Hope Is A Dream

Hope Is A Dream
Kevin dan Fani



(flashback : on) 


"Apakah kau menjalin hubungan dengan Kila? 


Karena setahuku dia menyukai kakakku" tanya Fani sambil bersedakep, tetap tidak mau kehilangan wibawanya sebagai atasan di hadapan Kevin. Kevin menarik nafas sejenak sebelum berbicara.


"Aku bahkan tidak tahu kalau kau adik seseorang yang disukai Kila"


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi" Fani berbalik menatap Kevin.


"Dimana kau mengenalnya?" Fani bertanya lagi. 


"Aku mengenal Kila melalui suatu forum komunitas. Aku tidak sengaja mencari tahu tentangnya. Semua terjadi begitu saja"


"Apa maksudmu semua terjadi begitu saja? Maksudmu semua ini tidak direncanakan?" Fani kemudian duduk. Kevin tidak berniat berbincang lama dengan Fani, jadi dia masih tetap berdiri. Memandang ke luar melalui dinding kaca rumah pribadi Fani.


"Lalu kau bahkan datang bersamanya dari Jambi?"


"Apakah itu dipermasalahkan? Karena aku menggunakan hak cutiku selama tiga hari ini?" 


"Bukan masalah cutimu. Tapi, kau bahkan rela ke Jamb, menemaninya ke Jakarta, apakah nanti kau akan menemaninya kembali ke Jambi?" Tanya Fani dengan nada kesal kepada Kevin. 


"Ya pasti. Aku datang bersamanya pasti aku akan pulang bersamanya" Jawab Kevin singkat.  Fani meredam perasaan marahnya yang seakan naik ke kepala.


"Kau tidak takut dengan posisimu di perusahaan?"


"Apa sangkut pautnya dengan hal ini?" tanya Kevin tidak mengerti.


"Karena kau telah menyentuh tanah Gyuhyeon Group saat ini. Semuanya terlibat." Fani berkata tegas


Fani, bukankah sudah jelas aku katakan padamu bahwa mohon maaf aku tidak bisa bersamamu, melihat dan mengingat betapa berbedanya dunia kita" akhirnya Kevib juga harus berkata lebih tegas pada Fani. Fani memandangnya.


"Kau bahkan terlihat terlalu santai berbicara dengan atasanmu"


"Saat ini kita tidak sedang membicarakan urusan kantor. Mengapa harus begitu formal?"


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan ini lagi, maafkan aku" Kevin berpamitan pada Fani yang rasanya ingin marah dan membanting semua benda yang ada di dekatnya. Akhirnya dia menemukan remote-control televisi dan melemparkan sejauh yang dia bisa. Fani melihat punggunh Kevin menjauh menuju ke tempat Kila dan Anna berada.


(flashback : off)


Dalam perjalanan pulang, Kila kembali murung. Kevin berkali-kali mengajaknya berbicara namun tidak mendapat tanggapan dari Kila yang sibuk mendengarkan musik. Berjam-jam Kevin harus menahan perasaannya dan merasa kesal sendiri.


"Kila! Bicaralah padaku! Aku tidak tahan dengan sikapmu!" Kevin berteriak di telinga Kila yang terpasang head-set. Kila tidak menggubrisnya. Kevin melihat wajah Kila yang semakin murung ketika asik dengan musik yang didengarnya. Seketika bus yang ditumpangi mereka berdua berhenti mendadak setelah sebelumnya terdengar suara letusan kecil. Kila terbangun dari keasikannya menikmati musik dan mendapati Kevin sudah melompat turun dari bus.


Ternyata ban bus tersebut meletus karena melindas sebuah paku besar di jalanan. Kila mendengar suara ribut-ribut diluar dan mendesah kecewa. Kila melirik jam tangannya dan bergumam sendirian.


"Kila, turunlah. Ini akan memakan waktu cukup lama, mereka akan mencoba mengganti ban sendiri, sampai bus berikutnya lewat" Kevin kembali berteriak ke dalam bus dan mengajak Kila turun. Kila sepertinya masih enggan berbicara pada Kevin. Kila bersiap-siap turun dari bus masih dengan tanpa sepatah kata.


Kevin menunggu di balik bus. Dia tidak melihat Kila yang turun dan melihat ke sekitarnya untuk menemukan dimana keberadaan Kila. Ternyata Kila sudah mulai berjalan menjauh menyusuri jalanan yang lengang, sendirian. Dia sudah menenteng tasnya.


Kevin berteriak teriak karena mendapati Kila sudah terlalu jauh berjalan meninggalkan dirinya. Kevin bergegas mengambil ranselnya di dalam bus dan segera berlari-lari menyusul Kila yang masih tetap berjalan menjauh.


"Gadis itu membuatku gila!" gumam Kevin dengan kesal. Nafasnya terengah-engah. Menjajari langkah kakinya dengan langkah Kila yang lebar-lebar.


"Kila. Apapun salahku aku minta maaf... er... Apapun yang aku lakukan yang tidak berkenan di hatimu aku minta maaf. Aku minta maaf" Kevin berusaha berbicara di depan Kila dengan berjalan mundur di hadapan Kila. Kila berusaha menahan rasa kesalnya. Kevin terus berjalan mundur di hadapannya dan mulai menghadang langkah Kila.


"Kau tidak bersalah" ucap Kila membuat Kevin merasa semakin bersalah. Kila berhenti karena Kevin menghadangnya.


"Berhenti bersikap seolah-olah kau tidak peduli padaku" ucap Kevin memohon. Kila menatap mata Kevin enggan.


"Terlalu banyak yang kau rahasiakan, aku membenci itu" komentar Kila. Kevin mendesah mendengar ucapan Kila.


Karena memperhatikan keadaan sekeliling, Kevin tidak sadar jika sudah berjalan terlalu ke tengah dan ada kendaraan di belakangnya yang melaju dari arah berlawanan. Kila lantas dengan sigap menangkap bahu Kevin dan mendorongnya ke pinggir. Kevin terjatuh.


Kila berteriak "Hey! Apa kau ingin mati?!" Kila memegang tangan Kevin dan berusaha menariknya untuk berdiri. Kevin yang mendapat kesempatan itu seakan tidak ingin menyia-nyiakannya dan langsung memeluk Kila erat-erat.


"Maafkan aku, Kila" Kevin mempererat pelukannya seakan tidak ingin momen itu berlalu begitu saja.


Angin yang bertiup pagi itu menambah keanggunan suasana yang tercipta di antara mereka berdua. Bus yang mereka naiki tadi pun perlahan melintas dan berhenti di hadapan mereka. Kevin menggandeng erat tangan Kila dan melangkah menaiki bus.


"Sebenarnya aku tidak tinggal di Jambi" papar Kevin.


"Aku bekerja di salah satu anak perusahaan Gyuhyeon yang bergerak di bidang retail dan hypermarket di Jakarta" Kila diam mendengarkan Kevin bercerita dengan sendirinya, membeberkan semua rahasianya.


"Aku sering bertemu Fani. Tapi, aku tidak pernah mengetahui bahwa dia saudara perempuan Lucas. Kalau aku boleh menyombongkan diri, Fani menyukaiku sejak lama, sejak aku sering bertemu dengannya dalam rapat rapat yang diadakan perusahaan"


"Aku tidak pernah bermimpi untuk bisa bersama wanita yang telah memiliki segalanya. Kecantikan, harta, kekayaan, kedudukan. Sangat tidak menarik buatku. Dan juga, dia bukan tipeku." Kila mengangguk-angguk. Kevin masih belum puas atas tanggapan Kila.


"Apakah kau sudah memaafkanku?" ucap Kevin berharap Kila dapat memaafkannya.


"Untuk apa?" Kila tidak mengerti apa yang harus dia maafkan dari Kevin.


"Karena telah membohongimu?"


"Pada bagian mana kau membohongiku?" Kila masih tidak mengerti dan bertanya lagi.


"Karena aku mengaku aku berasal dari Jambi" Ucap Kevin to the point karena Kila yang sangat lambat dalam menangkap apa yang mereka bicarakan.


"Bukankah kau memang dari Jambi?"


"Sama sekali tidak begitu. Aku sebenarnya tinggal di Jakarta. Aku sengaja mendatangimu ke Jambi sehari sebelumnya untuk bisa pergi denganmu." Ujar Kevjn menjelaskan kembali kepada Kila yang mungkin masih belum nyambung dengan topik pembicaraan mereka.


"Nah, bukankah kau berangkat dari Jambi? Itu maksudku"


"Jangan meledekku, Kila" Kevin sudah frustasi karena Kila yang seakan-akan meledeknya.


"Aku tidak sedang meledekmu"


"Tapi kau berbicara seolah-olah sedang meledekku"


"Seharusnya aku berterimakasih padamu karena sudah mengantarkan aku menemui Lucas yang tidak mungkin aku temui sendiri" Ucap Kila sambil menatap ke luar jendela.


"Tapi, akhirnya aku harus bertemu Fani" Kevin menatap kebawah.


"Dan memperjelas hubungan kalian" Kila berkata sambil tetap menatap keluar jendela.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya" Kevin merasa Kila seperti cemburu akan hubungan dirinya dengan Fani.


"Dia memaksaku untuk bisa bersama dengan Lucas agar dia bisa bersamamu, tidakkah itu bisa dianggap sebagai pengorbanan?"


"Pengorbanan yang kau nilai itu dari sisi mana?"


"Harga diri telah dia pertaruhkan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya"


"Yang penting aku tidak pernah memberinya harapan" Ucap Kevin cuek karena memang dirinya tidak pernah memberikan Fani harapan.


"Namun, Lucas mengajarinya banyak hal, termasuk tidak menyerah pada sebuah harapan"


"Kau membuatku bingung, Kila. Aku memang tidak bisa mengatakan cinta padamu, tapi... aku suka padamu. I Love You"