
Akhir-akhir ini TCV menjadi penyemangat tersendiri di hari-hari Kila, ditambah lagi ada Lucas yang sangat perhatian dan selalu membaca tulisan yang Kila buat. Kila semakin penasaran terhadap Lucas.
Kila memutuskan untuk memcari informasi tentang Lucas dari internet. Kila mengalihkan perhatiannya pada twitter, instagram, facebook pokoknya semua media sosial yang ada , Kila kemudian mulai mencari informasi mengenai Lucas. Kila membuka akun milik Lucas ada lebih dari ratusan followers milik Lucas. Dengan cermat Kila meneliti satu persatu followers Lucas. Kila menemuka seseorang dari followers Lucas yaitu Mina seorang yang menjabat bagian personalia di kantor Kila. Kila merasa harus mengkonfirmasikan ini pada Mina besok di kantor. Kila menjelajah lagi tulisan-tulisan Lucas yang membuatnya tersenyum, tidak ada yang aneh tidak ada yang spesial, semua biasa biasa saja, namun itu tetap membuat Kila tersenyum sendiri membacanya.
"Mina! Tunggu!" Kila berlari kecil mengejar Mina yang sudah menaik ke ekskalator.
"Ada apa, Kila?"
"Kau kenal dengan seseorang bernama Gali?"
"Iya, ada apa rupanya?" Mina menatap dengan pandangan heran. Kila hari ini bersemangat sekali.
"Kau tahu tidak, temanmu yang bernama Gali itu juga berteman dengan teman baru ku! What a small world, dunia sempit sekali ya, ter nyata kita saling kenal-mengenal, padahal teman baruku itu tinggal di Jakarta!" Kila berbicara panjang kali lebar.
"Lantas, apa maksudmu membicarakan hal seperti itu, di pagi hari yang beku ini?" ucap Mina menggoda Kila. Kila berwajah cemberut. "Aku hanya mengatakan itu saja, bahwa dunia ini sempit! Maaf mengganggumu, Mina. dah.. " Kila membungkukkan badannya sopan dan segera menghilang dari pandangan Mina.
"Dasar manusia aneh" gumam Mina dan melanjutkan jalannya menuju meja.
***
"Aku merasa aneh karena kau dan teman satu kantorku sama-sama mengenal temanmu, Gali."
"Aku dan Gali dulu teman saat sekolah di Jambi, mungkin temanmu dulu juga satu sekolah dengan kami, atau bisa juga mereka bertemu di tempat lain, semua bisa saja terjadi, Kila"
"Ya, aku hanya merasa aneh saja. Aku merasa kita berjodoh"
"Hahaha, ucapanmu sangat lucu, Kila. "
Kila lama-kelamaan bagai seorang stalker yang setiap hari mengecek kegiatan Lucas di media sosialnya, padahal Lucas sendiri jarang sekali mengunjungi akunnya tersebut karena jam kerja yang tidak menentu dan pekerjaannya yang sangat menyita waktu, membuatnya jarang mengunjungi dunia maya. Bahkan, sudah banyak tulisan yang dibuat Kila di TCV, Lucas pun lama tidak berkomentar di postingnya.
Kila tenggelam dalam lamunan membayangkan Lucas kebaikannya dan perhatiannya telah membuat Kila semakin menyukai kehadiran Lucas dalam hari-harinya. Ada postingan Lucas dengan seseorang di akun Lucas yang telah lama berlalu, Kila mencermati postingan itu.
'Thanks, I Love You, Sleep well, my sista from your lovely brother Lucas'
"Dunia yang begitu aneh -_-"
"Dunia ini tidak aneh. Hidup ini juga tidak aneh. Hidup ini sebenarnya biasa saja, kebetulan itu biasa, keajaiban juga hal biasa karena manusia punya Tuhan."
Kila tersentak karena perkataan Lucas. Kila terdiam cukup lama merenungkan kata-kata dari Lucaa yang menurutnya ada benarnya. Bahkan perkataan Lucas itu akhirnya dibenarkan oleh Kila, dan Kila menahan senyum. Lucas bahkan sudah tahu apa maksud Kila bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengenal satu sama lain, jadi tidak heran jika teman kita mengenal teman Lucas atau adik Lucas atau sebaliknya. Kila tidak membalas pesan Lucas yang terakhir. Kila menarik nafas panjang
***
--'Soulmate ≠ Pasangan Hidup'--
Dalam hidup ini sudahkah kalian bertemu dengan separuh jiwa atau biasa disebut dengan soulmate? Aku sudah. Di sini aku tidak menganggap soulmate dan pasangan hidup itu pengertiannya sama ya. Mari pisahkan pengertian soulmate dan pasangan hidup. Soulmate bagiku adalah separuh jiwamu, yang mengerti dirimu walaupun jauh, jarak beratus-ratus kilometer tidak akan menjadi masalah dia tetap akan bisa memahami dirimu dengan caranya, yang selalu mengerti apapun yang tidak kau katakan padanya, yang tahu saatnya memanjakan dirimu, yang tahu caranya menghibur dirimu dan rasanya tahu segalanya tentangmu.
Aku pernah mendengar bahwa kita punya kembaran di dunia ini dan aku percaya bahwa soulmate itu adalah salah satu kembaran kita yang hidup di dunia. Tidak hanya yang berbeda jenis kelamin yang bisa disebut sebagai soulmate, tapi yang sama pun bisa disebut sebagai soulmate. Karena aku bertemu dua orang yang berbeda jenis kelamin yang sejauh ini aku anggap soulmate, keduanya menemukanku secara tidak sengaia berkenalan secara tidak sengaja dan segalanya terjadi begitu saja. Soulmate perempuanku adalah salah satu teman orang yang sudah lama aku sukai (yang dalam tulisan ini nanti aku sebut sebagai my dreamland). Kami tertawa dan menangis bersama membicarakan berbagai macam kisah masa lalu yang membuat kami hanya bisa terbengong-bengong, harusnya kami bisa bertemu lebih awal untuk membuat sebanyak-banyaknya kenangan yang mudah-mudahan bisa merubah masa kini. Kami tahu itu naif tapi kami terus saja membicarakannya sampai mulut kami berbusa lalu bersyukur bahwa kami tetap dipertemukan jua akhirnya. Did adalah orang yang mengerti aku tanpa aku harus bercerita panjang lebar dan dengan satu gerakan tangan, senyuman, pandangan mata maka kami sudah bisa saling memahami.
Soulmate lelakiku menemukanku karena kebetulan kami pernah punya pekerjaan yang sama, satu nama perusahaan walau beda kota tapi aku sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut. Soulmate lelakiku adalah seseorang yang datang membawakan keceriaan dan semangat baru, hal-hal positif baru canda-tawa yang tidak biasa. Kami punya banyak hal yang bisa dibicarakan, punya banyak hal yang bisa dibagi dan cocok dalam banyak hal. Soulmate yang mengatakan padaku bahwa hidup ini sebenarnya biasa saja, kebetulan itu biasa, keajaiban juga biasa karena manusia punya Tuhan. Kata-kata yang bagus, bukan? Aku suka sekali kata-katanya itu. Kebetulan adalah kuasa-Nya, dia mene-mukanku, lalu aku menerimanya sebagai bagian dari keseharianku. Aku belum bertemu dengannya tapi dia adalah 'nyawaku' untuk tetap bertahan di dunia yang sudah menggila ini, atau aku sendiri yang gila, entahlah. Yang jelas, aku bahagia bisa sedikit demi sedikit mengenalnya. Untuk yang satu ini, aku belum bertemu dengannya tapi dalam waktu dekat dia akan berkunjung ke kotaku. Aku tetap ingin melakukan yang aku lakukan pada soulmate perempuanku, berjabat tangan erat sambil tersenyum ceria dan merentangkan tanganku untuk memeluknya. Aku sungguh ingin melakukan itu. Aku dan soulmate-ku menjalin persahabatan yang tidak bisa aku jelaskan betapa dalamnya itu, karena aku begitu mencintai mereka bagaikan aku mencintai diriku sendiri. Mari lanjut ke pembahasan pasangan hidup, pasangan hidup adalah seseorang yang di peruntukkan Tuhan untuk kita bila sudah tepas waktunya. Dan, sebelum itu rasanya kita tidak pernah tahu dan tidak akan pernah bisa tahu, hanya bisa menduga dan berasumsi kemudian berusaha untuk menjadi sebaik mungkin yang kita bisa untuk mendapatkan seseorang yang kita harapkan. Beralih ke seseorang yang aku cintai. Seseorang yang aku cintai aku sebut sebagai my dreamland sepanjang waktu, karena dia masih berupa bayang-bayang samar yang tidak bisa aku tebak kapan dia akan menjadi nyata untukku atau selamanya tidak akan pernah nyata untukku. Aku begitu mencintainya sehingga rasanya tidak ada orang lain yang bisa aku cintai selain dirinya. Jadi di sini, belum tentu orang yang aku cinta itu, ataupun yang aku anggap soulmate (tentu saja yang lelaki), nantinya akan menjadi pasangan hidupku, karena kita tidak pernah tahu sebelum waktunya tiba.
Nope, soulmate lelakiku bukanlah seseorang yang aku cintai dan bukan pula seseorang yang bisa aku cintai (karena satu hal), dia pun sudah menekankan padaku jangan gunakan hati padanya, aku berusaha untuk mengerti itu. Dia hanyalah...soulmate-ku. Jadi, menurutku soulmate bukanlah pasangan hidup.
Thanks to @Sera and @Lucas for comes to my life.
***
Lucas tersenyum membaca tulisan Kila mengenai pendapat pribadinya mengenai soulmate dan pasangan hidup. Hatinya terasa bergetar namun juga terasa sakit. Ingin sekali rasanya ia memberikan seluruh cinta yang dimilikinya untuk seorang gadis seperti Kila, namun Kila sendiri berkata bahwa soulmate tidak selalu harus hidup bersama. Mereka bisa saja jauh raga namun dekat secara jiwa. Mereka bisa saja terpisah jauh namun tetap saling mendoakan yang membuat jiwa tetap terpaut. Lucas menghela nafasnya sedikit kepayahan.
Hari demi hari dilalui Kila, menunggu Lucas untuk berkunjung ke Jambi seperti janjinya beberapa waktu lalu. Lucas mengambil cuti sebanyak lima hari dan berniat menghabiskan waktunya di Jambi untuk tidur dan membaca komik.
Sebulan kemudian...
"Terkadang, aku hanya ingin bebas dari semua ini, Lucas. Terbebas dari perasaanku terhadap my dreamland. Aku juga ingin bebas melakukan apapun yang aku mau. Namun, aku juga paham, kita hidup dalam norma dan aturan." curhat Kila kepada Lucas.
"Apa yang membelenggumu, Kila?"