Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Pertama Ketemu



#6



"Terkadang, aku ingin bertindak sesuai mau-ku sebebas diriku, tapi aku tidak bisa begitu. Manusia selalu ingin bebas dan merdeka. Bebas dari rasa sakit dan bebas dari rasa apapun, terkadang, aku hanya butuh pelukan." Kila tiba-tiba menjadi terdiam sendiri setelah mengirimkan pesan itu kepada Lucas. Dia merasa sudah keterlaluan bersikap seperti ini pada Lucas. Padahal Lucas sudah berulang kali mengingatkannya untuk tidak memakai hati pada nya atau dengan kata lain jangan jatuh cinta pada nya. Lucas bukanlah lelaki yang tepat untuk dijatuh-cintai.



"Aku ini liar dan gelap. Kau masih butuh pelukan dariku?" Kila merasa lega karena Lucas masih mau membalas pesannya yang terkesan tidak sopan dan tidak tahu diri itu.



"Aku membutuhkan pelukan dari seorang sahabat, yang bisa aku anggap sahabat, yang aku anggap sejiwa denganku. Kau tidak takut aku melakukan sesuatu yang buruk padamu, selain pelukan? Apa yang perlu aku takutkan? Kau sahaba baikku, Lucas."



"Tunggu saja sampai kau bertemu denganku!"



"Apa yang akan kau lakukan?"



"Menerkammu!"



"Try me!" Kila berusaha untuk menantang.



"Kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu lebih dari sekedar pelukan?"



"Tidak"



"Hah, berani sekali kau rupanya, Kila. Jangan terlalu percaya diri dahulu."



"Cepatlah datang, kalau kau berani!" Kila tetap menantang.



"Baiklah, tunggu saja, hahaha."



"Sebaiknya kau tidak perlu datang, Lucas. kenapa? Kau takut padaku?"



"Bukan begitu, seperti yang pernah kau bilang, aku tidak mau pakai hati padamu." ucap Kila setelah dia memikirkan kata-kata yang sebelumnya sering di ingatkan oleh Lucas.



"Bagus kalau kau mengerti maksudku. Apakah sekarang ini kau pakai hati padaku?"



"entahlah, aku tidak tahu."



"Jangan pakai hati padaku, Kila. Maaf"



"Aku tahu. Justru itu, sebaiknya kau tidak perlu datang ke Jambi."



"Jelaskan alasanmu berkata seperti itu."



"Jangan membuat terlalu banyak kenangan di antara kita"



"Aku sudah bersusah payah cuti untuk menemuimu, tahu." Sejenak hening dan pesan Lucas lama tidak dibalas oleh Kila. Mungkin Lucas sebenarnya juga telah menyadari sesuatu yang selama ini coba dipungkirinya. Bahwa selama ini yang Kila rasakan Lucas juga merasakan hal yang sama, Lucas tidak bisa menghindar dari Kila, begitupun Kila.



"Aku hanya ingin menegaskan yang penting jangan pakai hati padaku. Maaf. Bagaimana kabarnya TCV? Kau semakin eksis di sana sepertinya?" Lucas berusaha untuk mengubah topik pembicaraan.



"Ya begitulah, mereka menyenangkan dan ramah, kau sudah lama tidak muncul di sana? Aku punya beberapa bahan untuk dibagi namun aku belum sempat mengeditnya."



"Sepertinya kau akan mudah terkenal di sana, Kila."



Obrolan berlanjut seperti biasa lagi hingga hari-hari terus berlalu sampai hari yang dijanjikan Lucas untuk berkunjung ke Jambi, Kila tidak mendapat kabar pasti dari Lucas. Kila menjadi segan untuk menanyakannya walaupun Kila ingin sekali tahu, Kila takut jika menganggap semua ini terlalu serius seperti yang sering diingatkan Lucas padanya, agar berhati-hati dengan perasaannya, Kila tidak bisa tidak memakai hati pada Lucas.



Tetapi semenjak kehadiran Lucas, dia benar-benar bisa melupakan Juni. Kila ingin Juno bisa seperti Lucas, baik dan perhatian namun Kila tahu itu sangatlah tidak mungkin. Juno benar-benar fokus pada pekerjaannya dan terlihat tidak pernah memikirkan persoalan perempuan dalam hidupnya. Junl lebih mencintai keluarga dan pekerjaannya dibandingkan dengan apapun. Jadi, Kila memilih perlahan mundur secara teratur dan membebaskan perasaannya yang selama ini terbelenggu oleh Juno. Kila harus bisa menerima kenyataan bahwa Jubo bukan orang yang patut dia tunggu selama itu. Tapi, bayangan Juno menyelamatkan hidupnya sungguh membuat Kila harus berpikir ulang mengenai perasaan yang sesungguhnya terhadap Juno.



"bagaimana ini..." Kila mengacak rambutnya dan mengambil ponselnya.




"Maunya bagaimana?"



"Sekarang tersera kau saja, Lucas." Tidak ada balasan lagi, Kila menjadi sangat kesal dan segera mematikan ponselnya dengan cara mencabut baterainya. Kemudian Kila melamun dan sangat tersiksa membayangkan pertemuannya dengan Lucas nanti, terbayang berbagai macam adegan dengan berbagai versi yang terbayang di kepalanya, Kila ingin segera berlari memeluk Lucas atau dengan jelas berkata pada Lucas "Tolong, peluk aku," semua itu membuat nya sakit kepala. Kila kemudian bangun dari tempat tidurnya dan mengembalikan bateral ponsel dan menghidupkannya kembali.



Dua hari telah berlalu. Tanpa komunikasi dengan Lucas. Kila berusaha melupakan hal tentang kedatangan Lucas yang sangat mengganggunya siang dan malam. Di kantor Kila menjadi sering penuh emosi dan melampiaskan kemarahannya secara tidak terkendali dan tidak pada tempatnya. Pernah dirinya membanting telepon sehingga membuat satu ruangan menatapnya penuh kecurigaan dan membuat Kila meminta maaf dengan suara pelan sambil menunduk dan menenggelamkan diri di meja. Kenapa Lucas membuatnya menjadi seperti ini? Siapa dia sehingga membuatnya menjadi seperti ini? Lucas bukanlah kekasih, bukanlah seseorang yang bisa Kila cintai, tapi mengapa Lucas bisa membuatnya merasa tidak berdaya seperti ini? Membuatnya tidak bisa merasakan apapun kecuali ingin terus berhubungan dengan Lucas. Kila sengera meraih ponselnya dan mengetik dengan kesal.



"Lucass! Apa sebenarnya rencanamu?" Rasanya Kila hendak menangis.



"Kenapa kau marah-marah seperti itu?"



"Aku benci harus bertanya padamu!"



"Ada apa kau marah-marah padaku?"



"Aku benci padamu!" Kila melampiaskan amarahnya selama dua hari ini



"Kau merindukanku? O_O"



"Kau menyebalkan!"



"You just miss miss miss me" Kila tersenyum sambil menghapus sebutir airmatanya. Lucas, lelaki yang dapat begitu memahami dirinya bagaikan sepasang anak kembar, belahan jiwa yang selama ini hilang entah kemana. Yang mampu memahami Kila dengan baik dan mampu menenangkan dengan cara yang tidak biasa dan membuat hatinya nyaman.



"Kau jadi pergi ke Jambi, tidak?" ucap Kila setelah tenang.



"Jadi tidak ya?"



"Jangan main-main, Lucas."



"Jadi. Aku sedang menuju ke sana."



"Jangan lupa menyiapkan komik untukku." Rasanya Kila ingin melompat saking senangnya. Wajahnya tersenyum sangat manis. Jiwanya seakan melayang. Kembali tenggelam dalam lamunan-lamunan panjang membayangkan pertemuannya dengan Lucas. Kila malah menjadi tidak tenang. Matanya menjadi sulit terpejam dan Kila ingin sekali bisa terus mengobrol dengan Lucas. Kila tidak bisa menghubungi Lucas karena ponseinya dimatikan setelah mengucapkan selamat tidur pada Lucas. Akhirnya Kila gelisah sendiri di tempat tidurnya. Menunggu pagi yang terasa lama. Kila juga telah mengajukan cuti untuk bisa bertemu dengan Lucas. Walaupun hanya bisa dua hari, yang penting dia bisa bertemu dengan Lucas.



Hari itu, Kila masih sibuk bekerja, Lucas akan sampai sekitar siang hari dan akan segera menginap di hotel terdekat, Kila sudah menyiapkan komik yang diminta Lucas agar bisa dibacanya saat menunggu Kila di hotel, komik tersebut kini sudah sampai di hotel tempat Lucas menginap. Beberapa jam kemudian, ketika hari menjelang sore, pesan dari Lucas masuk ke ponsel Kila.



"Kau pulang jam berapa, Kila?"



"Aku baru bisa sampai di sana jam 6 sore. Tidak apa-apa kan?"



"Baiklah, aku sedang membaca komik darimu. terimakasih." Kila melamun di meja kerjanya. Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Ini namanya kencan buta! Blind-date! Bagaimanapun Lucas laki-laki dan Kila perempuan, bagaimana seorang lelaki dan perempuan yang belum menikah bertemu di hotel? Kila menggelengkan kepalanya. Tidak , Lucas hanya sekedar sahabat, tidak akan terjadi apa-apa, Kila menyakinkan diri. Kila malah takut pikirannya yang terlalu buruk dan memiliki prasangka buruk pada Lucas. Tapi, bagaimana kalau Lucas ternyata seorang player? Bukankah, Lucas juga pernah mengatakan bahwa dirinya tidak sebaik yang Kila kira, jadi ada ada dengan itu? Seorang lalunya lelaki memiliki catatan buruk dalam masa adalah hal yang dianggap biasa dan hal yang sangat wajar. Kila merasakan kepalanya sangat penat dan Kila mulai menghembuskan nafasnya keras-keras. Tepat jam lima, Kila menyambar tas di meja kerjanya dan berlari-lari menuju halte bus kemudian menyetop sebuah bus dan menuju ke hotel dimana Lucas kini menginap.



"Kau dimana?"



"Sebentar lagi aku sampai." ketik Kila.



Lucas menginap di Golden Guest House. Di kamar nomor 107. Jantung Kila semakin berdetak dengan cepat menyadari bahwa dirinya sedang melangkah di lobby hotel. Kila menanyakan keberadaan Lucas ke bagian reservasi. Kila merasa sangat lega karena Lucas memesan single-room. Kila tersenyum. Perlahan dia melangkah ke bagian guest-house dengan hiasan bunga di kanan-kiri tempatnya melangkah menuju ruangannya Lucas. Kila berhenti di depan pintu bernomor 107. Diam sejenak dan segera mengeluarkan ponselnya.



"Aku di sini. Di depan kamarmu"



Terdengar langkah kaki mendekat. Kila menegakkan tubuhnya, Kila merasa tegang, seakan ingin lari namun tidak kuasa bergerak dan Kila merasa terpaku di tempatnya. Seumur hidupnya baru kali ini Kila merasakan hal seperti ini dan mengalami kejadian seperti ini. Kila berusaha tenang. Pintu membuka sedikit. Wajah Lucas muncul dibalik pintu, sederhana tanpa senyuman.



"Helo, kakak" ucap Kila. Lucas terkejut karena tiba-tiba Kila memanggilnya kakak. Lucas membukakan pintunya dan Kila melangkah masuk dengan ragu Lucas menutup pintu dan memandang Kila dengan tersenyum. Senyum yang sangat tulus di mata Kila. Kila merasa berdebar sekaligus merasa damai menatap mata itu, mata yang hangat, dekat dan sangat akrab. Tidak ada rasa canggung dan kaku diantara mereka. Kila berdiri di belakang pintu menghadap Lucas yang berdiri gagah.