhnya kearah Kila. Kila kaget dan menolehkan kepalanya karena jarak Kevin menjadi sangat dekat dengannya dia merasa gugup.



"Aku hanya berteman dengan Lucas” jawab Kila dengan suara senormal mungkin.



"Hmmm, benarkah?" tanya Kevin kembali.



“Mengapa kau menanyakan itu?”



“Hanya penasaran saja. Aku tidak puas dengan jawabanmu”



"Kenapa?"



“Karena itu sama sekali tidak memberikan keterangan yang jelas buatku”



“Kevin, berteman ya berteman. Sama seperti diriku dan dirimu"



“Aku perhatikan tidak begitu” Kevin menarik tubuhnya kembali. Entah kesal pada siapa, dia memandangi Kila dengan tajam dari belakang.



"Sebenarnya apa maksudmu?" Kila mencoba menatap Kevin.



"Apa maksudmu bertanya apa maksudmu?"



"Apa maksudmu sehingga akhirnya mau menemaniku seperti ini?"



"Karena aku ingin tahu apa hubunganmu dengan Lucas!”



"Kevin, aku sungguh tidak bisa mengerti apa maksudmu itu” Kila menangkupkan tangannya di depan dada. Mulai merasa kesal karena Kevin sedikit berteriak padanya. Karena aku yakin kau ini gadis yang sangat cengeng! Batin Kevin berteriak. Kila pasti menangis jika nanti akhirnya bisa bertemu Lucas, dan tidak ada yang bisa menenangkannya kecuali Kevin mencegahnya. Kevin sudah memperhatikan Kila sejak lama walaupun hanya di dunia maya. Kevin tahu Kila sebenarnya sangat kesepian, menghadapi hidup sendirian di Jambi, menghadap benang kusut kehidupan, menghadapi orang-orang yang datang di kehidupannya, semua itu tergambar jelas melalui tulisan-tulisan di blognya, komentar-komentar Kila yang dilontarkan di forum yang juga diamatinya setiap hari. Hal-hal kecil yang menyentuh bisa membuat gadis ini menangis. Nah, lihat saja, sekarang bahkan wajahnya sudah berubah murung. Kevin menarik nafasnya.



"Aku ragu apakah kau sudah sarapan?" Kevin mengeluarkan biskuit coklat dari dalam kantung mantelnya. Kila menoleh sejenak.



"Aku belum sempat sarapan”



"Makanlah ini" Kila mengulurkan biskuit coklat pada Kila.



"Bukankan sebaiknya kita tidak makan di dalam bus?"



"Makanlah pelan-pelan, jangan sampai terlihat. Aku tahu kau punya keluhan pencernaan, bukan?" ucapan Kevin terdengar sangat tulus membuat Kila tidak bisa berkata banyak selain menuruti kata-kata Kevin. Mengapa hatinya mudah sekali terkesan? Sambil menggigit pelan-pelan biskuit coklat yang terasa sangat manis di lidahnya sambil terus memandangi pemandangan hamparan laut di sepanjang perjalanan mereka. Kevin memperhatikan segala gerak-gerik Kila tanpa berkedip. Entah apa yang membuat gadis ini menjadi sangat menarik? Mungkinkah segala kelucuan dan kecerianya saat menuliskan sesuatu? Itukah kepribadian yang sesungguhnya dari seorang Kila? Begitu ceria dan hidup. Setiap tulisannya serasa memiliki nafas dan original.



Setiap apa yang diceritakan Kila dalam tulisannya selalu membuat pembacanya merasa terlibat di dalam detail ceritanya. Yang Kevin sendiri tidak sadari adalah, Kila lah yang pertama mengaguminya. Karena menurut Kila, Kevin sangat menyenangkan dan ramah pada semua anggota forum The Crowd Voice. Selain itu, tulisan-tulisan yang di posting Kevin selalu tulisan-tulisan yang bermutu dan mendapatkan banyak pujian serta komentar dari anggota lainnya. Kevin juga sangat cerdas dalam menilai dan menganalisa sesuatu. Ini yang Kila anggap Kevin berbeda dengan anggota lainnya.



Pada intinya dan pada akhirnya mereka sama-sama saling mengagumi Kila tertidur selama perjalanan. Begitupun Kevin, mereka sama-sama tertidur karena merasa nyaman dengan suasana bus yang tenang dan hening. Kemudian ada dering telepon yang terdengar muncul dari ponsel Kila. Kila terkejut dan mengenali nomor yang menghubunginya.



"Hey, Kak" Kila merasa benar-benar kaget.



"Kau dimana?"



"Aku sedang dalam perjalanan ke Jakarta, Kak. Fani yang memberitahumu aku akan ke sana?"



“Tidak, Aku membaca The Crowd Voice" Kila tidak dapat mengatakan apa-apa. Kevin yang juga tersadar beberapa menit yang lalu menyimak pembicaraan itu.