Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Anna (2)



"Kau tahu, Kila. Hidupku sangat tidak mudah suamiku berselingkuh di depan mataku. Bahkan dia melakukan dengan salah satu teman perempuanku di kantor. Aku harus berjuang melawan rasa sakit dikhianati dan terus mencoba mencintai tanpa membenci Won, putriku. Aku harus membiayai hidupku dan putriku secara mandiri karena suamiku sibuk dengan perempuan-perempuannya. Kemudian, ketika Lucas, sahabatku sejak masa sekolah dulu menyatakan perasaannya padaku, aku harus siap menelan kenyataan bahwa dia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Katakan padaku, aku harus bagainmana?" Kila ikut menitikkan aimata.


"Anna." Dia segera mengusap airmata, dia merasakan hatinya sangat penuh untuk sesuatu yang bahkan dia tidak pahami.


"Aku sudah tidak mencintai suamiku. Sungguh. Aku bicara jujur padamu. Perasaanku sudah mati untuknya, Namun, aku juga harus memikirkan perasaan Won yang akan selalu menanyakan alasan perpisahan kami, jika kami benar benar melakukan itu. Ketika Lucas mendesakku untuk segera bercerai dengan suamiku, disaat itu pula aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah bercerai dengan suamiku. Aku tidak mau mendengar orang sakit yang mengatakan akan menikah denganku jika aku bercerai dengan suamiku, kemudian aku menunggu dan mencintainya sepenuh hati lalu dia pergi meninggalkanku. Aku tidak mau" Kila memandang ke titik yang sama yang ditatap Anna. Satu titik yang membuat hati mereka seperti habis diremas-remas.


"Dan aku tidak akan sanggup untuk mendengar kenyataan bahwa aku menempel di bahu Lucas untuk mendapatkan harta warisan. Kau tidak akan dapat membayangkan nilai kekayaannya, daftar perusahaan atas nama Lucas dan harta lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, Aku akan menerima gunjingan tersebut selama sisa hidupku jika aku menikah dengan Lucas dan akhirnya aku hanya hidup sia-sia di dunia. Lihatlah Kila, kita mencintai orang yang salah." Anna segera berdiri dari tempatnya duduk. Matanya sembab dan sedih. Untuk pertama kalinya Anna tidak bisa menyembunyikan perasaan terdalamnya yang selama ini hanya di pendamnya karena percuma saja semenjak dia merasa tidak punya teman untuk berbagi. Malam ini, Anna sangat bersyukur karena dia dipertemukan oleh Kila


"Terimakasih, Kila. Carilah seseorang yang benar-benar mencintai dan tulus padamu, jangan hidup sia-sia seperti yang sedang aku jalani sekarang ini" Membalik badannya saat akan berjalan Kila memanggilnya.


"Anna...." Suara Kila menggantung. Anna menoleh. "Tidak bisakah kau berpura-pura mencintai Lucas? suara Kila penuh harap dan memohon. Anna terpaku di tempatnya.


"Kau tahu kan dia sangat kaya? Dia pasti bisa sembuh. Banyak terapi yang bisa dilakukan. Mungkin... akan ada pendonor hati yang akan mendatangi Lucas, tidak bisakah kau mencintainya saat Lucas berjuang untuk kesembuhannya?" Ucap Kila


Kevin yang sedang akan menuju ke kamar nya dan sedang akan melintas diantara mereka mendengar jelas perkataan Kila barusan


"Kau tidak boleh putus-asa Anna, Lucas mengajariku untuk tetap memiliki impian dan percaya pada kekuatan mimpi dan harapan. Lucas bahkan tidak menyebut nama selain namamu. Tidak bisakah?" suara Kila bergetar.


"Kau tidak akan mengerti" ucap Anna pasrah Kemudian segera berjalan menjauh dari Kila. Tak berapa lama kemudian Anna menoleh dan berkata.


"Aku akan berpamitan pada Lucas. Sampaikan salamku untuk Kevib, dia pemuda yang menyenangkan." Anna berkata dari jauh ssedangkan Kila merenung di tempatnya. Kila memandang ke langit lama sekali, sehingga Kevin yang sedang berada di sekitarnya sampai tidak berani mengganggu Kila yang tenggelam dalam lamunannya. Kila sendiri tidak tahu harus melakukan apa saat ini, Perasaannya begitu rumit dan sulit untuk dijelaskan. Bagaimanapun dia mengerti perasaan Anna dan dalam hati membenarkan kata-kata Anna beberapa saat lalu. Bahwa untuk apa kita hidup sia-sia? Semua orang ingin hidup dengan bahagia. Untuk apa bahaga jika orang-orang disekitar kita menjadi tidak bahagia? Kila merenungkan perkataan yang pernah di katakan sahabatnya dalam dalam. Lalu, haruskah Lucas merasakan sakit dalam kesendirian dan kesedihan? Membayangkan itu hatinya semakin merasa sedih. Kila menghela nafas berat dan segera beranjak untuk meninggalkan tempat itu.


Sesampainya Kila di kamar dia mencoba untuk memejamkan matanya tapi Kila tidak dapat memejamkan matanya. Dia menghubungi Sera, sahabatnya.


"Ada apa malam-malam begini, Kila?" suara di seberang sana terdengar mengantuk. Kila meminta maaf


"Tapi aku senang kau meneleponku. Ada apa?"


"Aku sedang di Jakarta."


"Apaaaa?!! Kenapa kau tidak mengabariku?!!" Sera berteriak di telinga Kila dan Kila harus menjauhkan ponselnya sejenak.


"Maafkan aku tidak sempat berkunjung ke tempatmu, besok pagi aku sudah harus pulang ke Jambi." Suara Kila terdengar kecewa.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali saja. Tumben sekali kau tidak mengabari tentang Juno lagi. Apakah kau datang bersamanya? Aku mendapat kabar darinya dia juga ke Jakarta." Cerita Sera membuat Kila tertawa miris.


"Aku tidak datang bersamanya. Kemarin dia menolakku untuk menumpang padanya. Menyebalkan sekali," gerutu Kila membuat Sera tertawa maklum.


"Sudahlah, begitulah Juno sulit ditebak. Mungkin saja dia tidak ingin terlihat berdua di luar kantor dengan seorang wanita. Bagaimanapun dia memiliki posisi penting di kantornya." Ucapan Sera membuat Kila mengangguk-angguk. Mereka mengobrol lumayan lama dan Kila mengabaikan panggilan lain yang masuk ke ponselnya. Siapa yang menelponnya malam-malam begini? Setelah puas mengobrol dengan Sera, Kila pun merebahkan badannya di tempat tidur. Ponselnya berbunyi dia segera meraihnya tanpa melihat yang meneleponnya.


"Hal.."


"Kemana saja kau, aku hubungi berkali-kali dan nadamu sibuk?!" suara Lucas menyeruak ke telinganya, terdengar sedikit kesal. Kila segera mengenali suara tersebut.


"Apa yang kau lakukan? Apakah kau belum tidur?" Tanya Kila heran


"Maaf, Lucas. Tadi aku menelpon sahabatku. Ada apa?"


"Keluarlah. Langit malam ini cantik sekali" suara Lucas akhirnya terdengar ceria. Kila yang memang benar-benar tidak bisa memejamkan mata sejak dua jam lalu bergegas bangun dari tempat tidurnya. Kemudian, dia membuka pintu kamarnya dan dia melihat Lucas sudah menunggunya. Lucas melambaikan tangan dan mengajaknya untuk menuju ke suatu tempat Kila merapatkan mantelnya dan menghampiri Lucas.


"Aku sudah membuat perapian di depan sana, supaya kita tetap hangat di udara terbuka, mari duduk di sana." ajak Lucas. Ternyata Lucas sudah menyiapkan sebuah perapian yang apinya meliuk-liuk kecil dan juga sebuah alas tempat mereka bisa duduk


"Kau selalu penuh dengan kejutan" Kila berkata senang sambil duduk disamping Lucas. Lucas mengeluarkan gitar dari dalam wadahnya.


"Gitar ini aku beri nama Heart" Lucas memulai penjelasan yang tidak diminta.


"Kau pasti akan bertanya kenapa?" sambung Lucas sebelum Kila membuka mulutnya. Padahal Kila juga tidak ingin menanyakan perihal itu.


"Karena hatiku yang sebenarnya ada di sini Makanya aku bilang aku sudah tidak punya hati Lucas tertawa senang. Kila yang mendengarnya tersenyum samar.


"Kau ingin aku memainkan sebuah lagu untukmu, Kila?"


"Senang sekali mendengarnya" Kila bertepuk tangan untuk Lucas.


"Apakah kau akan merekamnya untukku? tanya Lucas lagi. Kila dengan sigap mengeluarkan ponselnya dan mengangguk. Lucas tersenyum dan mulai mencari nada yang pas dengan suaranya.


"Aku latihan selama berminggu-minggu untuk bisa tampil di depanmu. Judul lagunya ' A Thousand Years'. Lagu ini di inspirasi oleh tulisanmu" Lucas memetik gitarnya dengan penuh percaya diri. Kila terdiam menyimak dengan berbagai macam perasaan yang berkumpul menjadi satu.


The day we met,


Frozen I held my breath


Right from the start


I knew that I'd found a home for my heart


Beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall


But watching you stand alone?


All of my doubt suddenly goes away somehow


Sampai di bait pertama ini, airmata Kila sudah meleleh. Kila berusaha menunduk sedalam dalamnya agar Lucas tidak terganggu karena melihatnya menangis. Kila memejamkan matanya dan merapatkan lagi mantelnya serapat mungkin.