
Sepertinya mereka telah dipertemukan dikehidupan lampau dan mengulang semuanya saat ini. Kila memandang Lucas dengan perasaan haru.
"Peluk aku" ucap Kila.
"Kau berisik sekali, Kila" Lucas mendekati Kila. Entah mengapa rasanya Kila seperti ingin menangis walaupun tidak tahu untuk alasan apa. Lucas meraih bahu Kila dan mendekapnya dalam lengannya yang bidang. Kila memejamkan mata. Hanya ingin menikmati semua kehangatan itu dan membawa kehangatan itu ke dalam hati nya, agar Kila ingat rasanya, agar Kila tidak lupa kedamaian yang dia rasakan saat ini. Kila mendengar Lucas tertawa pelan. Melepaskan pelukannya dan memandang Kila. Kila hanya memandang Lucas tidak mengerti. Hanya memandangnya tanpa kata-kata karena ternyata kata-kata menjadi tidak berguna saat ini. Mencari kebenaran di mata Lucas, mencari sesuatu yang ingin diketahui dan diyakini oleh Kila. Lucas menyentuh rambut di kening Kila . Kila semakin merasakan ada sesuatu yang salah, semakin merasa bersalah namun tetap dibenarkan oleh hatinya dan didukung dan dibenarkan pula oleh tubuhnya yang memanas saat ini. Tubuhnya masih dekat dengan Lucas.
"Kila" hanya kata itu yang diucapkan Lucas entah disadarinya atau tidak.
"Kau boleh menciumku, Lucas. jika itu dibenarkan" ucap Kila hati-hati. Lucas membuang pandangannya dengan jengah sambil tersenyum kecut. Kila semakin merapatkan pelukannya di tubuh Kyuhyun, seakan tidak ingin menyadari bahwa ini bukan mimpi yang akan terus dianggapnya sebagai mimpi yang tidak pernah terjaga.
Perlahan Lucas merenggangkan pelukannya dan memandang Kila kembali. Menatapnya dengan penuh arti dan perlahan bibir Lucas sudah menyapu permukaan bibir Kila. Kila merasa sangat terkejut, rasanya seperti disetrum. Namun, ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik karena Lucas langsung melepaskan pelukannya dan tertawa. Lucas menjauh dari Kila dan duduk di tepi pembaringan.
"Maaf, sudah aku bilang jangan pakai hati padaku. Kita seharusnya tidak seperti ini." Wajah Kila memerah karena ucapan Lucas barusan Kila merasa sangat bersalah dan dia bungkukkan badannya di hadapan Lucas yang lah, masih duduk.
"Maaf, Kak."
"Aku bisa saja melakukan sesuatu padamu bahkan lebih dari yang tadi, kau tahu?"
"Maafkan aku, Kakak"
"Kenapa kau memanggilku Kakak, bukannya kau lebih tua dariku?" Lucas mengambil komik diatas meja. Dengan memanggil Lucas dengan sebutan kakak Kila merasa, Lucas pantas mendapat julukan itu karena sikapnya yang lembut bagaikan seorang kakak terhadap adiknya dan sangat perhatian. Ji Ri tidak tahu mengapa dia ingin memanggilnya kakak.
"Oya, terimakasih telah membawakan komik-komik ini, aku rasa aku bisa menyelesakannya dalam tiga hari ini." Lucas mengacungkan komik yang baru beberapa lembar dibacanya.
"Kau menyukai komik yang aku kirimkan untukmu?" Tanya Kila. Lucas tersenyum dan melanjutkan membaca komik diatas pembaringan. Sepertinya Lucas mulai serius dengan bacaannya. Kila menghela nafas. Kemudian Kila duduk di sisi pembaringan dan turut mengambil satu komik Lucas meliriknya sambil menggeser duduknya dan memberi tempat untuk Kila.
"Apakah kau sudah mandi, kak?" tanya Kila yang merasa bosan.
"sudah, aku mandi saat kau di perjalanan menuju ke sini tadi" Lucas menjawab tetapi tidak menoleh pada Ka yang bahkan tidak bisa berkonsentrasi terhadap buku yang ada di tangannya.
"Kau sudah mandi?" tanya Lucas sambil melirik Kila.
"Aku langsung dari kantor menuju kemari" Jawab Kila seakan merasa baik baik saja. Lucas langsung menoleh ke Kila dan memasang muka jijik.
"Ah, jadi kau belum mandi. Sana pergi mandi!" Lucas memukulkan bantal pada Kila yang berada di sebelahnya. Kila merasa harus membalas perbuatan Lucas padanya.
"Kurang ajar sekali kau!" Kila balas memukulkan bantal ke tubuh Lucas. Kemudian terjadilah perang bantal yang seharusnya tidak terjadi pada mereka.
"Aku tidak mau mandi!"
"Baiklah, aku juga tidak akan menyentuhmu!"
"Siapa bilang kau boleh menyentuhku?!" Kila melotot tajam pada Lucas yang membuat Lucas gemas dan meraih leher Kila dan berakting mencekiknya.
"Jangan macam-macam denganku, Kila" mencekik leher Kila lumayan kencang sehingga Kila sulit bernafas. Kila mulai terbatuk-batuk.
"Lucas, kau kejam sekali! Lepaskan!" Kila memukul-mukul tangan Lucas sekuat tenaga. Semakin kuat tangan Kila memukul, semakin kencang pula cengkraman tangan Lucas di leher Kila. Sepertinya Lucas puas sekali memperlakukan Kila seperti itu.
"Berhentilah menggodaku!" ucap Lucas tegas. Kila meronta dan meraung-raung.
"Lucass!!" Kila menyikut perut Lucas dengan keras sehingga Lucas terguling di tempat tidur. Kila segera berdiri dan membenahi rambutnya yang berantakan. Kila tertawa melihat Lucas kesakitan sambil memegang perut berusaha bangun dan tampaknya berniat membalas dendam terhadap Kila. Kila segera mengambil langkah siap sedia dan menghindari Lucas yang tersenyum penuh kelicikan.
"Lucas, berhentilah bermain-main! Aku tidak sedang menggodamu!" Kila menghindari Lucas yang mendekat, Kila menarik kursi di dekatnya untuk menghalangi langkah Lucas. Lucas mendorong kursi itu menjauh. Kila menarik kursi itu lagi. Lucaa malah naik ke atas kursi dan melewati kursi tersebut untuk mendapatkan Kila. Kila kesal sekali karena Lucas mulai keterlaluan.
"Kau tahu?" Lucas menatap Kila tajam disaat itulah Kila menyadari betapa Lucas sangat tampan dan Lucas memiliki mata kecoklatan.
"Ini sakit sekali tahu! Lain kali jangan keras keras menyerangku!" ucap Lucas menunjuk sekitar perutnya yang tadi terkena serangan mendadak dari Kila. Lucas berlalu dari hadapan Kila. Kila menjadi tertegun.
"Maaf, sakit sekali?" Kila mendekati Lucas meringis lagi.
"Apakah sakit sekali, Lucas?" Kila mencoba menyentuh Lucas.
"Berhentilah menggodaku. Kila. Tidak ada laki-laki yang tidak mempan digoda"
"Terserah!! Kau membuatku kesal!!" Kila akhirnya berbaring di tempat tidur dengan terlentang. Lucas berdiri dan melangkah ke sofa, duduk di sana dengan elegan dan kembali membaca komik. Kila mengamati, jika Lucas yang sudah serius membaca komik, seperti tidak ada kehidupan di sekitarnya. Tiba-tiba semua menjadi hening dan membeku. Akhirnya Kila hanya dapat berbaring saja dan memperhatikan Lucas yang benar-benar asyik sendiri dengan komik yang dibacanya. Lama-lama Kila seperti patung yang bisa bernafas di ruangan itu. Beberapa menit berlalu, Kila mulai menghitung. Sepuluh menit sudah berlalu begitu saja.
"Lucas"
"Apa?" Lucas melirik Kila dari balik komik Naruto yang dibacanya. Kila masih terlentang di tempat tidur, rasanya dia mulai mengantuk tapi tidak mungkin dirinya tidur di sini.
"Apakah kau akan terus seperti ini? Duduk diam membaca komik dan menganggap aku vas bunga?"
"Kalau kau tidak suka di sini, pergilah" Lucas menutupi wajahnya dengan komik, menyembunyikan wajahnya yang tersenyum hampir cekikikan.
"Apa?!" Kila bangun segera dari tempat tidur dan melangkah ke tempat Lucas berada. Lucas semakin menutupi wajahnya dengan komik dan tidak dapat menahan tawa. Kila bertolak pinggang di hadapan Lucas.
"Kau sudah membuatku sangat malu dengan datang ke sini untuk menemuimu, kau bahkan akhirnya mendiamkanku seperti arca! Lantas sekarang kau mengusirku?! Keterlaluan!" ujar Kila kesal karena sikap Lucas.
"Aku tidak mengusirmu" Lucas membuka separuh buka komiknya dan menatap Kila sambil tertawa lagi.
"Masaaa!!" Kila berteriak lagi.
"Hey! Berhentilah berteriak-teriak seperti itu! Kupingku sakit tahu! Kau tahu, suaramu itu begitu cemprengnya sampai sakit telingaku! Dengarkan baik-baik jika ada orang bicara!" Lucas segera membenahi posisinya dari tiduran menjadi duduk dengan sigap di sofa. Kila masih menatap tajam ke arah Lucas.
"Aku bilang kalau kau tidak suka di sini, pergilah! Pergilah ke kamar sebelah, aku sudah mesankannya untukmu! Sana!" Lucas berkata tanpa memandang wajah Kila membuat Kila menjadi salah tingkah.
"Apa? Kau memesankan kamar untukku?!" Kila terduduk disamping Lucas.
"Kau pikir aku mau sekamar denganmu?"
"Aisssh, bukan itu maksudku, tahu!" Kila menggerutu kesal.
"Kau hanya membuang-buang uang saja bertindak seperti itu, aku bisa pulang ke rumah kontrakanku"
"Aku tidak membuang-buang uang. Kau bayar pakai uangmu sendiri"
"Aku tidak memesannya! Enak saja kau bilang harus membayarnya!"
"Tapi, itu atas namamu, tentu saja kau harus membayarnya! Jangan membebani aku!" ucapan Lucaa makin membuat Kila kesal. Akhirnya Kila beringsut dari sofa dan melangkah keluar kamar. Lucaa menatapnya sambil tersenyum.
"Mandilah dulu, nanti kita makan malam bersama" ucap Lucas. Kila tidak menoleh.
***
"Kau tidak ingin bercerita mengenai 'my dreamland' mu?" Lucas memberikan penekanan pada kalimatnya. Kila mengajak Lucas makan malam jauh sekali dari hotel, berjalan kaki sampai lelah dan kemudian makan malam di warung pinggiran yang menjual mie, snack, dan bir. Kila terkesiap karena Lucas betul-betul mengingat itu. Mulutnya belepotan, membuat Lucas menggeleng-gelengkan kepalanya.